Penghianatan Suamiku

Penghianatan Suamiku
S2. Tekad


__ADS_3

"Iya, aku setuju Mah, Pah," jawab Justin dengan mantap.


Tentu saja dia akan setuju dengan perjodohan itu, karena Justin sudah bertekad bahwa dia akan menaklukkan Aurora. Tidak perduli wanita itu janda atau tidak.


Sementara kedua orang tuanya Justin pun tidak mempermasalahkan tentang statusnya Aurora, karena melihat dari keluarganya yang kaya raya, tentu saja akan menguntungkan mereka dalam dunia bisnis.


Setelah semua bersepakat tentang perjodohan itu, keluarga Justin pun pulang. Sementara Aurora berjalan ke arah kamar dan merebahkan tubuhnya dengan telentang menatap langit-langit kamarnya.


"Kenapa sih dia harus setuju? Dia kan sudah tahu kalau aku janda. Apa dia mau menikah dengan seorang janda, sedangkan dia saja bujang? Aku curiga, jangan-jangan dia ada niat terselubung," lirih Aurora sambil mengetuk dagunya.


Wanita itu pun beranjak dari tempat tidur menuju ruang ganti. Setelah membersihkan make-up dia pun memakai krim malam lalu mulai mematikan lampu dan hendak tertidur, akan tetapi tiba-tiba saja ponselnya berdenting.


Dahi Aurora mengkerut heran saat membaca pesan dari nomor asing.


(Lihat saja! Kau akan jatuh ke dalam pelukanku).


Kedua netra wanita tersebut memutar dengan malas. Dia sangat yakin jika pesan itu tak lain adalah Justin tapi dari mana pria tersebut mendapatkan nomornya? Sedangkan Aurora sama sekali tidak memberikan nomor ponselnya pada pria itu.


"Jangan-jangan, dikasih sama mama dan papa," gumam Aurora.

__ADS_1


.


.


Pagi hari Aurora sudah siap untuk pergi ke cafe. Dia juga sudah janjian bersama dengan Rika sementara Anggi masuk bekerja.


"Mah, Pah, Aurora nggak sarapan ya. Zoalnya udah janjian sama Rika, sekalian sarapan di luar," pamitnya kepada Bagas dan Bunga.


"Ya sudah, kamu hati-hati di jalan ya," ujar Bunga saat Aurora menyalami tangannya.


"Iya Mah." Kemudian wanita itu pun pergi, namun saat dia hendak masuk ke dalam mobil, tiba-tiba saja ada sebuah mobil sport datang dan Aurora tidak tahu itu mobil siapa.


"Mau ngapain sih lo ke sini pagi-pagi? Nggak ada kerjaan banget. Emangnya CEO kayak lo itu waktunya tidak berharga ya, sampai harus datang ke rumah orang?" Aurora berkata dengan nada yang sinis.


Dia sama sekali tidak ingin bersikap lembut kepada Justin, karena Aurora tidak menyukai pria itu. Dan dengan sikap sinis serta arogannya dia berharap Justin akan membatalkan perjodohan tersebut, karena jujur saja Aurora masih belum siap untuk membuka hatinya menggantikan Kevin oleh pria lain.


"Jiika ada tamu itu disambut dengan baik. Apakah begini sambutan keluarga dari Anjasmara terhadap seorang tamu?" sindir Justin dengan alis terangkat satu sambil tersenyum miring.


"Tidak usah berbasa-basi. Kalau kau ke sini ingin menemui Mama Papa, ada di dalam. Aku buru-buru." Wanita tersebut membuka pintu mobilnya, tetapi Justin menutup kembali pintu mobil tersebut membuat Aurora menatapnya dengan kesal.

__ADS_1


"Lo ini mau ngapain sih? Gue buru-buru ... udah deh jangan ngajak berdebat pagi-pagi. Setiap bertemu dengan lo, mood gue tuh hancur."


"Siapa juga yang ngajak berdebat? Aku ke sini karena ingin bertemu dengan kamu. Kamu lupa ya? Kita ini kan sudah dijodohkan, dan kita sedang tahap pengenalan, jadi sebaiknya menghabiskan waktu bersama."


Aurora malah berdecih. "Jangan ngarep ngabisin waktu bersama. Aduh! Sebaiknya mimpi lo itu jangan ketinggian deh. Udah minggir sebelum gue tendang pusaka lo lagi!" ancaman Auroram


alAkan tetapi Justin tidak beranjak sama sekali. Dia malah mengambil kunci mobil Aurora dan itu semakin membuat wanita tersebut merasa kesal. Kemudian Aurora mengambil kunci tersebut tetapi Justin tidak membiarkannya.


"Sepertinya lo ingin bermain-main dengan gue ya ... tapi sayang, hari ini jadwal gue padat." Wanita itu menendang perut Justin, kemudian menonjok wajahnya lalu memelintir tangannya hingga kunci mobil itu pun jatuh dan langsung diambil oleh Aurora.


"Aawwh!" ringis Justin. Dia tidak menyangka jika Aurora jago bela diri.


"Sudah gue bilang, jangan macam-macam, tapi lo ngeyel jadi orang." Aurora berkata sambil membuka pintu mobilnya, kemudian masuk dan pergi meninggalkan rumah tersebut.


Dia sama sekali tidak memperdulikan ringisan dari Justin karena ulahnya, sebab Aurora tidak peduli dengan rasa sakit pria itu. "Biarkan saja. Lagi pula, suruh siapa pagi-pagi ke rumah membuat keributan? Masih untung perut dan wajahnya saja yang bonyok, jika pusakanya kutendang lagi, tidak akan bisa dia untuk enak-enak," lirih Aurora sambil berdecak kesal.


Sementara Justin menatap bepergian mobil Aurora. 'Kita lihat saja! Sampai mana kau akan menjadi wanita batu. Lama-lama, hatimu pasti akan mencair, dan kau akan luluh kepadaku. Lebih tepatnya, kau akan mengemis cinta dariku. Akan kubuat kau bucin!' batin Justin sambil tersenyum miring dengan penuh percaya diri bahwa ia bisa menaklukkan Aurora.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2