
Happy reading......
Tina menatap ke arah Bunga, kemudian dia menundukkan kepalanya sejenak, mencoba menetralisir perasaannya saat ini dan Tina berpikir, tidak ada salahnya untuk bercerita kepada Bunga tentang apa yang dirasakannya kepada Ardi saat ini. Siapa tahu dengan berbicara kepada Bunga, dia bisa menemukan jalan, apakah memang itu sebuah cinta atau hanya sebuah Obsesi dan kagum semata.
''Sebenarnya, aku sedang bingung dengan perasaanku pada Ardi?'' jujur Tina dengan wajah yang lesu.
''Ardi? Kok Ardi? Hubungannya dengan dia apa? Dan perasaan apa yang kamu maksud?'' Bunga memberondong Tina dengan pertanyaan, karena saat mendengar nama Ardi dan sebuah perasaan, Bunga benar-benar bingung.
Kemudian Tina pun menceritakan tentang kedekatannya selama ini dengan Ardi, dan dia juga menceritakan tentang perasaannya yang dia rasakan kepada pria itu, sahabatnya. Bunga mendengarkan cerita Tina dengan seksama, tanpa menyela ucapan wanita itu sedikitpun.
''Jadi, bagaimana menurutmu? Apakah ini cinta, atau hanya kagum semata?'' tanya Tina, setelah dia selesai menceritakan tentang apa yang dia rasakan beberapa hari ini. Apalagi saat dia melihat Ardi bersama dengan Mentari.
Bunga tersenyum, kemudian dia mengusap bahu Tina dengan lembut dan menatap sahabatnya itu sambil memegang salah satu tangan Tina, lalu Bunga mengambil satu cangkir teh hangat dan memberikannya kepada Tina. ''Minumlah dulu! Agar hatimu jauh lebih tenang,'' ujar Bunga sambil menyerahkan cangkir berisi teh kepada Tina.
Wanita itu mengangguk, kemudian dia menerima cangkir itu dan mulai meminum isinya hingga habis setengah, setelah itu Bunga mulai menjawab pertanyaan Tina.
''Mungkin saja, memang kamu menyukai Ardi, tapi suka itu perasaan yang umum bukan? Setiap manusia hanya bisa berencana, tapi Allah lah yang menentukan. Dia yang membolak-balikkan hati manusia. Kamu selama ini menganggap Ardi sebagai sahabat, Ardi pun juga begitu. Akan tetapi, sekarang siapa yang menyangka, bahwa perasaan itu tumbuh dari sahabat menjadi cinta?'' Bunga sejenak menghentikan ucapannya, mencoba menatap ke arah Tina yang sedang mendengarkan dia dengan seksama. Kemudian Bunga melanjutkan ucapannya kembali.
''Seperti yang aku bilang, rasa yang ada di dalam hatimu itu adalah sebuah rasa suka. Jika dibilang rasa cinta, aku belum terlalu yakin. Saat kamu melihat mentari dan Ardi bersama, lalu kamu jelous, itu hal yang wajar. Karena setiap orang yang menyukai lawan jenisnya dan melihat orang yang disukai dia jalan dengan wanita atau pria lain, otomatis orang itu nggak akan pernah suka, dan ada rasa cemburu di dalam hatinya. Walaupun begitu, jangan sampai rasa tidak suka kamu, membuat kamu menjadi orang yang jahat dan juga egois. Kamu tentu sangat mengenal Ardi, bukan? Dia seperti apa dan bagaimana? Percayalah, jodoh, maut, Rezeki itu sudah diatur sama Allah. Kita sebagai manusia hanya bisa berencana dan menjalankannya saja, selebihnya Allah yang menakdirkan semua garis hidup kita.''
__ADS_1
Bunga mencoba memberi pengertian kepada Tina, agar wanita itu tidak putus asa, dan agar Tina jauh lebih tenang. Setelah mendengar penuturan dan juga nasihat dari sahabatnya, perasaan Tina saat ini jauh lebih plong. Dia membenarkan apa yang Bunga ucapkan.
''Kamu benar! Semua sudah Allah atur. Walaupun aku berencana sedemikian rupa, tetapi jika Allah tidak berkehendak, maka semua tidak akan terjadi. Sekarang aku pasrahkan semuanya sama yang di atas, entah jodohku siapa, aku akan menerimanya,'' ujar Tina sambil memeluk tubuh Bunga.
Dia benar-benar beruntung memiliki sahabat seperti Bunga, karena setiap ada masalah apapun mereka bisa saling sharing satu sama lain Entah itu bunga ataupun entah dirinya mereka bagaikan Upin dan Ipin yang tidak bisa terpisahkan satu sama lain.
