Penghianatan Suamiku

Penghianatan Suamiku
Bermain


__ADS_3

Happy reading......


Selesai acara empat bulanan Bunga, semua tamu undangan pun telah pulang, dan kini di kediaman Anjasmara sudah mulai sepi, hanya pelayan yang sedang membereskan botol minuman dan juga piring kotor piring bekas para tamu.


Mentari pun turut membantu para pelayan untuk membereskan gelas-gelas kotor, tetapi Ardi segera mencegahnya dan menggelengkan kepalanya ke arah Mentari. ''Jangan lakukan itu! Sudah cukup, sebaiknya kamu ikut denganku ke ruang keluarga.''


Mentari hanya bisa pasrah saat Ardi menarik tangannya untuk menuju ruang keluarga, dimana saat ini keluarganya dan keluarga Bunga sedang berkumpul. Lalu, saat Ardi masuk ke dalam ruang keluarga, semua mata tertuju ke arahnya yang sedang menggandeng tangan Mentari.


''Nak Mentari, sini duduk,'' ucap Mama Ranti kepada Mentari, sambil menepuk kursi di sebelahnya, dan gadis itu pun segera melangkah menuju Mama Ranti dan duduk di sebelah wanita itu.


''Jangan membantu para pelayan! Kamu 'kan di sini tamu? Lgipula, pelayan juga sudah banyak. Tidak usah repot-repot,'' ucap Mama Ranti dengan lembut.


Mentari tersenyum. ''Iya Tante,'' jawaban Mentari sambil menundukkan kepalanya. Dia sebenarnya merasa segan harus berkumpul dengan keluarga yang kaya raya. Mentari sadar siapa dirinya, sehingga Mentari pun merasa sungkan dan juga malu jika harus duduk bersama dengan mereka.


Keluarga Bunga dan juga keluarganya Bagas, begitu ramah kepada Mentari. Mereka bahkan tidak membandingkan Mentari, ataupun membedakan Mentari dari kalangan bawah. Mereka menyambut Mentari selayaknya seorang tamu.


''Di, Lo kalau nyari calon, jangan yang daun muda juga kali? Tahu aja Lo, daun muda lebih menggoda?'' ledek Bagas ambil menye ggol bahu Adiknya.


''Apaan sih Lo, kagak jelas banget!'' kesal Ardi sambil menekuk wajahnya.


''Mama setuju kok, kalau memang Ardiinya mau. Dengan siapapun itu, Mama tidak akan melarang. Iya nggak Pah? Kita pasti akan merestui, asalkan kamu benar-benar mencintai dia?'' timpal Mama Ranti sambil melirik ke arah Mentari.


Ardi semakin menekuk wajahnya yang terasa panas, karena malu saat Mamanya ikut meledek dirinya. Akan tetapi, Mentari hanya bisa menundukan kepala, dia tidak terlalu paham dengan apa yang mereka bicarakan. Karena Mentari pun tidak pernah merasakan namanya jatuh cinta, dan tidak pernah menjalin hubungan dengan lawan jenis.

__ADS_1


Dibalik tawa kedua keluarga itu, siapa yang tahu ada hati yang mulai terluka, yaitu Tina. Dia benar-benar merasa tidak suka dengan godaan Mama Ranti dan juga Bagas, yang seakan menjodohkan Ardi dengan Mentari. Tina merasakan sakit di bagian ulu hatinya.


Setelah bercengkrama, Ardi berpamitan kepada kedua orang tuanya dan juga orang tua Bunga untuk mengantarkan Mentari pulang. Karena jam juga sudah menunjukkan pukul setengah lima sore.


''Kapan-kapan, kamu main lagi ke sini ya? Jangan sungkan,'' ucap Mama Ranti sambil memeluk tubuh Mentari.


''Iya Tante, Insya Allah, Mentari akan main lagi. Kalau gitu Mentari pulang dulu ya Tante, terima kasih,'' ucap Mentari sambil mencium tangan Mama Ranti.


Saat ardi dan juga Mentari akan masuk ke dalam mobil, tiba-tiba saja Tina menghentikan langkah mereka. Sehingga membuat Ardi dan juga Mentari menengok ke arah sumber suara.


