
Happy Reading....
Malam ini Bagas sudah siap untuk pergi ke tempat dimana musuhnya saat ini sudah di sekap oleh Elang, dan juga beberapa anak buahnya. Dia beralasan kepada Bunga jika ada pekerjaan, padahal dia hanya tidak ingin jika Bunga khawatir dan mencemaskan dirinya.
Mobil pun melaju membelah jalanan yang diguyur oleh hujan. Bagas rasanya sudah tidak sabar ingin bertemu dan melihat wajah, yang selama ini menjadi peneror bagi keluarganya, termasuk Bunga. Hingga 1 jam kemudian, mobil pun sampai di markas milik Bagas.
''Bos," ucap Elang sambil menundukkan kepalanya, sangat Bagas masuk ke dalam ruangan yang minim cahaya itu. Seketika anak buah Bagas langsung menyalahkan lampu, hingga ruangan itu menjadi terang benderang.
Ada 5 orang yang sedang duduk di atas kursi, sambil diikat kaki dan tangannya. Mereka berontak saat melihat Bagas. Sementara itu, Bagas mengambil kursi dan duduk di hadapan kelima orangnya itu, sambil menatap mereka satu persatu dengan tatapan tajam.
''Jika kalian mencari musuh, sebaiknya carilah musuh yang seimbang. Kalian salah, jika bermain-main dengan ku!'' ucap Bagas dengan nada dingin dan juga datar ke arah 5 orang tersebut. Kemudian dia menengadahkan tangannya ke arah Elang, lalu Elang memberikan pisau cutter kepada bosnya.
"Aku selama ini tidak pernah menyakiti siapapun, tapi jika mereka sudah menyentuh keluargaku, dan mereka sudah membuat ku merasa tidak nyaman, maka jangan salahkan aku, jika kulit di tubuh kalian sedikit tersa-yat. Bahkan ada beberapa yang harus terpotong!'' ancam Bagas, sambil membuka pisau cater itu dan menunjukkan nya kepada 5 orang yang ada di hadapan dia.
Pisau itu terlihat begitu mengkilat saat terkena silaunya lampu, membuat kelima orang itu menelan ludahnya dengan kasar. Apalagi saat ini mereka melihat jika wajah Bagas sangat menyeramkan dengan tatapan dinginnya. Membuat mereka merasakan takut, bahkan nyali mereka yang tadinya setinggi langit, kini telah menciut.
__ADS_1
"Tolong, lepaskan saya! Tolong, jangan habis saya!'' pinta seorang pria 40 tahun dengan wajah memelas ke arah Bagas.
Namun, bukannya Bagas mengampuni mereka, tapi Bagas malah tersenyum sambil menatap mereka dengan sinis. ''Ampun? Kau bilang apa tadi, ampun? Aku rasa, ampunmu itu hanya ada di dalam pikiranmu saja! Jika kau memang ingin aku ampuni, seharusnya kau tidak usah bermain-main dengan ku!"
Bagas pun berjalan mengitari mereka sambil memutar pisaau cutter yang ada di di tangannya itu. "Bagaimana, kalau aku melakukan sedikit pemanasan? Hanya sedikit, tidak akan sakit kok. Seperti digigit semut aja, kita mulai dari mana ya?'' Bagas berkata sambil menatap kelima orang itu dengan tersenyum menyeringai.
''Karena kau Bosnya, maka kau lebih dulu,'' ucap Bagas pada pria 40 tahun itu. Melihat Bagas berjalan ke arahnya sambil membawa pisau cutter pria 40 tahun itu merasa ketakutan. Bahkan keringat sudah membasahi keningnya. ''Saya mohon, jangan sakiti saya, Tuan. Saya minta maaf, jika saya sudah mengganggu keluarga anda. Saya berjanji, tidak akan pernah melakukan itu lagi. Saya mohon, Tuan, jangan sakiti saya."
Pria itu terus memohon kepada bagas, tapi sayang, juga sudah menyakiti keluarganya, maka tidak ada kata ampun untuk orang itu. Bagas tidak akan memberikan maaf kepada orang yang sudah mengusik hidupnya, termasuk keluarganya.
Keempat orang yang berada di samping Pria itu merasa ketakutan saat melihat wajah Bos mereka sudah terluka. Apalagi saat ini Bagas berjalan ke arah mereka dengan tatapan yang dingin. Namun, seketika Bagas menghentikan langkahnya saat ponselnya berdering.
''Iya halo, sayang," ucap Bagas saat telepon tersambung, dan telepon itu ternyata dari Bunga.
''Baiklah, aku pulang sekarang,'' ucap Bagas kembali sebelum menutup telepon.
__ADS_1
Bagas menatap kearah Elang dan memberikan pisau cutter itu kepada anak buahnya. ''Berikan mereka pelajaran! Kalian harusnya senang, sebab aku tidak turun tangan secara langsung, tapi tenang saja, hadiah kalian akan tetap di jalankan kok, oleh anak buah ku!'' Bagas berucap dengan wajah yang begitu dingin, sambil menatap mereka dengan senyuman seringai.
Dia pun terpaksa pergi dari sana dan memberikan tugas itu kepada Elang, untuk menghukum mereka, namun tidak sampai menghabisi nya. Sebab, Bagas masih punya hati nurani. Kecuali orang itu sudah menghabisi dan mencelakakan salah satu keluarganya,nhingga membuat kesabaran Bagas habis.
Tidak terasa sudah 3 bulan lamanya Bagas dan juga Bunga menikah, dan keluarga mereka juga semakin harmonis. Tidak pernah ada pertengkaran ataupun perdebatan sekecil apapun, karena Bagas sangat menyayangi Bunga dan menghormati dia sebagai istrinya.
Pagi ini Bunga sudah siap untuk mengantarkan Aurora ke sekolah, karena Aurora dari semalem merengek terus, ingin di antar oleh Bunga. Sebab setiap hari, Aurora diantar oleh kedua Omanya, yaitu Mami Rindi dan juga Mama Ranti.
Memang setelah menikah dengan Bagas, Bunga tinggal di kediaman orang tua Bagas. Karena Mama Ranti tidak ingin di tinggalkan oleh Bagas. Karena Ardi juga tidak tinggal disana, hanya sesekali main saja.
''Mah, nanti sepulang sekolah, Aurora mau ke rumah teman. Soalnyax kemarin ada tugas di sekolah untuk membuat PR,'' ucap Aurora saat berada di dalam mobil kepada Bunga.
''Iya Sayang, nanti diantar sama Mama ya ke sananya,'' jawab Bunga sambil mengusap rambut Aurora.
__ADS_1
Bersambung.....