
Happy reading..........
Dua bulan telah berlalu, saat ini masa Iddah Bunga juga sudah selesai, dan selama 2 bulan itu pula Bunga dan Bagas sangat dekat, bahkan lebih dekat dari biasanya. Keduanya bahkan sering hangout dan juga dinner bareng.
Saat ini Bunga sudah bersiap untuk pergi ke kantornya, dan di lantai bawah sudah ada Bagas yang sudah stay setiap pagi untuk menjemput dirinya.
"Kamu udah sarapan belum?" tanya Bunga kepada Bagas, saat berada di ruang tamu.
"Belum, soalnya satu jam lagi aku akan ada meeting bersama dengan klien, jadi, aku tidak sempat sarapan. Nanti saja setelah meeting, baru aku akan sarapan," jawab Bagas sambil merapikan jasnya.
"Oke, tunggu sebentar," ucap Bunga sambil meninggalkan Bagas di ruang tamu, lalu dia melangkah ke meja makan untuk membawa bekal sarapan untuk dirinya dan juga Bagas di dalam mobil.
Setelah itu mereka pun berangkat ke kantor bersama, dan saat di dalam mobil Bunga membuka bekal itu yang ternyata adalah nasi goreng spesial buatan Mami Rindi. Bunga pun mulai menyuapi Bagas, dan dengan senang hati Bagas membuka mulutnya dan menerima suapan itu dari tangan wanita yang dia cintai selama ini.
Selama 2 bulan itu Bunga dan Bagas sudah berinteraksi dengan Intens, bahkan terkadang mereka tidak sengaja berpegangan tangan dan mulai berani untuk suap-suapan, walaupun tidak di depan publik.
Perasaan Bagas yang sudah dalam kepada Bunga, dan dia semakin tidak sabar ingin segera mempersunting wanita yang ada di sampingnya itu. Bagas tidak sabar ingin segera menjadikan Bunga pendamping hidupnya, Ibu sambung dari Aurora, sekaligus bidadari satu-satunya di hati dan juga hidup Bagas.
"Oh iya, nanti siang kita tidak jadi makan siang. Soalnya aku harus ke Bogor untuk meeting, dan ada kerjaan di sana yang harus aku pantau, tapi nanti malam kamu harus bersiap-siap, karena aku akan mengajak kamu dinner," ujar Bagas saat mobil terparkir di halaman kantor Bunga.
"Apakah Aurora akan ikut?" tanya Bunga pada Bagas, namun pria itu menggeleng. "Tidak! Hanya kita berdua saja, kan namanya juga dinner harusnya berdua dong. Kalau bertiga namanya bukan dinner, tapi dinner family."
Bunga terkekeh mendengar gurauan Bagas, "baiklah, nanti malam kita dinner jam berapa?" tanya Bunga kepada Bagas, lalu Bagas pun menjawab, "jam 07.00, nanti aku akan menjemputmu jam 07.00 malam."
__ADS_1
Setelah itu Bunga pun turun dari mobil Bagas lalu masuk ke dalam kantornya. Hari-harinya terasa begitu indah, karena Bagas setiap hari selalu memberikan warna di hidup Bunga yang tidak pernah dia rasakan selama ini, entah itu dari perhatian sangat kecil bahkan sesuatu yang begitu manis.
Pernah saat itu Bunga diberikan satu buket coklat yang entah dari siapa yang mengirimnya, dan ternyata pengirimnya adalah Bagas. Dia mengirimkan satu buket coklat di hari Valentine kepada Bunga, dan itu tidak pernah dilakukan oleh Ilham dari dulu.
************
Siang ini Bunga dan juga Tina sudah bersiap untuk pergi makan siang, tapi mereka tidak makan siang keluar, hanya di kantin perusahaannya saja. Karena banyak pekerjaan yang harus dilakukan oleh Bunga dan juga Tina.
"Kita mau makan apa?" tanya Tina saat sudah berada di kantin, dan Bunga pun menjawab, "kita makan mie ayam aja, kayaknya enak tuh," jawab Bunga sambil memesan mie ayam dan juga es teh manis kepada ibu-ibu yang berjualan di kantin.
Saat mereka tengah menunggu makanan jadi, tiba-tiba sebuah suara mengagetkan mereka dan orang itu langsung duduk di samping Bunga, lalu merangkul pundak Bunga, dan dengan cepat Bunga pun melepaskan rangkulan itu.
"Ardi, Lo kok ke sini nggak bilang sama kita?" tanya Tina sambil menatap pria yang ada di hadapannya itu dengan heran.
Tina memutar bola matanya dengan malas saat melihat wajah kepedean milik Ardi, tak lama makanan yang mereka pesan pun datang, lalu Bunga dan Tina pun makan tanpa menawari Ardi sedikitpun dan pria itu malah merajuk karena diabaikan oleh kedua wanita yang ada di hadapannya.
