
Melihat tidak ada perlawanan dari Aurora, Justin semakin nekat. Tangannya terulur mengusap pipi lembut wanita tersebut, tatapannya begitu dalam menelusuri setiap jengkal wajah cantik Aurora. Dia benar-benar dibuat terpesona oleh wanita yang berada di hadapannya.
Tidak pernah sekalipun Justin berdekatan dengan seorang wanita selain Aurora, dan gadis itu seperti mempunyai magnet yang membuat dirinya selalu ingin mendekat.
Aurora hanya tersenyum miring, kemudian dia menepis pelan tangan Justin. Namun, bukannya mundur Justin malah semakin mendekat. Dia menarik pinggang Aurora dengan begitu agresif.
"Lepaskan aku!" pintanya dengan nada yang begitu dingin.
"Lepaskan? Seorang mangsa jika sudah masuk ke dalam kandangku, tidak semudah itu untuk keluar," kekeh Justin dengan senyuman menyeringai.
"Lepas! Dan jangan buat masalah denganku. Jangan sampai aku murka dan--" Ucapannya terhenti saat tiba-tiba saja Justin menempelkan jari telunjuknya di bibir seksi Aurora.
"Dan apa sayang? Kau pasti akan berakhir sama dengan mereka yang akan menyerahkan tubuhmu di atas pangkuanku," ledek Justin dengan tatapan meremehkan.
__ADS_1
PLAK!
Aurora tentu saja tidak terima, dia melayangkan tamparan yang begitu keras pada pria tersebut. "Manusia bia-dab. Aku sudah memintamu sedari tadi dengan nada yang lembut, tapi kau ternyata ingin menantang nyawamu sendiri. Jangan pernah samakan aku dengan wanita murahan yang pernah kau tiduri!" Tanpa aba-aba Aurora langsung menendang pusaka milik Justin.
"Kau!" tunjuk Justin dengan tatapan tajamnya kemudian Aurora mendorong tubuh pria tersebut. Dia melipat tangannya di depan dada sambil tersenyum miring.
"Kau ini pria yang kesepian. Aku sangat kasihan kepadamu, jika kau marah kepada seseorang, maka jangan pernah melampiaskan kemarahanmu pada orang yang tidak bersalah. Masih untung pusaka kamu yang kutendang, bagaimana jika aku hancurkan kantor ini!"
Sorot matanya memancarkan kemarahan yang membuat siapa saja yang melihatnya pasti akan takut. Tetapi tidak dengan Aurora, sebab tatapan itu sudah biasa, bahkan tatapan tajam dari Papahnya malah lebih menakutkan.
"Wanita rendah sepertimu berani mengancamku. Punya apa kau sehingga mampu untuk menghancurkan kantorku? Kau tidak tahu siapa aku, hah!" Justin berkata sambil menahan rasa sakit di bagian pangkal pahanya.
"Tentu saja aku mampu. Sudahlah ... aku pikir kau ke sini untuk memberiku kerja, tapi ternyata hanya membuang-buang waktu saja. Dan lagi pula, bayaran berapapun yang kau berikan kepadaku, jika bosnya seperti dirimu yang c4bul dan mata keranjang, aku tidak akan pernah mau." Wanita itu berjalan ke arah pintu, namun melihat hal tersebut Justin malah semakin tertawa.
__ADS_1
"Hahaha! Kau pikir, kau bisa keluar dari ruangan ini, hah?" ledeknya.
"Jangan terlalu meremehkan orang lain," ujar Aurora, kemudian dia menatap sinis ke arah Justin. "Jangan pernah menyamakanku dengan wanita yang pernah kau tiduri! Karena tidak semua suka dengan terong busukmu itu."
"KAU!" Justin benar-benar dibuat murka dengan ucapan Aurora yang menghina harga dirinya. Baru kali ini dia diinjak-injak oleh seorang perempuan, di mana tidak pernah ia dapatkan dari wanita manapun. Tapi Aurora dengan begitu lantang dan dengan begitu berani menghina dirinya, bahkan secara terang-terangan.
Aurora yang sudah muak dengan pria seperti Justin kemudian menendang pintu ruangan tersebut, sehingga terbuka lebar bahkan pintunya rusak.
"Jangan memintaku untuk menggantinya. Karena ini semua salahmu," ucap Aurora kemudian dia keluar dari sana.
Justin ternganga, baru kali ini dia mendapati seorang wanita yang benar-benar super woman. "Bagaimana bisa dia menendang pintu dengan satu kali hentakan? Bahkan pintunya sampai rusak. Apa dia mempunyai kekuatan besi?" Pria itu menegak salivanya dengan kasar. "Sepertinya dia bukan wanita biasa. Benar-benar menarik. Aku harus cepat mendapatkan biodatanya, siapa dia sebenarnya? Kenapa sama sekali tidak takut denganku?"
BERSAMBUNG....
__ADS_1