*********
Mentari bingung saat Ardi membelokkan mobilnya ke sebuah restoran, dia pikir Ardi akan mengantarnya pulang, tetapi pria itu malah mengajaknya untuk makan malam. Mentari awalnya menolak, tetapi saat mendengar permintaan Ardi, wanita itu pun akhirnya hanya bisa pasrah dan mereka pun melakukan makan malam.
Ardi tentu saja sangat senang, karena dia bisa makan malam bersama dengan Mentari. Entah kenapa Ardi pun tidak tahu, perasaan apa yang dia punya kepada wanita itu? tetapi setiap berada di dekat Mentari, Ardi merasa nyaman. Karena Mentari wanita yang sederhana, cantik luar dan dalam.
''Assalamualaikum,'' ucap Ilham mengagetkan Nara, dan Wanita berjilbab itu pun menengok ke arah Ilham. ''Waalaikumsalam, eh Mas Ilham!'' kaget Nara saat melihat pria itu berada di sana.
Ilham pun tersenyum, kemudian dia langsung menggendong Azam dan mencium pipi gembul anak laki-laki itu. Nara yang sedang memanggang sosis sekilas menatap ke arah Ilham, hatinya merasa hangat saat melihat bagaimana kasih sayang Ilham kepada Azam. Walaupun pria itu sudah tahu jika Azam bukanlah putranya, tetapi Ilham masih menyayangi Azam, dan menganggap Azam sebagai Putra kandungnya.
'Andai saja Ferdi yang sekarang berada di posisinya Mas Ilham, karena dialah ayah kandung Azanm.' batin Nara teriris sakit saat melihat kasih sayang Ilham kepada Azzam. Dia menyayangkan, bagaimana Ferdi menyia-nyiakan Azam selama ini. Bahkan, pria itu tidak pernah menafkahi Azam sedikitpun.
Setelah melayani pembeli, Nara membuatkan teh hangat untuk Ilham. Lalu menyerahkan teh itu di samping Ilham. ''Ini Mas, diminum dulu tehnya mumpung masih hangat!'' ucap Nara sambil menaruh gelas.
__ADS_1
''Iya terima kasih,'' jawab Ilham sambil mengajak Azam bermain dengan robot-robotan yang dia beli tadi sebelum ke tempat itu.
''Seharusnya kamu tidak usah repot-repot Mas, membelikan mainan dan juga baju untuk Azam? Azam ini kan bukan--''
''Bkan putranya! Jadi, untuk apa Lo membelikan baju buat anak gue, hah!'' potong seorang laki-laki dengan sarkas dan nada yang tinggi.
Ilham dan Nara menengok ke arah sumber suara, dan ternyata pria itu adalah Ferdi. Nara yang melihat itu pun sangat ketakutan, kemudian dia langsung mengambil alih Azam dari gendongan Ilham. Entah kenapa, Ilham bisa melihat bagaimana Nara begitu takut saat melihat Ferdi.
'Kenapa aku melihat, jika Nara begitu ketakutan saat pria ini datang? Padahal, dulu mereka saling mencintai? Ada apa sebenarnya?' batin Ilham bertanya-tanya saat melihat raut wajah Nara.
''Untuk apa kamu ke sini? Kamu 'kan mantan suaminya Nara? Untuk apa, kamu menemui Nara dan juga anakku, hah!'' bentak Ferdi sambil menunjuk wajah Ilham. ''Dan kamu Nara, mana uangku? Cepat kasih! Aku mau nongkrong bersama teman-teman!'' pinta Ferdi sambil menengadahkan tangannya ke arah Nara.
Ilham mengerutkan dahinya saat mendengar Ferdi meminta uang kepada Nara, dan saat dia melihat Nara, wanita itu sangat ketakutan sambil menggelengkan kepalanya. Ilham yang melihat itu pun tentu saja sangat geram, karena sejahat jahatnya dia kepada perempuan, dia tidak pernah memalak namanya uang, apalagi terhadap wanita yang melahirkan anaknya.
''Heh, Lo itu Pria jangan pengecut ya! Kenapa Lo minta uang sama Nara? Emangnya kaki sama tangan Lo itu udah nggak berguna, sampai Lo nggak bisa kerja!'' bentak Ilham dengan geram sambil menatap tajam ke arah Ferdi.
''Gak usah ikut campur Lo! Siapa Lo, hah! Berani ikut campur urusan gue sama Nara? Lebih baik, sekarang Lo pergi dari sini!'' usir Ferdi sambil menunjuk wajah Ilham.
Bersambung.......
__ADS_1