
Happy reading
Saat ini semua sudah kumpul di meja makan, termasuk juga Bunga dan Bagas, tetapi sudah beberapa hari ini Bunga tidak ingin makan nasi. Setiap sarapan, di hanya minum susu dan akan makan nasi waktu malam saja. Sebab, siangnya dia hanya akan makan buah dan juga cemilan lainnya. Jika pagi dan siang Bunga memakan nasi, maka dia akan muntah.
Memang setiap ibu hamil itu berbeda-beda. Ada yang tidak pernah muntah-muntah, ada yang memakan satu macam sayur saja, ada yang tidak suka manis-manis dan juga macam-macam. Dan itu baru Bunga rasakan di kehamilannya yang memasuki 5 bulan.
''Di, kamu sudah siap'kan nanti malam untuk pergi ke Jepang?'' tanya Papa Randi pada Putra keduanya itu, saat berada di meja makan.
''Iya Pa, Ardi sudah siap kok,'' jawab Ardi dengan lesu.
Setelah sarapan selesai, Bunga meminta Bagas untuk tidak ke kantor terlebih dahulu. Karena dia ingin ke toko bunga dan membeli beberapa bunga Mawar. Dia ingin menaruh bunga itu di dalam kamarnya, karena entah kenapa, semalam saat Bunga menonton tv dan menayangkan taman yang begitu indah, tiba-tiba saja dia ingin membeli rangkaian bunga mawar yang berwarna-warni.
''Mamah, Papah. Aurora berangkat sekolah dulu ya,'' ucap Aurora sambil mencium tangan Bunga dan Bagas. Kemudian, dia berangkat ke sekolah bersama dengan Mama Ranti dan juga Mami Rindi.
Kedua Oma itu memang selalu sigap jika berhubungan dengan Aurora. Karena walaupun Aurora bukan cucu dari anaknya, tetapi Mami Rindi sangat menyayangi Aurora, dan menganggapnya sebagai cucu sendiri. Dia merasa kesepian jika di rumah, karena Sony tidak ada di Indonesia, begitupun dengan suaminya selalu saja bekerja dan dia selalu sendiri di rumah.
Setelah siap, Bunga dan juga Bagas pun pergi untuk ke toko bunga. ''Sayang, kenapa tiba-tiba kamu ingin membeli bunga?'' heran bagas saat berada di dalam mobil.
''Entahlah Sayang, aku hanya ingin menghias kamar kita saja supaya lebih berwarna. Semalam aku melihat taman yang begitu indah di tv, jadi aku ingin membeli beberapa tangkai bunga mawar dan menaruh nya di kamar, tapi sebagian juga akan ditanam di taman untuk aku rawat setiap hari,boleh ya?'' pinta Bunga dengan wajah memelas.
Bagas tersenyum, kemudian dia mengangguk 'kan kepalanya, lalu satu tangannya mengusap rambut Bunga dengan lembut. ''Tentu saja Sayang, masa istri aku minta, nggak aku turutin? Kamu minta pesawat pun, pasti aku belikan kok,'' ujar Bagas sambil menjawil hidung Bunga dengan gemas.
__ADS_1
''Aku tidak ingin pesawat, Sayang.''
Mendengar itu, Bagas mengerutkan dahinya. ''Loh, why not?'' jawab Bagas dengan heran.
''Untuk apa pesawat? Memangnya, aku mau kemana?'' kekeh Bunga sambil mengusap perutnya.
''Siapa tahu kamu ingin ke luar negeri, berjalan-jalan? 'Kan bisa memakai pesawat yang aku belikan. Tinggal kita bayar Pilot dan beberapa kamu Pramugari saja untuk melayani kita di dalam pesawat,'' jawab Bagas dengan enteng.
Bunga menyandarkan kepalanya di bahu Bagas, kemudian satu tangan Bagas mengusap pipi Bunga dengan lembut. ''Dengarkan aku Sayang! Aku tidak butuh pesawat, aku tidak butuh semua kemewahan. Yang aku butuhkan, hanyalah kamu dan Aurora. Aku butuh kalian berada di sisiku, menyayangiku dan juga menerima aku. Berada di sisi kalian saja, aku sudah sangat bahagia, melihat senyuman kalian saja, sudah cukup bagiku. Tidak usah keliling dunia, karena kebahagiaanku hanya ada pada kalian.'' jelas Bunga sambil menatap wajah Bagas dengan tatapan yang begitu dalam dan penuh cinta.
Bagas benar-benar tersentuh dengan ucapan istrinya, dia tidak salah menjadikan Bunga sebagai istrinya, bidadari surga nya. Hati Bagas tidak salah, telah terpaut kepada wanita seperti Bunga. Dan dia sangat beruntung, karena Allah sudah mempertemukan dia dengan wanita yang selama ini dia idam-idamkan.
Saat mereka sampai di toko bunga. Bunga langsung masuk dan memilih-milih bunga mawar yang akan dia beli. Saat Bunga tengah memilih mawar mana yang akan dia beli, tiba-tiba tatapannya tertuju pada bunga anggrek yang berwarna ungu. Bunga pun mendekat ke arah bunga itu dan mencium bau harumnya.
