Penghianatan Suamiku

Penghianatan Suamiku
Pujian Sang Pujaan Hati


__ADS_3

Happy reading........


Hari ini Bagas tentu saja sangat bahagia, hatinya berbunga-bunga bagaikan bunga yang sedang bermekaran di taman. Senyumnya terus terpantri di wajah tampannya tanpa sedikitpun luntur, mengukir dan menambah ketampanan dirinya.


Semua karyawan tentu saja merasa aneh, sebab tidak biasanya bos mereka memasang wajah bahagia seperti itu. Biasanya mereka melihat Bosnya itu memasang wajah dingin, kaku, dan juga tegas. Sehingga mereka pun sangat penasaran hal gerangan apakah yang membuat Bos mereka itu seketika menjadi pria yang ramah, tamah, bahkan murah senyum.


Bagas edang duduk saat ini di kursi kebesarannya, jarinya memainkan pulpen sambil mengetuk-ngetuk meja, kemudian dia memutar tubuhnya menghadap ke arah jendela yang langsung tersuguhkan oleh pemandangan di luar.


Masih teringat jelas bagaimana godaan Sony tadi saat di apartemen Bunga, tentang dia dan Bunga.


"Jika pun kalian bersama, tidak masalah bukan? Pak Bagas duda, dan Bunga juga janda, jadi tidak ada masalah," ucap Sony saat berada di apartemen Bunga dan menggoda kedua Insan itu.


"Sepertinya orang tua Bunga tidak masalah jika aku menjalin hubungan dengan Bunga. Tapi, masalahnya di sini adalah Bunganya sendiri. Sepertinya dia belum membuka hatinya untuk pria lain? Aku benar-benar harus bekerja keras untuk itu, satu restu keluarganya sudah aku dapatkan, tinggal mendapatkan hati sang pemilik," gumam Bagas sambil tersenyum senang.


Tiba-tiba pintu ruangan diketuk, dan asistennya Riko, masuk ke dalam membawa berkas. "Permisi Pak, ini berkas yang harus Bapak tanda tangani. Dan siang nanti jam 01.00, kita akan ada meeting bersama dengan perusahaannya Nona Bunga."


Bagas yang mendengar itu tentu saja sangat senang, seketika semangatnya menjadi 45. Bahkan yang tadinya senang, bertambah lagi senangnya.


"Kita akan ada meeting dengan dia?" tanya Bagas dengan wajah yang begitu sumringah, dan langsung dibalas angkutan oleh Riko.


'Si Bos kenapa ya? Kok kayak senang banget mau meeting sama Nona Bunga? Jangan-jangan benar lagi dugaanku, jika Bos mempunyai perasaan dengan Nona Bunga? Tapi jika itu benar, maka aku akan turut senang. Aku senang melihat Bosku kembali mempunyai pasangan, apalagi Nona muda sangat dekat dengan Nona Bunga.' batin Riko melihat wajah kebahagiaan Bagas.

__ADS_1


"Di mana kita akan meeting bersamanya?" tanya Bagas dengan tidak sabar, padahal 2 jam lagi meeting itu akan berlangsung.


"Di cafe xx, Pak. Di Jalan Cendrawasih," jawab Riko sambil menundukkan kepalanya.


"Baiklah, kamu siapkan segalanya. Saya juga mau bersiap-siap dulu. Satu jam lagi kita berangkat," ucap Bagas kepada Riko, dan langsung dibalas anggukan oleh asisten pribadinya itu. Setelah itu Riko pun keluar dari ruangan Bagas.


'Aku harus tampil gagah dan juga menawan di hadapan Bunga. Aku ingin membuat wanita itu terpukau oleh ketampananku,' batin Bagas sambil berjalan ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya.


Bagas seperti anak ABG yang baru saja jatuh cinta, di mana dia akan bertemu dengan Pujaan hatinya. Dan penampilan harus sangat tertata rapi, karena dia ingin memberi kesan yang Wah kepada sang Pujaan Hati.


********


Sedangkan di kantor Ilham, dia saat ini sedang duduk bersama seorang pria. Dan ternyata pria itu adalah detektif yang disewa oleh Ilham untuk membututi setiap gerak-gerik Nara.


