
"Apa kamu sudah punya pekerjaan tetap Nan?"
"Belum mas...."
"Kemaren ada temen mas yang nawari kerja di PLTU, apa kamu mau?"
"Boleh mas...."
"Ok, mana KTP mu?"
"Ini..." menyerahkan KTP nya
Danu segera memfoto KTP milik adiknya, selesai mengambil foto KTP adiknya, ia segera mengirimkannya kepada sang teman yang menawari pekerjaaan itu.
Dan Alhamdulillah nya segera mendapat respon.
"Alhamdulillah Nan, kamu bosok bisa langsung kerja....."
"Alhamdulillah...."
"Besok jangan lupa bawa KTP, terus temui orang yang bernama Dion....." pesan Danu
"Ok mas...."
"Abi kami pamit pulang ya...."
"Ia, hati-hati ....."
Danu dan sang istripun pulang.
...................................
Adnan sudah siap berangkat ke PLTU. Dia akan berjalan kaki saja, demi menghemat ongkos, lagi pula hanya butuh waktu 20 menitan.
"Ayah do'akan Adnan ya..."
"Ayah selalu mendo'akan mu..."
"Ya sudah Adnan berangkat dulu, Assalamu'alaikum....."
"Wa'alikusalam...."
Adnan melangkahkan kakinya, meninggalkan rumahnya.
"Hahaha, hei, kau tau istriku telah ma**..." ucap Huda kepada Adnan yang melewatinya
Untungnya Huda tak jalan-jalan seperti ODGJ lainnya. Dia hanya akan duduk di depan rumah dan berteriak seperti itu kepada setiap orang yang lewat di hadapannya.
Adnan terus melangkahkan kakinya tanpa menghiraukan sang kaka yang terkena gangguan jiwa.
Sampailah Adnan di depan gerbang PLTU, dengan keringat yang membanjiri tubuhnya.
"Mau cari siapa mas?" tanya sang satpam
"Cari pak Dion..."
"Oh sebentar ya...."
Sang satpam itu pergi menemui orang yang di maksud oleh Adnan.
Tak lama kemudian ia kembali bersama seseorang yang mengenakan seragam has perusahaan itu.
"Adiknya Danu?"
"Ia pak..."
"Ga papa kalo hanya jadi OB?"
"Ga papa pak, apapun itu saya mau...."
"Baiklah, kamu bisa langsung mulai kerja, ayo masuk...."
"Ia pak...."
Mulai hari itu lah Adnan menjadi OB, di perusahaan milik PLN itu.
..........................................................
Bagas bersama Ibnu sedang menghadiri sidang putusan hukuman untuk para koruptor.
Ya, tak perlu menunggu waktu lama untuk mendapat pengakuan dari mulut para koruptor itu, dan juga tak perlu mengeluarkan banyak tenaga.
Karena saat di tangkap mereka sedang pesta MIRAS dan kehilangan kesadarannya. Maka kesempatan itu di manfaatkan oleh Ibnu untuk menanyakan hal 'itu'
Hasil keputusan hukuman mulai di bacakan. Ke 8 orang itu akan di penjara selama kurun waktu 15 tahun dengan denda masing masing orang sebesar 5 ratus juta rupiah.
Tak hanya di denda dan di penjara, mereka nantinya juga tak akan bisa mendaftar kerja di perusahaan manapun, karena nama mereka sudah menjadi hitam, aset mereka juga di sita, sebagai ganti rugi uang perusahaan yang telah mereka korupsi.
Tangis keluarga koruptor pecah mewarnai persidangan itu.
"Pak apa bapak tega, lihatlah saya, saya sedang hamil tua, sebentar lagi anak saya akan lahir....." ucap istri salah satu koruptor
__ADS_1
"Ia pak, anak saya juga masih bayi...." timpal lainnya
Dan masih banyak lagi 'permohonan' yang lain nya.
"Hukum tetaplah hukum....." tegas Bagas
Biarlah dia di cap sebagai orang tanpa hati dan perasaan. Bagas tak akan peduli akan hal itu, baginya yang penting adalah menegakkan hukum dan membela kebenaran.
Terkadang memang tak perlu menggunakan perasaan dalam menghadapi pelaku kejahatan.
Sebab kalo kita tetap menggunakan perasaan maka koruptor, maling, dan sebagainya tak akan mendapat hukuman karena hakimnya yang merasa kasihan atau sang pelapor yang merasa kasihan kepada keluarga pelaku, dan akhirnya mbiarkan pelaku bebas lalu melakukan kejahatan lagi, karena tau tak akan pernah di hukum. (Sekedar menurut pemikiran penulis)
"Ayo Nu...."
"Siap bos...."
Bagas dan Ibnu pergi meninggalkan ruang sidang.
Keduanya langsung menuju hotel.
Sampai di hotel, Bagas langsung menuju kamar mereka.
"Hah......" menghela napas, sembari membaringkan tubuhnya
Bagas mengambil ponselnya, dia ingin menelpin sang istri tercinta.
Tut tut tut
Tut
"Assalamu'alaikum sayang...."
