Penghianatan Suamiku

Penghianatan Suamiku
Bab 93


__ADS_3

Happy reading.....


Suasana begitu canggung di dalam mobil, Tina tidak berani membuka suara, karena dia masih merasa deg-degan dengan kejadian tadi saat dia memeluk tubuh Ardi. Padahal dulu mereka sangat akrab, bahkan tanpa jarak. Tapi sekarang, setelah sekian lama tak bertemu, mereka bagai orang asing.


Sementara itu Ardi cuek saja, karena dia tidak menganggap masalah tadi itu hal yang serius. Tapi sayang, entah kenapa jalanan tiba-tiba macet yang mengarah ke arah kantornya Tina.


"Kok tumben jalanan di sini macet? Biasanya jalanan ini lancar aja," gumam Ardi dengan heran. Karena setiap dia lewat jalanan itu, tidak pernah macet sama sekali, dan ini kali pertamanya jalanan itu macet.


Ardi pun membuka kaca mobil, kemudian dia bertanya kepada bapak-bapak yang mengatur lalu lintas. "Maaf Pak, ini ada apa ya? Kok tiba-tiba macet?" tanya Ardi kepada Bapak itu.


"Di depan ada kecelakaan, Pak. Mobil kontainer menabrak minibus, jadi jalanan macet. Soalnya korban jiwa sedang dievakuasi Pak," jawab Bapak itu kepada Ardi.


Suasana di mobil terasa begitu sunyi, Ardi juga tidak tahu harus mengatakan apa kepada Tina. Dia juga hanya diam saja sambil menatap jejeran mobil yang berada di depannya yang ditimpa oleh guyuran air hujan yang deras.


"Oh ya, kamu kenapa tidak bersama Bunga?" Ardi membuka pembicaraan setelah mereka diam cukup lama.


Tina yang merasa diajak ngobrol oleh Ardi, seketika menengok ke arah pria itu. "Kamu bicara sama aku?" tanya Tina sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Bukan! Aku lagi bicara sama kaca mobil!" ketus Ardi dengan wajah ditekuk.


"Kaca mobil? Emang kaca mobil bisa ngomong? Ada-ada aja! Emangnya di film SpongeBob?" heran Tina sambil terkekeh kecil. Dia memang senang membuat Ardi kesal sejak dulu.


Ardi benar-benar kesal dengan gadis yang berada di sampingnya itu, sekaligus aahabaynya. Kemudian dia berdecak dengan kesal, "ya iyalah sama kamu, di sini kan hanya ada kita. Masa iya aku ngomong sama mobil? Emangnya mobil bisa bicara, kayak di film-film?" kesal Ardi sambil memanyunkan bibirnya.

__ADS_1


Tina terkekeh melihat wajah Ardi yang ditekuk kesal, pasalnya pria itu begitu lucu saat wajahnya ditekuk seperti itu. Sedangkan Ardi yang ditertawakan oleh Tina semakin kesal, kemudian dia melirik ke arah Gadis itu yang sedang menertawakan dirinya sambil memegangi perutnya.


Tadinya Ardi ingin marah kepada Tina, namun melihat gadis itu tertawa, entah kenapa Ardi malah tidak bisa marah. Dia malah menarik salah satu sudut bibirnya ke atas dengan tipis,.nyaris tidak terlihat.


"Jadi ... kenapa Bunga tidak ikut denganmu?" tanya Ardi kembali mengulang pertanyaannya.


Tina menghentikan tawanya, kemudian dia menatap lurus ke arah depan.


"Tidak! Tadi kami habis makan siang di cafe, tapi aku ke supermarket untuk membeli sesuatu, dan Bunga pergi ke kantor sendiri," jawab Tina dengan santai setelah tawanya selesai.


Sedangkan di kantornya, Bunga merasa heran sebab Tina masih belum kembali ke ruangannya. Padahal Bunga ingin bertanya soal beberapa hal kepada sahabatnya itu.


