
Happy reading.....
Setelah sampai di kediaman Mardasena, Bunga mengajak Nara untuk turun dari mobil. Dan wanita itu merasa ragu, karena jujur dia benar-benar takut jika keluarga Bunga akan mencaci dan memaki dirinya. Namun, Bunga berhasil meyakinkan Nara, jika hal itu tidak akan terjadi.
Nara benar-benar kaget saat mengetahui jika Bunga bukanlah dari kalangan orang biasa. Dia tidak menyangka jika ternyata Bunga berasal dari kalangan orang berada, pantas saja Bunga selama ini terlihat modis. Bahkan dia mempunyai Attitude yang elegan.
Kebetulan semua orang tengah berkumpul di ruang keluarga, dan di sana juga ada Sony. Karena semenjak kelahiran Kenzo, Sony mengerjakan pekerjaannya di dalam rumah dan hanya sesekali keluar untuk meeting jika itu penting, tapi jika tidak, maka Sony bisa diwakilkan oleh asisten pribadinya.
"Assalamualaikum," ucap Bunga saat masuk ke dalam rumah.
"Waalaikumsalam," jawab semua orang yang ada di ruang tamu.
Semua mata tertuju kepada Bunga, tepatnya kepada Nara yang berada di samping Bunga..semua merasa heran, sebab Bunga membawa mantan madunya ke kediaman Mardasena,
Mami Rindi yang melihat itu tentu saja tidak terima, kemudian dia berdiri dan berjalan mendekat ke arah Bunga sambil terus menatap ke arah Nara yang menunduk takut. Dia tidak berani mengangkat wajahnya dan menatap keluarga Bunga satu persatu.
"Sayang, dia ini bukannya ..." Mami Rindi menggantung ucapannya, sambil melihat ke arah Nara yang terus menunduk.
Kemudian Bunga pun mengangguk, lalu menggandeng tangan sang Mami untuk duduk di sofa begitupun dengan Nara. Lalu Bunga pun menjelaskan kepada keluarganya tentang pertemuannya dengan Nara tadi saat berada di cafe, dan Bunga juga menceritakan tentang kehidupan Nara yang menyedihkan.
"Saya benar-benar minta maaf. Mungkin, memang kejahatan yang telah saya perbuat kepada Bunga tidak termaafkan oleh kalian. Terutama Tante sebagai ibunya Bunga, saya pantas untuk dihina, saya pantas untuk kalian caci dan maki. Saya menerima semuanya, Saya ikhlas jika kalian marah kepada saya. Jika kalian ingin membalas saya, saya sudah pasrah," ucap Nara dengan wajah menunduk sambil terus menggendong Azam.
Mami Rindi dan semua orang melihat ketulusan dari ucapan Nara saat meminta maaf, kemudian Mami Rindi berjalan dan mendekat ke arah Nara lalu duduk di samping wanita itu, dan dia merangkul bahu Nara dan mengusapnya dengan lembut.
__ADS_1
"Iya, kami memang marah kepada kamu. Bagaimana mungkin kami tidak marah, saat salah satu anggota keluarga kami disakiti? Bahkan dipermalukan di depan umum, dan dihancurkan kehidupannya. Tetapi, karena kamu sudah menyesali perbuatan kamu, maka tidak ada alasan bagi kami untuk marah dan dendam kepada kamu. Insya Allah, saya dan keluarga saya memaafkan kejahatan kamu. Asalkan, itu tidak kamu ulangi kepada orang lain. Kamu harus bertobat, kamu harus berubah menjadi wanita yang lebih baik lagi," ucap Mami Rindi dengan bijak.
Nara mengangguk, dia tidak menyangka jika keluarga Bunga akan menerima dirinya. Bahkan memaafkannya, tanpa mencaci makinya. Kemudian tak lama dokter pun datang, dan Bunga menyuruh Nara untuk membawa Azam ke kamar tamu untuk diperiksa keadaannya.
Setelah Azam diperiksa keadaannya dan juga diberikan obat penurun panas, Dokter pun pulang. Sementara itu Bunga menyuruh Nara untuk membersihkan diri, lalu dia mengambil baju yang ada di dalam lemarinya lalu memberikannya kepada Nara untuk wanita itu berganti pakaian.
"Terima kasih ya, Bunga. Kamu memang wanita yang baik, keluarga kamu juga sangat baik kepadaku. Sungguh aku sangat malu berhadapan dengan kalian," ucap Nara sambil menatap Bunga dengan tatapan Sendu.
"Sudah, tidak usah dipikirkan. Masa lalu biarlah masa lalu, sekarang kamu ambil pelajaran dari apa yang sudah pernah kamu lakukan, dan sekarang kamu harus berubah menjadi lebih baik lagi," jawab Bunga sambil mengusap pundak Nara dengan lembut. Setelah itu dia pun keluar dari kamar tamu menuju kamarnya, karena Jam sudah menunjukkan 5 sore dan Bunga harus bersiap-siap untuk acara nanti malam, di mana keluarga Bagas akan datang ke rumahnya.
