
Happy reading......
Saat ini Bunga dan juga Ardi tengah berada di dalam mobil untuk menuju ke kantor. Bunga juga tidak bisa melarang Ardi untuk pergi ke kantornya, karena pria itu sangat memaksa , jadi mau Bunga menolak pun Ardi akan tetap ngotot untuk pergi ke kantor bersama dengan dirinya.
Sesampainya di kantor, Bunga dan Ardi langsung masuk ke dalam ruangannya Bunga. Ardi senang karena hari ini dia akan menghabiskan banyak waktu bersama dengan Bunga, dia akan terus mendekati wanita itu walaupun Ardi tahu Bunga masih dalam masa iddah, tapi setelah masa iddahnya selesai, Ardi akan langsung melamar Bunga.
Dia pun hanya duduk sambil memainkan ponselnya, sementara itu Bunga sedang mengecek pekerjaannya lewat laptop. Saat mereka berdua sama-sama terdiam, tiba-tiba pintu ruangan Bunga terbuka, dan ternyata itu adalah Tina yang baru saja pulang dari Jerman.
"Surprise..." teriak Tina sambil merentangkan kedua tangannya.
Bunga dan Ardi seketika mengangkat wajah lalu menengok ke arah sumber suara, wajah Bunga seketika berbinar bahagia saat melihat Tina berada di ruangannya, dia berdiri lalu langsung berjalan dan memeluk tubuh Tina dengan erat.
"Ya ampun, Lo kok pulang nggak ngasih tau gue? Kan gue bisa jemput Lo ke bandara," ujar Bunga sambil mencubit pelan lengan Tina.
"Aaww, sakit tahu! Llo mah ya, bukannya temen pulang dari luar negeri itu disambut dengan sukacita, bahagia, ini malah dapat cubitan. Terus kenapa lagi itu si kutu buku ada di sini?" tanya Tina sambil melihat ke arah Ardi dan menunjuk dengan dagunya
"Iya tahu tuh anak, katanya lagi Gabut, terus mau ikut gue ke kantor. Biasalah, anak ayam kan ke mana-mana selalu ngintil emaknya," ledek Bunga sambil melirik ke arah Ardi. Sedangkan yang dilirik hanya memanyunkan bibirnya sambil menekuk wajah tampannya.
Tina terkekeh mendengar ocehan Bunga, kemudian dia duduk di sofa di samping Ardi, dan Bunga duduk di hadapan mereka. "Duh,!gue kangen banget tau pulang ke Indonesia. Padahal di sana baru 1 bulan, tapi terasa lama banget," ucap Tina sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.
*********
Siang ini Bunga, Tina dan juga Ardi akan pergi makan siang di cafe yang tidak jauh dari kantor Bunga. Ardi juga berencana akan ke kantor setelah makan siang, karena dia cukup bahagia telah menghabiskan waktu bersama dengan Bunga, walaupun ada pengacau yaitu Tina.
__ADS_1
Saat mereka tengah makan siang tiba-tiba sesosok pria datang dan duduk di samping Bunga, membuat ketiga orang itu terjingkat kaget. "Loh, Kak Bagas!" kaget Ardi.
Iya, Pria itu adalah Bagas. Bagas tadi ingin mengajak Bunga makan siang, tapi saat dia sampai di kantor Bunga, Bagas melihat sang Pujaan hati tengah keluar bersama dengan Ardi dan juga sahabat perempuannya. Kemudian Bagas pun mengikuti ke mana mereka pergi, dia tidak rela jika Ardi berdekatan dengan Bunga, apalagi saat Bagas melihat waktu Ardi merangkul pundak Bunga di apartemen tadi pagi.
"Boleh aku gabung kan?" tanya Bagas pada Bunga, sambil melirik ke arah Ardi dengan tatapan menantang.
Bunga mengangguk. "Iya tentu saja, tapi kenapa Pak Bagas, eh, maksudnya kamu ada di sini?" Bunga bertanya dengan wajah yang begitu heran membuat Bagas benar-benar gemas dan ingin sekali menciu-mnya kembali.
"Iya tadi kebetulan habis meeting bertemu dengan klien, nggak sengaja lihat kalian di sini. Ya udah aku gabung, nggak papa kan, Di?" tanya Bagas sambil melirik ke arah Ardi yang sedang memasang wajah tidak suka karena Kakaknya ikut bergabung di sana, pasalnya Ardi tahu jika dia dan Bagas sedang memperebutkan wanita yang sama.
"Nggak apa-apan sih," jawab Ardi dengan cuek, tetapi Tina melihat jika ada aura persaingan di antara Kakak beradik itu. Tapi entah itu persaingan apa, Tina pun tidak tahu.
