
Selesai solat mereka melanjutkan membuat perkedelnya.
"Mbok, tolong cuciin seledrinya ya..."
"Siap mba..."
"Terus ini di apain mba?" tanya Naila
"Kita tunggu mbok Jum dulu..."
"Ini mba uadah mbok cuci..."
Nadin mengambil alih seledri yang bearada di tangan mbok Jum, lalu ia mengirisnya dengan ukuran kecil kecil, lalu ia menaruhnya di atas kentang yang sudah di uleg tadi.
"Nah terus kita kasih telur, lalu ulet sampai telur, seledri dan bumbunya tercampur rata.."
"Tadi kenapa kentangnya ga di kukus aja mba, biasannya kalo mbok di rumah kentangnya di kukus...."
"Ya memang bisa di kukus, tapi menurut mba akan lebih enak kentangnya di goreng....." ucap Nadin sembari mengulet ulet adonan itu
"Oh gitu mba, terus kenapa telurnya banyak?"
"Biar nanti ga perlu di balur putih telur lagi..."
Nadin ini menggunakan cara dari almarhum ibunya yang menurutnya ini lah cara masak perkedel yang paling enak ketimbang yang lainnya, ya walaupun memakan waktu lama, tapi hasilnya akan lebih enak.
"Nah sekarang kita bulet buletin..."
"Mba kalo aku mau buat bentuk love, boleh ga?"
"Boleh, terserah mau bentuk apa..."
"Ok deh..."
Setelah aga banyak buletan, Nadin pun mulai menggorengnya, sedangkan mbok Jum dan Naila meneruskan membentuk buletannya.
Lamanya proses pembuatan perkedel, ala Nadin, mengeajarkan setiap kita mempunyai keinginan, harus ada perjuangannya dulu. Karena tidak ada yang instan di dunia ini. Mi instan aja masih perlu di rebus, sebelum di makan.
"Mba boleh icip ga?"
"Ya boleh dong..."
Naila mencomot perkedel yang baru Nadin tiriskan, lalu ia memakannya.
"Wah ia, ternyata lebih enak...."
"Alhamdulillah kalo enak, ayo mbok di cicipi..."
"Ia mba..."
Mbok Jum mengambil satu beletan, lalu memakannya.
"Wah ia lebih enak, ternyata mba Nadin penter masak juga ya..."
"Alhamdulillah mbok bisa...." jawab Nadin
Nadin juga ikut memakan perkedelnya sembari menggoreng.
Hingga tanpa sadar mbok Jum dan Naila menghabiskan perkedel nya.
"Aduh mbok gimana ini...." bisik Naila yang panik ketika menyadari perkedel di wadah tersisa satu buletan.
"Tenang, mba Nadin ga akan marah...."
"Tapi kita uadah keterlaluan mbok, masa lima kilo habis sama kita..."
"Hayo lagi ngomongin apa?" ucap Nadin yang kbali dari cuci tangan
"Hehehe, anu itu mba, perkedelnya abis sama kita..." ucap Naila dengan rasa bercampur aduk
Nadin hanya geleng kepala.
"Maaf ya mba...."
"Udah ga papa,yang penting yang di serok itu jangan di makan ya, lain kali jangan gitu lagi ya...."
__ADS_1
"Ia mba......"
Nadin mendaratkan tubuhnya di kursi, lalu ia sibuk memainkan ponselnya.
"Mau pesen sebalak ga?" tanyanya
"Engga udah kenyang..."
"Oh ya sudah...."
Kini keadaan hening, Naila yang biasanya mencairkan suasana juga diam saja, dia masih merasa bersalah.
"Ini kenapa sih ko pada diem semua...."
"Sekali lagi aku dan mbok Jum minta maaf ya mba..."
"Udah sih tenang aja, udah mba maafin ko...."
Ting tong
"Pasti pesanan ku tuh..."
Nadin bergegas ke depan. Ternyata benar, pesanannya telah datang.
"Berapa mas?"
"Lima belas ribu mba..."
"Ok, terima kasih mas...."
Setelah menerima seblaknya, Nadin kembali ke dalam. Lalu ia mengambil mangkuk dan memindahkan seblak itu ke mangkuk, kemudian memakannya dengan lahap.
"Enak banget ya mba?" tanya Naila
"Ia..."
Sedangkan mbok Jum, sedang mencuci peralatan yang tadi habis digunakan untuk membuat perkedel.
