
Happy reading..........
Bunga keluar dari kamar dan menghampiri Ardi yang sedang duduk di ruang tamu, kemudian dia duduk di hadapan Ardi. "Kamu ke sini, Di?" tanya Bunga, dan langsung dibalas anggukan oleh pria tampan itu.
"Iya, kata Kak Bagas kamu semalam pingsan dan dirawat di rumah sakit? Itu kenapa aku ke sini, untuk menengok kamu," jawab Ardi sambil duduk di sebelah Bunga. "Kamu kenapa sakit tidak bilang sama aku? Dan kenapa bisa Kak Bagas menemani kamu di sana?" tanya Ardi dengan sedikit nada tak suka.
Jujur memang dia jealous saat mendengar jika Bagas menemani Bunga di rumah sakit. Ardi tidak bisa membayangkan bagaimana kebersamaan mereka berdua semalam.
"Iya, memang semalam aku pingsan dan Pak Bagas yang membawaku ke rumah sakit. Kebetulan kami sedang meeting untuk sebuah proyek yang ada di luar kota."
Mami Rindi pun gabung dan duduk bersama dengan Bunga dan Ardi, dia sejujurnya penasaran dengan pria itu. Bahkan dari tadi Mami Rindi terus menatap kearah Ardi, karena wajah Ardi begitu tidak asing baginya.
"Mih, Mami kenapa? Kok menatap Ardi seperti itu?" tanya Bunga dengan heran, begitupun Ardi dia juga merasa heran sebab Maminya Bunga terus aja menatap dirinya.
"Tidak! Maafkan Mami, hanya saja wajahnya Nak Ardi itu seperti tidak asing. Seperti mirip seseorang?" ujar Mami Rindi sambil menggaruk alisnya, karena mengingat sesuatu.
Bunga terkekeh mendengar ucapan sang Mami, kemudian dia memegang tangan Maminya. "Bagaimana tidak Mami kenal? Dia ini adalah Adiknya Pak Bagas, Mih. Mereka adalah saudara kandung," jelas Bunga.
Mami Rindi tentu saja sangat kaget, dia menatap Ardi dengan mata membulat. "Benarkah? Pantas saja Mami seperti melihat dia sangat mirip dengan seseorang, ternyata Nak Ardi ini sangat mirip sekali dengan Pak Bagas. Ya, walaupun tidak mirip-mirip banget sih."
__ADS_1
Setelah menengok keadaan Bunga, Ardi pun bersiap untuk ke kantor, dia tidak pulang dulu ke apartemen dan langsung menuju kantornya karena di sana juga ada baju ganti untuk Ardi.
Tapi di tengah jalan dia teringat dengan perkataan Bunga, di mana perusahaannya dan juga perusahaan Bagas bekerja sama. Ardi pun langsung membelokkan mobilnya ke arah kiri menuju arah kantor Bagas.
Setelah sampai, Ardi masuk ke dalam kantor itu dan semua karyawan yang ada di sana menunduk hormat ke arah Ardi. Sebab mereka tahu siapa Ardi, dia pun naik ke lantai 8 di mana Bagas berada.
"Lagi sibuk kak?" Tanya Ardi langsung masuk ke dalam ruangan Bagas tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Bagas yang melihat Ardi masuk mengerutkan keningnya, sebab tidak biasanya Adik satu-satunya itu mau berkunjung ke kantornya jika tidak ada hal yang penting. Tetapi seingat Bagas tidak ada proyek dan masalah yang harus dia bicarakan tentang pekerjaan bersama dengan Ardi.
"Tumben kamu ke sini? Apa ada hal penting? Kakak rasa tidak ada yang harus dibicarakan soal pekerjaan?" heran Bagas sambil membuka setiap lembar map yang harus diperiksa.
Mendengar itu Bagas seketika mengangkat wajahnya, dia menatap Ardi yang sedang duduk sembari menatap dirinya. "Bunga? Persaingan? Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Bagas tanpa ingin bertele-tele.
Ardi pun bangkit dari duduknya kemudian dia berjalan ke arah meja Bagas, lalu menyenderkan tubuhnya di meja itu sambil mengetuk satu jari telunjuknya di atas meja.
"Iya, ada yang perlu kita bicarakan soal Bunga, dan aku mau kerjasama antara perusahaan kamu dan Bunga, biar aku yang menghandle. Bagaimana Kak?" Ucapan Ardi membuat Bagas heran, kemudian dia menatap sang Adik dengan tatapan bingung.
"Tunggu dulu! Kenapa kamu ingin menghandle pekerjaan yang bekerja dengan perusahaannya Bunga? Oh, ini jangan-jangan ada udang dibalik batu? Lagi pula ini perusahaanku, aku yang menghandle. Kenapa sekarang kamu ingin, kamu sendiri yang menghandle nya?"
__ADS_1
Ardi merasa gugup saat mendengar pertanyaan itu, otaknya seketika berfikir keras mencari alasan agar Bagas mau menyerahkan tanggung jawab proyek itu yang sedang bekerja sama dengan Bunga.
"Tidak! Bukan seperti itu, tapi Kakak pasti kan capek mengurus semua proyek yang sedang berjalan beberapa dari cabang kita juga kan? Jadi sebaiknya biar aku saja yang menghandle," tawar Ardi namun Bagas mengerti ke mana arah tujuan Ardi.
Dia tahu kenapa Ardi meminta dirinya untuk memberikan tanggung jawab kerjasamanya dengan Bunga kepada dirinya. Bagas pun tersenyum miring mendengar permintaan sangadi
"Ckckck, kau pikir aku ini bodoh? Kau ingin mengambil tanggung jawab kerjasama dengan perusahaannya Bunga, karena kau ingin dekat bukan dengan dia? Kita ini sedang bersaing Bro, ayolah bersaing dengan sehat." Bagas berucap sambil berdecak kemudian dia terkekeh kecil.
Ardi menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal, dia merasa seperti pencuri yang baru saja ketahuan oleh tuan rumah. Kemudian dia cengengesan menampilkan deretan gigi putihnya.
"Sudahlah, sebaiknya sekarang kamu kembali ke kantor! Lagi pula kapan kamu akan berangkat lagi ke luar negeri?" tanya Bagas sambil kembali mengotak-atik laptopnya.
Ardi terdiam mendengar ucapan sang Kakak, seharusnya dia kembali ke Jerman itu satu bulan yang lalu. Tetapi karena dia ingin mendapatkan cintanya Bunga, maka Ardi mengundur kepulangannya ke sana.
"Oke deh, kalau gitu aku pamit dulu." Setelah mengatakan itu Ardi pun keluar dari ruangan Bagas. Melihat sang Adik keluar dari ruangannya, Bagas menghela nafasnya dengan kasar kemudian dia menyugar rambutnya ke belakang.
Bagas tahu apa yang dimaksud oleh Ardi, dia pasti tidak ingin jika karena kerjasamanya dengan Bunga membuat kedekatan antara keduanya terjalin. "Strategi yang bagus," gumam Bagas sambil tersenyum miring.
Bersambung. . .......
__ADS_1