Penghianatan Suamiku

Penghianatan Suamiku
# 14


__ADS_3

Saat kamu mencoba lebih dekat dengan Tuhanmu, di situlah Tuhanmu akan memberi ujian yang tak terduga. (Nadin Ananda)


..................................


Bruk


Nadin yang sudah mulai setengah sadar, langsung terbangun dari tidurnya.


Nadin segera mencari sumber suar.


"Ya Alloh ibu.... " berteriak


Bu Nana tergeletak, tak sadatkan diri di kamar mandi.


"Bu bangun bu........ " mengguncang tubuh ibunya


Tetangga yang mendengar teriakan Nadin, berbondong-bondong ke rumahnya.


Tok tok tok


"Lewat pintu belakang aja... " ucap salah satu warga


Dua orang warga mengecek pintu belakang, ternyata pintu itu tak terkunci. Dua warga itu segera masuk.


"Tolong ibu saya pak.... " ucap Nadin, yang menyadari ada dua orang warga


"Ia, ayo mas bantu angkat, kita bawa ke rumah sakit........ "


Air mata Nadin sudah menganak sungai dari tadi.


Siapa anak yang ta menangis melihat ibunya tak sadarkan diri? apalagi anak perempuan yang terkenal lemah.


Di depan sudah ada warga yang bersiap dengan mobilnya.


"Yang sabar ya mba Nadin.... " ucap salah satu ibu-ibu yang hadir


Nadin mengaguk dan tersenyum getir.


.................................


Dalam perjalanan ke rumah sakit, bu Nana mulai sadar.


"Ibu...., Alhamdulillah ibu sadar.... "


Bu Nana tersenyum ke arah Nadin.


"Na, tugas ibu sudah selesai, kamu sudah mendapatkan orang yang akan memberikan kasih sayangnya yang tulus, dan akan menjagamu..........."


Nadin tau, semua yang bernyawa akan mati, bahkan dunia dan langit pun akan hancur. Namun kenapa ibunya harus cepat pergi?


"Ibu jangan ngomong begitu bu, ibu akan jaga Nadin samapai anak-anak Nadin punya anak........ "


"Engga sayang watku ibu samapi di si ni.... " mulai tersenggal


"Ter se nyum lah, untuk te ra hir kali ibu li hat......... "


Dalam tangisnya Nadin berusaha tersenyum.


Bu Nana sudah semakin melemas, kakinya sidah sedingin es. Nadin segera membisikan dua kalimat Syahadat di telinga ibunya.


Bu Nana tersenyum untuk terahir kalinya, seolah dia melihat tempat yang lebih indah yang belum pernah ia lihat di dunia yang fana ini.


"Innalilahiwainailaihirojingunn........ " ucap dua bapak-bapak yang ikut mengantar


Bu Nana menghembuskan nafas terahirnya, di jam 03:30 pagi, hari Jum'at.


Nadin histeris. Begitu sakit hatinya, di tinggal orang tersayang untuk kedua kalinya.


Sang supir memutar balik, kembali ke rumah.


Salah satu bapak-bapak itu menelpon istrinya untuk mengabari berita duka ini.


Sang istri segera mengabari warga lainnya.


Para warga begitu kaget, orang sebaik bu Nana harus pergi begitu cepat.


Para warga yang masih di rumah Nadin bergegas menyiapkan keperluan jenazah.


Mobil yang membawa Nadin dan jenazah ibunya sampai di rumah.


Nadin tak kuat untuk sekedar turun dari mobil, dia harus dibantu oleh beberapa ibu-ibu untuk turun.

__ADS_1


Nadin di bawa ke kamarnya.


"Sabar ya mba Nadin.... "


Nadin tak bisa bicara, dia belum bisa meredakan tangisnya.


Para warga segera mengurus jenazah bu Nana.


"Nadin..... " ucap bibi Yuna yang baru datang bersama sang suami dan anaknya


"Bibi, ibu bi.......huhuhuhu..... "


Bibi Yuna segera memeluk Nadin


"Jangan begitu, kasian ibu mu....."


"Semua ini salah Nadin bi, Nadin b*** ga bisa jaga ibu....."


" Sut jangan ngomong begitu ga boleh, semua ini udah takdir.... "


..............................


Langit menurunkan rintik airnya, seolah merasakan sedih yang di sarakan Nadin.


Namun begitu banyak yang melayat bu Nana, dari sanak saudara hingga orang yang Nadin tak kenal, juga hadir di sana.


