
Happy reading...........
Ardi dan juga Bagas tidak mau kalah satu sama lain, mereka terus menarik lengan Bunga dan tidak mau melepaskannya. Hingga membuat wanita itu kesal karena sakit ditarik-tarik.
"CUKUP!" kesal Bunga sambil menghentakkan tangannya hingga membuat kedua pria itu terdiam.
"Kalian pikir aku ini boneka apa, ditarik kanan dan kiri? Emang kalian pikir nggak sakit tangan aku? Nanti kalau copot gimana? Emang kalian mau ganti?" geram Bunga.
Ardi dan Bagas yang mendengar itu pun saling menatap satu sama lain, kemudian melepaskan tangan Bunga. "Maaf Bunga, aku tidak bermaksud seperti itu. Lagi pula Kak Bagas sih, maksa orang. Kamu ke sininya juga sama aku, ya pulang harus sama aku lah! Masa dia maksa banget buat kamu ikut dia pulang!" protes Ardi ambil melirik ke arah Bagas.
"Aku bukannya memaksa kamu, hanya saja kan memang kamu harus ke Surabaya. Emang kamu lupa? Kalau kamu ngantar ;unga dulu, yang ada kamu telat. Kalau bertemu klien itu harus tepat waktu jangan lambat, gimana kamu mau profesional sebagai CEO kalau kamu saja tidak on time," jawab Bagas sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Ya kan aku ke sininya sama Bunga. Jadi pulang pun harus sama dia." Ardi tidak mau kalah dengan sang Kakak, mereka terus berdebat hingga membuat kepala Bunga benar-benar terasa begitu pusing melihat dan mendengar pertengkaran antara dua bersaudara itu.
"CUKUP! Kalian bisa nggak sih nggak usah berantem di sini? Emangnya nggak malu ya? Kalian itu CEO loh, malah berantem. Nanti kalau dilihat pembisnis lain gimana? Emang kalian mau images kalian itu turun?" kesal Bunga menghentikan pertengkaran dua bersaudara itu.
"Udahlah, aku pulang naik taksi aja. Males tau nggak sih dengerin kalian berantem terus." Setelah mengatakan itu Bunga pun berlalu meninggalkan dua pria tampan yang sedang menatap tajam satu sama lain, namun Ardi segera mengejar langkah Bunga, begitupun dengan Bagas.
Keduanya sama-sama memaksa Bunga untuk pulang bersamanya, dan itu membuat Bunga benar-benar kesal.
"Tidak! Aku tidak ingin pulang dengan siapapun. Aku mau pulang naik taksi aja." Bunga pun berlalu meninggalkan gedung itu lalu memanggil taksi yang ada di depan yang kebetulan sedang mangkal.
Ardi dan Bagas pun hanya bisa pasrah saat melihat Bunga pulang menggunakan taksi. Kemudian Ardi menatap ke arah Bagas dengan kesal.
__ADS_1
"Ini semua gara-gara Kakak sih. Kenapa juga Kakak memaksa aku untuk ke Surabaya? Jadinya kan Bunga pulang naik taksi!" kesal Ardi sambil menatap Bagas dengan wajah cemberut.
Bagas hanya mengedipkan bahunya saja, kemudian dia pergi meninggalkan Ardi menuju mobilnya. Sedangkan Ardi menatap Bagas dengan tatapan menyipit, ia sangat yakin jika Kakaknya itu mempunyai perasaan kepada Bunga, dan dapat ardilihat dari kedua Pancaran mata milik Bagas saat menatap Bunga.
Saat Bagas akan membuka pintu mobil, tiba-tiba saja Ardi menahan tangannya hingga membuat pria itu menoleh kepada sang adik.
"Jika Kakak menyukainya, maka bersainglah dengan sehat. Kita lihat siapa yang akan mendapatkan Bunga? Aku, atau Kakak. Dan siapapun itu yang nanti akan dipilih oleh Bunga, kita harus menerimanya dengan lapang dada, bagaimana?" ucap Ardi sambil mengulurkan tangannya.
Bagas melihat ke arah tangan Ardi kemudian dia pun menjawab uluran tangan itu. "Deal..." jawab Bagas lalu masuk ke dalam mobil.
