
Judul: SUNDIRAH
Author: Delima Rhujiwati
JANGAN LUPA PADA MAMPIR YA GUYS. NOVEL INI BENAR BENAR BAGUS BANGET😘Ada bahasa Daerah nya juga
Sundirah adalah gadis belia usia nya menginjak dua puluh tahun. Hanya gadis desa, cantik, namun juga cerdas. Walaupun hanya anak seorang buruh petik kelapa. Dia tetap memiliki semangat yang tinggi.
"Sundirah, tunggu mas kembali. Sebesar apapun ke hendak Bapak dan Ibu, tidak akan menyurutkan niat baik kita." Mahendra dengan erat memeluk Sundirah.
Isak tangis Sundirah semakin membuat hati Mahendra nelangsa.
Mahendra anak dari juragan kopra yang terpandang di kota itu. Ber hektar-hektar ladang dan berpuluh ribu pohon nyiur. Mampu memperkerjakan tidak sedikit tenaga laki-laki sebagai pemetik kelapa di ladang dan sebagai pekerja rumah tangga bagi yang perempuan.
Mahendra harus pergi ke negri seberang demi keinginan orang tua.
dengan dalih memupuk ilmu, namun di balik alasan, ada faktor tidak rela anak laki laki mereka harus merajut kasih dengan gadis anak seorang pemetik kelapa.
Ndoro Atmosiman sosok laki laki yang sudah berumur namun, masih menyimpan wibawa, ketegasan dan ambisi yang kuat. Dia adalah ayah dari Mahendra.
Nyonya karmilah wanita yang lembut, sabar, ulet masih terlihat gurat kecantikan dan awet muda.
Ikatan cinta ini begitu rumit, kepergian Mahendra bukan karena kemauan.
Namun suatu upaya orang tua untuk memisahkan cinta mereka.
"pergilah mas, gapai lah cita mu aku akan menunggumu kembali." Semakin deras air mata mengalir di pipi.
"Jagalah cinta kita Dirah, seberat apapun kehidupan dengan tekanan Ayah padaku. Aku akan tetap kembali padamu." Mahendra melepas pelukan sambil berbalik meninggalkan Sundirah.
setelah beberapa jengkal langkah Mahendra menoleh kembali
"Dirah mas akan berkirim surat setiap minggu, setelah sampai di negri seberang." Senyum manis Mahendra mengakhiri ucapannya.
Sundirah hanya memandang kepergian Mahendra, tubuhnya merosot perlahan bersimpuh di area gubug di pinggir ladang kelapa.
Sementara, Mahendra sudah menjauh dengan langkah berat meninggalkan sundirah sendiri.
Gubug itu penuh cerita bisu, menyatunya kasih mereka anak manusia, dengan berbagai mimpi dan janji yang kini di ambang ketidak pastian.
Senja semakin menguning di ufuk barat, puluhan burung burung terbang kembali ke sarang. Nyanyian kerinduan tidaklah, cukup untuk sekedar menghibur rasa.
Sundirah melangkah gamang namun pasti kembali ke rumah di ujung desa di pinggir sawah.
"Dirah.. hari sudah mulai gelap kamu baru pulang ndok?"Ucap Yatemi menyapa Dirah dengan sebuah tanya.
"nggih Mak.. banyak cucian di rumah juragan." Dusta Sundirah sambil berlalu ke masuk kamar.
"Mak.. mbak Dirah kok seperti baru menangis, apa ada kesalahan bekerja ya Mak?..." Warti sang adek mencermati keadaan sang kakak.
"huusshh, uwis ora usah Melu melu, Mbak mu mungkin capek." Yatemi berusaha menepis fikiran yang sama dengan Warti.
Malam telah berlalu berganti kan pagi yang indah. Cicit burung menggugah lelap Sundirah menyisakan mimpi manis namun semu.
"Mak, Sundirah berangkat dulu." Pamit Dirah terlihat tanpa semangat.
"Dirah, apa yang terjadi dengan mu?" Suara pak Suyud sambil menghisap lintingan tembakau kesukaan nya.
