
Happy reading......
Setelah melihat keadaan Jelita dan bayinya, Bunga dan juga Bagas pun pulang, karena hari juga sudah mulai sore dan menunjukkan pukul 03.00.
Akan tetapi, sebelum Bagas mengajak Bunga untuk pulang ke rumah, dia membelokkan mobilnya ke arah sebuah restoran, karena sedari siang Bunga belum makan jadi Bagas khawatir dengan kesehatan calon istrinya itu.
"Loh, kok kita belok ke restoran?" tanya Bunga dengan heran pada Bagas.
"Sayang, kamu kan belum makan dari siang, jadi kita makan siang dulu ya," jawab Bagas sambil menggenggam tangan Bunga.
Bunga yang mendengar itu hanya cengengesan saja, dia ingat memang dia belum makan dari siang. Kemudian mereka pun turun dari mobil dan masuk ke dalam restoran, lalu memesan makanan yang akan mereka makan.
Tak lama makanan pun datang, lalu Bagas dan Bunga mulai menyantap makanan itu. Namun, di tengah-tengah mereka menyantap makanan, tiba-tiba Bunga melihat tante Farah yang duduk tidak jauh darinya dan sedang memperhatikan dirinya, tapi Bunga tidak ambil pusing karena itu bukan urusan Bunga lagi, dia pun melanjutkan makannya dengan Bagas.
"Gimana Sayang, makanannya enak nggak?" tanya Bagas kepada Bunga, dan wanita itu pun langsung mengangguk.
"Iya, makanannya enak," jawab Bunga sambil melirik ke arah tante Farah yang terus memperhatikan dirinya.
Sejujurnya Bunga merasa tidak nyaman sebab tante Farah terus saja memperhatikan dirinya. Entah apa yang wanita hampir setengah abad itu pikirkan tentang dia.
"Kamu kenapa sih, Sayang? Kok kayak gelisah gitu?" tanya Bagas yang merasa heran saat melihat tingkah Bunga yang terlihat tidak nyaman.
__ADS_1
"Nggak apa-apa kok, aku cuma pengen ke toilet aja sebentar," jawab Bunga sambil berdiri lalu berjalan ke arah toilet melewati meja di mana Tante Farah sedang duduk.
Melihat Bunga pergi ke toilet, tante Farah pun mengikuti langkah wanita itu. Hingga saat Bunga di toilet dan mencuci tangannya, tante Farah mendekat ke arah Bunga. "Bunga ..." panggil tante Farah dan menatap Bunga di balik pantulan cermin.
"Iya Tante, Tante apa kabar?" tanya Bunga sambil menatap Tante Farah lewat cermin kembali.
"Kabar saya baik. Bagaimana kabar kamu? Apa kamu sekarang sudah punya pendamping? Apa pria tadi, pacar kamu, atau dia calon suami kamu?" tanya Tante Farah saat melihat Bunga dan Bagas tadi sedang makan, karena Tante Farah sangat penasaran dengan kedekatan Bunga dan Bagas.
"Oh, itu calon suami saya, Tante. Kalau gitu Saya permisi dulu ya, takut beliau menunggu," jawab Bunga sambil pergi meninggalkan tante Farah. Namun dengan cepat tante Farah menahan tangan Bunga, hingga membuat wanita itu menoleh ke belakang kembali.
"Tunggu .... Bunga, ada yang ingin saya bicarakan dengan kamu," ucap Tante Farah dengan tatapan memohon.
Bunga kemudian menatap ke arah tangan yang dipegang tante Farah, dan tante Farah yang melihat itu segera melepaskan pegangan di tangan Bunga lalu dia menatap Bunga dengan tatapan, yang entah Bunga sendiri pun tidak tahu.
"Eeum ... begini Nak, sebelumnya Tante minta maaf atas segala kesalahan Tante yang selama ini mungkin menyakiti hati kamu, dan tante juga cuma ingin bilang kalau Nara dan juga Ilham sudah bercerai, dan kamu benar, jika Azam bukanlah putra dari Ilham. Sebenarnya Tante ...." Tante Farah menjeda ucapannya sejenak, kemudian dia menggenggam kedua tangan Bunga.
"Sayang, Tante mau kamu dan Ilham kembali bersama. Kalian menikah lagi ya!" pinta tante Farah kepada Bunga dengan tatapan tidak bersalah sama sekali.
