Penghianatan Suamiku

Penghianatan Suamiku
Wanita Tidak Tahu Diri


__ADS_3

Happy reading........


Bagas memayungi tubuh Bunga, takut jika wanita itu akan sakit. Bunga yang merasa jika air hujan tak lagi membasahi wajahnya seketika membuka matanya, dan ternyata di hadapannya kini ada Bagas.


"Kan saya sudah bilang, jangan keluar. Kenapa kamu malah keluar? Ini hujan, nanti kalau kamu sakit bagaimana?" Bagas berkata dengan nada sedikit cemas membuat Bunga seketika menundukkan wajahnya.


Dia merasa bersalah karena tidak menuruti ucapan Bagas yang melarangnya untuk keluar dari mobil, karena Bunga pun tidak tahu dirinya terdorong begitu saja untuk keluar dari mobil dan menikmati setiap guyuran air hujan.


Tanpa diduga tangan Bagas terangkat, kemudian dengan satu jari telunjuknya dia mengangkat wajah Bunga hingga kedua mata mereka bertabrakan satu sama lain. "Tolong jangan panggil aku Pak! Kita ini sudah saling mengenal satu sama lain, dan jangan panggil aku dengan sebutan Pak, itu terlalu formal. Panggil aku nama saja jika kita sedang di luar kantor, tapi jika kita sedang di kantor maka tidak apa-apa," ujar Bagas dengan nada yang begitu lembut.


Bunga yang mendengar itu bergetar, secara tidak sadar dia pun menggigit Bibir bawahnya saat mendengar suara lembut mendayu-dayu yang begitu menyejukkan hatinya. Apalagi tatapan Bagas terasa begitu hangat menusuk lerng kalbu Bunga.


Keduanya sama-sama tidak sadar jika saat ini wajah mereka semakin mendekat, Bunga benar-benar terhipnotis dengan mata tajam milik Bagas, hingga tidak terasa bibir mereka sudah menempel satu sama lain.


Dada Bagas benar-benar berdebar, dia merasa jantungnya akan lompat dari tubuhnya. Tapi, saat melihat tidak ada respon dari Bunga, Bagas pun dengan perlahan mulai melu-mat dan meny-esap bibir lembut milik Bunga, lalu satu tangannya terulur ke belakang leher Bunga, menahan agar wanita itu tidak banyak bergerak.


Mata Bunga terpejam saat merasakan lembut dan hangatnya bibir milik Bagas. Entah kenapa dia tidak bisa menolak, tubuhnya seakan bertolak belakang dengan hati dan juga pikirannya. Tubuhnya seakan menikmati apa yang Bagas lakukan saat ini di bibir imutnya.


Hingga beberapa menit kemudian tautan itu pun terlepas, lalu keduanya sama-sama merasa canggung, wajah Bunga bahkan sudah memerah bagaikan tomat yang baru saja matang dari air rebusan dan siap untuk diulek. Begitupun dengan Bagas, dia pun tak kalah malu, dia merutuki kecerobohannya kenapa dia bisa selancang itu kepada Bunga.


"Ma-afkan a-ku! Aku benar-benar tidak bermaksud untuk berbuat yang tidak-tidak. Hanya saja tadi aku..." Bagas tidak bisa meneruskan kata-katanya, dia bingung harus mengucapkan apa? Karena sejujurnya dia pun tidak tahu dorongan dari mana sehingga dia berani mencium bibir Bunga.


"I-ya P-ak, tidak apa-apa. E-h ma-ksud saya Ba-gas." Bunga menjawab dengan suara lirih dan juga malu-malu bahkan sedikit terbata, karena dia masih merasa canggung. Lalu pandangan matanya beralih ke tempat lain. "Montirnya apakah masih lama? Lebih baik Saya menunggu di mobil saja," sambung Bunga, kemudian masuk kembali ke dalam mobil.

__ADS_1


"You stupid... Stupid! Kenapa kamu sampai terlena dengan ciumannya Pak Bagas? Apa yang kamu lakukan, Bunga? Ya ampun, kalau sampai Pak Bagas mikir aku wanita yang murahan? Aduh Bunga..." Bunga benar-benar merutuki kebodohannya sendiri, dia sampai memukul-mukul kepalanya berkali-kali dan menggigit bibir bawahnya, karena Bunga merasa ciuman hangat tadi masih begitu sangat terasa di bibirnya.


***********


"Terima kasih ya, karena anda sudah mengantarkan saya. Kalau begitu saya masuk dulu," ucap Bunga saat berada di apartemen. Bagas tidak jadi mengantarkan Bunga ke kantor karena saat ini baju Bunga sangat basah, akhirnya Bagas pun mengantarkan Bunga pulang ke apartemennya.


Setelah itu Bunga pun masuk ke dalam apartemen, namun tangannya segera ditahan oleh Bagas hingga membuat Bunga kembali menatap pria tampan itu yang terlihat begitu gagah dengan rambut basah dan kemeja yang basah, hingga menampilkan otot-otot badannya yang begitu kekar dan membuat Bunga seketika meneguk ludahnya dengan kasar.


'Duh otak, kenapa kok travellingnya jauh sekali?' batin Bunga menggerutu pada otaknya sendiri karena melihat dada bidang dan juga roti sobek di balik kemeja basah milik Bagas.


"Aku kan sudah bilang, jangan panggil terlalu formal jika kita sedang berdua. Panggil aku kamu, atau mungkin Mas, itu akan lebih enak," ujar Bagas sambil tersenyum. Kemudian dia pun berbalik meninggalkan Bunga yang masih terpaku di depan pintu apartemennya.