"A...." ucap Nadin menyuruh Nailamembuka mulut
"Enak ga?"
"Pedes...."
"Enak kan, mau lagi ga?"
"Engga ah.."
"Ya sudah..."
Nadin pun menghabiskan seblaknya.
......................................
Jam 16:15 WIB. Bagas baru sampai di rumah dengan keadaan muka yang tak sedap di pandang.
Nadin yang melihat muka suaminya begitu, langsung paham. Dia tak akan bertanya sebelum suaminya bercerita tentang masalahnya.
"Mau teh manis mas?"
"Boleh...."
"Sebentar ya..."
Nadin bergegas ke dapur, lalu ia mengisi panci dengan dua gelas air, kemudian ia menyalakan kompor.
Sembari menunggu air mendidih, Nadin memasukan teh dan gula kedalam gelas. Ia juga menaruh perkedel ke dalam piring untuk di sajikan bersama teh hangatnya.
Air pun mendidih, Nadin segera menuangkannya ke gelas, lalu segera membawanya ke ruang keluarga.
"Silahkan mas...."
"Makasih sayang..."
"Sama-sama.... "
__ADS_1
Bagas mulai menyeruput teh, lalu ia mengambil satu buah perkedelnya.
"Ko ini rasanya lebih enak dari biasanya, kamu yang buat yang?"
"Ia, alhamdulillah kalo enak....."
"Ini sih enak banget....."
Setelah menghabiskan satu gelas teh, dan menghabiskan perkedelnya Bagas pun mandi.
Selesai mandi, Bagas memeluk istrinya dari belakang yang sedang sibuk menyisir rambut panjangnya. Bagas mencoba mencari ketenangan di sana.
"Mas....., ceritalah siapa tau aku bisa bantu..."
"Sini mas batu nyisir..."
Nadin memberikan sisir nya, lalu membiarkan sang suami menyisir rambutnya. Selesai menyisir rambut sang istri, Bagas mencoba mengikat rambut itu, ya walaupun tak serapih perempuan namun Bagas tetap berhasil.
Nadin membalikan badannya, menatap bola mata sang suami dengan begitu dalam.
"Baiklah, mas cerita...."
Bagas menyuruh Nadin untuk duduk di pinggiran tempat tidur.
"Perusahaan mengalami kerugian besar, para mandor proyek banyak yang korupsi, kemungkinan besar perusahaan akan bangkrut......."
"Mas besok harus ke kota itu lagi, untuk membereskan masalah ini, maaf ya sayang mas jadi sering ninggalin kamu..."
"Ga papa mas, semoga urusannya di perlancar ya mas...."
"Amin, besok mas antar kamu ke rumah mamah ya......"
"Ia mas....."
"Seharian ini sayang ngapain aja?"
Nadin pun menceritakan apa saja yang di lakukannya di hari ini, tanpa ada yang di kurangi, Nadin juga menceritakan tentang Naila yang putus cinta.
"Jadi karena itu, perkedel untuk mas hanya sedikit?"
"Ia mas, mas mumpung masih sore kita sepedaan keliling komplek yu......"
"Ayo....."
Nadin dengan semangat langsung menyambar jilbabnya, lalu ia menggandeng tangan sang suami untuk turun ke bawah.
Bagas mengeluarkan sepeda milik istrinya, lalu mengecek ban nya.
"Perlu di pompa dulu yang...."
"Ok..."
Badin mengambilkan pompa manualnya, lalu Bagas segera memasang selang pomponya, kemudian ia menaik turunkan gagang pompanya.
Teng teng, bunyi ban sepeda yang telah terisi angin dengan penuh ketika di sentil, Nadin segera mencabutn slangnya, kemudian memasangkannya pada ban depan.
"Alhamdulillah, mas mau cuci tangan dulu ya.......... "
"Ia mas, aku juga...."
Nadin mengembalikan pompanya ke garasi, kemudian ia mencuci tangannya, lalu mengeringkannya dengan serbet yang sudah tersedia.
Nadin sudah naik di boncengan dengan posisi menyamping.
"Siap sayang..."
"Siap...."
"Berangkat...."
Bagas mulai mengayuh sepdanya.
"Sore mas Bagas, mba...." sapa salah satu tetangga yang sedang bersantai di teras rumahnya
"Sore bu...."
__ADS_1
Bagas terus mengayuh sepedanya hingga, sampi di depan penjul jajanan yang berada di ujung komplek sampaing sekolahan.