
Happy reading......
Ilham membuntuti mobil yang ada di hadapannya, dia tidak ingin kehilangan jejak karena dia sangat yakin bahwa tadi yang dilihatnya adalah Nara, istrinya.
Bahkan saat ini api amarah bergejolak di dalam hati Ilham, dia benar-benar murka, dia tidak terima diselingkuhi oleh Nara. Segala apapun yang Nara mau sudah dia lakukan dan berikan, bahkan uang bulanan pun sudah Ilham tambah tetapi Nara malah menghianati dirinya.
'Ternyata begini rasanya saat memergoki istri sendiri selingkuh? Apakah ini perasaan yang Bunga rasakan dulu, saat dia mengetahui jika aku berselingkuh dengan Nara?' batin Ilham merasa menyesal atas perbuatannya dulu yang telah menduakan Bunga.
Saat tengah mengejar mobil yang sedang dibuntutinya, tiba-tiba lampu merah berganti hingga mau tidak mau Ilham mengerem mobil dia mendadak, dan Ilham pun kehilangan jejak mereka.
"Aaghh... SIAL! Aku kehilangan jejak mereka. Lihat saja kau Nara, aku tidak akan mengampunimu!" geram Ilham sambil memukul setir dengan dada naik turun menahan amarah di dalam dada.
Ilham benar-benar merasa kesal karena dia sudah kehilangan jejak mobil yang dinaiki oleh Nara dan selingkuhannya, dia benar-benar marah saat ini, bahkan rasa sakit yang dia rasakan di tubuhnya tidak terasa apa-apa dibandingkan dengan rasa sakit yang ada di hatinya.
***********
Bunga dan Bagas pun sudah sampai di sebuah toko, di mana mereka akan membeli baju untuk Aurora. "Pak, mau baju seperti apa?" tanya Bunga sambil memilih baju-baju wanita seumuran Aurora, begitu sangat cantik dan lucu-lucu.
"Yang menurut kamu bagus saja dan pas untuk Aurora," jawab Bagas sambil mengikuti langkah Bunga. Wanita itu pun mengangguk, kemudian dia memilih beberapa gaun dan juga dress untuk Aurora, tak lupa Bunga juga memberikan bando, jepitan dan beberapa ikat rambut untuk pasangan pakaian yang dia beli.
"Apa ada lagi yang ingin dibeli, Pak?" tanya Bunga, namun Bagas berpikir sejenak kemudian dia menggeleng. "Sepertinya tidak ada! Kalau gitu kita pulang sekarang," ajak Bagas dan langsung dibalas anggukan oleh Bunga.
__ADS_1
Saat mereka keluar dari toko ternyata hujan sudah mengguyur dengan deras, membuat mereka berdua bingung harus ke mobil dengan apa, sebab mereka lupa tidak membawa payung. "Aduh Pak, ini hujan. Lalu bagaimana kita akan ke mobil?" tanya Bunga sambil menatap air hujan yang berjatuhan dengan sangat derasnya.
Bagas pun membuka jasnya, hingga membuat wanita yang ada di sampingnya itu merasa heran, kemudian dia memayungkan jas itu kepada dirinya dan juga Bunga. "Pak ini--"
"Kita pakai ini supaya tidak terkena air hujan," potong Bagas.
Bunga meneguk ludahnya dengan kasar, dia bukannya tidak ingin berada di dekat pria tampan itu, tapi jantungnya selalu berdebar seperti sedang berada di klub malam. Dengan rasa canggung Bunga pun melingkarkan tangannya di pinggang kekar Bagas, kemudian tatapan Bagas mengarah kedua mata Bunga.
Desiran aneh mulai terasa di antara keduanya, namun Bunga masih belum menyadari itu karena dia masih menampik dengan logika, lalu mereka pun berjalan menuju ke mobil untuk pulang.
Baju Bagas setengah basah karena dia melindungi tubuh Bunga dari air hujan, dan Bunga yang melihat itu pun tentu saja merasa tidak enak. "Maaf ya Pak, gara-gara melindungi saya Bapak yang basah," ujar Bunga dengan nada tidak enak kepada Bagas.
Mendengar ucapan Bagas, Bunga benar-benar terharu. Dia tidak menyangka jika pria yang ada di hadapannya ini begitu bertanggung jawab dan penuh kasih sayang. Bunga berandai-andai jika saja dia yang pertama bertemu dengan Bagas saat mereka masih sendiri, atau saat Bunga belum bertemu dengan Ilham, pastilah Bunga menjadi wanita yang beruntung karena memiliki suami seperti Bagas.
