Penghianatan Suamiku

Penghianatan Suamiku
Memutar Balikan Fakta


__ADS_3

Happy reading......


Kebahagiaan Bunga menjadi lengkap, karena saat ini dia tengah mengandung anak pertamanya, dan setiap hari Bunga selalu ingin berada di dekat Bagas. Bahkan, jika Bagas sedang bekerja pun, Bunga selalu menempel padanya. Entah kenapa, dia merasa ingin selalu mencium bau harum tubuh Bagas.


Akan tetapi, walaupun begitu, Bunga tidak merasakan ngidam seperti mual-mual dan yang lainnya. Dia hanya ingin berada di dekat suaminya, dan setiap harinya Bunga menikmati bagaimana calon anaknya terus berkembang di perut Bunga.


Keluarga Bagas juga sangat memperhatikan Bunga, bahkan Mama Ranti tidak membiarkan Bunga mengerjakan hal yang berat, walau hanya mencuci piring sekalipun. Dia begitu memanjakan menantunya itu, sehingga Bunga merasa kebahagiaan terus melimpah di dalam hidupnya.


''Sayang, hari ini kan kita kontrol ke rumah sakit? Kira-kira jenis kelamin anak kita apa Ya?'' tanya Bagas sambil mengusap perut Bunga dan tidur di pangkuan istrinya. Lalu, Bagas pun mengecup perut Bunga yang mulai membuncit.


''Entahlah Mas, tapi kata Dokter akan terlihat dalam 4 bulan, tapi Mas, bisa tidak kita jangan mengetahui jenis kelamin anak kita dulu? Biar nanti menjadi surprise, saat aku lahiran. Lagi pula, mau anak perempuan ataupun anak laki-laki, kita harus tetap bersyukur bukan?'' Bunga berkata sambil mengelus rambut Bagas.


Bagas terdiam sejenak, kemudian dia bangkit dan duduk di sebelah Bunga. ''Kamu benar, Sayang. Sebaiknya kita merahasiakan jenis kelamin anak kita dulu! Walaupun sebenarnya, aku sangat penasaran, apakah anak kita laki-laki atau perempuan? Ya sudah, kalau gitu kita siap-siap! Sebentar lagi kan kita mau ke rumah sakit,'' ujar Bagas sambil bangkit dari tempat tidur.


Saat Bagas dan juga Bunga turun ke lantai bawah, ternyata di sana sudah ada Ardi yang sedang duduk di meja makan. Pria itu memang sengaja pagi-pagi datang untuk menengok orang tuanya.


Ardi juga sudah bisa menerima Bunga sebagai kakak iparnya, dan dia sudah menerima takdir yang Allah berikan kepadanya. Walaupun masih ada rasa sakit saat melihat keromantisan antara Bunga dan juga Bagas, karena walau bagaimanapun Ardi pernah menaruh rasa kepada Bunga untuk waktu yang cukup lama, dan tidak mudah bagi seseorang untuk melupakan rasa itu dalam sekejap, apalagi dalam waktu turun 3 bulan.


Akan tetapi melihat kakaknya bahagia, Ardi pun turut bahagia. Dia tidak ingin merusak hubungan harmonis antara dia dan keluarganya, terlebih dengan Bagas. Karena selama ini tidak pernah ada konflik apapun antara dia dan kakaknya, jadi Ardi pun harus mengalah walaupun sangat sakit.


''Eh, Di. Kapan kamu datang?'' tanya Bagas pada sang Adik, sambil menepuk bahu ardi dengan pelan.


''Belum lama sih Bang, baru 30 menit. Oh ya, selamat ya untuk kalian. Aku dengar dari Mama, katanya Bunga saat ini sedang hamil? Selamat ya, kalian sebentar lagi akan menjadi orang tua, dan Aurora juga sebentar lagi akan mempunyai adik. Aku turut bahagia dengan kehamilannya Bunga, semoga kalian disatukan sampai kakek nenek,'' ucap Ardi dengan tulus.

__ADS_1


Bagas tersenyum, kemudian dia memeluk tubuh Adiknya. ''Thanks ya, atas ke legowoan hati kamu, dan terima kasih juga, karena kamu sudah menerima Bunga sebagai kakak ipar kamu.'' Bagas tahu perasaan Ardi, tidaklah mudah untuk melupakan seseorang di dalam hatinya.


Dia benar-benar beruntung mempunyai adik seperti Ardi, karena pria itu mau berlapang dada untuk menerima Bunga sebagai kakak iparnya. Apalagi, mengalah untuk dirinya dan juga kebahagiaan Aurora.


''Nih, sarapannya udah jadi ...!'' seru Mama Ranti sambil menaruh nasi goreng seafood di atas meja makan. Namun dia juga membuatkan salad untuk Bunga, karena sejak hamil Bunga selalu meminta sarapan salad di pagi hari, dan Mama Ranti selalu membuatkannya dengan sukarela dan juga penuh cinta.


