
Pagi ini Aurora sudah bersiap-siap, dia akan bertemu kedua sahabatnya. Dengan langkah yang sedikit ceria wanita itu menuruni tangga menuju meja makan.
"Good morning Papa, Mama," ucap Aurora.
"Ya ampun Aurora! Kamu ini bukan anak gadis lagi, jadi jaga sopan santun kamu!" tegas Bagas.
"Iya Pah, maaf." Aurora cemberut kemudian dia menarik kursi lalu duduk di samping sang adik. "Oh ya, aku nggak ikut sarapan ya, soalnya buru-buru."
"Mau ke mana?"
"Mau ke tempatnya Rika sama Anggi. Ya udah, kalau gitu aku pamit ya Mah, Pah." Namun saat Aurora mencium tangan Papanya, Bagas menahan tangannya. "Kenapa, Pah?"
"Nanti siang kamu ke kantor ya! Ada yang mau Papa bicarain."
"Oke!" Aurora memberikan satu jempolnya, kemudian dia pergi dari sana setelah menyambar kunci mobil yang tergantung di dinding.
"Anak itu tidak pernah berubah, Pah. Tapi mama tahu, dibalik keceriaannya dia menyimpan luka yang begitu dalam, karena masih saja teringat dengan Kevin dan juga almarhum bayinya." Bunga menatap kepergian Aurora dengan sedih.
Dia berjalan masuk ke dalam mobil, kemudian melaju meninggalkan rumah untuk menuju apartemen sahabatnya. Sepanjang perjalanan Aurora menyetel lagu kesukaannya saat bersama dengan Kevin, hanya itu yang bisa mengobati rasa rindunya.
Sesampainya di apartemen Anggi, Aurora mengetuk pintu. "Anggi ... assalamualaikum!" seru Aurora sambil mengetuk pintu, tak lama pintu pun terbuka dan Anggi langsung menarik tangannya.
"Astaga! Lo main tarik-tarik tangan gue aja deh. Nanti kalau tangan gue patah gimana?"
"Yaelah ... cuma tangan doang, masih ada kaki kan?" ledek Anggi, "gue tadi baru aja buat masakan. Rencananya mau diantar ke kantornya Deni, jadi lo cobain ya!"
Aurora memutar bola matanya, selalu saja seperti itu. Jika ada apa-apa selalu dia yang mencoba makanan tersebut.
"Gimana? Enak nggak?" tanya Anggi dengan harap-harap cemas.
"Ini pasta buatan lo? Atau lo beli instan?"
"Lo nggak lihat noh! Barang-barangnya masih menempel di wastafel, belum gue cuci," jelas Anggi, "gue bikin sendiri. Ngadon sendiri." Anggi berkata dengan nada yang ketus, karena dia tidak terima jika Aurora menuduhnya membeli dengan instan.
"Udah ... mendingan sekarang lo siap-siap, kita kan mau ke cafe!"
Anggi mengangguk, kemudian dia langsung membersihkan diri bersiap-siap, tapi sebelum mereka ke cafe Anggi akan meminta untuk berbelok ke arah kantor di mana kekasihnya bekerja.
Aurora menunggu di ruang tv sambil bermain ponselnya. Tiba-tiba saja ada nomor telepon asing yang masuk ke dalam benda pipih tersebut, dan dia pun langsung mengangkatnya.
"Halo, selamat pagi," ucap Aurora.
"Pagi." Terdengar suara seorang pria di seberang telepon sana. "Kami dari perusahaan Atmaja Kusuma Group, ingin mengundang Anda secara langsung, karena kami sudah melihat biodata Anda nona Aurora, dan Anda di terima. Jadi Anda jam 08.00 sudah harus di kantor untuk interview kerja."
__ADS_1
Aurora menegakkan tubuhnya yang tadinya bersandar di sofa saat mendengar ucapan dari pria yang berada di seberang telepon. "Apa! Tapi kan saya belum interview kerja, Pak? Bagaimana bisa diterima begitu saja?" kaget Aurora.
"Kalau soal itu, Nona tanyakan saja kepada bos saya nanti. Kami tunggu kedatangannya."