"Hanya sedikit kecapean pak." Jawab Dirah sambil Salim dan pamit untuk berangkat melakukan rutinitas di rumah juragan Atmosiman sebagai pencuci baju dan merapikan rumah.
__ADS_1
Yatemi berjalan mendekat duduk di lincak yang di duduki Suyud.
"Pak! Dirah tidak seperti biasa nya, Ono Opo Yo pak?" Tanya bu Yatemi.
"Bapak menduga den Mahendra putra ndoro Atmosiman ada asmara dengan Dirah bu." Jawab pak Suyud sambil kembali menghisap lintingan tembakau nya.
"Oalah pak..pak! sampean Iki loh kok mimpi, mana bisa anak kita menjalin hubungan dengan den Hendra yang ada akan membuat malu keluarga Ndoro Atmosiman." cerocos Bu Yatemi sambil sambil menggendong rinjing dengan sayuran untuk di bawa kepasar
"Warti ayo ndok! kita berangkat, nanti keburu siang."
"nggih mak, pak! Warti berangkat ke pasar dulu." Pamit Warti.
Suyud pun juga beranjak dari tempat duduk semula dan melangkah menuju ladang nyiur untuk memetik kelapa, ataupun membersihkan ujung pokok kelapa supaya tidak menjadi sarang nya hama kwangwung.
Sementara di kediaman Ndoro Atmosiman, terjadi kehebohan yang tidak biasanya.
"Hendra akan memenuhi keinginan ayah untuk menimba ilmu di Negri sebrang, namun jangan paksa dengan keinginan Ayah untuk menikah dengan pilihan Ayah." Suara lantang Mahendra terdengar memenuhi ruangan.
"kalau bukan kamu yang meneruskan semua ini, lalu siapa lagi Hendra? keputusan ada pada ayah, pergilah! dan kembalilah untuk memenuhi kewajiban mu!" Tidak kalah lantang suara Atmosiman, sambil memegang dada sebelah kiri nafas sesak tersengal sengal lalu tersandar di kursi yang dia duduki.
"Mas!" karmilah menjerit seraya berlari mendekat, begitu pun dengan Mahendra dengan sigap merangkul tubuh sang Ayah.
Atmosiman pingsan!
"Thole, bagaimana ini?" Tangis karmilah.
bersamaan dengan kehebohan itu pak Slamet lari tergopoh-gopoh mendekat untuk membantu mengangkat Atmosiman ke bale-bale yang lebih luas.
mbok Surip tanpa di suruh pun datang dengan membawa segelas air putih.
"Mas, bangun mas! jangan seperti ini. sabar jangan emosi." Isak Karmilah sambil mengusap kening Atmosiman,
Di sudut ruangan Sundirah berdiri di balik sketsel mengintip yang telah terjadi. Bibir Sundirah bergetar menahan tangis, duka, dan penyesalan yang sulit dia terima saat ini, namun semua memang harus terjadi.
"Dirah! Kowe ngopo ndok?" Ucap mbok Surip sambil mengelus pundak Dirah.
"Eh mbok ?". Tersentak Dirah sambil menutup mulut, air mata pun meleleh di pipi mulus Sundirah.
"Saya teringat bapak mbok." Jawab Dirah.
"Ambil ini sebagai pelajaran ndok, setiap orang tua hanya mau anak anak nya menjadi yang terbaik." Nasehat mbok Surip, sambil menarik tangan dirah berjalan ke belakang.
"Sudah kembalilah bekerja, masalah den Mahendra dengan ndoro Atmosiman biar mereka yang menyelesaikan, kita menyelesaikan tugas saja di belakang." kata Surip, sambil mengulum senyum.
"Bagaimana ini Gusti?" Batin Dirah semakin kalut cinta tanpa restu ini akan menorehkan luka begitu dalam. Menyesal pun tidak akan memberikan jalan terbaik, ini sudah menjadi kesalahan dan harus dia hadapi sendiri.
Apabila sebuah penyesalan merupakan sebuah pengalaman, maka hikmah adalah sebuah hal besar yang terkandung di dalamnya.
