
Kentong maghrib terdengar. Bagas segera mengayuh sepedanya menuju rumahnya.
"Alhamdulillah....." ucap keduanya
Bagas memarkirkan sepeda milik istrinya di halaman rumah mereka, lalu keduanya pun masuk dan membersihkan diri kemudian solat.
"Assalamu'alaikum waroh matulloh... "
"Assalamu'alaikum waroh matulloh...."
Nadin segera menyalimi tangan suaminya. Setelahnya Bagas berdo'a.
"Amin..."
Bagas membalikan diri menghadap sang istri. Dia menatap wajah istrinya begitu lama.
"Kenapa sih mas, ko natap aku nya gitu banget...."
"Kamu cantik...."
"Semua perempuan di dunia ini juga cantik, di mata orang yang tepat..."
"Hemmm....."
Bagas bangkit lalu mengangkat tubuh mungil sang istri yang masih terbalut mukena.
"Mas ih, masih sore...." protes Nadin
"Emang mau ngapain?" menaikan sebelah alisnya
"Dasar me***....." mencubit hidungnya
"Kan kirain, terus mas mau ngapain?"
"Ga ada..." nyengir
"Dasar....."
Dert dert dert
Bagas segera mengangkat telponnya tanpa memperhatikan nomer sang penelpon.
"Hai sayang, pasti sekarang istri kamu ada di sampaing kamu ya, ya sudah kamu jangan ngomong, dengerin aku aja, aku kangen tau, kapan kamu kesini...." ucap sang penelpon dengan mendayu dayu dan tanpa jeda
Nadin yang mendengarnya langsung bangkit dan merebut telpon sang suami.
"Halo ini siapa ya...." tanya Nadin
Sang penelpon langsung mematikan sambungan telponnya.
Brak. Nadin membanting hp suaminya ke lantai. Hp merek APO, edisi pertama itu terbagi menjadi dua. Antara tutup dan perangkatnya, batrenya juga terlepas dari tempatnya.
Nadin tau jika hanya seperti itu maka masih bisa di gunakan, dia pun mengambil bagian perangkatnya lalu mematahkannya menjadi dua. Hingga tangannya tergores.
Kemudian Nadin menatap suaminya dengan tatapan tajam dan penuh intimidasi.
Bagas yang di tatap seperti itu langsung kesusahan menelan saliva nya sendiri.
"Sa sayang, aku.... aku bisa jela jelasin ko... "
Tanpa kata, Nadin melayangkan bantal dan selimut keluar kamar mereka.
"Tidur di luar...." ucapnya dengan penuh amarah
Dadanya naik turun dengan nafas yang memburu. Amarahnya memuncak.
"Sayang plis dengerin penjelasan ku dulu, aku sama sekali ga tau siapa yang nelpon......." berusaha mendekat
"Bohong"
"Buktinya dia langsung panggil kamu sayang, bahkan dia tau kalo kamu udah punya istri..." ucap Nadin penuh amarah
Tiba tiba Nadin memegangi perutnya yang terasa kram.
"Au..." keluhnya
"Sayang kamu ga papa..." tanya Bagas dengan panik
"Jangan mendekat...." bentaknya
Nadin merasakan ada sesuatu yang mengalir dari sela sela pahanya. Perut nya juga semakin teras sakit. Dia mulai berkunang kunang, hingga tubunya mulai oleng.
Bagas langsung menagkap tubuh sang istri yang limbung.
"Sayang bertahanlah aku mohon..."
__ADS_1
Bagas segera membopong tubuh sang istri untuk di bawah kerumah sakit.
"Mbok tolong jaga rumah....."
"I ia pak...."
Mbok Jum tak bertanya karena ia tadi sempat mendengar suara ribut ribut.
...............................................
Bagas sedang mondar mandir di depan ruang IGD. Dia sangat khawatir jika terjadi sesuatu terhadap sang istri dan calon anaknya.
Ceklek
"Gimana keadaan istri dan calon anak saya?"
"Alhamdulillah, janinnya kuat, mereka selamat, saya harap untuk kedepannya tidak ada lagi sesuatu yang membuat istri anda tertekan dan marah tak terkendali, karena itu sangat bahay untuk ibu hamil....."
"Alhamdulillah, terima kasih atas penjelasannya dok..."
"Sama-sama, mari....."
"Silahkan dok..."
Nadin masih belum sadarkan diri. Ia di dirong oleh dua suster ke kamar rawat inap.
"Makasih sus..."
"Sama-sama..."
"Ini resep obat yang harus bapak tebus..."
"Ia sus...."
"Mari pak..."
"Mari......"
Bagas duduk di kursi samping tempat tidur. Dia mengelus perut sang istri yang mulai terlihat membuncit.