*********
"Ilham, bagaimana keadaan Azam? Cucu Ibu baik-baik saja kan? Cucu Ibu gak kenapa-napa kan?" tanya Tante Farah dengan wajah yang panik.
"Iya Bu, Azam baik-baik aja kok," jawab Ilham.
Kemudian tante Farah mencekal tangan Ilham dengan kasar. "Kamu ini gimana sih? Bagaimana bisa Azam bisa jatuh dari tangga? Apa kalian tidak mengawasi Azam? Lalu gunanya Baby Sitter di rumah itu apa?" bentak Tante Farah dengan nada marah kepada Ilham.
Sementara itu Ilham yang mendengar bentakan sang Mama hanya bisa menghela nafas, dia tidak mungkin bilang jika karena pertengkaran dia dan Nara. Azam jatuh bukan karena pertengkarannya saja, tapi karena Nara berselingkuh dari Ilham, dan dia tidak ingin membicarakan itu dulu bersama Mamanya, karena dia tahu pasti amarah Mamanya akan menggebu-gebu.
"Iya Ma, dia lepas dari gendongannya Nara. Kami teledor," ujar Ilham dengan nada bersalah, karena memang merasa bersalah sebab Azam seperti itu tidak jauh atas kesalahannya juga.
__ADS_1
"Sudahlah, sekarang di mana cucu ibu?" Tante Farah mencoba meredam emosinya kemudian Ilham mengajak sang Mama untuk masuk ke dalam kamar di mana Azam sedang dirawat saat ini.
Saat mereka masuk, Ilham sama sekali tidak menemukan Nara, dia melihat Azam sendirian di dalam ruangan itu. Seketika dada Ilham kembali bergemuruh dengan api amarah, dia benar-benar kesal pada istrinya.
"Ke mana Nara? Kenapa kalian meninggalkan anak kalian di sini sendirian? Jika terjadi apa-apa sama Azam, bagaimana? Dia ini belum genap 2 tahun loh!" kesal Tante Farah sambil melihat keselur ruangan, tetapi tidak menemukan di mana Nara bahkan di toilet pun tidak ada.
"Mama tunggu di sini, aku cari Nara dulu," jawab Ilham sambil mencoba meredam emosinya di hadapan sang Mama. Kemudian dia keluar dari ruangan dan mencari Nara. "Ke mana wanita itu? Bisa-bisanya dia meninggalkan Azam sendirian di ruangan! Bagaimana kalau Azam bangun dan nangis?" gumam Ilham dengan geram, sambil matanya melihat ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Nara.
Saat Ilham tengah mencari Nara, tiba-tiba dari arah berseberangan Nara sedang menenteng sebuah plastik dan ternyata itu adalah arah kantin. Seketika Ilham berjalan dengan cepat dan menarik Nara dan mengungkungnya di tembok.
"Kamu ini dari mana saja, Hah? Kenapa kamu meninggalkan Azam sendirian? Kan aku sudah bilang sebentar, kenapa kamu malah meninggalkannya!" bentak Ilham sambil menatap kedua mata Nara dengan tajam.
"Habis dari kantin, Mas. Perutku benar-benar lapar belum diisi. Dan melihat Azam masih tertidur, jadi aku pergi ke kantin untuk beli sarapan. Emangnya salah aku belum makan dari pagi, Mas? Perutku hanya diganjal roti saja," jawab Nara dengan nada Ketus.
Ilham seketika melepaskan kungkungannya dan mengusap wajahnya dengan kasar. Dia pikir Nara meninggalkan Azam untuk pergi menemui pria selingkuhannya itu, tapi ternyata Nara pergi untuk membeli sarapan,ndan Ilham ingat jika memang dia dan Nara belum sarapan dari pagi.
"Ya sudah ayo, Ibu sudah ada di ruangan menemani Azam," ajak Ilham berjalan lebih dulu meninggalkan Nara, sementara itu Nara hanya tersenyum menyeringai.
'Tidak sia-sia mempunyai feeling yang tajam sebagai seorang wanita, jadi aku bisa ada alasan untuk keluar dari kamarnya Azam,' batin Nara sambil tersenyum miring.
Dia memang tadi keluar dari kamarnya Azam karena Ferdi menelpon, dan Nara tidak ingin Ilham melihat itu dan semakin marah kepadanya lalu tidak jadi memberikan haknya, kemudian Nara pun berjalan keluar mencari alasan ke kantin. Padahal dia mengangkat telepon Ferdi setelah itu baru ke kantin.
Bersambung. . ........
__ADS_1