Penghianatan Suamiku

Penghianatan Suamiku
# 33


__ADS_3

Adnan terdiam sebentar, dia mencerna apa yang dikatakan oleh perawat tadi.


Suara burung gagak yang berbunyi berkali kali di sekitar kamar rawat bu Siti, membuat Adnan segera mendekat ke arah ibunya.


Dia memegang kaki sang ibu yang sudah sedingin es.


Bu Siti yang merasa ada pergerakan di kakinya terbangun.


"Adnan...."


"Ya bu...."


"Tolong bawa Nadin kesini, ibu ingin minta maaf...."


"Ia bu, besok pagi Adnan akan membawa Nadin ke sini...."


"Ia, semoga Nadin masih mau menemui ibu..."


..............................................


Pagi hari.....


Nadin sudah siap pergi ke pasar bersama mbok Jum.


"Pokonya jangan cape-cape ya sayang..."


"Ia mas..."


"Ya sudah mas berangkat dulu ya...."


"Ia, hati-hati.... "


Suara deru motor terdengar.


Bagas menghentikan langkahnya. Kala melihat ada seseorang yang datang.


Motor itu berhenti tepat di halaman rumah Nadin. Sang sopir mengenakan jaket yang khas dengan salah satu ojek onlen.


Sang penumpang turun, dengan perlahan ia membuka helmnya.


"Pagi semua...."


"Pagi...."


"Ada apa anda kemari?" tanya Bagas


"Mohon maaf bila kedatangan saya mengganggu...." nada gelisah


"Ia...."


"Saya kesini hanya ingin menyampaikan keinginan ibu saya...."


Hening. Tak ada yang berniat bertanya atau sekedar basa basi, mereka menunggu kalimat Adnan selanjutnya.


"Ibu saya ingin bertemu dengan Nadin..."


"Anda bisa membawanya kesini bukan?"


"Tidak bisa, karena ibu saya sedang terbaring di rumah sakit, jadi bisakah saya meminjam istri anda sebentar?"


"Tidak bisa, tapi saya sendi yang akan mengantarkannya menemui ibumu, ayo kita berangkat...."

__ADS_1


"I ia ayo...." Adnan terkesiap mendengar jawaban Bagas. Ia kira Bagas tak akan memperbolehkan istrinya menemui mantan ibu mertuanya yang telah menyakiti sang istri.


"Ayo sayang, mbok Jum tetep ke pasar ya..."


"Ia mas...."


Adnan segera naik ke montor, lalu ia menyuruh sang sopir untuk melajukan kendaraannya.


Bagas dan Nadin berjalan beriringan menuju mobil. Setelah samapi di mobil keduanya langsung memposisikan diri. Tak ada adegan buka bukaan pintu mobil.


"Siap sayang?"


"Ia mas...."


"Ok, berdo'a lalu kita jalan..."


Nadin dan Bagas membaca do'a naik kendaraan darat. Setelah itu Bagas langsung menjalankan mobilnya.


Di sepanjang perjalanan, Nadin selalu memandangi wajah tampan suaminya dengan senyum yang menghiasi bibirnya.


Kini Bagas dan Nadin sudah berada di ruang rawat bu Siti.


"Nadin, ibu minta maaf ya, selama kamu jadi mantu ibu, ibu ga pernah baik ke kamu..."


"Ia bu, Nadin sudah memaafkan ibu ko..."


"Terima kasih na, Adnan ibu harap kamu akan menemukan kebahagianmu sendiri, tanpa merusak kebahagian orang lain...."


"Mas, aku minta maaf ya, selama aku menjadi istrimu, aku tak pernah bersikap baik...."


"Mas juga minta maaf, kalo selama ini mas tidak bisa menuntunmu ke jalan kebaikan..."


Bu Siti mengukir senyum, lalu ia menutup matanya dengan perlahan.


Pak Slamet tau, ini adalah waktu akan datangnya perpisahan bagi setiap jiwa dan raganya. Ia segera menuntun bu Siti untuk mengucapkan dua kalimat syahadat.


Bu Siti mengucapkan dua kalimat syahadat dengan tersendat sendat. Kemudian bu Siti menghembuskan nafas terakhirnya.


Langit yang begitu cerah langsung berubah menjadi mendung dan menurunkan rintik hujannya dengan deras, seolah olah ikut merasakan kehilangan.


Adnan langsung menekan tombol darurat, sembari mengelap air mata yang terus turun dari kedua matanya.


