Penghianatan Suamiku

Penghianatan Suamiku
Semobil


__ADS_3

Happy reading......


Ilham maju selangkah mendekat kearah Ferdi, dia menatap pria itu dengan tatapan tajam. Sementara Ferdi, menatap Ilham dengan tatapan angkuh dan juga menantang. Keduanya sama-sama terbakar emosi, hingga membuat suasana di sana terasa begitu mencekam dan juga tegang.


''Sebaiknya, lo pergi dari sini sekarang, jika memang lo masih sayang dengan nyawa lo? Karena berani lo sakit Nara dan juga Azam, Gue nggak kan pernah segan-segan buat laporin lo kepolisi!" ancam Ilham dengan suara yang begitu tegas.


''Lo pikir, gue takut? Gue tahu, lo itu cuma gertak aja. Lagian siapa lo, berani macem-macem sama Gue? Azam itu putra gue, bukan lo. Laki-laki mandul kayak lo itu, gak bisa apa-apa,'' ledek Ferdi sambil tertawa sinis ke arah ilham.


Ilham benar-benar tidak terima dengan perkataan Ferdi, kemudian dia menonjok wajah pria itu, hingga membuat Ferdi terhuyung ke aspal. Ferdi pun yang tidak terima ditonjok wajahnya oleh Ilham, seketika membalas tonjokan mantan suami Nara, hingga keduanya saling baku hantam dan membuat Nara menjerit ketakutan.


Beberapa warga yang melihat itu, melerai keduanya. Dua orang memegang Ilham, dan dua orang lagi memegang Ferdi. ''Sebaiknya, Bapak usir pria ini. Karena dia sudah mengancam dan juga membuat wanita itu tidak nyaman,'' ujar Ilham kepada warga sambil menunjuk ke arah Ferdi.


''Heh, yang sebaiknya pergi dari sini itu, lo. Gue Ayahnya Azam, dan lo bukan siapa-siapa.'' Ferdi hendak menonjok wajah Ilham kembali, namun warga memegang tangan Ferdi dengan kuat.


''Lo memang Ayahnya, tapi lo bukan suaminya. Ingat, lo malah mengambil hasil dari dagangannya Nara? Apakah, itu seorang pria yang baik? Sebaiknya lo pergi dari sini, sebelum gue panggil polisi! Jika lo berani untuk mengganggu Nara lagi,nmaka gue nggak akan pernah segan-segan masukin lo kedalam jeruji besi, paham!'' ancam Ilham dengan sorot mata yang tajam.


Pria itu pun pergi dari sana setelah warga melepaskan tangannya, sementara Nara masih memeluk tubuh Azam dengan ketakutan.


Melihat Nara yang sedang tertunduk takut, Ilham pun mendekat ke arahnya, lalu duduk di samping Nara, dan wanita itu langsung memeluk tubuh Ilham. Ilham yang paham pun, mengusap punggung Nara. Dia tahu, saat ini wanita itu tengah merasa takut.

__ADS_1


''Tenanglah, ada aku disini. Apa dia sering ke sini?'' tanya Ilham dengan tatapan menyempit ke arah Nara, ketika wanita itu sudah jauh lebih tenang.


''Tidak! Baru tiga hari ini, itupun dia tidak sengaja lewat bersama geng motornya. Dan saat dia melihat aku berjualan, dia terus ke sini meminta uang,'' jelas Nara sambil terisak kembali.


***********


Saat ini, di kediaman Anjasmara Bunga mengajak Tina untuk makan malam bersama sebelum wanita itu pulang. Lalu mereka pun kumpul di meja makan, dan di sana juga masih ada Riko. Karena tadi, Riko dan juga Bagas menyelesaikan pekerjaan di ruang kerja, jadi Riko tidak pulang terlebih dulu.


Selesai makan malam, mereka berkumpul di ruang keluarga untuk bersantai dulu sebelum Tina dan juga Riko pulang, dan Tina sudah kelihatan jauh lebih baik, karena dia sudah bercerita kepada Bunga tentang masalahnya.


