Penghianatan Suamiku

Penghianatan Suamiku
Kaget


__ADS_3

Happy reading........


Saat ini Bunga sudah siap dengan gaun selutut berwarna soft, dia akan datang bersama dengan Mami Rindi, Bagas dan Aurora ke acara sahabat Maminya. Dan Bagas bersama Aurora juga sudah menunggu di lantai bawah untuk mereka berangkat bersama.


Mereka pun berangkat menggunakan mobil Bagas, dan Bunga saat ini duduk di di depan bersama dengan Bagas sementara Mami Rindi dan juga Aurora duduk di jok belakang. Entah kenapa perasaan Bunga itu tidak enak sedari sore, dia terlihat begitu cemas. Bunga pun tidak tahu kenapa itu bisa terjadi, dan kenapa dia merasakan hal seperti itu.


Sebenarnya Bunga ingin cerita pada Maminya, tapi dia ragu. Bunga pun hanya menyimpan rasa itu di dalam dirinya dia hanya berharap jika tidak terjadi apa-apa karena dia takut jika perasaan itu adalah sebuah isyarat atau sebuah pertanda akan terjadi sesuatu kepada dia ataupun keluarganya.


Sementara itu Bagas terus saja memperhatikan Bunga, dia terus melirik ke arah Bunga yang sedang duduk di sampingnya. Karena Bagas begitu terpesona dengan kecantikan Bunga malam ini, Bunga seperti bidadari yang baru saja turun dari Khayangan hingga membuat Bagas ingin selalu fokus menatap dirinya.


Sesampainya di tempat acara, mereka berempat pun langsung turun dari mobil dan masuk ke dalam sebuah restoran, di mana acara di langsungkan. Dan Mami Rindi mengajak Bunga untuk dikenalkan kepada sahabatnya


"Halo Jeng, ya ampun selamat ya, semoga pernikahan kalian itu langgeng," ucap Mami Rindi sambil mencium pipi kanan dan kiri sahabatnya, "oh iya kenalin, ini Putri aku, namanya Bunga Maheswari." Mami Rindi memperkenalkan Bunga kepada sahabatnya, lalu Bunga pun langsung mencium tangan sahabat Maminya itu dengan takzim.


Setelah berbincang-bincang Bunga pun izin untuk menemani Aurora, sebab dia kasihan melihat gadis itu duduk bersama Papinya saja, dan dari tadi Aurora terus aja menatap dirinya dengan penuh harap. Bunga sangat tahu jika Aurora ingin dia berada di sampingnya.


"Maaf ya anak cantik, Tante lama. Kamu mau Tante ambilin makanan nggak?" tanya Bunga pada Aurora, namun gadis kecil itu langsung menggeleng.


"No Tante! Aku mau di sini aja duduk sambil liatin orang itu nyanyi," tunjuk Aurora pada panggung, di mana seorang musisi tengah menyanyikan sebuah lagu.


"Oh ya, kamu mau minum gak? Biar aku ambilin," tawar Bunga kepada Bagas dan langsung dibalas anggukan oleh pria itu, "boleh," jawab Bagas. Kemudian Bunga pun berdiri dan berjalan ke arah di mana tempat makanan dan minuman berada, lalu dia mengambil minuman dari sana untuk dia dan juga Bagas.

__ADS_1


Saat Bunga kembali ke meja, tatapannya tidak sengaja bertemu dengan Ilham, Nara dan juga tante Farah. Bunga tidak menyangka jika mereka bertiga ternyata datang ke acara itu.


Tante Farah yang melihat Bunga berada di sana, menatap wanita itu dengan sinis. Kemudian dia berjalan dengan angkuhnya mendekat ke arah Bunga lalu menyenggol bahu Bunga, hingga minuman yang ada di tangannya tumpah sedikit ke lantai.


Bunga hanya diam saja kemudian dia menatap balik tatapan tante Farah.


"Apa anda tidak punya mata? Saya rasa udah punya. Saya berdiri sebesar ini loh, dan jalannya di samping saya juga masih lebar tuh, bahkan muat untuk 2-3 orang. Tapi, kenapa anda malah jalannya mepet-mepet ke saya? Lihat, minuman saya bahkan tumpah karena anda?" Bunga berbicara sambil menatap tante Farah dengan tatapan sinis, dia sudah capek mengalah terus kepada orang-orang yang selama ini menindas dan menghinanya, kali ini Bunga akan menunjukkan siapa dirinya.


Tante Farah merasa terhina, kemudian dia mulai mendorong tubuh Bunga, lalu dia mengambil minuman untuk menyiramkannya ke wajah Bunga tapi dengan cepat Bagas menyenggol minuman itu hingga jatuh mengenai bajunya tante Farah.