********
Bunga Baru saja sampai di apartemennya, dia langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur dan menghela nafasnya dengan kasar. Dia benar-benar tidak menyangka jika kakak beradik itu akan memperebutkan dirinya.
'Apa mereka menyukaiku ya?' batin Bunga menerka-nerka. Namun seketika dia menggelengkan kepalanya.
"Tidak! Tidak mungkin mereka menyukaiku? Aku ini kan seorang janda, sedangkan mereka satunya bujang dan satunya duda. Tapi duda terkaya Nomor 8. Mana mungkin bisa bersanding dengan aku yang hanya di bawah kasta dia? Mimpimu terlalu besar Bunga. Sudahlah, lebih baik aku mandi saja! Badanku terasa gerah sekali," gumam Bunga sambil bangkit dari tempat tidur dan menuju kamar mandi.
Pagi hari burung berkicau dengan indahnya, langit mulai menerangi seisi bumi dengan pesona alam yang begitu indah. Namun tidak dengan di kota itu, hanya ada gedung-gedung pencakar langit dengan pemandangan matahari yang terbit di ufuk timur.
Udara dingin nan sejuk menerpa wajah Bunga dan membiat rambut Bunga bergoyang pelan, yang saat ini tengah berdiri di balkon sambil menikmati pemandangan di pagi hari dengan secangkir kopi di tangannya.
Perasaan damai, tenang dan juga menyejukkan, saat ini tengah Bunga rasakan. Tidak ada lagi kata cacian dan Makian yang dia dengar setiap pagi, tidak ada lagi rasa sakit yang dia rasakan setiap pagi.
__ADS_1
Bunga benar-benar menikmati masa-masa sendirinya, di mana tidak ada seseorang yang mengganggu dia dan juga ketenangannya saat ini. Saat Bunga sedang menatap gedung-gedung menjulang tinggi di depannya, tiba-tiba ponselnya berdering, dan ternyata itu adalah panggilan masuk dari sang Mami.
Memang sejak kejadian di gedung pengadilan agama itu, Bunga dan juga sang Mami sangat dekat. Bahkan Bunga dan juga Maminya sudah saling menelpon lagi.
"Assalamualaikum Mih," ucap abunga saat telepon tersambung.
"Waalaikumsalam, kamu lagi apa sayang? Mami ganggu nggak pagi-pagi gini?" tanya Mami Rindi di seberang telepon sana.
"Nggak kok sama sekali, nggak ganggu. Ada apa Mi?"
"Mami mau ngajak kamu untuk makan siang bersama di rumah. Karena hari ini kakak kamu akan pulang dari Korea, dan dia sangat merindukan kamu. Mami mohon pulanglah ke sini Nak!"
Mendengar ucapan sang Mami, Bunga terdiam. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini, tapi untuk pulang Bunga sama sekali belum siap. Walaupun dia ingin sekali menginjakkan kakinya kembali di rumah megah itu.
Bunga masih bingung apakah dia harus pulang ke rumahnya, melihat dan mengingat semua kenangan yang pernah dia lalui di rumah itu sedari kecil sampai dia dewasa, lalu rasa sakit yang teramat dalam yang sampai saat ini pun masih membekas di hati Bunga.
"Maaf Mih, aku masih banyak kerjaan. Nanti saja aku pulangnya jalau kerjaanku sudah longgar. Aku tutup dulu ya Mi soalnya aku mau siap-siap untuk ke kantor, Assalamualaikum...."
Tanpa menunggu persetujuan dari sang Mami, Bunga menutup teleponnya secara sepihak. Bukan dia ingin menjadi anak durhaka, bukan dia tidak ingin sopan santun kepada orang tuanya, tetapi jika mendengar suara sang Mami hati Bunga selalu sesak. Dia tidak bisa berlama-lama mendengar orang yang begitu dia sayangi.
'Maafkan Bunga Mi, Bunga belum siap kembali kesana. Bungan masih menata hati Bunga kembali untuk sembuh.' batin Bunga.
Bersambung.......
__ADS_1
Maaf Othor aish beberapa hari akan up telat ya🙏Soalnya dunia nyata lagi sibuk kek jalanan jakarta🤣Tapi aku usahakan up 4 bab untuk kalian😘😘