Penghianatan Suamiku

Penghianatan Suamiku
Bab 79


__ADS_3

Happy reading......


Saat ini seseorang yang ditugaskan oleh ilham, yaitu seorang detektif tengah duduk di ruangan ilham sambil memberikan laporan penyelidikan dia tentang Nara, dan ilham sedang membaca dan melihat foto-foto hasil penyelidikan detektif nya..


Tangan ilham terkepal, amarah yang tadinya mulai mereda kini semakin berkobar saat dia melihat dan mendapatkan fakta jika Nara pernah tidur bersama dengan Ferdi.


'Dia benar-benar keterlaluan! Ternyata tubuhnya yang selama ini kunikmati bekas orang lain, benar-benar tidak punya hati. Pantas saja waktu itu dia sudah tidak perawan,' batin Ilham dengan geram sambil menatap foto Nara dan juga Ferdi yang berada di lobby hotel.


"Pergilah dan selidiki tentang pria itu, aku ingin data dia secepatnya kau paham!" titah Ilham pada detektifnya, dan langsung dibalas anggukan oleh pria itu kemudian dia pun keluar dari ruangan Ilham.


"Aaagggh..." Ilham teriak dengan geram sambil menggebrak meja kaca yang ada di hadapannya hingga pecah, dan tangannya terluka karena pecahan kaca itu. Kemudian Ilham memanggil cleaning service untuk membersihkan kekacauan yang ada di ruangannya.


"Jangan-jangan, Azam juga bukan Putraku? Aku benar-benar harus melakukan tes DNA kepada Azam, aku harus membuktikan jika Azam memang benar Putraku atau bukan?" gumam Ilham dengan sorot mata yang begitu tajam hingga terlihat ingin keluar dari tempatnya.


Entah kenapa saat ini Ilham merasa ragu jika Azam bukanlah putranya. Dia yang awalnya sangat yakin jika Azam putranya, setelah mengetahui perselingkuhan Nara dan juga Ferdi Ilham pun meragukan DNA Azam.


Dan rasa takut kini ada di hati Ilham, dia takut jika Azam memang bukan anaknya. Lalu, apa yang harus dia lakukan jika mengetahui kebenaran itu. Dan Ilham bingung sebab dia juga sudah menyia-nyiakan Bunga jika memang benar Azam bukanlah putranya.


********


Tepat jam 07.00 malam Bagas datang ke apartemen Bunga untuk menjemput Aurora. Hari ini memang jadwal dia sangat padat, tadinya dia ingin menjemput putrinya jam 05.00 sore tetapi malah terhalang oleh meeting yang tidak bisa dia tinggal, dan ada beberapa berkas juga yang harus dia cek untuk besok.

__ADS_1


Bagas melihat jika Aurora juga sudah mandi dan sudah rapi, dia benar-benar beruntung menitipkan Aurora pada Bunga. Dan saat ini Bunga tengah menyiapkan makan malam untuk mereka.


Melihat bagaimana Bunga melayani dia dan juga Aurora, Bagas merasa Jika Bunga saat ini tengah menjadi istrinya, di mana dia sudah pulang dari kantor disambut oleh Bunga dan dihidangkan makanan dengan penuh rasa cinta.


"Ya sudah, sekarang kita makan dulu. Nanti setelah Aurora makan, Aurora boleh pulang," ujar Bunga pada Aurora sambil mengecup kening gadis kecil itu.


Suasana di meja makan terasa begitu hangat, Bunga pun merasakan itu. Dia seperti memiliki keluarga yang kecil, di mana ada suami dan juga anaknya, tapi sayang itu hanya angan-angan Bunga saja. Tapi entah kenapa Bunga merasa dirinya begitu nyaman hingga tidak bisa digambarkan bagaimana rasa itu.


Makan malam pun selesai, Bunga saat ini tengah mencuci piring kotor, dan Bagas yang melihat itu tentu saja merasa tidak enak. Dia pun menggulung kemejanya setengah lengan kemudian dia membantu Bunga mencuci piring. "Tidak usah, tidak apa-apa biar aku saja. Lagi pula ini pekerjaan wanita bukan?" ucap Bunga melarang Bagas untuk membantunya mencuci piring.


