
Semua orang terlihat begitu panik. Tina membantu suster mendorong ranjang pasien menuju UGD darah terus saja merembes dari kepala Riko.
"Ibu dan Bapak tolong tunggu di luar ya," ucap suster kepada Tina dan juga Ardi.
Kedua orang itu akhirnya menunggu di luar UGD. Tina langsung ambruk ke lantai, dia menangis tersedu-sedu memukul dadanya yang terasa begitu sesak.
"Kamu tidak boleh pergi, Mas. Kamu harus bertahan! Kamu tidak boleh meninggalkanku. Kita akan menikah. Aku tidak akan pernah menikah dengan orang lain selain kamu, Mas." Tina terus saja menangis.
Ardi merasa tak tega saat melihat Tina. Walau bagaimanapun keadaan Riko saat ini terjadi karena dirinya. Jika tidak karen menyelamatkannya Riko tidak akan pernah berakhir di UGD.
Dia berjongkok di samping tubuh Tina, kemudian memegang pundak wanita itu. "Lo yang sabar ya, Tin. Kita berdoa saja supaya mereka selamat dan dia bisa melewati masa kritisnya."
Seketika mata Tina menatap dengan tajam. Dia memalingkan wajahnya ke arah Ardi. Aura marah terpancar begitu kuat dari wanita itu, kemudian tanpa aba-aba satu tangannya melayang dan mendarat di pipi Ardi dengan begitu kencang, hingga membuat suara yang begitu nyaring.
"Puas lohl, hah?! Puas udah buat calon suami gue celaka. Lo senang kan melihat kehidupan gue kayak gini? Apa sih yang ada di pikiran lo, Ardi? Gue mau menikah sama Mas Riko, tapi apa? Lo malah gagalin semuanya. Lo jahat, Ardi! Lo jahat! Gue benci sama lo!" teriak Tina sambil memukul dada bidang Ardi.
__ADS_1
Pria itu hanya diam saja, dia tidak membalas bahkan tidak menghentikan aksi Tina. Karena Ardi sadar dia memang pantas mendapatkan itu semua.
"Kenapa, Di? Kenapa harus Mas Riko yang tertabrak? Gue akan menikah dengan dia, Di. Tapi apa? Sekarang dia berakhir di sini. Gue nggak mau kehilangan dia, Di ... gue nggak mau!" Tina sudah mulai memelankan pukulannya, dia menunduk sambil menangis dengan bahu terguncang.
Bagaimana hatinya tidak hancur berkeping-keping, saat melihat kekasihnya tertabrak di depan matanya sendiri. Bahkan Riko memberikan wasiat yang membuat Tina tidak bisa melakukannya.
Tak lama dokter keluar, dan melihat itu Ardi dan Tina pun segera bangkit. "Bagaimana keadaan calon suami saya? Dia baik-baik aja kan, Dok? Dia selamat kan, Dok?" Tina menatap dengan mata sembabnya.
Dokter itu hanya diam, dia melihat miris ke arah Tina bergantian dengan Ardi. Dapat ia rasakan bagaimana kesedihan Tina saat mengetahui jika calon suaminya ternyata tidak tertolong karena pendarahan yang ada di kepalanya.
"Dok, kenapa Anda diam saja? Jawab!" bentak Tina, "calon suami saya baik-baik aja kan, Dok? Dia selamat kan?" Tina mengguncang lengan dokter tersebut, karena melihatnya hanya dia membatu.
Entah kenapa perasaannya mendadak tidak enak melihat keterdiaman dokter tersebut. Dia yakin telah terjadi sesuatu kepada Riko.
"Maaf, tapi kami tidak bisa menyelamatkan nyawanya. Dia sudah tidak tertolong saat akan dibawa ke rumah sakit ini, dan itu terjadi karena pendarahan yang ada di kepalanya. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi nyawa pasien memang sudah tidak ada saat menuju ke sini."
__ADS_1
Degh!
Lutut Tina benar-benar sangat lemas, dia bahkan tidak bisa menopang tubuhnya lagi. Tatapannya kosong, air matanya berhenti mengalir, kepalanya menggeleng dengan pelan, seakan dia menolak jawaban dari dokter yang ada di hadapannya.
"Nggak. Nggak mungkin, Dok. Anda pasti sedang bercanda? Mas Riko pasti baik-baik saja. Dia tidak mungkin meninggalkan saya. Kita akan menikah, Dok. Kita akan menikah!" teriak Tina.
Dokter itu tidak menjawab, dia hanya diam sambil menatap kesedihan Tina. Ardi pun sangat syok sehingga dia memundurkan langkahnya hingga terbentuk di dinding.
"Tidak ... Riko ... Riko sudah tiada. Lalu bagaimana dengan pernikahanku dengan Mentari? Apa aku harus ..." Pria itu terlihat begitu bingung.
Tina mencoba untuk bangkit sambil berpegangan pada tembok, kemudian dia masuk ke dalam UGD dan melihat tubuh Riko sudah ditutup oleh kain putih.
"Bangun Mas! Bangun! Kamu tidak boleh meninggalkanku! Aku tidak ikhlas. Kamu harus berada di sisiku. Kita akan menikah, apa kata mama dan papamu jika kamu meninggalkan mereka? Apa kamu ikhlas? Bangun Mas! Bangun!" Tina terus berteriak sambil mengguncang tubuh Riko yang sudah tak bernyawa.
Tidak ada yang menghentikannya, suster bahkan dokter hanya bisa menatapnya mereka juga bisa merasakan kesedihan Tina.
__ADS_1
"Tin," panggil Ardi.
BERSAMBUNG.....