
Suara indah nan merdu itu masih terdengar. Nadin sangat menikmati lagu itu, lagu yang mengingatkannya saat-saat masih sekolah.
Ini merupakan bagian dari kejutan untuk Nadin.
Ruangan yang gelap serta pikirannya yang sedang memutar kembali masa-masa sekolahnya, membuatnya tak tau bawa ia kini hanya sendiri di ruang itu.
"Nadin Ananda, satu nama yang mampu mengisi ruang hatiku yang sudah lama kosong, yang mempu membuatku tidak bisa tidur karena memikirkannya.... " berjalan dengan perlahan ke arah Nadin
Nadin yang mendengar namanya di sebut, segera tersadar dari masa lalunya. Dia melihat kanan kirinya, ternyata tidak ada orang. Dia hanya melihat samar-samar bayangan orang yang sedang berjalan ke arahnya.
"Walupun awal pertemuan kita tak seindah dalam filem maupun novel, tapi saat itu juga kau mampu membuat hatiku berdesir......."
"Jadi maukah kamu menikah denganku?" ucap orang itu di hadapan Nadin, sembari berlutut dan menyodorkan cincin.
Klik lampu di hidupkan.
"Terima, terima.... " sorak pengunjung yang melihat situasi langka ini.
Nadin terdiam, dia syok setelah tau siapa orang yang mengucapkan kalimat itu.Jantungnya berdetak lebih cepat.
"Nadin Ananda maukah kamu menjadi calon istriku di dunia dan akherat?" suaranya bergetar
"Terima terima.... "
Setelah berpikir aga lama, Nadin akhirnya mengangguk tanpa keraguan, lalu mengambil cincin itu dan memakainya.
Pengunjungpun bersorak senang.
Bagas sangking senangnya, dia berdiri dan akan memeluk Nadin.
"Heh belum halal heh... " ucapan mba Dian, yang mampu merusak suasana
"Yah mba Dian ngerusak suasana tau... " sungut Naila
Pletak, satu jutakan mendarat di kepalanya.
"Ente kadang-kadang ya... " mba Dian melotot ke arah Naila
"Hehe... "
Nadin dan Bagas menjadi canggung.
"Ehem, makasih udah mau jadi calon istriku..."
"Sama-sama..... "
"Ah ibu kira kamu ga mau nikah lagi, setelah kemaren gagal... " menangis terharu
Bu Nana memang takut anaknya tak mau menikah lagi karena kegagalan dalam rumah tangganya yang lalu, namun dia salah.
"Do'a in aja yang ini bisa membimbing Nadin ke jalan yang lebih baik sampai akherat...... "
"Amin.... "
"Ah senengnya, kakaku ini ga jomblo lagi..." ucap Naila
.........................................
Nadin sudah kembali ke aktifitasnya. Semenjak ia menerima lamaran Bagas, Bagas menjadi lebih kerap mampir ke swalayannya untuk sekedar melihatnya.
Nadin sudah memutus kontak dengan keluarga mantan suaminya. Nadin hanya peduli dengan orang sekitarnya dan fokus dalam bekerjanya.
Tok tok tok
"Assalamu'alaikum......... "
Nadin sangat hafal dengan suara itu, suara yang telah membuat hatinya berkeping, dan menginjak harga dirinya.
"Siapa ya Din, malam-malam gini bertamu... "
"Ga tau, Nadin mau tidur dulu....... "
Tok tok tok, suara ketokan dan salam itu terdengar kembali.
__ADS_1
Bu Nana hanya geleng kepala melihat tingkah anaknya. Bu Nana menuju pintu lalu membukanya.
"Wa'alikumsalam...... "
Ceklek.
"Apa kabar bu?" tanya orang itu
Bu Nana terdiam. Beliau segera manutup pintu.
"Tunggu bu, saya minta maaf, saya tau saya salah, tapi saat ini saya benar-benar butuh bantuan Nadin... " memohon
"Tunggu di sini....."
Bu Nana masuk, dia masih punya rasa iba melihat mantan suami anaknya yang berpenampilan layaknya gelandangan.
"Nadin... "
"Ada apa bu?"
"Ada mantan suamimu di depan, dia ingin bertemu dengan kamu....... "
Nadin terdiam.
"Nadin akan menemuinya tapi ibu harus ikut.."
"Ia na... "
Nadin memakai jilbab nstannya, lalu berjalan ke depan.
"Nadin..... " lirih Adnan, dia terpesona dengan penampilan Nadin
"Ada apa mas?" tatapannya lurus kedepan, di sudut hatinya masih tersisa rasa sakit saat melihat mantan suaminya itu.
