Penghianatan Suamiku

Penghianatan Suamiku
Takut


__ADS_3

Happy reading.......


Pak Frans terus mengajak Bunga untuk pulang ke rumah, dia terus membujuk putrinya itu. Tapi sayang Bunga menolak, dia bukan tidak ingin pulang ke rumah hanya saja hatinya belum siap.


Pak Frans sebenarnya kecewa dan sedih saat Bunga menolak untuk pulang ke rumah, tetapi dia juga tidak bisa memaksa putrinya Itu, sebab Pak Frans juga tahu perasaan Bunga saat ini pasti tidak mudah untuk kembali ke sana setelah apa yang terjadi.


"Lalu di mana Edo? Kenapa kamu malah menikah dengan pria bajingan itu, bukannya sama Edo?" tanya Pak Frans kepada Bunga.


Bunga menunduk mendengar ucapan sang Papi, dia menghela nafasnya dengan panjang mengingat saat dia keluar dari rumah dan saat pertemuan terakhirnya dengan Edo.


"Dia sudah tidak ada Pi. Edo menyelamatkan aku, saat aku akan tertabrak mobil, dan pada akhirnya dialah yang meninggal. Dia mengorbankan nyawanya demi aku, dia adalah pria yang melindungiku, bahkan rela bertaruh nyawa demi menyelamatkan hidupku."


Bunga kembali menangis saat mengingat peristiwa itu. Peristiwa di mana saat dia akan diajak oleh Edo untuk mencari kontrakan, tiba-tiba ada sebuah mobil yang melaju dengan kencang dari arah berlawanan saat Bunga dan juga Edo akan menyeberang jalan. Dan dengan Sigap Edo mendorong tubuh Bunga hingga tubuhnya lah yang tertabrak oleh mobil.


Pak Frans semakin merasa bersalah kepada putrinya itu, sebab setalh kepergian Bunga dari rumah, dia juga memecat Edo dari perusahaan nya. "Maafkan Papi, Nak. Seharusnya dulu Papi merestui hubungan kamu dengan dia. Papi sudah sangat berdosa, Papi pikir harta dan juga Kasta bisa membuat kita bahagia," ucap Pak Frans sambil menunduk dan memegang kepalanya.


Dia begitu amat sangat menyesal karena sudah menilai seseorang dari segi harta dan juga Kasta. Padahal Edo adalah pria yang baik, bahkan dia rela mengorbankan nyawanya untuk Putri bungsunya.


Setelah berbincang cukup lama hingga Jam menunjukkan pukul 12.00 malam, Pak Frans pun pamit untuk pulang. Dia sebenarnya tidak rela jika harus berpisah kembali dengan Putri bungsunya, tapi dia juga merasa tidak enak jika harus menginap di sana.

__ADS_1


"Terima kasih banyak, karena kalian mau menjaga putriku. Kalian mau merawatnya, bahkan menganggap dia sebagai Putri kalian. Aku tidak tahu dengan cara apa bisa membalas kebaikan kalian? Dan aku rasa, ucapan terima kasih saja tidak cukup untuk membalas kebaikan kalian selama ini, selama 5 tahun ini," ucap Pak Frans kepada Bi Saidah dan juga Paman Gandi saat mereka mengantar Pak Frans ke depan.


"Tidak apa-apa Pak, kami ikhlas, kami sudah menganggap Bunga sebagai putri kami sendiri. Sebab kami pun tidak punya anak. Kami sangat bersyukur karena dipertemukan dengan Bunga, dia adalah wanita yang baik, wanita yang tulus, dia seperti seorang bidadari yang turun dan dikirimkan oleh Allah kepada kami," jawab Bi Saidah sambil mengusap lembut pipi Bunga.


**********


Satu minggu setelah kejadian di mana Pak Frans bertemu dengan Bunga. Kini Bunga mencoba membuka hatinya kembali untuk keluarganya, dan mencoba memaafkan Papinya. Dia mencoba berdamai dengan hatinya, dan itu semua tidak lepas dari nasehat Bi Saidah kepadanya.