Menuruti emosi dan hawa nafsu hanya akan merugikan, dan penyesalan bukan untuk di ratapi.
Siang hari itu mendung sebuah mobil combi parkir di depan halaman luas. Slamet sibuk membawa koper dan memasukan ke dalam mobil.
Mahendra melambaikan tangan mobil mobil melaju dengan pelan dan menghilang di tikungan jalan.
Terlihat jelas raut wajah karmilah menahan kesedihan berpisah dengan anak semata wayang nya.
Atmosiman membimbing pundak karmilah untuk beranjak masuk ke dalam.
Sore pun tiba, Suyud dengan sengaja menjemput Sundirah untuk pulang bersama, melalui pintu belakang yang menjadi pembatas rumah utama dengan halaman bunga mawar, anggrek dimana setiap hari karmilah menghabiskan waktu untuk berkebun bunga kesayangan.
__ADS_1
"Sugeng sonten nyonya." Salam Suyud ketika melihat karmilah duduk di pinggir kolam ikan sambil menabur makanan.
"Monggo!" Sahut karmilah sambil menoleh ke samping.
"Pinarak kang Suyud, mau menjemput Dirah?" Tanya karmilah.
"Nggih, sekalian mau me mamit kan Dirah untuk tidak masuk bekerja besok nyonya." Jawab Suyud sembari membungkukkan tubuh.
"Aku menyetujui Suyud!" Suara khas Atmosiman terdengar. Sontak karmilah menoleh dan mundur mendekati mya.
"Oh ya Suyud, aku mau bicara sebentar dengan mu besok di ladang kelapa yang di desa mbelik". Ucap Atmosiman sambil tersenyum wibawa.
Suyud kembali membungkuk kan badan, muncul lah Sundirah.
Dia merasakan tidak biasa nya sang bapak menjemput dan pulang bersama.
"Bapak!" Gumam Dirah sambil mendekat.
"Ndoro, nyonya! saya pulang." Kata Dirah sambil menunduk sopan.
Suyud membonceng dirah dengan sepeda pancal nya. Banyak pertanyaan terlintas di benak Sundirah namun tidak mampu satu kata pun terucap dari bibir nya.
Setiba nya di rumah Suyud langsung mencuci kaki dan tangan di padasan di depan samping rumah, lalu duduk di belakang lincak.
Sambil duduk menghela napas dalam-dalam, dan menjadikan topi caping nya sebagai kipas.
"Loh pak! kok sudah pulang?" Yatemi menyapa.
"Iya Mak, itu anak mu mau bikin malu saja!" gerutu suyud.
"Loh pak... anak kita berdua ya! bukan anak ku saja. Piye toh sampean Ikih?" Omel pelan yatemi sambil mendorong bahu suyud.
"Mak besok Ndoro Siman minta aku bertemu dengan nya." Cerita Suyud mbuka percakapan.
"Ngopo pak? mau naik gaji mungkin pak." Hirang Yatemi sambil membetulkan letak duduk nya.
" Aku rasa karena ulah anak kita Mak." sambil meraup kan kedua tangan nya Suyud menjawab.
"Dirah! ada apa dengan Dirah pak e?. merusak kan baju baju mereka atau teledor dalam bekerja?" Cerocos Yatemi
"Teledor dalam membawa diri?" Sungut Suyud lalu beranjak masuk rumah
"Loh piye toh kok malah sewot pak e." Yatemi masih bingung dengan berita yang Suyud bawa tiba tiba.
"Dirah, besok tidak usah bekerja dulu, tadi bapak sudah pamit kan. besok bantu emak saja di pasar." pesan Suyud ketika melihat Warti dan Dirah di yang duduk di depan pawonan sambil memanasi makanan untuk mereka.
"Nggih pak." jawab Dirah dan Warti serempak.
lincak \= bangku panjang dari bambu
rinjing\= bakul besar dari bambu
sonten\= sore
mbelik\= sumber mata air
padasan\= pancuran
caping\= topi terbuat dari bambu
__ADS_1
hiii kawan rasa saudara 😘 novel pertama di Emte mohon dukungan saran ,komen membangun, like dan fav tentunya 😉.