''Makasih Ma,'' ucap Bunga sambil menerima mangkok yang berisi salad buah-buahan. Mama Ranti tersenyum, lalu mengecup kening Bunga. ''Sama-sama sayang, kamu harus makan yang banyak biar kandungan kamu sehat,'' ucap Mama Ranti sambil mengusap rambut Bunga dengan lembut.


Saat mereka tengah makan, tiba-tiba Aurora datang. ''Morning ...!'' teriak Aurora dengan bahagia.


''Morning juga sayang, sini duduk di sebelah Papa, biar Papa suapin,'' ucap Bagas sambil menepuk kursi di sebelahnya, tapi Aurora segera menggeleng.


''No, Papa. Aku mau duduk di sebelah Mama aja, soalnya aku mau duduk dekat Dede bayi,'' jawab Aurora sambil duduk di sebelah Bunga.


''Oh ya, Ma, Pa, besok aku akan ke Jepang. Sebab ada kerjaan disana,'' ujar Ardi kepada kedua orang tuanya.


Setelah pulang dari rumah sakit, Bunga ikut bersama dengan Bagas ke kantornya. Karena dia merasa jenuh jika harus di rumah, sementara kantornya diurus oleh asisten pribadinya, dan hanya sesekali Bunga datang ke kantor untuk mengecek, sedangkan Tina masih berada di Jepang.


***********


Saat ini Mentari tengah melayani pembeli, dia mengantarkan minuman pesanan dari customernya. Kemudian Mentari berjalan mendekat ke salah satu meja. Namun, saat Mentari tengah membawa minuman, tiba-tiba seseorang menyenggol bahu Mentari, hingga minuman itu tumpah ke lantai dan membuat suara yang begitu nyaring.


PRANG

__ADS_1


Mentari kaget, kemudian dia menatap ke arah orang yang menyenggol dirinya. ''Melisa, kenapa kamu menyenggolku?'' tanya Mentari kepada wanita yang bernama Melisa.


''Kenapa kamu menyalahkanku? Jelas-jelas, kamu yang jalan tidak pakai mata? Kamu nabrak aku, tapi kamu malah nyalahin aku?'' tukas Melisa sambil meninggikan suaranya untuk menarik perhatian semua customer.


Benar saja, semua orang yang sedang makan menengok ke arah Mentari. Ada beberapa yang mencibir karena Mentari begitu ceroboh, dan wanita yang sedang menunggu minuman yang Mentari antarkan pun berdiri, lalu menghampiri gadis itu.


''Mbak, kalau kerja yang bener dong! Saya dari tadi nungguin minumannya loh, malah ditumpahin,'' ucap wanita itu dengan kesal kepada Mentari, dan Mentari yang mendengar itu pun merasa tidak enak, kemudian dia meminta maaf kepada wanita itu.


''Maafkan saya Mbak, saya benar-benar tidak sengaja. Akan saya buatkan kembali,''ucap Mentari dengan nada bersalah.


'Rasakan kamu! Makanya jangan sok cari muka di sini,' batin Melisa sambil tersenyum menyeringai ke arah Mentari.


Manager yang mendengar keributan di luar, segera melihatnya. Kemudian dia pun bertanya, ''Ada apa ini?'' tanya Bu Raya pada Mentari saat gadis itu sedang membereskan pecahan gelas.


Melisa yang melihat manajernya keluar, tersenyum sinis ke arah Mentari. ''Ini Bu, Mentari menumpahkan minuman, sehingga customer kita komplain,'' adu Melisa kepada Bu Raya.


Bu Raya pun melihat ke arah Mentari, dan gadis itu hanya menunduk. ''Maafkan saya, Bu. Saya benar-benar tidak sengaja, tadi Melisa menyenggol bahu saya, sehingga minuman itu pun tumpah,'' jawab Mentari sambil menundukkan kepalanya.


''Tidak Bu! Jelas-jelas, dia berbohong. Dia berjalan tidak melihat kanan dan kiri Bu sampai tidak sadar jika saya ada di sebelahnya. Lalu, dia menyenggol saya,'' alibi Melissa memutar balikan fakta.


Kemudian Bu Raya pun meminta Mentari untuk ikut ke ruangannya, dan Melisa yang melihat itu pun tersenyum puas. Karena dia berpikir Mentari akan terkena masalah, dan akan dipecat dari pekerjaannya.


Memang semenjak Mentari kerja di cafe milik Ardi, Melisa tidak pernah menyukai Mentari. Sebab, Mentari selalu dipuji oleh Bu Raya akan kerajinannya dalam pekerjaan, dan itu membuat Melisa tidak suka pada gadis itu. .

__ADS_1


Bersambung........


__ADS_2