Penghianatan Suamiku

Penghianatan Suamiku
Permintaan Maaf


__ADS_3

Happy reading......


Tak lama, Bu Raya pun masuk ke dalam ruangan kembali, sambil membawa flashdisk yang diminta oleh Ardi, dan Ardi pun langsung memasukkan flashdisk itu ke dalam laptopnya dan mengecek tentang kejadian tadi siang.


Ketiga pasang bola mata mereka membulat kaget, saat melihat jika Melisalah yang sengaja menyenggol bahu Mentari. Seketika tangan Ardi terkepal, dia merasa geram dengan tingkah Melisa yang dengan sengaja membuat Mentari dalam masalah.


''Panggilkan wanita itu kesini!'' titah Ardi kepada Bu Raya, dan wanita 40 tahun itu pun langsung mengangguk dan berjalan keluar untuk memanggil Melisa. Sementara itu, Mentari hanya diam saja sambil melihat ke arah laptop.


Dia sangat bersyukur, karena Ardi begitu bijak dalam menangani sebuah masalah. Dia tidak langsung menyalahkan Mentari dan mencari buktinya terlebih dahulu. Tak lama pintu ruangan pun terbuka, masuklah Melisa bersama dengan Bu Raya. Wanita itu terus menunduk, tetapi tatapannya mengarah sinis ke arah Mentari.


''Coba jelaskan ini!'' ucap Ardi sambil membalikkan laptopnya mengarah ke kepada Melisa, dan wanita itu langsung melihat kejadian di mana dia menyenggol bahu Mentari dengan sengaja.


Dia kaget, karena Ardi mengecek CCTV dan bodohnya Melisa tidak terpikirkan jika memang ada CCTV di sana. Dia begitu ceroboh, hingga sekarang dirinya berada dalam masalah.


''Kenapa diam saja? Coba jelaskan, apa maksud kamu menyenggol bahu Mentari dan mempermalukan dia?'' tanya Ardi dengan nada yang tegas.


Melisa terdiam sambil menundukkan kepalanya, dia saat ini benar-benar ketakutan, karena Ardi sedang menginterogasi dirinya dengan tatapan mengintimidasi. Melisa takut jika Ardi akan memecat nya karena kejadian itu.

__ADS_1


''Maafkan saya, Pak. Saya benar-benar tidak sengaja, tolong jangan pecat saya, Pak. Saya mohon ...'' ucap Melisa sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada mengarah kepada Ardi.


Mendengar itu,.Ardi berdecih. ''Maaf, kamu bilang? Seharusnya, kamu minta maaf kepada Mentari, bukan kepada saya. Karena, di sini dialah yang kamu merugikan, dan untuk apa kamu melakukan itu? Jika memang kamu tidak suka kepada Mentari, jangan seperti itu caranya. Kamu bisa merusak citra Cafe saya, paham!'' bentak Ardi dengan suara yang sedikit meninggi.


Melisa mengangguk kan kepalanya, sedangkan Mentari sangat kaget saat mendengar bentakan Ardi. Dia tidak pernah melihat Ardi semarah itu, karena selama ini Ardi terkenal kalem, baik dan juga pendiam, dan baru kali ini Mentari melihatnya dalam keadaan marah.


''Kembalilah, dan jangan ulangi lagi. Jika saya mendengar keributan ataupun mendengar kamu menjahili Mentari, maka saya tidak akan segan-segan untuk mengeluarkan kamu dari sini!'' ancam Ardi sambil menggoyang kan tangannya, menyuruh Melisa untuk keluar dari ruangan itu, dan wanita itu pun mengangguk lalu keluar dari ruangan Bu Raya.


''Sekarang masalah ini sudah clear. Jadi, kamu boleh bekerja kembali,'' ucap Ardi kepada Mentari, dan gadis itu pun berdiri dari duduknya. ''Terima kasih banyak Tuan, kalau begitu saya kembali bekerja,'' jawab Mentari sambil membungkuk kan badannya dan pergi keluar dari ruangan.


*********


Saat Bunga tengah memilih buah-buahan yang segar, tiba-tiba di hadapannya ada seorang ibu-ibu yang tengah memilih buah-buahan itu juga, dan pandangan mereka pun bertemu. Sementara itu Bagas dan juga Aurora sedang membeli snack.


''Bunga,'' ucap wanita yang ternyata Tante Farah.


Melihat Tante Farah berada dihadapannya, Bunga pun mencium tangan wanita itu. Karena walau bagaimanapun, Tante Farah pernah menjadi ibu mertuanya, dan Bunga harus tetap menghormati wanita itu, walaupun wanita itu selalu jahat kepada dirinya.

__ADS_1


''Tante, apa kabar?'' tanya Bunga berbahasa basi.


''Alhamdulillah, Tante baik. Kamu sendiri apa kabar? Dimana suami kamu dan juga anak kamu?'' tanya Tante Farah sambil melihat kanan dan kiri.


''Oh, Mas Bagas sama Aurora sedang membeli snack, Tante. Terus, Tante sendiri ke sini sendirian? Tidak bersama dengan mas Ilham?''


''Tidak! Ilham sedang ke bogor untuk meeting, jadi tante kesini sendiri,'' jawab Tante Farah sambil melihat ke arah perut Bunga yang sedikit membuncit. Kemudian dahi wanita itu pun bangkrut. ''Apa kamu sedang hamil?'' tanya Tante Farah dengan nada yang ragu.


Bunga yang mendengar itu tersenyum, kemudian dia pun mengangguk kan kepalanya. ''Iya Tante, alhamdulillah saya sedang hamil anak pertama Tante, dan usianya sudah mau menginjak 4 bulan. Nanti, Tante sama mas Ilham datang ya, ke acara syukuran 4 bulanan anak pertama Bunga,'' ucap Bunga sambil mengelus perutnya yang mulai membuncit.


Tante Farah kaget saat mendengar jika Bunga saat ini tengah hamil. Dia tidak menyangka, jika menantunya tidak mandul, tetapi anaknya lah yang mandul. Seketika, rasa bersalah menyeruak lihat di Tante Farah, kemudian wanita itu mendekat ke arah Bunga dan memegang kedua tangannya.


"Maafkan Tante yah jika selama ini Tante selalu menghina kamu dengan kata-kata 'mandul'. Ternyata, memang bukan kamu yang mandul, tetapi anak Tante. Maafkan Tante, jika selama ini perkataan Tante menyakiti kamu. Entah setan apa yang sudah merasuki hati Tante, sehingga Tante terus membenci kamu? Tante benar-benar minta maaf,'' ucap Tante Farah dengan nada penuh penyesalan.


Bunga bisa melihat dari kedua sorot mata Tante Farah, jika wanita itu benar-benar tulus dan merasa menyesal. Kemudian Bunga pun mengangguk


''Tidak papa, Tante. Itu kan hanya masa lalu, Bunga juga sudah melupakan semuanya. Sekarang, kita buka lembaran baru Tante, tidak ada lagi dendam diantara kita, dan kita harus saling memaafkan satu sama lain,'' ucap Bunga sambil memeluk tubuh Tante Farah.

__ADS_1


Mereka berdua tidak sadar, jika Bagas dan Aurora melihat kejadian itu, dan Ayah beserta anak itu pun tersenyum saat melihat perdamaian di antara Bunga dan juga Tante Farah. Bagas juga bersyukur, karena Tante Farah mau mengakui kesalahannya, dan meminta maaf dengan tulus kepada Bunga. Dia berharap, tidak akan ada lagi dendam diantara Tante Farah kepada Bunga.


Bersambung.......


__ADS_2