Telepon pun terputus, dan Aurora saat ini terlihat begitu bimbang. Di satu sisi dia tidak ingin ke kantor itu lagi, dan dia sudah memutuskan untuk tidak bekerja di sana, tapi di sisi lain Aurora merasa tak enak karena sudah diundang secara langsung.
"Aneh. Padahal aku kan belum interview kerja, bagaimana bisa diterima begitu saja?" bingungnya sambil menggaruk kepala.
"Woi! Ayo gue udah siap nih!" ucap Anggi saat sudah selesai dengan pakaiannya dan terlihat begitu cantik. "Lo kenapa sih? Kok kayak orang bingung gitu?" Anggi melihat Aurora yang sedang terlihat kebingungan.
Kemudian Aurora pun menjelaskan tentang penelpon tadi, dan mendengar hal itu tentu saja Anggi setuju. "Ya udah, mendingan sekarang lo ke kantornya! Ini udah jam berapa? Waktu lo nggak banyak."
"Ya ... tapi kan kalau gue harus balik ke rumah, ngulur waktu lagi.nIni udah 07.30, gila kali. Gue aja belum siap-siap. Lihat! Pakaian gue masih normal."
Anggi kemudian menarik Aurora ke dalam kamarnya. "Lo pakai pakaian kerja gue aja!"
"Terus, Cafe kita?"
"Bisa lain kali."
Aurora cemberut, karena sejujurnya dia sudah tidak berminat untuk bekerja di kantor itu. "Tapi gue udah males, bosnya aja seenak jidat kayak gitu."
Akhirnya Aurora memutuskan untuk pergi ke sana diantarkan oleh Anggi sebelum wanita itu pergi ke kantor kekasihnya. Untung saja berkas-berkas lamarannya masih ada di tasnya Aurora dan belum sempat dia keluarkan semalam.
"Selamat pagi! Daya diminta untuk datang ke sini interview kerja."
"Aurora."
"Oh ... Nona Aurora, sudah ditunggu di lantai atas. Silakan naik ke lantai 16 di mana ruangan CEO berada."
Aurora mengangguk, kemudian dia menaiki lift menuju lantai 16, dan ternyata di sana hanya ada dua ruangan yaitu ruangan CEO dan juga ruangan dari sekretarisnya.
"Maaf. Saya diminta ke sini untuk interview kerja," ucap Aurora saat melewati ruangan seorang pria tampan.
"Nona Aurora, ya? Ayo saya antar," ucap pria itu yang tak lain adalah Edo sekretarisnya Justin
"Permisi, selamat pagi Tuan. Nona Aurora sudah datang," ucap Edo sambil membuka pintu ruangan bosnya. "Silakan Nona masuk dan langsung akan di interview oleh Tuan Justin."
Aurora mengangguk, kemudian dia berjalan melangkah masuk ke dalam ruangan itu. Terlihat tag nama di atas meja yang bernama Justin Manuela Atmaja Kusuma.
Wanita itu melihat ke arah kursi di mana seorang pria tengah membelakanginya, dan saat kursi diputar, alangkah terkejutnya Aurora saat melihat siapa pria tersebut.
"Kamu!" kaget Aurora sambil menunjuk wajah pria itu. "Kamu kan yang kemarin. Si pria sinting yang ngajak aku nikah."
__ADS_1
Justin tidak terima dinamakan dengan pria sinting, kemudian dia pun bangkit dari duduknya dan mendekat ke arah Aurora. Dan melihat itu tentu saja Aurora menjadi was-was.
"Mau ngapain, kamu? Jangan macam-macam ya! Jika saya tahu CEO di sini adalah kamu ... tidak akan pernah mau saya datang!" sentak Aurora dengan begitu ketus.
Justin menarik satu sudut bibirnya. "Menarik. Baru kali ini ada seorang wanita yang berani memaki-maki saya. Dan baru kali ini ada seorang wanita juga yang sama sekali tidak mau untuk bekerja di kantor."
"Maaf! Saya tidak jadi interview kerja. Lagi pula, saya tidak berniat untuk kerja di sini setelah kejadian kemarin, di mana Anda dengan seenak jidatnya membatalkan interview kerja orang-orang begitu saja. Sungguh tidak profesional."