Bunga yang mendengar itu tentu saja sangat kaget, dia bagaikan disambar petir di siang bolong saat mendengar ucapan dan permintaannya tante Farah kepada dirinya. Bagaimana bisa wanita itu meminta agar dia dan Ilham kembali, sedangkan yang membuat rumah tangganya hancur bukan karena Ilham saja, tapi beliau juga ikut andil yang besar dalam kehancuran rumah tangga Bunga dan Ilham.
Dengan cepat Bunga melepaskan pegangan tante Farah di tangannya, lalu dia menggeleng ke arah wanita itu. "Maafkan saya Tante, saya tidak bisa. Bukankah Tante yang dulu meminta saya untuk bercerai dengan Mas Ilham? Dan bukannya Tante juga, yang mempunyai andil yang besar atas kehancuran rumah tangga kami? Bukannya Tante juga tidak pernah menyukai saya, sebagai menantu Tante? Lalu, kenapa sekarang Tante meminta saya untuk balikan dengan Mas Ilham? Apa, karena Tante sudah mengetahui siapa Nara sebenarnya, dan apakah,.karena Tante menyesal karena saya bukan dari keluarga miskin? Jika itu yang ada dalam pikiran Tante, maka maaf, saya tidak bisa. Saya sudah mempunyai seseorang yang spesial di hati saya, dan saya jamin dia akan membahagiakan saya lahir dan batin. Jika tidak ada lagi yang ingin dibicarakan saya permisi Tante, dan maaf, saya tidak bisa kembali kepada masa lalu."
__ADS_1
Bunga pun pergi meninggalkan tante Farah yang masih terbengong di dalam toilet. Wanita itu tidak menyangka jika Bunga bisa menjawab pertanyaannya dengan sangat lantang dan juga tegas. Padahal, selama ini tante Farah mengenal Bunga dengan wanita yang lemah lembut dan tidak bisa melawan perkataan orang tua, tapi ternyata dia salah.
Singa akan mengamuk jika digigit ekornya, begitupun dengan Bunga. Selama ini dia diam bukan berarti dia lemah, dia hanya tidak ingin memperkeruh keadaan dan memperbanyak masalah. Makanya Bunga selalu diam saja saat ditindas, karena dia pikir akan ada saatnya dia melawan, dan hari ini, detik ini dan saat ini waktunya Bunga untuk melawan penindasan yang selama ini mereka lakukan kepada dirinya.
"Apa yang wanita itu bicarakan kepada kamu?" tanya Bagas saat Bunga duduk di sampingnya.
Bunga menatap heran ke arah Bagas dengan tatapan yang begitu kaget, dia tidak menyangka jika Bagas mengetahui kalau dia dan juga tante Farah bertemu di toilet.
"Kok kamu tahu, kalau aku sama tante--"
"Aku melihatnya, saat dia mengikuti kamu ke toilet. Awalnya aku Ingin menyusul, tapi aku percaya jika calon istriku ini, Bidadari Surgaku pasti bisa menghandle orang seperti itu."
Bunga tersenyum senang mendengar jawaban Bagas. Kemudian mereka pun melanjutkan makannya, setelah selesai Bunga dan Bagas pun pulang dan masuk ke dalam mobil.
"Jadi, apa yang wanita itu bicarakan pada kamu?" tanya Bagas kepada calon istrinya itu.
Bunga pun menjelaskan apa yang dibicarakan dan diminta oleh tante Farah kepada dirinya, dan Bagas tentu saja sangat emosi mendengar itu. Dia tidak terima jika tante Farah meminta untuk Bunga balikan bersama dengan Ilham mantan suaminya.
"Lalu, apa kamu menerimanya?" tanya Bagas dengan nada tidak suka, karena ada rasa cemburu yang menyelip di hatinya saat mendengar jika tante Farah meminta Bunga untuk kembali bersama dengan Ilham.
Bunga tersenyum jahil melihat kecemburuan calon suaminya itu, kemudian dia pun menjawab, "Euum ... sebenarnya, tadi aku itu menjawab jika aku ...." Bunga sengaja menggantung ucapannya, dia ingin melihat wajah kesal Bagas yang dilanda oleh cemburu.
__ADS_1
Bersambung......