*********
Tepat jam 07.00 malam, 2 mobil terparkir di halaman rumah Mardasena. Bagas dan kedua orang tuanya serta Ardi datang ke kediaman Bunga.
Mami Rindi dan juga Papi Frans menyambut keluarga Bagas dengan senyuman nan hangat. Kemudian Mami Rindi mengajak mereka untuk duduk di ruang keluarga, dan tak lama Bunga pun turun dari kamarnya menuju ruang keluarga.
Saat pintu ruang keluarga terbuka, semua mata tertuju kepada Bunga. Apalagi Bagas dan juga Ardi yang tidak berkedip sama sekali, melihat kecantikan Bunga. Kedua pria itu benar-benar terpesona, bahkan Ardi sampai menganga saking terpesonanya dengan Bunga.
Bunga tentu saja kaget saat melihat Ardi berada di sana, tapi dia juga tidak bisa egois, karena walau bagaimanapun Ardi harus mengetahui tentang hubungannya dan juga Bagas yang sebentar lagi akan menuju jenjang yang lebih serius.
"Kita makan malam dulu yuk, baru kita bicarakan soal pembahasan nanti," ajak Mami Rindi. Namun Bagas menolak, karena dia sudah tidak sabar ingin melihat reaksi Ardi, di mana sang Adik akan mengetahui tentang kemenangan dirinya yang sudah melamar Bunga lebih dulu.
Ardi sedikit bingung dengan pembicaraan antara kedua orang tuanya dan kedua orang tua Bunga. Dia seperti merasa ada yang janggal antara pembicaraan mereka, namun Ardi hanya diam saja menyimak.
__ADS_1
"Baiklah, jika memang itu kemauan kamu. Jadi bagaimana?" tanya Papi Frans kepada Bagas, lalu Bagas melirik ke arah sang Papah agar pria itu mewakilkan dirinya untuk melamar Bunga.
"Begini, sebetulnya kedatangan kami ke sini untuk melamar Bunga, dan menjadikannya wanita pilihan hidup bagi putra kami, yaitu ... Bagas. Dan seperti yang sudah kita tahu, jika Bagas sudah melamar Bunga secara non formal, dan kali ini kami ingin lamaran itu secara resmim Bagaimana Nak Bunga, apa kamu menerima lamaran Bagas?" tanya Papa Randi kepada Bunga.
Ardi terpaku, darahnya seakan membeku saat mendengar ucapan sang Papah. Dia menatap kosong ke arah Bunga. Rasanya tulang-tulang di dalam tubuh Ardi begitu lunak, sampai Ardi merasa tidak ada tenaga sama sekali. Hatinya terasa begitu sesak, seperti dihantam batu yang begitu besar, hingga membuat pria itu menahan sakit di dadanya, tepatnya di dalam hatinya.
"Tunggu! Jadi ini bukan acara makan malam?" tanya Ardi mencoba mencari penjelasan kepada sang Papa.
"Bukan Nak, ini memang acara makan malam, tetapi lebih tepatnya acara lamaran resmi Bagas kepada Bunga," jelas Mama Ranti pada Putra keduanya.
"Lamaran resmi? Jadi, Kak Bagas sudah--" Ardi menggantung ucapannya sambil menatap Bagas dan Bunga bergantian.
"Iya, aku sudah melamar Bunga, dan sebentar lagi kami akan menikah," jawab Bagas dengan senyuman penuh kemenangan di bibirnya yang dia tampilkan untuk Ardi.
Bagaikan disambar petir, Ardi merasa hancur sehancur hancurnya. Hatinya benar-benar remuk, dia menggeleng dengan pelan. Dia tidak menyangka jika malam ini adalah malam kehancurannya, kehancuran hatinya. Padahal Ardi sudah membeli cincin dan sudah mempersiapkan semua acara untuk dia melamar Bunga secara romantis, tapi ternyata bukannya Bunga yang mendapatkan surprise dari Ardi. Melainkan Ardi lah yang mendapatkan surprise terburuk dalam hidupnya.
"Bagaimana, Sayang?" tanya Papa Randi kepada Bunga.
"Aku ... aku ... iya, aku Menerima lamaran Bagas, " jawab Bunga sambil menatap Ardi dengan rasa tak enak.
Setelah menjawab pertanyaan Papanya Bagas, mereka pun melakukan makan malam, tapi Ardi menolak. Dia beralasan ada meeting yang tidak bisa dia tinggalkan, sehingga dia harus pamit undur diri. Ardi tidak peduli dengan tatapan heran semua orang, dia pun melenggang keluar dari kediaman Mardasena menuju mobilnya.
Bersambung....
__ADS_1