''Oh iya, Nak Tina, apa sudah menikah?'' tanya Mama Ranti pada Tina. Sebab, Mama Ranti belum mengetahui status Tina yang janda.


Semua mata tertuju kepada Tina saat mendengar pertanyaan dari Mama Ranti. Tina pun tersenyum, ''Alhamdulillah Tante, belum lagi. Mungkin Allah belum mempertemukan jodoh Tina saat ini, Tante. Lagipula, Tina masih ingin fokus bekerja, dan masih sedikit trauma Tante dengan pernikahan yang dulu,'' jawab Tina sambil tersenyum kearah Mama Ranti.


Mama Ranti merasa tidak enak, karena sudah membuka luka lama Tina. Kemudian, dia pun berucap, ''maafkan Tante ya, Tina. Tante tidak tahu, kalau kamu sudah pernah menikah? Maaf jika Tante membuka luka lama kamu?''


''Tidak papa, Tante. Lagi pula, itu kan masa lalu. Tina juga sudah melupakannya. Masa lalu itu 'kan, harus dibuang pada tempatnya, Tante?'' kekeh Tina yang akhirnya membuat Bunga juga ikut tertawa.


Sementara itu, Riko hanya menatap Tina dalam diam. Dia tidak menyangka, jika Tina adalah seorang janda. Tadinya Riko pikir, Tina adalah seorang gadis yang tidak laku, tetapi ternyata dia salah.

__ADS_1


Setelah mengobrol cukup lama, dan jam pun sudah menunjukkan pukul 09.00 malam. Tina pun pamit untuk pulang ke apartemennya, dan karena mobilnya masih ada di kantor. Dia pun akan diantar oleh supir yang ada di kediaman Anjasmara, tetapi seketika Bunga menyela ucapan suaminya.


''Mas, kenapa Tina gak sekalian aja bareng sama Tuan Riko? 'Kan mereka sama-sama mau pulang? Biar searah aja gitu,'' usul Bunga dan langsung dibalas anggukan oleh Bagas.


''Betul juga, Rik, kamu anterin Tina pulang ya? Lagipula, kayaknya apartemen kalian searah?'' ujar Bagas kepada Riko, tapi pria itu hanya diam saja dengan wajah datarnya.


Tina yang melihat wajah datar milik Riko yang dingin, merasa tak enak. ''Tidak usah, tidak papa. Aku biar di antar sopir saja, lagipula--''


''Tidak apa-apa, lagian kita searah.'' Riko memotong ucapan Tina, dan menerima tawaran Bagas untuk mengantarkan wanita itu pulang.


Awalnya Tina menolak, tetapi setelah dipaksa Bunga, wanita itu pun pasrah dan ikut pulang bersama dengan Riko. Padahal sebenarnya, Tina sangat malas untuk satu mobil bersama dengan pria es balok seperti Riko. Lalu, mereka pun keluar dari kediaman Bagas dan pulang bersama.


Tidak ada pembicaraan di dalam mobil, hanya ada keheningan sambil menatap jalanan yang ada di luar. Tina juga enggan untuk mengajak Riko mengobrol, karena dia juga bingung harus membuka pembicaraan darimana dengan pria kaku seperti Riko.


'Haduh, aku harus berbicara apa? Rasanya nggak nyaman banget kalau semobil dengan robot?' batin Tina menggerutu sambil menatap kearah jalanan yang ada di sampingnya.


Sementara itu, Riko menatap Tina dari sudut matanya. Dia juga ingin mengajak wanita itu berbicara, namun Riko juga bingung harus memulai dari mana, karena dia tidak terbiasa semobil dengan lawan jenis. Biasanya, Riko hanya akan pergi sendiri, dan bila semobil pun, dia bersama dengan Bagas dan itu hanya soal kerajaan.


'Kenapa dia diam saja? Kenapa dia tidak bertanya sesuatu, kepadaku?' batin Riko merasa heran, saat melihat Tina hanya diam saja.

__ADS_1


Bersambung......


Haduh Bang, yang ada kmu lah yang ngajak ngobrol duluan🤣🤣Masa cewek? Gensi dongšŸ˜›šŸ˜›


__ADS_2