Penghianatan Suamiku

Penghianatan Suamiku
Putri Ajaib


__ADS_3

Happy reading......


Bunga sedari tadi terus diam saja di dalam mobil tidak banyak bicara seperti biasanya, dia masih kepikiran dengan kejadian tadi di restoran. Di mana keluarga Ilham masih saja membenci dirinya. Bahkan, terus saja memaki dan menghinanya. Padahal, mereka sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi.


'Apa ini isyarat dari perasaanku yang tidak enak sedari pagi?' batin Bunga bertanya-tanya.


Sebenarnya bukan itu saja yang Bunga pikirkan. Tetapi, dia juga memikirkan apakah es krim rasa alpukat itu ada? Sedangkan, setahu Bunga, dari dia kecil sampai dia dewasa, dia tidak pernah menemukan es krim rasa alpukat. Bunga pun menjadi bingung, bagaimana bisa dia mendapatkan es krim rasa alpukat.


"Kamu kenapa? Kok dari tadi diam aja?" tanya Bagas membuka pembicaraan, karena sedari tadi dia melihat Bunga terus termenung, sedang memikirkan sesuatu.


"Tidak, hanya saja--"


"Memikirkan kejadian tadi di restoran?" Bagas memotong ucapan Bunga. Tapi, wanita itu langsung menggeleng.


"Tidak! Bukan itu. Aku hanya memikirkan, memangnya ada es krim rasa alpukat? Sedangkan, aku pikir dari aku kecil sampai besar, aku tidak pernah merasakan es krim rasa alpukat, selain es potong. Apa aku yang ketinggalan zaman?" ucap Bunga dengan bingung, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Bagas terkekeh mendengar ucapan wanita yang ada di sampingnya itu, bagaimana tidak? Di dunia ini mana mungkin tidak ada es krim rasa alpukat. Tapi, memang lebih terkenal rasa strawberry, vanilla dan coklat. Memang, rasa alpukat itu tidak ada, dan sejujurnya Bagas juga bingung harus mencari kemana.


"Yee ... malah ketawa. Ada nggak kira-kira?" protes Bunga dengan wajah cemberut.


"Kita cari saja di supermarket, pasti ada kok," ujar Bagas sambil memarkirkan Mobilnya di salah satu supermarket. Kemudian, mereka pun turun lalu berjalan ke tempat di mana semua es krim berada. Namun, mereka tidak juga menemukan es krim rasa alpukat, hingga mereka bertanya kepada salah satu karyawan di supermarket dan ternyata tidak ada rasa alpukat.


"Kita harus mencari kemana?" tanya Bunga sambil menghela nafasnya, saat berada di dalam mobil.

__ADS_1


"Kita cari lagi ke supermarket yang lain," ujar Bagas sambil menjalankan mobilnya kembali untuk mencari supermarket lainnya. Namun, sudah tiga supermarket mereka datangi tapi tidak ada rasa alpukat. Bagas pun menyerah, namun Bunga tidak pantang menyerah. Sebab, dia tahu jika Aurora pasti akan sedih kalau permintaannya tidak dituruti.


"Kita cari lagi saja, jika memang tidak ada barulah kita pulang," ucap Bunga kepada Bagas. Akhirnya, pria itu pun menjalankan mobilnya kembali mencari supermarket yang lain. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 11.30 malam.


"Sepertinya tidak ada es krim rasa alpukat, putriku itu memang ajaib. Ada-ada saja permintaannya," gumam Bagas tidak habis pikir dengan permintaan Putri kecilnya. Sedangkan, Bunga hanya terkekeh kecil melihat kekalutan di dalam wajah Bagas.


Sejujurnya Bunga juga sudah mengantuk, dia juga lelah. Akhirnya, mereka pun pulang ke rumah untuk beristirahat. Bunga juga akan membujuk Aurora, agar anak kecil itu tidak ngambek karena tidak mendapatkan apa yang dia mau.


"Kita sudah sampai," ucap Bagas sambil melirik ke arah samping. Namun, ternyata dia melihat Jika Bunga sudah tertidur. Bagas pun membuka sabuk pengamannya kemudian dia mendekat ke arah Bunga dan memperhatikan wajah cantik wanita itu, yang sedang tertidur dengan pulas.


"Dua bulan lagi, aku akan mempersuntingmu, dan aku juga akan menjadikanmu sebagai ibu pengganti bagi Aurora. Aku akan menjadikan kamu, bidadari satu-satunya di dalam hidupku." Bagas berucap dengan lirih,nsambil menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah cantik Bunga.


