Penghianatan Suamiku

Penghianatan Suamiku
Kenapa Kamu Lakuin Ini Padaku?


__ADS_3

Happy reading......


Bunga terdiam beberapa saat, membuat Bagas dilanda ketakutan dengan hati dan dada yang berdebar, karena jujur saja Bagas takut jika Bunga akan menolak lamarannya. Apalagi saat dia melihat Bunga mengeluarkan kalung dari dalam tasnya saat ini.


Bunga memegang kalung di tangannya, kemudian dia meminta Bagas untuk berdiri karena Bunga akan menjawab pertanyaan Bagas tentang lamarannya malam ini, apakah dia akan menerima pria itu sebagai pendamping hidupnya atau mungkin malah sebaliknya.


"Kamu benar, malam ini langit akan menjadi saksi, apakah jawaban aku iya atau tidak untuk kamu, dan kalung ini juga akan menjadi saksi atas jawaban aku nanti. Jujur, sebelum aku menjawab pertanyaan kamu. Aku ingin bilang sesuatu, kamu adalah pria yang baik. Selama aku mengenal kamu, kamu adalah pria yang tidak pernah berbuat aneh-aneh kepada wanita. Kamu pria yang tulus, pria yang bertanggung jawab dan juga penuh kasih sayang." Bunga sedikit menjeda ucapannya, sambil menatap kedua manik hitam dan tegas milik Bagas.


"Kamu tahu? Seumur-umur aku baru ini diperlakukan bak seorang Ratu oleh seorang pria. Bahkan, mantan suamiku pun tidak pernah memberikan hal seromantis ini kepadaku, bahkan waktu dia melamar pun, hanya ada setangkai mawar merah dan cincin, tidak ada yang terlalu spesial. Tetapi kamu, membuat hati wanita siapa saja pasti akan meleleh mendapatkan perlakuan semewah, seindah serta seromantis ini. Baiklah, aku akan menjawab pertanyaanmu sekarang, dan jawabanku adalah---"


Bunga memberikan kalung itu kepada Bagas, dan Bagas yang melihatnya tentu saja sangat bingung, sebab Bunga malah menaruh kalung itu di telapak tangannya. Seketika rasa takut menyelimuti hati Bagas, dia benar-benar kalut, karena Bagas berpikir jika dengan adanya kalung itu ditangannya, berarti Bunga menolak lamarannya.


"Apa ini artinya ...." Bagas menatap Bunga dengan tatapan dilema.

__ADS_1


"Yes I will, dan aku ingin kamu memakaikannya sendiri di leherku." Bunga memotong ucapan Bagas, membuat wajah pria itu seketika sumringah menatap bahagia ke arah Bunga dengan tatapan tidak percaya.


"Benarkah? Jadi kamu menerima lamaranku?" tanya Bagas dengan wajah antusias, dan langsung dibalas anggukan oleh Bunga dengan senyuman manis di bibirnya.


Seketika Bagas langsung memeluk tubuh Bunga, dia tidak menyangka jika Bunga akan menerima lamarannya. Hatinya tentu saja benar-benar senang, sehingga dia tidak bisa lagi mengucapkan dengan kata-kata bagaimana rasa bahagia itu tengah menyelimuti dirinya.


Kemudian Bagas pun mulai memakaikan kalung itu di leher Bunga, dan setelah kalung itu terpakai Bagas langsung mencium kening Bunga dengan lembut, lalu menggenggam kedua tangan Bunga. "Thank you very much, Honey. Aku berjanji aku akan selalu melindungi kamu, menjaga kamu dan mencintai kamu sepenuh jiwa dan ragaku," ujar Bagas dengan tatapan penuh cinta kepada Bunga.


"Ya, dan aku juga berharap kamu setia dalam kisah cinta kita. Tidak ada dusta, tidak ada kebohongan, bahkan tidak ada orang ketiga. Aku ingin cinta kita abadi dan suci sampai ke jannahnya," jawab Bunga sambil menatap bahagia ke arah Bagas.


**********


Nara baru saja menidurkan Azam di kamar, tapi dia sedikit heran sebab sudah jam 10.00 malam Ferdi tidak kunjung pulang. Padahal biasanya pria itu sepulang dari Cafe selalu tepat jam 09.00 malam, kebetulan Ferdi mempunyai salah satu cafe di kota Jakarta.

__ADS_1


Nara pun akhirnya duduk di ruang tv sambil menonton film kesukaannya, dan menunggu Ferdi. Selang 30 menit pintu rumah pun terbuka, dan Ferdi masuk dengan santai tanpa menghiraukan kehadiran Nara yang sedang menunggu dirinya.


"Kamu dari mana aja? Kenapa jam segini baru pulang? Ini udah 10.30 malam loh?" tanya Nara saat Ferdi melewatinya begitu saja di ruang tv.


Pria itu pun langsung membalikkan badannya dan menatap Nara dari atas sampai ke bawah. "Memangnya kenapa kalau aku pulang malam? Apa ada yang salah? Lagi pula, kamu itu di sini hanya numpang. Istri bukan, dan hanya pemuas nafsu saja. Merepotkan!" umpat Ferdi dengan nada yang sinis ke arah Nara.


Mendengar hinaan dari pria yang selama ini tinggal bersamanya, Nara menjadi marah. Dia emosi, lalu Nara menampar wajah Ferdi dengan keras. "Apa kamu bilang? Aku hanya pemuas nafsu kamu aja? Hei ... aku di sini itu karena Azam adalah putra kamu. Jika memang aku hanya pemuas nafsu kamu saja, ya sudah, kalau gitu kita nikah. Dari kemarin juga kan aku minta supaya kita nikah, tapi apa? Kamu hanya mengulur waktu saja kan?" geram Nara dengan nada yang tinggi sambil menunjuk wajah Ferdi.


"Menikah dengan kamu? Jangan mimpi? Kihat saja penampilan kamu, udah kucel, kumel, nggak menarik. Yang pasti seleraku bukan hanya kamu, dan Oh iya satu lagi, aku nggak perduli tuh mau Azam anakku kek, mau dia bukan anakku kek, kalau kamu memang udah nggak mau tinggal di sini ya pergi aja. Kalau mau tetap di sini, ya kerjain semua pekerjaan rumah, jangan manja." Setelah mengatakan itu Ferdi pun meninggalkan Nara di ruang tv dengan air mata yang sudah mengembun di kedua mata wanita itu.


"Ferdi, apa maksud kamu? Ferdi..." teriak Nara, namun Ferdi tidak menghiraukan panggilan wanita itu dia melenggang masuk ke dalam kamarnya.


Hati Nara bagaikan tercabik-cabik, tubuhnya merosot duduk di sofa. Dia tidak menyangka jika Ferdi mengatakan hal sedemikian menyakitkan hatinya, padahal selama ini Nara sudah mengorbankan semuanya untuk Ferdi. Bahkan dia rela meninggalkan dan membohongi Ilham hanya demi pria itu, tapi ternyata, Ferdi hanya menganggap Nara sebagai pemuas nafsu saja.

__ADS_1


"Jahat kamu Ferdi! Aku selama ini sudah mengorbankan semuanya demi kamu, tapi ternyata kamu hanya menganggapku sebagai pemuas nafsu saja. Kenapa kamu tega melakukan ini sama aku, Ferdi? KENAPA?" Nara menangis histeris, dadanya terasa begitu sesak. Dia tidak menyangka jika hidupnya bisa se-menderita ini, padahal dulu Nara wanita yang bahagia.


Bersambung......


__ADS_2