"Si Jubaedah, ke mana sih? Kenapa masih belum pulang juga? Apa dia kejebak hujan ya? Tapi, masa nggak naik taksi sih? Ini lagi, hp-nya kenapa lagi ditinggal? Ampun deh, Jubaedah, Jubaedah ..." gerutu Bunga saat berada di ruangan Tina.


********


Setelah hampir 3 jam Tina keluar, dia pun sampai di kantornya. Rasanya Tina seperti baru saja terbebas dari jeratan belenggu yang sedari tadi mengikat dirinya, bahkan Tina merasa jika dia sedang berada di dalam Tong yang besar tanpa udara namun sangat dingin.


"Makasih ya, karena sudah mau mengantarkan aku ke kantor," ucap Tina sambil membuka pintu mobil, karena hujan di luar juga sudah reda.


"Tunggu!" Ardi menghentikan langkah Tina, sambil memegang tangan wanita itu.


Degh...

__ADS_1


Jantung Tina berdebar dengan keras saat Ardi memegang tangannya, kemudian Tina mengalihkan pandangannya ke arah tangan Ardi, di mana tangan itu sedang memegang lengannya. Ardi yang melihat itu pun segera melepaskan tangannya.


"Sorry ... aku hanya ingin bilang, salam ya untuk Bunga. Maaf, aku tidak bisa mampir, aku ada meeting satu jam lagi," ucap Ardi kepada Tina.


"Iya, nanti aku sampaikan," jawab Tina sambil keluar dari mobil. Tapi sebelum dia menutup pintu mobil, Tina kembali menoleh ke arah Ardi sambil sedikit menundukkan kepalanya.


"Di, aku hanya ingin memberitahukan, jangan terlalu gencar mengejar seseorang. Takut nanti kamu akan kecewa." Setelah mengatakan itu, Tina menutup pintu mobil Ardi lalu berjalan masuk ke dalam kantor.


Dia cuma menyayangkan Ardi yang mengejar Bunga, namun, Bunga nya malah cuek, seakan tak perduli. Dia hanya kasihan sama Ardi, takut jika pria itu terluka nantinya saat Bunga menolak cintanya. Karena walau gimanapun Ardi dan Bunga adalah sahabatnya.


Sedangkan Ardi masih terpaku dengan ucapan Tina, dia tidak tahu apa yang dimaksud oleh Tina. Tanpa mengambil pusing Ardi pun melajukan mobilnya meninggalkan kantor Bunga dan juga Tina untuk menuju ke suatu tempat, di mana orang-orang sudah menunggunya untuk meeting.


"Jubaedah ... Lo dari mana aja sih? Ya ampun, udah hampir 3 jam Loh, Lo keluar? Oh, atau jangan-jangan... Lo nyari brondong di luar?" Bunga berucap dengan kesal, sambil menyenderkan tubuhnya di pintu ruangan Tina saat melihat sahabatnya itu masuk ke dalam ruangan.


"Apaan sih Lo! Dasar Bu janda, emang tadi Lo nggak lihat di luar itu hujan? Jelas lah gue nggak bisa balik, untung aja tadi ada Ardi yang nganterin gue balik. Tapi sayang, jalanan macet, karena ada kecelakaan," jawab Tina dengan santai sambil menaruh belanjaannya di kursi.


Bunga menatap heran ke arah sahabatnya itu, "Ardi? Kalian bareng?" tanya Bunga dengan alis bertaut.


"Iya, kebetulan tadi dia mau beli rokok ke supermarket. Ya udah sekalian aja gue nebeng, dia juga tadi nitip salam buat Lo sebelum dia balik." Tina menyampaikan salam titipan dari Ardi kepada Bunga, lalu Bunga pun langsung mengangguk sambil mengangkat kedua alisnya.


"Waalaikumsalam ..." jawab Bunga, "oh iya, gue mau minta berkas-berkas dong tentang pemasukan bulan ini, nanti Lo anterin ke ruangan gue ya!" Setelah mengatakan itu Bunga pergi dari ruangan Tina menuju ke ruangannya.


Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2