Justin semakin tidak terima, dia mendekat ke arah Aurora lalu mengapit pinggang wanita itu hingga membuat Aurora mendekat ke arahnya, dan menempel pada dada bidangnya.
Jantungnya berdebar kencang, karena setelah sekian lama tidak pernah ada pria selancang itu kepadanya. Bahkan tidak pernah dia berdekatan dengan lawan jenis, selain Papahnya dan juga adiknya.
PLAK!
"Berani sekali Anda ya, memeluk-meluk saya! Anda pikir, saya ini wanita murahan, hah!" bentak Aurora dengan nada yang begitu marah. "Jangan ada fikir, Anda di sini CEO bisa seenak jidat kepada bawahan." Wanita itu benar-benar murka.
Justin mengusap pipinya yang terasa panas. Baru kali ini ada seorang wanita yang berani menamparnya, dan Aurora adalah wanita yang pertama kali menyentuh pipinya dengan telapak tangan.
"Kau! Berani sekali menamparku!" Tatapan tajam diarahkan kepada wanita itu.
"Kenapa aku tidak berani? Bahkan aku bisa memutilasi dirimu. Dasar pria sinting!" Aurora melangkah untuk keluar dari ruangan, akan tetapi ternyata pintu sudah dikunci dari luar oleh Edo atas perintah Justin.
Melihat itu Aurora tentu saja panik, tapi dia bukanlah wanita yang lemah. Dia tersenyum miring lalu berbalik badannya dan melihat Justin sedang menyandarkan tubuhnya di meja sambil melipat tangan di depan dada dengan alis terangkat 1 dan senyuman mengejek.
"Ternyata kau ini bukan hanya pria sinting dan gila saja, tapi ternyata kau itu sangat picik. Mau apa kau? Ingin melecehkan diriku? Kau ingin berbuat yang macam-macam?" Bukannya takut, Aurora malah terkekeh dengan nada mengejek, seakan Justin bukanlah lawannya yang seimbang.
Dia tidak ingin menunjukkan kepanikannya kepada pria tersebut, karena di dalam hidup Aurora dia tidak pernah tunduk pada seorang pria selain Kevin dan juga Papahnya.
'Wanita ini benar-benar tidak ada takutnya. Baru kali ini aku menemukan wanita super woman.' batin Justin penuh kagum dengan pribadi tangguh Aurora.
"Buka pintunya!" pinta Aurora, "atau kau akan menyesal!"
Bukannya membuka pintu, tersebut Justin malah terkekeh, lalu mendekat ke arah Aurora. Tapi wanita itu hanya diam dengan tatapan menantang.
"Kau ini ternyata wanita yang tangguh sekali ya? Tidak takut sama sekali. Apa kau tidak takut jika nanti aku merebut sesuatu yang berharga darimu?" Pria itu mencondongkan wajahnya dan semakin membuat kepala Aurora mundur ke belakang.
"Sebaiknya cuci dulu otakmu!" Aurora menoyor kepala Justin, kemudian dia menendang lutut pria tersebut. "Jika kau tidak membuka pintunya maka aku pastikan bukan hanya lututmu dan pusakamu saja, tapi kantormu ini akan hancur!"
Mendengar ancaman dari wanita yang berada di hadapannya, Justin cukup terpukau. Dia tidak menyangka jika Aurora bisa berkata seperti itu.
"Apa kau bilang? Akan menghancurkan kantorku? Bagaimana caranya? Hey Nona! Jangan pernah mengancamku, atau aku akan benar-benar mengambil apa yang ada di dalam dirimu!" Kali ini tatapan tajam dan begitu tegas mengarah kepada Aurora, tetapi wanita itu tidak gentar sama sekali.
"Oh ya? Bagaimana caranya?"
__ADS_1
Justin semakin tertantang saat mendengar ucapan Aurora. "Kau rupanya menguji kesabaranku, Nona. Aku ke sini ingin menginterview-mu secara baik-baik, tetapi ternyata kau ingin masuk ke dalam kandang singa." Pria itu mengungkung tubuh Aurora di tembok, tapi wanita itu hanya diam saja. Dia ingin melihat sejauh mana Justin bisa bertindak.
BERSAMBUNG.....