''Tunggu!'' Tina berucap sambil setengah berlari ke arah Ardi dan Mentari.


''Iya, kenapa Tin?'' tanya Ardi.


''Kamu duduk di belakang aja ya!'' ucap Tina dengan lirih kepada wanita yang ada di sampingnya, saat Mentari akan masuk ke dalam mobil di bagian depan.


Mentari pun mengangguk sambil tersenyum, kemudian dia membuka pintu jok belakang dan duduk di belakang. Sementara Tina duduk di depan, menemani Ardi. Entah kenapa, dia tidak ingin Mentari berdekatan dengan Ardi.


***********


Saat ini Bunga sedang berada di kamarnya, dia sedang membuka satu persatu kado yang diberikan oleh rekan bisnisnya Bagas dan juga dari Tante Farah. Sedangkan Bagas, sedang mandi membersihkan dirinya yang terasa begitu lengket.


''Sayang, sebaiknya kamu istirahat saja dulu. Buka kadonya nanti saja, kalau kamu kecapean gimana?'' ucap Bagas sambil memakai baju di hadapan Bunga.

__ADS_1


''Nanti saja, Mas. Aku ingin melihat kado-kado yang diberikan oleh mereka,'' jawab Bunga sambil membuka satu persatu kado itu.


Setelah Bagas selesai memakai baju, dia pun berjalan mendekat ke arah istrinya lalu memeluk tubuh Bunga dari belakang, dan menyandarkan kepalanya di bahu istri tercinta nya itu.


''Sayang, kalau malam ini kita main gimana?'' tanya Bagas dengan nada berbisik sambil mengelus perut Bunga.


Pertanyaan Bagas membuat gerakan Bunga yang sedang membuka kado pun terhenti, kemudian dia menengok arah samping dengan dahi mengkerut. ''Bermain? Buat apa bermain malam-malam, Mas? Aku 'kan lagi hamil? Kalau aku bermain, nanti capek gimana? Lagian, mau main apa sih? Main congklak, atau main lompat tali?'' ujar Bunga sambil kembali membuka kadonya.


Bagas berdecak dengan kesal, dengan wajah ditekuk. ''Sayang, bukan main gitu, tapi main bikin adonan. Aku mau menengok si Dede di dalam, boleh ya?'' pinta Bagas sambil terus mengelus perut Bunga.


''Menengok? Maksudnya, kepala kamu masuk gitu, Mas? Emangnya bisa ya?'' Bunga terus saja menggoda suaminya, dan itu semakin membuat Bagas merasa kesal, dan melepaskan pelukannya di tubuh Bunga.


''Tau lah, kamu mah bikin orang kesel aja!'' Bagas pun merajuk saat Bunga terus menggoda dirinya, dan Bunga yang melihat itupun segera membalik badannya dan menghadap ke arah Bagas. Kemudian dia menangkup kedua pipi suaminya.


''Jangan ngambek! Kamu itu nggak cocok, kalo ngambek kayak gitu? Nggak ada imut-imut nya,'' kekeh Bunga sambil menubit kedua pipi Bagas dengan gemas. ''Baiklah, kamu boleh menengok si Dede, tapi .... ingat! Kamu harus bermain dengan pelan, sebab kata Dokter jika kamu bermain kasar, maka akan berpengaruh pada si Dede. Jadi, bermain lah dengan secara perlahan oke.'' Bunga berucap sambil mengingatkan Bagas tentang perkataan sang Dokter.


Pria itu tersenyum dengan wajah yang sumringah, dia seperti baru saja mendapatkan jackpout yang begitu besar. Dengan perasaan bahagia, Bagas segera merengkuh tubuh Bunga dalam pelukannya, kemudian dia mencium perut Bunga dengan penuh cinta.


''Siap Sayang, aku akan bermain secara perlahan. Namun aku akan membuat kamu melayang,'' goda Bagas sambil mengedipkan sebelah matanya.


Bunga terkekeh, kemudian mencubit lengan Bagas dengan gemas. ''Dasar duda mes-um.''


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2