"Bajuku... kalian ini!" geram tante Farah sambil menatap Bunga dan Bagas bergantian dengan tajam, sementara itu Ilham hanya menatap Bunga dengan tatapan terpesona. Bagaimana tidak? Dia benar-benar sangat kagum dengan kecantikan Bunga.


Benar saja, semua orang saat ini mengalihkan perhatiannya ke arah Nara, Bunga, tante Farah, Ilham dan Bagas, semua mata tertuju pada mereka.


Ada bisik-bisik dari yang lain yang menyindir Bunga, jika dia tidak punya etika dan sopan santun. Bunga yang mendengar itu tentu saja tidak terima, sudah cukup selama ini dia diam saat dipermalukan oleh keluarga itu.


"Jaga ucapan kalian ya! Dan kamu, harusnya kamu bisa menjaga ucapan kamu," ujar Bagas dengan geram sambil menatap Nara dengan tajam, namun yang ditatap malah tersenyum manis karena dia sangat tergoda dengan ketampanan Bagas.


"Gas, tidak usah. Biar saya saja yang menangani mereka," ucap Bunga melarang Bagas ikut campur, karena dia ingin menyelesaikan masalahnya sendiri dan bunga yakin jika dia mampu untuk menangani para domba itu.


"Anda bilang apa tadi? Saya wanita mandul? Saya tidak tahu diri? Di sini sebenarnya siapa yang mandul dan siapa yang tidak tahu diri? Saya tidak mandul! Rahim saya sehat, saya memang belum punya anak, mungkin saja memang kemarin Allah tidak memberikan saya anak sebab dia tahu jika suami saya bukanlah suami yang setia. Dan tidak tahu diri? Sebenarnya kata-kata itu pantasnya untuk kamu, bukan untuk saya. Kamu yang merebut mantan suami saya, dan di sini sudah terlihat bukan, siapa yang tidak tahu diri? Kalian ini sudah aku bilang jangan pernah mengusik aku, tapi ternyata omongan aku hanya sebatas angin lalu saja buat kalian. Dan kali ini aku benar-benar akan menghancurkan hidup kalian."

__ADS_1


Bunga berkata dengan nada dingin dan sorot mata yang tegas mengarah ke arah Nara, sedangkan yang ditatap malah menjadi gelalapan. Entah kenapa Nara menjadi takut saat mendengar ucapan Bunga, dia takut jika Bunga memang membongkar aib di mana Azam bukanlah anak kandung ilham.


"Hei, wanita mandul. Jaga ucapan kamu! Jelas-jelas di sini yang tidak tahu diri itu kamu!" bentak tante Farah sambil menunjuk wajah Bunga, lalu dia mengangkat tangannya hendak melayangkan tamparan ke wajah wanita itu, tapi sayang tangan tante Farah langsung dicekal oleh seseorang dan ternyata itu adalah Mami Rindi.


Dari tadi Mami Rindi hanya diam saja menyimak, tapi saat dia mengetahui jika wanita itu adalah mantan mertuanya Bunga, Mami Rindi tidak terima. Pasalnya dia pernah bertemu dengan tante Farah, karena mereka satu kelompok dalam grup arisan.


Tante Farah tentu saja sangat kaget saat tangannya dicekal oleh Mami Rindi.


"Jeung Rindi..." kaget tante Farah sambil menatap Mami Rindi dengan heran, sedangkan Mami Rindi hanya tersenyum sini sambil menghempaskan tangan tante Farah.


"Jadi rupanya kamu mantan mertua dari putri saya? Tidak tahu malu!" geram Mami Rindi, kemudian dia mengangkat satu tangannya dan menampar wajah tante Farah hingga menimbulkan suara yang begitu nyaring dan menggema di ruangan itu. Bahkan musisi yang tengah menyanyi pun menghentikan musiknya, mereka fokus ke antara perdebatan yang sedang terjadi.


"Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu menampar saya?" Tante Farah tidak terima karena wajahnya ditampar dan dipermalukan di depan umum, namun Mami Rindi hanya tertawa hambar, dia menertawakan wajah malu tante Farah.


"Itu untuk penghinaan yang selama ini kamu lakukan kepada putri saya," ucap Mami Rindi sambil merangkul bahu Bunga, dan itu membuat Ilham, Nara dan juga tante Farah menganga kaget.


"Seharusnya kamu bisa mendapatkan lebih daripada ini. Dan kamu! Kamu juga harusnya hancur tidak tersisa. Dan kamu pelakor, kamu seharusnya enyah dari muka bumi ini. Wanita seperti kamu masih punya muka untuk ada di acara besar seperti ini? Memalukan!" hina Mami Rindi kepada tiga orang yang ada di hadapannya itu.


"A-apa! Putri? Maksud Jeung Rindi, Bunga ini---" Tante Farah tidak meneruskan kata-katanya, dia masih sangat syok dengan apa yang baru saja terjadi dan apa yang baru saja dia dengar.


Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2