"Mas mita maaf, selama ini mas dan keluarga mas selalu berbuat semaunya sendiri... "
"Sebelum kamu dan keluarga kamu minta maaf sudah Nadin maafkan ko.... " datar
Adnan yang mendengar suara datar sang mantan istri, menciut nyalinya.
"Minta tolong apa?"
"Saat kita bertengkar waktu itu, banyak santri yang mendengarnya... "
"Lalu?"
"Lalu para santri itu bercerita ke orang tuanya, orang tua mereka meyuruh mereka untuk keluar dari pondok.... "
"Hem..... "
"Dari situ semakin hari semakin banyak santri yang keluar, hingga sekarang kaluargaku tak punya pemasukan, saking prustasinya Abi menjual tanah pondok itu untuk memenuhi kebutuhan hidup kami..."
Tak ada reaksi dari Nadin.
"Sudah dua minggu ini kami hidup di kontrakan kecil, dan makan dengan lauk seadanya....."
Tak ada kebohongan dari kalimat yang keluar dari mulut Adnan. Matanya juga memancarkan sinar kesedihan.
"Aku mau pinjam uang, buat periksa kandungan Fani.... "
Ada rasa sakit yang semakin menjalar di hatinya, bukan karena Nadin masih sayang, namun perkataan ibu mertuanya yang masih terngiang di telinganya.
"Sebentar...... "
Nadin melangkah masuk ke kamarnya. Nadin menutup pintu kamarnya lalu ia membuka lemari pakaiannya dan mengambil beberapa lembar uang merah, serta mas kawin yang Adnan berikan dulu.
Kemudian Nadin keluar lagi.
"Ini saya kembalikan milikmu, dan ini ada uang 5 juta, semoga bisa buat modal.... "
Adnan terdiam, dia kira Nadin tak akan sudi menolongnya sama dengan para iparnya.
"Mas kawin itu sudah hak milik kamu... "
__ADS_1
"Ya saya tau, anggap saja ini pemberian dari saya untuk modal, lagian saya sudah punya cincin lain dari laki-laki yang bisa menghormati saya.... "
Deg, ucapan Nadin memcubit hati Adnan.
"Makasih Nadin, aku pikir kamu ga akan mau bantu aku, aku janji jika sudah ada uang aku kembalikan... " dengan malu dan canggung, Adnan menerima pemberian Nadin
"Tidak usah di kembalikan, lebih baik anda gunakan uang itu untuk kebutuhan anak anda kelak... "
"Urusan anda sudah selesaikan, saya mau istirahat, ayo bu masuk.... "
"Nad.... in.... "
Tanpa menunggu jawaban dari Adnan, Nadin langsung menutup pintu.
"Alhamdulillah ya Alloh, ternyata masih ada yang baik juga.... "
..............................
"Nadin kamu ga papa na?" tanya ibunya
Bu Nana paham bagimana perasaan putrinya.
Nadin langsung memeluk ibunya dan menangis.
"Menangislah na, agar hatimu lega..., ibu tau rasanya jadi kamu..... "
5 Menit kemudian barulah tangisan Nadin reda.
"Maafin Nadin bu.... "
"Kamu ga salah na, ibu yang salah karena menjodohkan mu.... "
"Ini sudah takdir Nadin bu....."
"Tapi kamu hebat na, kamu mau menolong orang yang sudah menyakitimu.... "
"Nadin hanya mencoba menjadi orang yang berguna bagi orang lain saja bu...."
"Sekarang istirahat ya, udah malem.... " mengusap sisa air mata
"Ia bu.... "
Nadin dan ibu nya masuk ke kamar.
Dert dert. Ponsel Nadin bergetar.
Nadin segera mengangkat panggilan masuk itu.
"Halo Assalamu'alaikum..... "
"Wa'alikumsalam, belum tidur?" jawab Bagas
"Belum, kalo aku udah tidur mana mungkin angkat telpon kamu... "
"Hehe ia ya, kamu baik-baik saja kan?"
"Baik, kenapa?"
"Sukurlah kalo kamu baik-baik saja, dari tadi hati dan pikiran aku ga tenang mikirin kamu, jadi pengin cepet-cepet halalin nih.... "
Nadin tersipu malu.
"Halo, kamu masih di situ?"
"Ia, udah dulu ya ngantuk nih.... " so jual mahal
"Oh ya ya..., semoga mimpiin aku ya.... "
"Ga ah, ga mau mimpiin kamu....."
"Kenapa?"
"Maunya milikin kamu di alam nyata aja, jangan di mimpi.... " mencoba gombal
__ADS_1
"Ih udah bisa gombal nih, siapa yang ngajarin?"
"Kamu... "