Melihat Bunga tertidur dengan pulas, Bagas menjadi tidak tega untuk membangunkan wanita itu. Kemudian dia pun keluar dari mobil, lalu membuka pintu mobil yang ada di samping Bunga. Kemudian membuka sabuk pengaman Bunga dan menggendong wanita itu.


Dengan perlahan Bagas menaiki tangga menuju kamar Bunga, kemudian dia pun menidurkan Bunga dengan hati-hati di atas ranjang. Saat wajahnya berjarak dekat dengan Bunga, Bagas bisa melihat jelas setiap lekuk wajah wanita itu, bahkan bibir mungil yang begitu menggoda.


Seketika Bagas menggelengkan kepalanya, otaknya mulai sudah tidak terkondisikan lagi. Karena dia teringat dengan ciu-man panas antara dia dan juga Bunga di bawah guyuran air hujan. Bagas pun menarik nafasnya dengan dalam, kemudian dia menyelimuti tubuh Bunga dan melenggang pergi meninggalkan kamar itu. Tapi, baru saja dua langkah, Bagas kembali berbalik ke arah Bunga lalu tanpa izin dia mengecup kening wanita itu.


"Good night, sayang," lirih Bagas dengan senyuman di wajah tampannya. Kemudian, dia pun keluar dari kamar Bunga menuju kamar tamu di mana Aurora tertidur.


******


Pagi pun telah tiba, Bunga meregangkan otot-otot badannya yang terasa begitu lelah dan juga kaku. Sinar matahari mulai masuk ke dalam kamar Bunga dari celah-celah gorden di kamarnya, lalu dengan perlahan Bunga bangkit dari tidurnya berjalan menuju jendela dan membuka horden itu, agar membuat cahaya matahari masuk dengan leluasa.

__ADS_1


Namun, seketika Bunga tersadar, Jika dia masih menggunakan gaun semalam. Tapi bunga heran, sebab seingat dia semalam dia masih berada di mobil Bagas dan belum turun, bahkan masuk ke dalam kamar.


'Apa yang memindahkanku ke kamar, itu Bagas? Apa dia menggendongku? Jika itu benar, kenapa aku tidak sadar? Aduh Bunga ... kamu ini tidur kayak kebo sih?" Bunga merutuki dirinya sendiri.


Selesai membersihkan diri, Bunga pun keluar dari kamarnya. Dia berjalan ke kamar tamu untuk melihat, apakah Aurora masih tidur di sana atau semalam dia sudah pulang. Dan pas Bunga masuk ke dalam kamar tamu, dia melihat jika Aurora sedang tertidur. Tapi, dia juga kaget sebab di sana juga ada Bagas yang sedang tertidur di sofa.


Bunga merasa kasihan pada pria itu, sebab Bagas yang mempunyai tubuh yang tinggi harus tidur di sofa dengan kaki ditekuk. Dia yakin jika posisi itu sangatlah membuat tidur tidak nyaman, dan sudah Bunga pastikan jika saat Bagas bangun, badannya pasti akan pegal-pegal.


"Kenapa dia tidak tidur di ranjang saja bersama dengan Aurora? Kenapa malah berada di sofa?" bingung Bunga, sambil menggelengkan kepalanya dengan pelan, kemudian dia berjalan mendekat ke arah Bagas dan memperhatikan wajah tampan pria itu.


"Memang ketampanannya tidak ada duanya. Pantas aja, setiap wanita tergila-gila padanya. Tapi sayang, rasanya hatiku masih terlalu sakit


Walaupun aku merasakan desiran yang aneh saat berada di dekatnya," gumam Bunga dengan nada yang Lirih. Kemudian dia pun hendak berbalik untuk mendekat ke arah ranjang, Aurora.


Tapi seketika tangannya ditarik oleh Bagas, hingga membuat keseimbangan tubuh Bunga pun goyah, lalu dia pun jatuh tepat di atas tubuh Bagas hingga membuat tatapan mereka kembali terkunci dengan dada yang berdebar.


Bunga kaget saat tangannya ditarik oleh Bagas, apalagi saat ini dirinya tengah menatap pria yang ada di hadapannya itu. Tatapan mata yang begitu tajam, tegas namun sangat sendu dengan rahang yang kokoh, hidung mancung, alis tebal dan bibir yang begitu seksi.


Seketika Bunga meneguk salivanya dengan kasar. Entah kenapa, melihat bibir Bagas, Bunga jadi teringat dengan ciuman lembut yang pria itu lakukan di bibirnya. Dan entah kenapa Bunga seakan ingin jika itu terulang kembali.


'OMG, Otaku ... pagi-pagi,nkenapa sudah tercemar? Sadar Bunga, sadar,' batin Bunga merutuki otaknya sendiri yang mulai konslet.


Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2