"Maaf in ayah ya nak,karena ayah telah membuat ibu kalian marah, tapi ayah janji bakal buktikan kalo ini hanya salah paham...." ucapnya dengan air mata yang menitik
"Hah, ok Gas sekarang bukan waktunya untuk terpuruk........" mengelap air matanya
"Sus boleh pinjam ponselnya?" tanya Bagas
Suster itu tercengang, bagaimana mungkin seorang Bagas Maulana Herlambang, meminjam ponsel?. Suster itu lupa jika seorang Bagas Maulana Herlambang juga manusia biasa.
"Boleh?"
"Si silahkan pak...." ucap suster itu ragu
"Boleh untuk menelpon?"
"Tentu..."
Bagas pun menekan sederet nomor ponsel yang sudah ia hafal di luar kepalanya.
Tut tut tuttt tuttt
"Halo, siapa ya..."
"Ini gue Bagas, Nu tolong suruh mbok Jum cariin kartu memori di kamar gue ya, terus kalo udah ketemu tolong kamu cari rekaman telpon, nomer yang tidak di kenal saat jam enam tiga puluh sore, hari ini....."
"Emang kenapa?"
"Besok datanglah ke rumah sakit, gue jelasin semuanya... "
"Terus gimana keluar kota nya?"
"Tunda dulu, tapi lo tetep selidiki, udah ya ga enak sama suster..."
Tit, Bagas mematikan ponselnya sepihak.
"Dasar ga punya sopan santun, untung bos..." dumel Ibnu de sebrang sana
Bagas menghapus nomer dan riwayat panggilannya, lalu ia mengembalikan ponsel itu pada pemilik nya.
"Makasih sus, ini buat beli pulsa..." menyerahkan ponsel dan uang lima puluh ribuan
"Sama-sama pak..."
"Mari sus..."
"Mari..."
__ADS_1
Bagas bergegas ke tempat penebusan obat.
........................................
Di depan rumah papah Putra, ada seorang perempuan sedang menuju rumah itu
"Assalamu'alaikum....." ucap seorang perempuan dengan memakai gamis dan kerudung
Semua orang yang ada di sana langsung tercengang melihat siapa yang mengucap salam.
"Ini beneran mba Nai?"
"Bukan, kembarannya, Naila yang tadi masih tertinggal di toko......" jawab nya sedikit ketus
"Hah, sejak kapan mba Naila punya kembaran......."
"Hadeh, apa sampai segitunya para mba dan bibi ga ada yang ngenalin aku?"
"Emang siapa?" kompak semuanya
"Aku Naila bi...."
"Beneran, wah mba Naila cantik banget kalo gini, bibi aja sampai pangling...."
"Hadeh...."
Naila tak menghiraukan para bibi dan mba yang masih ragu menatapnya, dia terus berjalan hingga tiba di ruang keluarga.
"Assalamu'alaikum..... "
"Wa'alikusalam......"
Papah Putra dan mamah Ais juga ikut tercengang melihat penampilan baru Naila.
"Hadeh, apa mamah dan papah juga ikut ta mengenaliku?"
"Kamu Naila?" tanya papah Putra
"Hantu"
Mamah Ais berdiri, kemudian ia melangkah mendekati Naila, lalu memeluk sang putri tercinta.
"Alhamdulillah ya Alloh, Engkau telah menyadarkan putri hamba untuk menutup auratnya...." syukur mamah Ais dalam hatinya
"Lah kenapa mamah nangis?" tanya Naila bingung
"Mamah bahagia akhirnya kamu mau menutup auratmu na...."
"Hehehe....."
"Mamah do'ain kamu semoga bisa istiqomah ya....."
"Amin...."
Naila menuntun mamah Ais untuk kembali duduk.
"Mah, Nai masih bingung nih, kan kalo pake ginian udah ga boleh neko neko lagi, sedangkan untuk merubah peri laku itu perlu waktu...."
"Ga papa sayang, pelan pelan aja, kalo kamu udah niat Insya Alloh, Alloh bakal kasih jalan.."
"Amin..."
"Makasih Nai, kamu telah menjauhkan papah dari api neraka...." ucap papah putra
"Maksudnya?" tanya Naila yang masih belum mengerti
"Dosa anak perempuan yang sudah baligh tapi tidak mau menutup auratnya akan di tanggung oleh ayahnya, jika sudah menikah di tanggung oleh suaminya....." jelas papah Putra
"Maaf in Naila ya pah..."
"Ia sayang......"
.................................................................................
Basa Basi penulis......
Hai, para pembaca cerita ini....
Aku sebagai penulis mengucapkan banyak banyak terima kasih untuk kalian yang mau membaca,mampir, dan memberi like ke cerita receh, penulis yang masih belajar ini.....
Aku juga ingin meminta maaf, karena masih banyak Typo bertebaran dan mungkin alur cerita yang kurang menarik....
Sekian dari penulis yang masih belajar ini
Ambil baiknya, buang buruknya.....
__ADS_1