
Happy reading..........
Tepat jam 08.00 pagi Bunga pun sudah sampai di kantornya, dan saat dia masuk ke dalam Bunga kaget karena melihat Ardi dan juga Bagas sudah duduk di dalam ruangannya. "Loh, Pak Bagas, Ardi. Kalian ada di sini?" kaget Bunga sambil menatap 2 pria itu dengan heran.
Ardi memang nggak jadi ke Surabaya, sebab badannya sudah terasa capek karena habis pulang dari acara semalam. Dan dia pun menyuruh sekretarisnya untuk datang ke Surabaya mewakilkan dirinya.
Ardi pagi-pagi datang ke kantor Bunga, untuk mengajak wanita itu sarapan karena ingin sekalian memberi surprise. Tapi dia tidak menyangka saat sampai di kantor Bunga, Ardi berpapasan dengan Bagas yang baru saja memarkirkan mobilnya.
Kedua pria itu sedang bersaing dan berjuang untuk mendapatkan hati janda cantik yang ada di hadapan mereka, janda pemikat hati mereka.
Bunga menghela nafasnya dengan kasar saat melihat dua pria itu saling menyenggol bahu satu sama lain. 'Sepertinya kejadian semalam akan terulang lagi?' batin Bunga menggerutu dengan pasrah.
Ardi lalu mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya, dan ternyata itu adalah setangkai bunga mawar merah. "Ini untukmu! Aku sengaja tadi membelinya di jalan," ucap Ardi sambil memberikan Mawar itu kepada Bunga.
"Terima kasih," ucap Bunga sambil menerima Mawar pemberian dari Ardi. Bagas yang meihat itu tidak mau kalah, kemudian dia pun mengeluarkan sesuatu di balik punggungnya, dan ternyata itu adalah sebuah kotak. Lalu memberikannya kepada Bunga.
"Ini apa?" tanya Bunga saat Bagas mengulurkan kotak itu kepadanya.
"Terima dan bukalah!" ucap Bagas. Bunga yang penasaran pun menerima kotak itu lalu membukanya, dan ternyata isinya adalah sebuah coklat kesukaan dia.
__ADS_1
"Wooow.... Coklat favorit aku. Makasih ya Pak! Tapi kayaknya makan-nya nanti siang aja deh, soalnya kan ini masih pagi. Aku nggak biasa makan coklat di pagi hari," jawab Bunga sambil tersenyum manis.
"Oh ya, ngomong-ngomong Lak Bagas sama kamu Di, ada apa ke sini? Kok tumben kalian pagi-pagi ke sini? Barengan lagi?" heran Bunga sambil menatap pria tampan yang ada di hadapannya itu dengan tatapan menyipit.
"Aku mau ngajak kamu sarapan," Jawab Ardi dan juga Pak Bagas serempak.
Bunga yang mendengar itu pun terkekeh kecil, dia merasa lucu dengan dua pria tampan yang ada di hadapannya itu. Sebab Bunga merasa seperti diperebutkan oleh dua pangeran, tapi Bunga tidak ingin besar kepala.
"Kak, Lo ngapain sih ngikutin gue? Sebaiknya lo ke kantor deh! Bunga mah udah pasti sarapannya sama gue," ujar Ardi mengusir sang Kakak.
"Yeeee... Dasar kamu Adek nyebelin! Yang ada kamu tuh yang harus ke kantor. Kalau aku mah gampang, tinggal telepon sekretarisku saja. Lagi pula mana mau Bunga sarapan sama kamu? Dia pasti bakal sarapannya sama aku dan juga Aurora, mending kamu ngalah aja deh!" Bagas tidak ingin kalah dari Ardi.
Lagi-lagi kedua pria itu pun berdebat memperebutkan siapa yang akan makan bersama dengan Bunga, hingga membuat wanita yang ada di hadapan mereka itu memijit pelipisnya karena seketika kepala Bunga menjadi pening.