"Enggak papa, lagi pula aku kan sudah merepotkan kamu. Apalagi kamu menjaga Aurora seharian ini," jawab Bagas sambil membilas piring yang telah disabuni oleh Bunga.


Tatapan mata mereka harus terhenti saat ponsel Bagas berdering hingga Bunga menjadi salah tingkah dan kembali melanjutkan cuci piringnya. Sedangkan Bagas mencuci tangannya dan mengangkat telepon yang ternyata dari anak buahnya.


Bagas pun berjalan ke arah balkon kemudian mengangkat telepon itu, sementara Aurora sedang berada di ruang tv menonton kartun kesukaannya.


Bunga yang sudah selesai mencuci piring membuatkan kopi untuk Bagas, lalu menyerahkannya ke balkon. Tapi saat langkah Bunga semakin mendekat, dia mendengar jika Bagas dedang marah-marah pada seseorang di seberang telepon.


"Pokoknya saya tidak mau tahu ya! Kamu halangi mereka, jangan sampai mereka menyentuh orang-orang yang saya sayang! Dan pastikan mereka mendapat hukumannya!," ujar Bagas pada seseorang di seberang telepon dengan nada yang begitu murka.


'Kenapa Bagas terlihat sangat marah? Siapa yang menelponnya? Siapa yang ingin mencelakai keluarganya?' batin Bunga bertanya-tanya, tapi itu bukan urusannya juga walaupun sebenarnya hati Bunga merasa cemas.

__ADS_1


"Sial! Mereka berani bermain-main dengan ku rupanya!" geram Bagas sambil mengepalkan tangannya dan memukul pagar balkon. Dia tidak sadar jika Bunga berdiri di belakangnya dan melihat kemarahannya saat ini.


"Eekhm... Permisi, ini aku buatin kamu kopi." Bunga berdehem membuat Bagas seketika terlonjak kaget, kemudian dia berbalik.


"Ka-mu sejak ka-pan ada di situ?" tanya Bagas dengan gugup, karena dia takut Bunga mendengar semua percakapannya dengan anak buahnya.


"Baru saja, ini diminum dulu kopinya. Maaf jika aku mengganggu." Bunga hendak pergi setelah menaruh kopi di atas meja, tapi Bagas menghentikan nya dengan memegang tangan Bunga hingga membuat wanita itu berbalik dan menatapnya.


Bunga dapat melihat raut kecemasan di kedua mata tegas milik Bagas.


"Ada apa? Apa ada masalah?" tanya Bunga, tetapi Bagas langsung menggeleng. Dia tidak mau menceritakan masalahnya kepada Bunga, karena Bagas tidak ingin melibatkan orang lain dan tidak mau membuat Bunga cemas. Dia akan mencoba menanganinya sendiri karena bagi Bagas itu adalah hal yang kecil walaupun tidak dia pungkiri ada rasa takut di dalam hatinya.


Kemudian Bagas meminta Bunga untuk menemaninya minum kopi di balkon sambil menatap gelapnya malam, tidak Bagas pungkiri jika hatinya saat ini tengah gundah. Bagaimana tidak? Sesuatu yang besar akan terjadi dan Bagas takut jika nanti apa yang dia takutkan malah terjadi.


Bunga menarik nafasnya, kemudian dia menggenggam tangan Bagas yang berada di atas meja. Merasa tangannya digenggam Bagas pun menengok ke arah Bunga, dan menatap wanita cantik itu.


"Percayalah, setiap masalah itu ada jalan keluarnya. Kalahkan rasa takutmu! Tataplah lurus ke depan, di sana akan ada cahaya yang siap menyambutmu. Jangan pernah pikirkan kemungkinan yang buruk, karena sesuatu yang buruk itu akan terjadi sesuai dengan pikiran kita. Yakinlah, jika semua akan baik-baik saja, karena dengan keyakinan mampu membangkitkan semangat di dalam diri kita."


Bagas yang mendengar ucapan Bunga seketika tersenyum, dia benar-benar beruntung mempunyai wanita itu di sisinya. Walaupun saat ini Bunga bukanlah siapa-siapanya tapi sebentar lagi setelah masa iddah Bunga selesai, Bagas akan melamarnya dan dia akan menjadikan Bunga pendamping hidupnya sekaligus Ibu pengganti untuk Aurora.


Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2