
Happy reading.....
Tepat jam 12.00 malam, Ardi sampai di rumah, karena dia tadi membantu untuk proses pemakaman neneknya Mentari besok. Karena walau bagaimanapun, Ardi merasa bersalah sebab tadi dia hampir menabrak nenek itu, dan mungkin saja nenek itu terkena serangan jantung akibat terkejut.
Saat Ardi akan menaiki tangga untuk ke kamarnya, tiba-tiba suara Bagas menghentikan langkahnya hingga membuat Ardi seketika membalik badannya dan menghadap ke arah Bagas.
"Dari mana Lo, Dek, am segini baru pulang? Ini udah tengah malam loh?" tanya Bagas sambil menyandarkan tubuhnya di dinding.
Ardi memutar bola matanya dengan malas, dia pun kembali melanjutkan jalannya menuju kamar, tapi Bagas segera menghentikannya dan memegang lengan Ardi.
"Gue tahu, kalau Lo itu pasti kecewa dan sakit hati kan dengan kejadian tadi di rumah Bunga, tapi Di, apapun itu. Di sini Gue pemenangnya, kita bersaing secara sehat bukan? Dan Gue lah yang mendapatkan hati Bunga, dan Gue harap Lo bisa menerima Bunga sebagai kakak ipar Lo. Dan jangan pernah ada dendam diantara kita, hanya karena cinta," ucap Bagas dengan bijak kepada sang Adik.
Ardi membuang nafasnya dengan kasar, kemudian dia menepuk kembali bahu Bagas. "Iya, Gue memang sakit, hancur. Bahkan Lo sendiri nggak tahu hancurnya Gue seperti apa, Kak, tapi Sue mencoba mengikhlaskan Bunga untuk Lo. Dan Gue harap, Lo menjaga dia dengan baik. Mungkin memang Bunga bukan jodoh Gue, walaupun selama ini Gue selalu menunggu dirinya. Dan selamat untuk hubungan kalian, Gue ikut bahagia sebagai Adik."
Setelah mengatakan itu, Ardi pun langsung beranjak menaiki tangga menuju kamarnya. Setelah membuka pintu, Ardi langsung menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang, merentangkan kedua tangannya sambil menatap langit-langit kamarnya.
Sejujurnya Ardi tidak kuat harus mengatakan hal tadi kepada Bagas, hatinya sesak dan sakit, tapi walau bagaimanapun mereka adalah Adik Kakak. Ardi tidak mau hanya karena seorang perempuan dan cinta, hubungan antara dia dan Bagas menjadi retak dan goyah. Dia tidak mau hal itu terjadi, maka kenapa di sinilah Ardi harus mengalah kembali, dia harus mengalah untuk cinta yang direlakan demi sang Kakak.
Pagi hari jam 6.30,Ardi sudah siap dengan setelan kasualnya memakai kaos berwarna hitam dan juga celana jeans berwarna hitam. Dia pun keluar dari kamarnya, namun baru saja melewati ruang tamu Mama Ranti memanggilnya hingga membuat langkah Ardi pun terhenti.
"Kamu mau ke mana Di, pagi-pagi seperti ini? Masa iya, ada meeting jam 06.30 pagi?" tanya Mama Ranti dengan heran.
"Tidak Ma, Ardi tidak pergi meeting. Ardi ada urusan sejenak dengan teman Ardi. Kalau gitu Ardi pamit dulu ya Ma, Assalamualaikum," ucap Ardi sambil mencium tangan Mama Ranti.
"Waalaikumsalam."
__ADS_1
Ardi pun keluar dari rumah dan menaiki mobilnya untuk pergi ke rumah Mentari, dan menghadiri pemakaman neneknya. Karena Ardi sudah berjanji kepada Gadis itu tadi malam, jika dia akan datang kembali.
"Ardi mau ke mana, Mah?" tanya Bagas yang baru selesai nge-gym.
"Tidak tahu, katanya ada urusan sebentar sama temennya. Sudahlah, biarkan saja, namanya juga anak muda," jawab Mama Ranti dengan cuek, lalu dia pun berjalan ke meja makan untuk menyiapkan sarapan.
**********
Saat Ardi sampai di kediaman Mentari, tidak banyak yang datang, mungkin hanya 10 orang saja yang melayat. Karena di sana juga tidak terlalu padat pemukimannya, qdan hanya orang-orang dari kalangan bawah saja yang datang.
Saat Ardi masuk ke dalam rumah kumuh itu sambil mengucapkan salam, dia melihat Mentari masih duduk bersimpuh di dekat jenazah sang Nenek yang sudah dikafani dan akan disalatkan di masjid terdekat.