Tapi khayalan hanya tinggal khayalan, semua sudah ada jalan takdirnya sendiri. Bunga juga sudah menjalani takdirnya sebagai janda, menjalani takdir rumah tangganya bersama dengan Ilham yang penuh liku-liku, bahkan rasa sakit.
Saat mereka ada di tengah jalan tiba-tiba mobil Bagas mogok, kemudian dia memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. "Kenapa Pak? Kok berhenti?" tanya Bunga dengan heran.
"Tidak tahu, sepertinya mobil saya mogok. Aneh, padahal baru diservis satu bulan yang lalu?" bingung Bagas sambil mencoba menyalakan starter mobilnya, tetapi malah tidak menyala. Bagas pun merasa geram kemudian dia memukul setir mobilnya. "Kenapa sih harus mogok di saat seperti ini?" gerutu Bagas dengan kesal.
Bunga terkekeh mendengar pria yang ada di sampingnya itu menggerutu, pasalnya baru kali ini Bunga melihat Bagas terlihat begitu kesal.
__ADS_1
Kemudian Bagas mengambil payung dan berucap, "Kamu di sini saja, biar saya turun dan ngecek dulu mesin mobilnya apakah ada yang salah." Bunga mengangguk, kemudian pria itu pun keluar dari mobil dan membuka kap mobilnya. Tapi seketika Bagas menggaruk kepalanya, karena dia tidak mengerti tentang mesin.
"Haduh... Bagas, Bagas. Orang terkaya Nomor 8, tapi soal mesin aja lu nggak paham! Terus aku kudu piye?" gumam Bagas sambil menggaruk pelipisnya, dia merasa pusing karena dia tidak tahu cara membenarkan mesin mobil yang mogok. Akhirnya Bagas menyerah dan masuk kembali ke dalam mobil untuk mengambil ponsel dan menelpon Riko, agar dia menyuruh montir untuk datang ke alamat di mana mobilnya saat ini tengah mogok.
"Bagaimana Pak? Apa sudah menemukan masalahnya?" tanya Bunga saat Bagas membuka pintu mobil.
"Belum, ini aku mau nelpon montir dulu untuk datang ke sini," jawab Bagas sambil menutup pintu mobil.
Bunga menghela nafasnya dengan pelan, kemudian tatapannya mengarah ke arah luar, di mana hujan masih mengguyur dengan deras. Ingatannya kembali pada saat di cafe tadi, Bunga masih tidak habis pikir kenapa Ilham sebegitu tidak relanya melihat dia jalan bersama dengan Bagas.
Tangan Bunga tiba-tiba bergerak sendiri, entah kenapa dia membuka pintu mobil dan keluar dari mobil Bagas. Lalu berdiri dan menengadah ke arah langit, meresapi air hujan yang membasahi wajahnya dan juga tubuhnya. Entah kenapa Bunga merasa jika air hujan begitu dingin, menyejukkan hati dan pikirannya saat ini.
'Saat cinta tak memberi arti lagi, hanya memberikan luka yang menyayat hati, seolah seperti malam hari, di mana hujan badai tak kunjung berhenti, namun semua ini harus kuhadapi karena perjalanan hidup itu tidak akan pernah berhenti.' batin Bunga menatap ke arah langit, lalu memejamkan matanya kembali.
Bagas kaget saat melihat bunga sedang berdiri di bawah air hujan sambil memejamkan matanya dengan wajah menengadah ke atas langit seketika darah Bagas berdesir.
Bagas terus menatap ke arah Bunga tanpa berkedip sama sekali, bibirnya tersenyum merasakan kehangatan dan desiran di dalam hatinya saat ini. Rasanya Bagas ingin sekali mendekat ke arah Bunga lalu memeluk tubuh wanita itu dari belakang, menikmati setiap air hujan yang membasahi tubuh mereka. Tapi sayang, nyali Bagas terlalu menciut dia takut nantinya Bunga malah akan ilfil kepadanya dan menjauh darinya, dan itu membuat Bagas tidak sanggup.
'Hujan punya alasan kenapa ia jatuh, tapi aku tak mempunyai alasan mengapa hatiku jatuh kepadamu. Aku titipkan rindu pada langit untuk disampaikan padamu lewat hujan.' batin Bagas sambil menatap Bunga.
Bersambung. . .......
__ADS_1