Penghianatan Suamiku

Penghianatan Suamiku
Promo Novel: Al-fatihah Pembuka Jodoh


__ADS_3

Judul: Al-fatihah Pembuka Jodoh


Author: Iis Siti


JANGAN LUPA PADA MAMPIR DONG DI KARYA NYA TEMAN AUTHOR🙏**CERITANYA BAGUS D JAMIN GAK AKAN NYESEL👍😘**


Seperti biasa bacaan Surat Alfatihah yang di bacakan Dino mampu meluluh lantahkan hati Sita. Lembut, merdu, menggema dan menenagkan jiwa. Mengembalikan keyakinan awalnya Sita saat mengambil keputusan menerima Dino.


"Assalamu 'alaikum warahmatulloh." akhir salam kekanan dan ke kiri.


Entahlah getaran apa yang Alloh SWT berikan pada Sita setiap kali mendengar Dino mebaca Surat Alfatihan. Hatinya meleleh.


"Ya Alloh, Kau jodohkan aku dengan nya. Lewat lantunan surat Alfatihah ini engkau getarkan hatiku untuknya. Jangan biarkan aku meragukan kebesaraan mu. Tunjukanlah kebenaran apa yang tersembunyi. Sesungguhnya engkau maha mengetahui. Aamiin." seuntayan doa dalam hati Sita.


Dino tersenyum melihat istrinya yang baru selesai berdo'a.


" Apa yang kamu minta dari Alloh swt?" tanya Dino.


"Kebenaran," ucap Sita sambil mengalihkan pandangan nya menatap Dino.


Deg...


"Kebenaran!" Dino pun menatap Sita.


"Iya. Kebenaran apa yang tersembunyi dariku. Dan yang pasti Alloh ketahui," ucap Sita.


"Aamiin Ya Alloh Ya Rob." sontak Dino langsung bersemangat mengamininya. Seraya mengusap muka dengan kedua tangan nya.


Dino mengerti apa yang di maksud Istrinya.


"Kamu semangat sekali mengaminkan nya," kata Sita.


"Tentu saja, karna itu akan memberi kebahagian untuk ku juga untuk mu."


Sita tersenyum, penuh arti.


Sambil menunggu adzan isya, lebih baik kita membaca Al'quran beberapa halaman," ajak Dino pada Sita.


Sita pun mengangguk. Diambilnya Al'quran yang dia bawa dari Kontrakan.


Dino pun mengambil Al'quran nya yang di Simpan rapih di atas meja.


Dino membuka halaman Surat Yusuf, melanjutkan kajian halaman nya.


Sita pun duduk dihadapan Dino, agak jauh. Dan membuka surat yang sama.


"Kenapa membuka surat Yusuf juga," tanya Dino.


Aku ingin mendengar Imam ku mengaji terlebih dahulu."


"Baik lah," ucap Dino. Lalu tersenyum.


Diucapkan nya Taawudz, dan Basmallah.


Dibacanya Surat Yusuf dengan tartil, dengan memperhatikan Tazwid dan Makhorijil hurupnya.


Suara lantunan yang indah, dan merdu. Kembali memberi ketenangan hati Sita yang sedang gundah. Di pejamkan nya mata dan di resapinya setiap kalimah bacaan.


"Indah sekali," ucap Sita ketika memejamkan matanya.


Mendengar itu Dino berhenti dan melirik ke arah sang Istri. Di tutupnya Al'quran seraya mengucapkan, "Sodaqollahul Adzim."


Sita segera membuka matanya, ketika mendengar Dino membaca Sodaqolloh.


Dino mendekatkan wajahnya kewajah Sita.


Deg...


Sontak Sita merasa kaget.


Dilihatnya bibir indah sang istri, wajah Dino mendekat, dan berbelok ketelinga seraya berbisik "Sekarang giliran mu."


Sita yang sudah deg-degan itu bernapas lega. Dipikir Dino mau mengecup nya saat mereka menjaga wudhu.


Hik..hik... Batin Sita tertawa karna malu sendiri.


"Ayo bacalah," ucap Dino.