''Oh ya Mbak, saya juga mau semua koleksi bunga mawar yang ada di sini ya. Nanti tolong dibungkus dan dibawa ke dalam mobil. Jangan lupa, pupuk sama--'' ucapan Bunga terhenti saat wanita itu berbalik badan dan melihat siapa Pelayan toko bunga yang ada di sana. Dia menatap orang itu dengan tatapan kaget.
************
Saat ini, Ardi dan juga Mentari tengah duduk di taman, di tepi danau . Semenjak Ardi menjemput Mentari, dia tidak berbicara kepada Gadis itu. Dia hanya diam dan memikirkan harus memulai dari mana, agar tidak menyakiti Mentari.
Ardi sangat bingung, dia benar-benar dilema. Di satu sisi, dia tidak ingin meninggalkan Mentari, tapi di sisi lain, tugasnya sebagai anak harus dia laksanakan.
__ADS_1
''Ada apa, Kak? Pasti ada masalah ya?'' tebak Mentari sambil duduk menghadap ke arah Ardi.
Entah kenapa, dia merasa Ardi ingin mengatakan sesuatu, tetapi pria itu terlihat dilema. Karena Mentari bisa melihat dari kedua mata Ardi, jika pria itu bingung dan banyak diam sedari tadi. Biasanya Ardi akan banyak berbicara, tetapi kali ini dia sangat berbeda, dan Mentari tahu ada sesuatu yang mengganjal di hati pria itu.
Ardi menghela nafasnya dengan kasar, kemudian dia menatap ke arah Mentari dan menggenggam kedua tangannya. Dia menatap mata indah itu, wajah cantik nan natural milik Mentari dengan bibir tipis yang kemarin malam dia rasakan dan dia nikmati.
''Entah, aku harus mulai dari mana? Tetapi, untuk beberapa bulan ini, mungkin kita tidak akan pernah bertemu,'' ucap Ardi dengan wajah yang lesu dan tatapan yang Sendu
''Tidak akan bertemu? Maksudnya?'' kaget Mentari saat mendengar ucapan Ardi, jika mereka tidak akan bertemu dalam waktu beberapa bulan.
''Semalam Papa memberitahuku, jika aku harus berangkat ke Jepang nanti malam, untuk menghandle perusahaannya yang sedang bermasalah di sana. Dan masalah itu cukup besar, dan aku sangat yakin jika butuh beberapa bulan di sana agar aku bisa menyelesaikannya, tapi aku berharap hanya satu bulan saja aku bisa menyelesaikan masalah di sana. Selebelum itu berjanjilah, jika aku tidak ada di sisimu, jangan pernah berpaling hati!'' Ardi berbicara dengan dada yang mulai sesak. Entah kenapa, dia sangat berat mengatakan itu kepada Mentari.
Sedangkan Mentari hanya menundukkan kepalanya, dengan air mata yang sudah menetes di kedua pelupuk mata indah gadis itu. Ardi yang melihat itu pun langsung mengusap air mata Mentari,nlalu menggelengkan kepalanya dengan pelan.
''Jangan menangis, Sayang! Kita akan bertemu lagi. Kamu dan aku, akan bersatu. Cinta kita abadi. Liontin ini akan menjadi saksi cinta kita, walaupun aku jauh, tetapi kita masih bisa berkomunikasi bukan? Setelah aku pulang dari sana, aku akan membawamu ke hadapan orang tuaku dan kita akan menikah.'' Ardi mengatakan hal itu sambil memegang liontin yang ada di leher Mentari.
Tanpa bisa dicegah lagi, Mentari langsung memeluk tubuh Ardi. Dia benar-benar tidak sanggup jika pria itu jauh dari dirinya, tetapi Mentari juga tidak bisa egois. Ardi harus menjalankan tugasnya sebagai seorang anak, dia tidak mungkin melarang Ardi untuk pergi.
''Aku akan mendukungmu, Kak. Pergilah, dan kembalilah dengan cepat! Sungguh hari-hariku pasti akan terasa hambar tanpa kamu, dan jaga hatimu di sana.'' Mentari berkata dengan nada terpotong, karena dia sedang merasakan sesak di dalam dadanya. Rasanya Mentari benar-benar tidak bisa berkata apapun, saat ini hanya air matanya yang mewakili jika dia sangat sedih.
Keduanya saling memeluk satu sama lain, seakan pelukan itu adalah yang terakhir kalinya. Ardi bahkan tidak ingin melepaskannya walau sedetik pun, dia baru saja menemukan cintanya, tapi harus terhalang oleh sebuah tugas dari orang tuanya.
__ADS_1
''Ini adalah ujian cinta kita Kak,'' ucap Mentari dalam pelukan Ardi, dan Ardi yang mendengar itu mengecup kening Mentari dengan penuh rasa cinta dan penuh kelembutan.
Bersambung.......