"Baik Pak, kalau gitu Saya permisi dulu." Setelah mengatakan itu, pria itu pun keluar dari ruangan Ilham untuk melaksanakan tugasnya menyelidiki Nara.


''Jika benar kamu selingkuh di belakangku, awas aja. Pelajaran apa yang akan kamu dapatkan dariku! Dan jangan pernah kamu berharap harta gono gini dariku, Nara. Karena aku tidak akan pernah memberikan apapun pada wanita selicik dan sekotor dirimu!'' geram Ilham sambil meremas berkas yang ada di tangannya.


Sakit! Tentu saja itu yang Ilham saat ini, di mana dia harus diselingkuhi oleh istrinya sendiri. Tapi Ilham sadar, jika itu adalah karma baginya, karena dia dulu pernah mendua dari Bunga.


'Mungkin ini yang dikatakan oleh Bunga, bahwa karma memang ada. Dan aku telah mendapatkan karmaku, di mana istriku sendiri berselingkuh dengan pria lain. Istri yang selama ini aku percaya, bahkan demi dia aku membuang Bunga,' batin Ilham menyesali semua yang telah terjadi.

__ADS_1


Namun apa daya, semua sudah menjadi bubur. Waktu tidak bisa lagi diputar, semua sudah terjadi. Bunga telah pergi darinya untuk selamanya, dia tidak akan pernah kembali dan tidak akan pernah mau bersama dengan Ilham lagi, walau sekuat apapun Ilham berusaha. Karena Ilham sadar, rasa sakit yang dia berikan kepada Bunga sudah terlalu dalam.


**********


Siang ini Bunga sudah bersiap dan dia sedang berada di jalan untuk meeting bersama dengan Bagas. Sesampainya di restoran, Bunga langsung duduk di tempat di mana sebuah meja sudah dipesan olehnya.


15 menit menunggu, akhirnya Bagas pun datang. Bunga sempat terpukau melihat pria tampan yang ada di hadapannya itu, entah kenapa Bunga merasa Bagas hari ini benar-benar sangat tampan. Wajahnya bersinar, senyumnya sangat manis, menambah 1000% ketampanan Bagas.


'Aduh, kenapa aku merasa Pak Bagas beda sekali dengan tadi pagi? Kok, kali ini dia terlihat begitu sangat tampan. Ini lagi jantung kenapa harus berdebar seperti ini? Ayolah Bunga, fokus Bunga, fokus!' Bunga mencoba menyadarkan dirinya agar tidak terpana dengan ketampanan Bagas.


Padahal Tanpa mereka sadari, kedua jantung mereka itu berdebar dengan keras saat tatapan mereka beradu. Mereka juga tidak menyadarinya jika ada desiran cinta mulai mengalir ke hati mereka. Tetapi sayang, walaupun Bagas menyadari itu, tapi Bunga menampik itu semua.


"Pak Bagas, anda terlihat berbeda sekali hari ini?" Bunga mencoba mencairkan suasana sambil menjabat tangan Bagas.


Mendapat pujian dari sang pujaan hati, Bagas menjadi sedikit salah tingkah, dia menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. "Masa sih? Perasaan wajah saya begini-begini saja, tidak ada yang berubah. Apa saya tadi memakai make up ya? Tapi sepertinya tidak!" kelakar Bagas, sukses membuat Bunga tertawa.


"Pak Bagas ini bisa saja! Ya sudah Pak, mari duduk. Saya sudah pesankan minuman untuk Bapak dan juga Pak Riko."


Namun baru saja Bagas duduk, Riko malah berucap, "Maafkan saya Nona, Pak Bagas, kalau begitu saya pamit dulu. Soalnya saya harus menghadiri meeting di tempat lain, biar nanti Pak Bagas yang bawa mobil sendiri. Kalau gitu saya pamit dulu," ujar Riko sambil membungkukan badannya.


Bunga mengangguk, sedangkan Bagas hanya tersenyum miring seperti ada sesuatu yang direncanakan. Jelas saja, Riko pergi itu bukan untuk meeting. Dia pergi untuk kembali ke kantor sesuai dengan instruksi Bagas, karena apa? Karena Bagas tidak ingin diganggu waktunya dengan Bunga, dia ingin menghabiskan waktunya bersama sang pujaan hati.

__ADS_1


Bersambung........


__ADS_2