Dibukanya Surat Al mulk yang ada lipatan tanda kajian Sita.


Dibacanya Taawudz, dan Basmallah.

__ADS_1


Kemudian Sita mulai membaca.


Luar biasa ternyata suara Sita tak kalah indah dan merdu dari Dino.


Kali ini Dino lah yang luluh lantah di buat nya, mendengar suara indah Sita mengaji.


"Luar biasa," ucap Dino dalam hati nya.


Setelah selesai, Sita pun menutup Al'quran dan mengucapkan "Sodaqollahul Adzim." dan di akhiri dengan Tawasul untuk Ibunya.


Dino menatap Sita dengan penuh kebanggaan.


"Tak kusangka suaramu sangat indah, kini aku semakin di butat terlena oleh mu. Aku tak salah memilih mu," ucap Dino.


Sita hanya tersipu malu mendengar itu.


"Jangan terlalu memuji. Semua ini hanya pemberian," ucap Sita


Dino tertegun sejenak. Kemudian tersenyum.


"Oh ya, apa setiap setelah membaca Al'quran selalu kamu akhiri dengan Tawasul untuk Ibu mu," tanya Dino.


"Ya. Aku hadiahkan bacaan ku untuknya pahalanya double kan."


"ya, itu bagus," ucap Dino dengan senyum lebar di bibirnya.


Dino merubah posisi duduk ke sebelah Sita. Dan berbisik di telinga Sita.


"I love you."


Sita pun kembali tertunduk malu. Mendengar kalimat itu.


Adzan isya pun berkumandang.


Mereka pun shalat berjamaah kembali.


Seperti biasa lantuanan surat Alfatihah menggetarkan hati Sita.


"Assalaamu 'alaikum warahmatulloh."


Akhir salam kekanan dan ke kiri.


Setelah selesai shalat dan berdoa Sita pun mencium punggung tangan Suaminya. Suaminya pun mencium kening Istrinya.


"Mukena mu simpan saja di meja itu, bersama sarungku." Dino menunjuk ke meja yang ada di pojok kamar.


Sita pun menyimpan nya.


Tatapan mata Sita beralih ke tasnya yang berisi baju.


"Lalu baju ku?"


"Satukan di lemarinku, lemariku masih kosong."


"Baik lah."


Sita pun mulai merapikan bajunya.


Sementara Dino membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur sederhana miliknya. Menatap atap langit - langit kamarnya, menghela nafas, menghilangkan sejenak penat di kepalanya.


Dino pun membalikkan tubuhnya ke arah dimana Sita sedang sibuk menata baju di lemari. Dia jongok berdiri, jongkok berdiri mengambil baju di tas nya yang tergeletak di lantai. Melihat pemandangan itu hasratnya pun tergugah.


Dia bangun dari tempat tidur menghampiri Sita. Saat Sita hendak meletakan baju kedalam lemari Dino pun memeluk nya dari belakang.


Sita terkesiap kaget, lalu melepaskan pelukan nya. Dan bergeser dari situ.


"Ma-Maaf" ucap Sita gugup.


Dino membuang muka kecewa.


"Maaf. Aku tahu kamu belum siap. Tapi ketahuilah hasrat laki-laki begitu besar pada perempuan nya. Dia akan terus meminta hak nya," ucap Dino. Dengan raut wajah kecewa. Dan kembali membaringkan tubuh nya di tempat tidur.


Deg...


Sita tertegun, menunduk dengan rasa bersalah. Kemudian segera menyelasikan aktipitas menata bajunya.


"Astagfirulloh, aku berdosa telah menolaknya berkali kali. Dia benar, dia hanya meminta haknya," batin Sita.


"Tapi bagaiman caranya aku bisa menjalankan kewajibanku dengan baik, sementara saat ini di hatiku masih ada keraguan," batinnya kembali bicara.


Setelah selesai menata baju. Sita mendekati Dino yang tengah berbaring melentangkan tubuhnya di atas tempat tidur, selepas di tolak Sita untuk melepaskan hasrat.

__ADS_1


Sita mencoba duduk disampingnya dengan agak sedikir Ragu - ragu.