Sudah 3 hari ini Bunga bekerja keras terus dan lembur setiap malam, karena perusahaan dia dan juga perusahaannya Bagas sedang membuat pabrik di daerah Depok.


Seperti malam ini, Bunga dan Bagas akan meeting untuk membahas tentang pekerjaan mereka dan proyek yang sedang mereka jalani saat ini, dan selama satu minggu itu Bagas dan Bunga baru bertemu hari ini, karena Bagas juga kemarin baru pulang dari Singapura untuk menyelesaikan pekerjaannya.


"Maaf ya kalau aku lama, tadi jalanan kumayan macet. Maklumlah namanya juga Jakarta, apalagi ini sudah malam," ujar Bagas sambil duduk di hadapan Bunga.


"Tidak papa, saya sudah pesankan minuman untuk Bapak dan juga Pak Riko."


Lalu mereka pun mengadakan meeting hingga tidak terasa satu jam lebih mereka bercengkrama mengenai proyek, dan jam juga sudah menunjukkan pukul 09.00 malam.


"Oh ya, kamu ke sini bawa mobil atau naik taksi?" tanya Bagas sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.

__ADS_1


"Bawa mobil Pak," jawab Bunga sambil meminum jusnya. "Oh iya Pak, bagaimana kabarnya Aurora? Maaf ya selama seminggu ini saya benar-benar sibuk sekali, tidak ada waktu hanya untuk bersantai saja. Saya jadi kangen sama Aurora," sambung Bunga.


"Alhamdulillah, Aurora baik-baik saja. Dia sekarang lagi ada Turki di rumah neneknya, kebetulan keluarga dari almarhumah istri saya itu orang sana," jawab Bagas.


Bunga hanya ber-oharia saja sambil menganggukan kepalanya. Sebenarnya badan Bunga terasa begitu lelah, karena akhir-akhir ini dia kurang istirahat yang cukup. "Baiklah Pak, kalau begitu Saya pulang duluan ya. Soalnya badan saya juga Lumayan capek," ucap Bunga sambil berdiri lalu mengulurkan tangannya hendak menyalami Bagas dan juga Riko.


Bagas yang mendengar bunga kecapean merasa khawatir, lalu dia pun menawarkan diri untuk mengantar Bunga pulang. "Kalau begitu saya antar kamu pulang saja ya? Nanti kalau terjadi apa-apa di jalan gimana?" Tapi sayang, Bunga segera menggeleng dengan cepat. "Tidak usah Pak, Terima kasih. Saya masih bisa kalau menyetir," jawab Bunga sambil tersenyum manis.


"Okelah..." Bagas tidak bisa memaksa Bunga, dia tidak ingin memaksakan diri. Namun baru saja Bunga akan meninggalkan meja makan, tiba-tiba kepalanya terasa begitu pusing, dunia seakan berputar di kepala Bunga, hingga membuat dia seketika ambruk dan tidak sadarkan diri.


Bagas yang melihat Bunga hampir terjatuh segera menangkap tubuhnya lalu menepuk pipi Bunga. "Bunga, kamu kenapa? Bunga...!" panik Bagas saat melihat Bunga pingsan.


"Pak, sebaiknya kita bawa ke rumah sakit sekarang," ujar Riko dan langsung dibalas anggukan oleh Bagas, kemudian pria itu pun langsung menggendong tubuh Bunga ke mobilnya dan menyuruh Riko untuk membawa mobil Bunga ke rumah sakit mengikuti dirinya.


Rasa khawatir tentu saja bersarang di hati Bagas karena melihat orang yang sedang dia perjuangkan dan dapatkan hatinya, tengah tak sadarkan diri.


Bagas telah menyadari perasaan apa yang ada di dalam hatinya untuk Bunga, dan saat melihat Bunga pingsan, ada rasa takut yang teramat sangat di hati Bagas. Sebab Bagas pernah kehilangan seseorang yang dia cintai, dan Bagas tidak ingin kehilangan kedua kalinya.


Bersambung. ............

__ADS_1


InsyaAllah Author akan up 3/4 bab lagi hari ini😊Kasih bunga apa kopi atau Vote nya dong, biar Author semangat Nih😁💪


__ADS_2