"Cukup! Kalian itu ya, nggak di sini, nggak di tempat semalam, berdebat terus? Kenapa sih? Apa yang kalian ributkan? AKU? Untuk apa? Gini deh, aku nggak mau sarapan dengan siapapun. Aku sudah sarapan di apartemen, dan sebaiknya Pak Bagas dan juga kamu, Di, kembali aja ke kantor! Pagi-pagi mulutku sudah hancur aja oleh kalian!" kesal Bunga sambil mengerucutkan bibirnya.
Ardi dan Bagas terdiam dan melirik satu sama lain. "Gara-gara lo sih, Kak." Sindir Ardi sambil menyenggol bahu Bagas.
"Lah, Bocil. Kenapa aku? Lali pula aku juga udah biasa sarapan sama Bunga, kenapa kamu tiba-tiba datang?" jawab Bagas tak kalah ketus.
__ADS_1
Bunga menepuk jidatnya dengan gemas. Bagaimana tidak? Kedua pria yang ada di hadapannya itu adalah CEO ternama. Dari badannya saja mereka sangat kekar, wajahnya bahkan terlihat begitu tegas, tapi kenapa mereka sekarang terlihat seperti anak kecil saja yang sedang memperebutkan permen.
"Please ya Tom dan Jerry, ini masih pagi. Kalau kalian mau berantem, sebaiknya di luar saja! Aku sibuk, dan mau bekerja." Bunga pun mendorong tubuh kedua pria itu untuk keluar dari ruangannya, dan dengan pasrah Ardi dan Bagas pun keluar dari ruangan Bunga.
*********
Siang ini Bunga terlihat sangat sibuk sampai dia lupa Jika dia tadi belum sarapan pagi, karena pagi-pagi juga sudah ada Ardi dan Bagas yang membuat moodnya hancur, sehingga selera makan Bunga pun hilang.
"Terdengar suara ketukan pintu ruangan Bunga. Lalu Sheila, asisten pribadi Bunga pun masuk ke dalam. " Ya Sel, kenapa?" tanya Bunga.
"Ini Bu, ada berkas-berkas yang harus ibu tandatangani," ucap Sheila sambil menaruh berkas itu di atas meja Bunga. Sheila melihat jika Bunga sedikit lemas dan juga pucat, dia pun sebagai sekretaris dan juga asisten pribadinya menjadi khawatir. "Apa ibu belum sarapan sejak pagi?" tanya Sheila dengan nada cemas.
Bunga menatap ke arah Sheila,.lalu menggeleng dengan pelan. "Belum, saya belum lapar. Lagi pula mood saya hancur gara-gara dua pria tadi. Kamu kalau melihat dua orang itu lagi ke sini telepon saya dulu, apakah saya mau menemui mereka atau tidak."
Sheila mengangguk, dia merasa bersalah karena tadi pagi sudah mengijinkan Ardi dan juga Bagas untuk menunggu di ruangan Bunga. Sebab Sheila pikir Bagas sudah biasa kesana, dan tentu saja Bunga tidak akan menolak jika pria itu datang. Tetapi Ardi, baru satu atau dua kali saja datang ke kantor milik Bunga.
Setelah kerjaan selesai Bunga pun berjalan menuju mobil untuk pergi ke sebuah cafe yang tak jauh dari kantornya. Dia ingin makan siang di sana, walaupun Jam sudah menunjukkan pukul 02.30 sore dan Itu bukan lagi makan siang, melainkan makan sore.
Saat Bunga tengah menikmati spaghettinya, tiba-tiba seorang pria duduk di hadapan Bunga hingga membuat wanita itu mendongkak menatap pria yang ada di hadapannya itu.
__ADS_1
Bunga menghentikan suapannya, kemudian dia meminum lemon tea yang sudah dia pesan. Ada rasa tidak suka, bahkan selera makannya tiba-tiba saja hilang setelah pria itu duduk di hadapan Bunga.
Bersambung. . .......