"Mba Nadin..... " teriak Naila


"Naila...... "


"Yang sabar ya mba.... " memeluk Nadin


Proses demi preses sudah di lewati, kini saatnya membawa jenazah untuk di kuburkan.


Nadin memaksa untuk ikut ke kuburan.


Saat di angkat, jenazah bu Nana seolah begitu ringan, semerbak wangi juga tercium oleh para pelayad.


"Jenazahnya wangi banget..... " ucap salah satu pelayad yang ikut mengiring ke kuburan


"Ia.... "


Prosesi penguburan jenazah bu Nana begitu lancar, tanpa adanya halangan.


Para 'pengiring' jenazah sudah pulang, kini hanya ada Nadin, Naila, om Hamzah dan Bagas, di area kuburan itu.


"Nadin pulang yu..... " ucap om Hamzah


"Ia mba, kasian loh ibu mba jadi belum di tanyai malaikat....." ucap Naila


Pletak, sang kaka menjitak kepalanya.


"His kaka apa-apa an sih.... "


"Kalo ngomong jangan asal jeplak"


"Loh kan aku bener, katanya kalo orang meninggal tuh baru di tanyai malaikat pas orang yang ikut ke kuburan pulang terahir 40 langkah.... "


"Ia bener, tapi situasinya ga tepat... "


Oh Hamzah geleng kepala, melihat adik kaka itu.


"Nadin pulang ya..... "


Nadin berpikir sejenak, apa yang di katakan Naila ada benarnya juga.


"Ia om..... "


Nadin mencoba berdiri, namun kepalanya begitu berat, akibat menangis.


Om Hmazah membantu Nadin berdiri, namun Nadin malah tak sadarkan diri. Untungnya om Hamzah sigap menangkap tubuh Nadin.


.............................


Nadin mulai sadar, aroma has obat-obatan langsung masuk ke hidungnya. Nadin mengerjap-ngerjapkan matanya, menyesuaikan cahaya lampu yang ada di ruangan itu.


Nadin memcoba bangkit, namun kepalanya masih terasa berat dan sakit.


"Ya Alloh maafkan aku, yang terlu larut dalam kesedihan ini dan menyalahkan diri sendiri atas takdirmu......."


"Ya Alloh, cabutlah rasa sakit di kepalaku ini..."

__ADS_1


Nadin terus memohon ampun dan memohon raa sakit di kepanya di cabut.


Perlahan namun pasti, rasa sakit di kepalanya menghilang.


Ceklek, pintu terbuka, menampakan bibi Yuna.


"Alhamdulillah, kamu sudah sadar Din, makan dulu ya..... "


"Ga lapar bi.... "


"Lapar ga lapar kamu harus tetep makan, bibi suapin ya.... "


"Biar Nadin sendiri aja bi.... "


"Ya sudah kalo begitu..... "


Nadin makan dengan begitu pelan.


"Udah bi..... "


"Ya sudah..... "


"Bi, Nadin mau pulang.... "


"Nanti ya tunggu dokter fisit.... "


Malam harinya Nadin di perbolehkan pulang.


.....................


Sudah satu minggu sejak, meninggalnya bu Nana. Nadin berubah menjadi pendiam, dia tak akan bicara jika tak ada hal yang penting.


Perubahan Nadin membuat orang di sekitarnya iba. Om hamzah dan istrinya, memutuskan untuk tinggal di rumah Nadin sementara waktu, sampai Nadin kembali ke semula.


"Nadin makan dulu yu.... "


"Ia bi...... "


Nadin berjalan menuju ruang makan.


"Ka Adin, suapin.... " ucap bocah perempuan gembul itu, dengan bahasa anak kecilnya


Nadin tersenyum melihat tingkah bocah itu.


"Sini..... " Nadin memangku Aira lalu menyuapinya makan.


Om Hamzah dan istrinya senang, Nadin mulai bisa tersenyum.


Tok tok tok


"Buka yang... "


"Ia mas...... "


Bi Yuna segera berjalan ke depan untuk membuka pintu.


Yang datang adalah Bagas.


"Masuk Gas..."


"Ia bi, Nadin?"


"Mulai tersenyum.... "


Selama satu minggu ini Nadin tak mau bertemu dengan siapapun, dia selalu mengurung diri di kanar.


"Alhamdulillah..... "


Bagas langsung menuju ruang makan.


"Assalamu'alaikum....... "


"Wa'alikusalam..... " jawab keduanya


"Sarapan Gas.... "


"Ia om......"


"Pak...." sapa Nadin


Nadin masih sibuk menyuapi Aira.

__ADS_1


__ADS_2