"Kenapa jahat sekali? Kenapa aku tidak ditawari," ujar Ardi merajuk kepada Bunga dan juga Tina.
Kedua wanita itu pun terkekeh, lalu Bunga memesankan satu mie ayam kembali untuk Ardi, dan saat Bunga makan Ardi tidak henti menatap wanita yang ada di sampingnya itu. Dia terlihat ingin mengucapkan sesuatu, namun Ardi bingung dan juga ragu.
"Bunga ..." panggil Ardi pada Bunga, dan wanita itu pun menoleh ke arah Ardi. "Hmm," jawab Bunga dengan gumaman, karena saat ini dia tengah mengunyah mie di mulutnya.
"Begini, eeumm ... nanti malam kamu ada acara nggak? Aku mau ngajak kamu untuk dinner," ajak Ardi kepada Bunga dengan tatapan penuh harap, karena dia sangat berharap jika Bunga mau menerima ajakannya untuk dinner nanti malam.
__ADS_1
Bunga terdiam saat mendengar ajakan dari Ardi, pasalnya dia nanti malam sudah ada janji dengan Bagas untuk dinner. Akhirnya Bunga pun menghentikan makannya lalu mengelap mulutnya dengan tisu.
"Maaf Di, sepertinya aku tidak bisa. Nanti malam aku sudah ada janji dengan seseorang, dan aku tidak bisa membatalkan janji itu," jawab Bunga kepada Ardi. Dia tahu mungkin pria itu akan kecewa, tapi Bunga juga tidak bisa membatalkan sebuah janji yang sudah dia buat bersama dengan Bagas.
Ardi tentu saja sangat kecewa mendengar penolakan dari Bunga, tapi dia juga tidak bisa memaksa, sebab Bunga sudah ada janji dengan seseorang, tapi jauh di dalam lubuk hati Ardi dia sangat penasaran dengan orang yang akan pergi bersama Bunga nanti malam.
"Siapa yang akan pergi dengan kamu nanti malam?" tanya Ardi dengan penasaran.
"Ada deh, aku rasa kamu tidak usah tahu, dan nanti juga kamu akan tahu." ucapan Bunga membuat Ardi semakin penasaran, karena jawaban Bunga benar-benar seperti sebuah teka-teki yang ambigu.
Setelah menyelesaikan makan siangnya, Bunga pun membayar makanan itu dan pergi meninggalkan kantin, tapi Ardi kembali menghentikannya dan bertanya soal siapa orang yang akan pergi dengan Bunga nanti malam. Namun, Bunga masih menjawab dengan kekeuh kalau nanti Ardi akan tahu sendiri siapa orang yang akan pergi bersama Bunga nanti malam.
Bukannya Bunga tidak ingin bicara kepada Ardi tentang siapa yang akan pergi dengannya, tapi Bunga ingin menjaga perasaan Ardi, karena dia tahu jika Ardi mengetahui Bagaslah yang pergi dengannya nanti malam dia sangat yakin jika Ardi pasti akan sakit hati karena selama ini sedikit banyaknya Bunga sudah paham tentang perasaan Ardi kepadanya. Akan tetapi sama sekali Bunga tidak memiliki perasaan apapun selain persahabatan kepada pria itu.
"Maaf Di, aku masih banyak kerjaan. Kalau gitu aku duluan ya," ucap Bunga sambil meninggalkan Ardi tepat di pintu kantin.
Ardi menghela nafasnya dengan kasar, dia benar-benar penasaran dengan orang yang akan pergi dengan bunga nanti malam. Saat dia sedang menatap punggung Bunga yang semakin jauh meninggalkannya, tiba-tiba sebuah tepukan di pundaknya mengagetkannya.
"Jangan terlalu berharap! Jangan terlalu mengejarnya. Perasaan tidak bisa dipaksa Di, perasaan itu juga tidak bisa dikekang. Lepaskan saja, biarkan dia memilih kebahagiaannya. Kita memang boleh berjuang, tapi jika dia tidak merespon, jika dia pun tidak ingin berjuang, untuk apa kita berjuang," ucap Tina sambil menatap ke arah Bunga yang semakin jauh dan hilang di balik tembok.
Setelah mengatakan itu kepada Ardi, Tina pun pergi meninggalkan pria itu. Tina sangat tahu perasaan Ardi seperti apa. Berjuang untuk seseorang yang tidak pernah mencintainya dan hanya menganggapnya seorang sahabat itu sangat sakit, tapi Tina juga tidak bisa ikut campur tentang perasaan Ardi kepada Bunga, karena Tina bukanlah siapa-siapanya Ardi, dia hanyalah seorang sahabat.
Bersambung.........
__ADS_1