Terlihat Dino sudah memejamkan matanya.


"Dia sudah tidur." bisik hatinya.


Sita pun membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia berusaha tidur menghadap sang suami seperti yang di perintahkan agama.Tidak boleh tidur membelakangi suami.


Sita menatap Dino dengan rasa kasihan. Diantara kemelut hati yang telah di buat hancur oleh perbuatan tidak bertangung jawab seorang perempuan yang tak di kenalnya. Dia harus berperang diantra kewajiban dan perasaan nya.


Sita mencoba mengangkat kepalanya dengan menggunakan tangan kiri sebagai penopang.


Walau ragu-ragu Ia mencoba mengangkat tangan sebelah kanannya untuk mengelus lembut rambut suami nya. Seraya berkata,


"Maafkan aku, sejak di hari pertama ku menjadi seorang istri, bahkan di hari kedua ini aku tidak menjadi istri yang baik buat mu," Ucapnya pelan agar tidak membangunkan suami yang dipikirnya sudah tertidur.


Mata nya mulai berkaca kaca, tak lama air matapun terjatuh. Dan Sita pun terisak.


Dino yang mendengar semuanya, membuka mata.


Sontak Sita kaget di buatnya dan langsung merubah posisi menjadi duduk. Otomatis menghentikan elusan nya lalu mengusap air matanya.


"A-a-aku" seketika Sita gugup.


Dino langsung menyimpan jari telunjuknya di bibir Sita. Dengan senyum merekah di bibirnya.


Dino pun kembali menarik tangan Sita. Dan meletakan tangan nya kembali di kepalanya seolah meminta Sita melanjutkan elusan nya.


Sita pun mengerti dan melakukan yang di inginkan suaminya. Walau ragu - ragu.


"Ka-Kamu belum tidur?" tanya Sita masih gugup.


Dino hanya menggelengkan kepalanya.


Sita tertegun.


"Oh tidak berarti dia mendengarkan ucapan ku tadi." bisik hatinya.


Wajah Sita semakin terlihat gugup.


Dino pun tersenyum melihat kegugupan istrinya yang terlihat lucu.


"Ka-Kamu mendengar semua?" tanya Sita yang masih terlihat gugup.


"Ya," jawabnya singkat.


Dino pun merubah posisi menjadi duduk.


Dino menatap Sita.


Sita di buatnya semakin gelagapan, Entah apa yang akan Dino lakukan.


Seperti biasa Dino menurunkan pandangan nya ke bibir Sita. Jantung Sita semakin dibuatnya berdegup kencang.


Dino pun mendekatkan bibirnya kebibir Sita, tapi tak lantas mengecup nya, malah membelokan nya ke telinga seraya berbisik,


"Aku mencintai mu. Dan aku Ridho pada mu, tidak perlu mencemaskan itu, aku memahami perasaan mu. Sungguh aku telah memafkan mu."


Huh...Sita pun langsung membuang nafas lega.


Dino tertawa lucu.


"Kenapa tertawa," ucap Sita.


Wajah mu terlihat lucu seperti tomat yang terlalu kematengan.


"Iiihhh..." Sita pun memukul-mukulkan tangannya ke Dada Dino.


Dino Sigap menggenggam tangan Sita dan meraih kepalanya, dan di tenggelamkan Di dada nya. Seraya di ciumi nya tangan sang Istri.


Dino mengusap usap rambut Istrinya, berusaha memberi kenyamanan terbaik untuk sang Istri.


"terimakasih sudah mau memafkan aku," ucap Sita.


Dino mengangguk pelan.


Sementara itu pikiran Dino melayang kesana kemari, mencari cara bagaiman membuktikan kecurigaan nya pada Elena. Ia tak mau Istrinya terus merasakan kebimbangan seperti ini. Agar mereka bisa hidup bahagia.


Setelah Sita terlihat nyaman mereka pun berbaring berhadapan dan tidur dengan tangan Sita yang telungkup di atas guling dan di tindih oleh tangan Dino.


Hik hik hik....

__ADS_1


Dan mereka pun terlelap tidur.


__ADS_2