Penghianatan Suamiku

Penghianatan Suamiku
Pak Duda Bisa Cemburu Juga


__ADS_3

Happy reading.......


Bunga dan Bagas pun berdiri saat orang itu mendekat ke arah mereka. "Mas Ilham," ucap Bunga dengan nada sedikit kaget saat melihat pria itu berada di rumah sakit.


Bagas yang melihat Ilham berada di depannya segera merangkul pinggang Bunga, hingga membuat wanita itu seketika menoleh ke arah Bagas dengan tatapan menyipit, namun akhirnya Bunga mengerti kenapa Bagas bersikap seperti itu di hadapan Ilham.


'Rupanya calon suamiku ini sedang cemburu pada mantan suamiku?' batin Bunga terkekeh kecil.


Ilham menatap ke arah tangan Bagas yang sedang merangkul pinggang Bunga. Ilham merasakan ada sedikit rasa sakit di hatinya saat menatap Bagas yang sedang merengkuh pinggang Bunga, karena rasa cinta itu sampai sekarang masih ada di hati Ilham untuk Bunga.


Selama ini bahkan Ilham ingin sekali bertemu dengan Bunga, tapi takdir tidak mempertemukan mereka selama 3 bulan dan sampai masa iddah Bunga selesai.


"Kamu sedang apa Mas di sini? Apa kabar?" tanya Bunga sambil mengulurkan tangannya berbasa-basi kepada Ilham.


"Alhamdulillah aku baik. Iya, aku tadi habis check up ke Dokter, soalnya badanku dari semalam tidak enak," jawab Ilham tanpa melepaskan tatapannya dari tangan Bagas di pinggang Bunga.


"Kamu sakit apa, Mas?" tanya Bunga kepada Ilham.


"Sayang, aku kayaknya haus deh. Kita beli minum dulu yuk ke kantin," potong Bagas saat Ilham baru saja akan menjawab pertanyaan Bunga. Dia tidak suka saat Bunga dan Ilham saling mengobrol satu sama lain.


"Oh baiklah, Mas Ilham, kalau gitu kami duluan ya," jawab Bunga tapi Bagas langsung menggandeng tangan Bunga meninggalkan Ilham yang masih berdiri terpaku menatap kedua insan yang sedang dimabuk asmara itu.

__ADS_1


Padahal Bunga ingin sekali menanyakan keadaan Nara dan Azam, pada Ilham.


'Kenapa pria tadi memanggil Bunga dengan 'Sayang'? Apakah memang benar jika pria tadi adalah pacarnya Bunga? Apa mereka punya hubungan spesial?" batin Ilham bertanya-tanya tentang Bagas.


Sedangkan Bunga merasa heran dengan calon suaminya itu. Bagas diam saja dan malah menarik tangan Bunga menuju kantin, lalu dia pun duduk di salah satu meja kemudian Bunga ngambil minuman di kulkas yang ada di kantin itu lalu memberikannya kepada Bagas.


"Kamu kenapa sih, Sayang? Lok wajahnya ditekuk kayak gitu?" tanya Bunga dengan penasaran.


"Nggak apa-apa, aku cuma nggak suka aja kalau kamu ngobrol sama mantan suami kamu itu," jawab Bagas sedikit ketus.


Bunga yang mendengar itu malah terkekeh, kemudian dia memegang tangan Bagas yang berada di sampingnya lalu memencet hidung pria tampan itu. "Aku tidak menyangka jika calon suamiku ini, yang sudah pernah menjadi seorang suami, bisa cemburu juga. Aku kira Pak duda itu nggak bisa cemburu?" ledek Bunga sambil tertawa kecil.


Bunga segera menutup mulutnya, kemudian dia menatap tajam ke arah Bagas. "Dasar Pia mesum," umpat Bunga di balik tangannya. Sementara itu Bagas hanya terkekeh mendengar umpatan calon istrinya itu, dia merasa Jika Bunga sangat lucu jika sedang dilanda ketegangan dan juga salah tingkah.


Sudah 5 jam lamanya Bunga dan juga Bagas berdiri dan menunggu kelahiran dari anaknya Sony dan juga Jelita, bahkan sedari tadi Bunga tidak henti mondar-mandir terus-menerus, karena dia sangat khawatir dengan kakak iparnya itu.


Tak lama pintu ruangan bersalin pun terbuka, dan seorang suster keluar dari sana. Bunga yang melihat itu segera bangkit dari duduknya dan menghampiri suster tersebut.


"Bagaimana dengan persalinannya Sus? Apakah kakak ipar saya dan bayinya baik-baik saja?" tanya Bunga dengan raut wajah yang cemas.


"Alhamdulillah Nona, Ibu Jelita dan juga bayinya baik-baik saja, dan bayinya juga berjenis kelamin laki-laki. Kalau begitu saya permisi dulu," jawab Suster tersebut sambil meninggalkan Bunga.

__ADS_1


Mendengar itu Bunga tentu saja bernafas dengan lega, kemudian dia menangkupkan tangannya ke wajah.


"Alhamdulillah ya Allah,"!ucap Bunga mengucap syukur alhamdulillah atas keselamatan persalinan Jelita dan juga bayinya.


Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Sony pun keluar dari ruangan dan bertemu dengan Bunga, tapi seketika tatapan Bunga merasa heran. Pasalnya saat Sony keluar, rambutnya acak-acakan, bahkan baju kemejanya saja robek, ditambah dengan cakaran yang ada di pipi tampannya.


"Kak, itu kenapa rambut acak-acakan, baju robek, terus pipi Kakak kenapa juga? Kok kayak di cakar? Sampai luka kayak gini loh? Kakak habis berantem di mana? Nemenin orang lahiran, kok kayak habis ngamuk?" heran Bunga sambil membolak-balikkan wajah tampan Sony.


"Nggak usah ngeledek kamu! Senang kamu lihat penderitaan Abangnya, hah? Kamu tahu nggak? Kakak kayak gini itu kenapa karena, kakak ipar kamu. Emang lahiran sesakit itu ya? Sampai rambut Kakak tuh banyak yang rontok ditarikin, dia ini baju sampai robek udah kayak gembel,bini pipi tampan Kakak juga tergores, ternoda. Senang kamu lihat penderitaan Kakak?" kata Sony pada Bunga.


Bagas yang mendengar itu tentu saja menahan tawanya, tapi pada akhirnya dia tidak bisa menahannya lagi dan tertawa di hadapan Sony, membuat calon kakak iparnya itu menatap tajam arah Bagas.


"Kenapa malah tertawa? Bukannya Lo pernah berada di posisi Gue, hah?" tanya Sony dengan garang.


"Iya, maaf-maaf, lagi pula ya lucu aja. Dulu memang almarhum istriku melahirkan normal, tapi tidak sampai babak belur seperti itu," ucap Bagas sambil terkekeh kecil.


Sony memutar bola matanya dengan malas, kemudian dia duduk di kursi sambil memegangi kepalanya yang masih terasa begitu sakit. Bahkan cakaran di pipinya pun masih terasa perih, dia tidak menyangka jika melahirkan seorang anak bisa sampai sesakit itu.


Sony bertekad pada dirinya sendiri jika dia tidak akan pernah menyakiti wanita, karena saat Sony melihat perjuangan Jelita yang mengeluarkan Putra mereka, tentu saja hati Sony hancur melihat bagaimana penderitaan Jelita. Walau pada akhirnya mereka bahagia dengan lahirnya Putra pertama mereka.


Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2