Tidak Bagas pungkiri jika dia pun merasa bahagia atas kejadian tadi, karena sudah lama Bagas tidak merasakan hal itu semenjak istrinya meninggal, yaitu 4 tahun yang lalu. Bagas memang tidak sembarangan celup sana sini, dia sangat menjaga jarak dan juga menjaga diri dari wanita, tapi entah kenapa tiap berada di sisi Bunga, Bagas selalu berdesir.


***********


Ilham yang melihat itu pun segera berdiri lalu melipat kedua tangannya di depan dada. "Dari mana kamu? Istri macam apa kamu, jam segini baru pulang? Pergi pagi pulang malam. Kamu ini kayak seorang pel*cur tahu nggak!" geram Ilham sambil menatap Nara dengan tajam.


Nara benar-benar tidak terima dengan ucapan Ilham, kemudian dia membalas tatapan Ilham dengan tajam. "Maksud kamu apa bicara seperti itu? Aku ini capek Mas, baru pulang dan kamu malah menuduh aku yang tidak-tidak? Tega kamu ya sama aku!" protes Nara dengan ketus.


Ilham yang mendengar itu malah mencebikan bibirnya, kemudian dia mengitari tubuh istrinya lalu dia mengangkat dagu Nara kemudian menghempaskannya dengan kasar.


"Kamu bilang apa, aku kejam? Keterlaluan? Bukankah di sini kamu yang seperti itu? Kamu berani berselingkuh di belakang aku! BERANI KAMU!" Ilham membentak dengan nada yang tinggi sambil mendorong tubuh Nara ke atas ranjang, kemudian dia naik ke atas tubuh Nara lalu mencengkram rahang Nara dengan kasar, hingga membuat bibir wanita itu maju 5 cm.

__ADS_1


"Kamu dengar ya! Aku telah melepaskan Bunga demi kamu! Apapun kulakukan demi kamu. Tapi apa balasan kamu? Kamu malah berselingkuh di belakang aku, dan kamu malah jalan dengan pria lain? Oh, atau jangan-jangan kamu dan dia sudah pernah tidur? Dasar kau wanita tidak tahu diri! Istri tidak berguna! Wanita ***-***!" geram Ilham sambil menampar wajah Nara.


Amarahnya benar-benar sudah tidak terkontrol, Ilham ingin sekali mencekik Nara, tapi dia masih bisa menguasai emosinya karena tiba-tiba wajah Azam terlintas di benaknya. Kemudian dia turun dari tubuh Nara lalu berjalan keluar dari kamar.


Nara tentu saja sangat syok mendapatkan perlakuan kasar dari Ilham, sebab baru kali ini pria itu berani bermain kasar bahkan sampai menampar wajahnya. Air mata Nara sudah tidak terbendung lagi, dia menangis lalu memegang pipinya yang terasa begitu panas.


"Apa Mas Ilham mengetahui tentang perselingkuhan aku? Kalau seperti itu bisa gawat. Aku harus membujuknya," gumam Nara sambil berlalu menyusul Ilham keluar kamar, dia melihat Ilham akan menuruni tangga kemudian Nara menarik tangannya hingga langkah pria itu pun terhenti.


"Tunggu Mas! Apa maksud kamu? Aku tidak pernah selingkuh! Kamu tahu dari mana berita seperti itu? Aku benar-benar tidak pernah ada main di belakang kamu, Mas." Nara mencoba meyakinkan Ilham, tapi sayang Ilham malah menghempaskan tangan Nara dengan kasar.


Saat Ilham akan menjawab ucapan Nara, tiba-tiba Baby sitter membawa Azam yang sedang menangis hingga pandangan Ilham pun teralihkan dia. "Kenapa?" tanya Ilham kepada Baby sitternya.


"Saya tidak tahu Pak, tiba-tiba Den Azam menangis," jawab Baby sitter itu. "Padahal saya sudah memberikan Den Azam ini susu, tapi Den Azam masih tetap menangis." Kemudian Ilham menyuruh Baby sitternya untuk memberikan Azam kepada Nara,


"Kamu lihat! Anak kamu menangis itu merindukan kamu. Tapi apa? Mamanya malah pergi pagi pulang malam." Setelah mengatakan itu Ilham pun turun ke lantai bawah, tapi 5 anak tangga lagi untuk sampai di lantai bawah Nara kembali menghentikannya.


"Mas, tapi aku tidak pernah ada main di belakang kamu, Mas. Aku benar-benar tidak selingkuh!" Nara masih ngotot untuk meyakinkan Ilham jika dia tidak pernah bermain di belakang pria itu. Tapi sayang, Ilham sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri jikaN Nara bukanlah wanita yang baik.


"Bullshit! Semuanya omong kosong. Aku tidak percaya dengan ucapan kamu!" geram Ilham sambil menghempaskan tangan Nara, namun Nara tidak membiarkan itu. Dia terus mencengkram tangan Ilham, enggan untuk melepaskan tangan pria itu hingga Ilham yang sudah tersulut emosinya menarik tangannya dengan kasar, dan Nara yang tidak punya keseimbangan seketika Terhempas. Dan naasnya Azam jatuh dari pelukan Nara akibat tarikan kuat itu, hingga terguling dari tangga menuju ke lantai bawah.


"AZAAM...!" panik Ilham saat melihat putranya jatuh dari gendongan Nara dan langsung tak sadarkan diri.


Bersambung.,.......

__ADS_1


__ADS_2