"Wa'alikusalam mas..."
"Kangen banget nih...."
"Masa...."
"Ia, beneran...."
"Hem ga usah gombal...."
"Beneran loh sayang..."
"Ia deh ia percaya, mas kapan pulang?"
"Nanti sore...."
"Mau di bawain oleh oleh apa?"
"Ga ada, yang penting mas selamat sampai rumah....."
"Aaaminnn......"
Mereka pun ngobrol ngalor ngudil. Semua hal yang terjadi hari ini Bagas ceritakan kepada sang istri tercintanya.
Mereka baru selesai ViCall saat azan dzuhur terdengar.
.......................................................
Sausana bisingnya siang telah terganti dengan suasana heningnya malam.
Suara debuaran ombak pantai selatan menemani perjalanan Bagas, Ibnu dan Tiyo (sopir nya Ibnu)
Ya, mereka memilih jalur selatan (JLS) yang tanpa hambatan, walaupaun dalam penerangan jalan masih minim dan rumah wargapun masih jarang.
Mereka memili jalur ini karena jalannya yang tanpa lubang. Sebenarnya banyak jalur lain di kota ini, namun rata-rata banyak lubang, yang menyebabkan kemacetan lalu lintas.
Setelah menempuh 4 jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di tujuan, yaitu rumah orang tua Bagas.
Bagas segera turun dari mobil, lalu langsung berlari kecil menuju sang istri tercinta yang sudah menyambutnya, tanpa menghiraukan Ibnu dan Tiyo.
"Assalamu'alaikum sayang, mas kangen banget....." memeluk dan menciumi wajah sang istri
"Wa'alikusalam, anak-anak juga kangen sama bapaknya....." ucap Nadin
"Kalo sayang kangen ga?"
"Gimana ya?"
"Ih sayang mah...."
Ibnu juga tak mau kalah, dia juga memeluk sang istri yang juga ikut menyambut kepulangan nya.
"Yah, terus saya meluk siapa?" ucap Tiyo
"Noh saka...."
(Saka adalah bahasa Jawa untuk sebuah tiang penyangga bangunan)
"Yah masa sama tiang....."
__ADS_1
"Ya udah sama angin aja sonoh...."
"Hem, mending sama tiang....."
"Udah jangan ribut mulu ga cape apa?" lerai Diana, istri Ibnu
"Dimana Syeika?"
"Ada di dalam...."
"Ayo masuk....." ajak Bagas
Mereka pun masuk.
Sampai di dalam mereka di sambut oleh papah Putra dan mamah Ais yang sedang asik menonton TV.
"Gimana tadi, macet?" tanya papah Putra
"Tadi lewat jalur selatan om.... " jawab Tiyo
"Oh, mulus dong..."
"Yoi om, tapi serem om, masih banyak sawah sama lahan kosong nya ketimbang rumah warganya...." timpal Ibnu
"Ia lah, kan sebelum jadi jalan emang sawah"
"Gitu ya om...."
"Ia..."
"Pah, mah aku sama Nadin ke kamar dulu ya...... "
"Ia..."
"Mari semua...." pamit Nadin
Bagas dan Nadin berjalan beriringan menuju kamar mereka.
Bagas langsung mengganti pakaiannya setelah sampai di dalam kamar.
Kemudian ia berbaring di kasur.
"Sini yang...." menepuk kasur sebelahnya
"Sebentar mas, mau naruh baju kotor dulu..."
"Ok sayang...."
Nadin pergi ke tempat cucian, lalu ia menuruh baju kotor sang suami di kranjang baju kotor.
Lalu Nadin bergegas kembali ke kamarnya.
"Sini yang..."
"Ia mas..."
Nadin naik ke ranjang, lalu berbaring, di samping suaminya.
"Sayang mas mau ngomong sesuatu..."
"Ia silahkan mas...."
"Perusahaan benar-benar sedang kacau, mungkin untuk beberapa bulan kedepan uang bulanan kamu mas potong...." dengan nada khawatir
Nadin tertawa mendengar itu.
"Ko ketawa yang..."
"Ya Alloh mas, aku mencintai mas bukan karena hartamu, namun karena Alloh, jadi walaupun mas ga punya harta sekalipun, aku ga akan masalah, harta itu bisa kita cari sama-sama, yang aku butuhkan dari mas tuh cinta dan kasih sayang yang tulus hanya karena Alloh......"
"Makasih sayang, karena telah mencintai mas apa adanya bukan ada apanya...." mengecup wajah sang istri
"Sama-sama, udah sekarang tidur, mas pasti cape...."
"Sungguh aku beruntung karena memilikimu sayang...." batin Bagas
"Ia sayang, ayo baca do'a dulu..."
Mereka membaca do'a tidur lalu tertelap bersama.
..................................................................
Basa Basi Penulis....
Makasih banyak buat yang masih setia membaca cerita ini.....
Makasih juga buat yang mau mampir sebentar.....
Aku punya cerita baru dengan judul Kisah Cinta Zahra loh, ayo dong kepoin...
*****Ambil baiknya buang buruknya****
__ADS_1
Sekian