********
"Nenek, Mentari ikhlas Nenek pergi, tapi Mentari sedih, sebab Mentari tidak punya siapa-siapa lagi selain Nenek. Selama ini, Nanek lah yang selalu membuat Mentari tersenyum. Selama ini Nenek selalu menguatkan Mentari, saat Mentari lemah, saat Mentari jatuh, tapi sekarang siapa yang akan menguatkan Mentari, Nek? Siapa yang akan berada di sisi Mentari? Siapa yang akan merangkul bahu Mentari, Nek, jika bukan Nenek? Jika saja orang tua Mentari masih ada, mungkin saat ini merekalah yang akan merangkul bahu Mentari, Nek. Mungkin saat ini, merekalah yang akan menghapus air mata Mentari, tapi semua hanya tinggal kenangan, Nek. Semuanya telah sirna, dan kini hanya Mentari saja seorang, sebatang kara tanpa mempunyai siapapun. Mentari janji! Mentari akan kuat. Mentari akan bertahan dan akan menjadi wanita yang Nenek inginkan, yaitu wanita Mandiri dan tidak cengeng, tapi kali ini Mentari boleh menangis ya, Nek? Mentari boleh meluapkan semua rasa sesak di dada Mentari. Jangan melarang Mentari untuk menangis, Nek! Mentari tidak akan pernah sanggup," ucap Gadis itu sambil menangis memeluk nisan sang Nenek.
Ardi masih setia di samping Mentari, dia tiga tega jika harus meninggalkan Gadis itu. Padahal semua orang sudah pergi, dan hanya ada mereka berdua saja di makam.
Mendengar setiap ucapan Mentari, membuat hati Ardi tersayat. Dia masih memiliki orang tua, tapi terkadang Ardi selalu membangkang dan membantah ucapan orang tuanya. Bahkan tidak jarang pula, Ardi malah membentak orang tuanya jika dia sedang kesal.
Pria itu pun berjongkok di samping Mentari, lalu mengusap pundak gadis itu. "Cuaca semakin mendung, sebaiknya kita pulang. Tidak baik jika berlama-lama di sini, nanti kalau kamu kehujanan, Nenek kamu juga akan sedih saat melihat kamu sakit. Sebaiknya kita pulang yuk!" ajak Ardi membujuk Mentari, kemudian Gadis itu pun mengangguk.
Selama di dalam mobil Mentari terus saja terdiam, dia tidak mengeluarkan satu kata patah pun. Hanya air mata yang terus menetes di kedua mata Mentari, walaupun sedari semalam dia terus menangis, dan air mata itu tidak kering.
"Aku tahu, kehilangan itu memang sangat berat. Kehilangan itu memang sangat sakit, dan kehilangan itu membuat separuh jiwa kita juga turut pergi bersamanya. Akan tetapi, jika kita terus-terusan bersedih, jika kita terus-terusan meratapi nasib. Bagaimana kita akan bangkit? Justru kamu harus buktikan kepada nenekmu, jika kamu mampu menjadi wanita yang dia mau," ucap Ardi membuka pembicaraan.
__ADS_1
Mentari menatap ke arah Ardi, dia membenarkan ucapan pria tampan itu. Kemudian Mentari menghapus air matanya. "Tuan benar, saya harus kuat. Sekarang saya sebatang kara, dan saya harus mandiri. Saya harus buktikan kepada nenek, jika selama ini apa yang nenek ajarkan kepada saya tidak sia-sia," jawab Mentari sambil tersenyum.
Ardi kemudian mengambil tisu dan memberikannya kepada Mentari.
"Ini, lap dulu ingusmu itu. Jangan keluarkan angka 11 di hadapanku,"!ejek Ardi.
Mentari merengut kesal saat mendengar ucapan Ardi, kemudian dia mengelap ingusnya. Mentari sangat bersyukur ada Ardi di sampingnya, walaupun sebenarnya mereka tidak saling mengenal satu sama lain.
"Tuan, terima kasih untuk segalanya. Terima kasih telah membantu proses pemakaman nenek saya dan maaf Tuan, saya tidak bisa membalas kebaikan anda. Sebab saya tidak mempunyai apa-apa, saya hanyalah orang miskin dari kalangan bawah." Mentari berkata sambil menundukkan kepalanya, saat mobil sudah sampai di kediaman rumah kumuh milik Mentari.
"Saya tidak meminta apapun dari kamu, saya hanya minta kamu harus kuat dan tegar. Kalau begitu saya pulang dulu, sebab saya ada meeting satu jam lagi," ucap Ardi berpamitan kepada Mentari.
Setelah itu Mentari pun turun dari mobil Ardi, lalu dia melambaikan tangannya saat mobil itu mulai menjauh.
Saat Ardi tengah menyetir mobilnya, tiba-tiba dia melihat Tina di pinggir jalan, yang sedang berdiri dan sepertinya sedang menunggu taksi. Kemudian, Ardi pun memberhentikan mobilnya lalu menurunkan kaca.
"Lagi ngapain Lo, di sini?" tanya Ardi saat kaca mobil sudah terbuka.
Tanpa menjawab ucapan Ardi, Tina langsung membuka pintu mobil Ardi, lalu masuk ke dalam. "Anterin Gue dong ke kantor. Gue udah telat banget nih, 30 menit lagi Gue udah meeting," ucap Tina dengan wajah panik.
Kemudian Ardi pun melajukan mobilnya ke kantor Tina. "Oh iya, Di. Lo udah tau belum soal hubungannya ..." Tina nampak ragu untuk membicarakan hubungan Bunga dan juga Bagas kepada Ardi, sebab wanita itu tahu jika Ardi menyimpan rasa kepada Bunga.
"Bunga dan Kak Bagas, maksud lo?" jawab Ardi memotong ucapan Tina.
Bersambung........
__ADS_1