Nadin langsung menyembunyikan wajahnya pada dada bidang nan kokoh milik suaminya dan menangis di sana.


Tap tap tap


Saura langkah kaki yang kian mendekat. Seorang dokter datang, ia langsung memeriksa keadaan bu Siti.


"Hah......" menghela nafas


"Saya nyatakan pasien telah meninggal pada jam 07:45 WIB...."


"Tolong segera di urus...." ucap sang dokter itu sebelum melangkah pergi


"Maaf mas, jika anda ingin segera membawa almarhumah pulang, tolong urus administrasinya dulu, ini semua total biayanya....." ucap seorang suster, dengan memberikan selembar nota pembayaran rumah sakit.


"Apa kau tak punya perasaan hah...." bentak Adnan pada sang suster


Suara bentakan Adnan membuat beberapa orang yang sedang menunggui keluarganya menjadi mendekat karena penasaran.


"Tapi ini peraturan rumah sakit...." ucap suster itu dengan suara lirih, hampir tak terdengar, namun begitu jelas di tenginga Adnan.

__ADS_1


"Per*** dengan peraturan, dasar manusia tak punya perasaan, semua di ukur dengan uang, bahkan nyawa seseorang di jadikan lahan bisnis, cuih..." meludahi sang suster


Bagas mengurai pelukannya, lalu ia berusaha menenagkan Adnan.


"Tahan emosimu bro, ga guna juga..."


"Lo bisa bilang begitu karena lo belum pernah merasakan sakitnya....." Adnan samakin tak terkendali


"Sus berapa totalnya?" tanya Nadin


"Lima juta delapan ratus tiga puluh lima, dua ratus rupiah mba...." jawab suster satunya


"Gunakan ini mba tolong cepat, sebelum keadaan tambah kacau...."


Nadin memberikan kartu ATM yang berisi nafkah untuknya. Biarlah nanti ia yang akan menjelaskan kemana perginya uang nafkahnya dan ia akan meminta maaf.


Sang suster dengan cepat menyambar kartu ATM nya, lalu ia segera pergi ke bagian administrasi.


"Nan jangan buat gaduh, tolong jaga ibumu sebentar, ayah akan cari pinjaman...." ucap pak Slamet


Adnan diam, dia sedang berusaha mengatur emosinya.


"Mau cari pinjaman kemana lagi yah, Adnan sudah mencoba dari rumah ke rumah tetangga namun apa hasilnya?, zonk...."


"Sudah jangan ribut, tadi saya ngeliat mba ini udah menyuruh suster yang satu mengurusnya....." ucap seorang ibu yang sedang menunggui suaminya


"Benarkah?" tanya pak Slamet


"Ia pak..." jawab Nadin


"Akan ku ganti nanti..." ucap Adnan


"Ya...." jawab Nadin


"Sekarang tolong semuanya buabar ya..." ucap Bagas, membubarkan para tetangga kamar yang kepo


"Mba, ini notanya dan kartu ATM nya, lunas ya...."


"Makasih sus...."


"Sekarang mas dan bapak bisa membawa pulang jenazahnya...."


"Ayo yah kita bawa pulang...." ucap Adnan


"Maaf sebelumnya, saya dan istri tidak bisa ikut mengurus, semoga semuanya di perlancar ya, ini ada sedikit uang buat urus pemakaman istri bapak..." ucap Bagas, sembari memberikan amplop berwarna coklat ke pak Salamet


"Makasih banyak na Bagas..." ucap pak Slamet


Adnan hanya terdiam, ada sedikit rasa bersalah yang hinggap di hatinya. Seharus ia lah yang membiayai pemakaman ibunya, bukan orang lain, namun apa daya, dia tak mampu.


Dia juga merasa bersalah karena selama menjadi seorang anak tak pernah berbakti.


"Sama-sama pak, mari kami duluan..." pamit Bagas


Sebenarnya ia belum berniat pulang, lagi pula hujan di luar belum reda. Namun ia tak suka melihat tatapan Adnan yang menatap ke arah istrinya dengan tatapan masih ingin memiliki, jadi ia memutaskan untuk membawa pergi sang istri dari ruangan itu.


"Kita pulang sekarang mas?" tanya Nadin setelah berjalan sedikit jauh daru ruangan


"Nanti tunggu hujannya reda, kita ke kantin ya........"


"Ayo, aku juga lapar, pengin yang anget anget........ "

__ADS_1


__ADS_2