Penghianatan Suamiku

Penghianatan Suamiku
Bingung


__ADS_3

Happy reading.........


Saat ini Nara tengah menyusui Azzam, dia juga sedang memikirkan untuk berbicara kepada Ilham agar menambah uang bulanannya, karena Ilham dan juga Bunga berpisah maka Nara berpikir kalau dia harus menguasai hartanya Ilham.


'Aku harus meminta tambahan jatah bulanan kepada Mas Ilham, lagi pula kan sekarang tidak ada tanggungan lagi. Hanya aku dan Azam, dan sepertinya aku juga harus cari baby sitter agar aku bisa leluasa keluar dari rumah, jalan bersama pacarku,' batin Nara sambil tersenyum membayangkan kehidupannya yang enak.


Setelah Azam tertidur, Nara pun menaruh Azam di box bayi. Kemudian dia berjalan ke dapur untuk meminta Bi Marti membuatkan jus buah naga. Namun baru saja Nara melewati ruang tamu, dia melihat Ilham sudah pulang dengan wajah yang kusut.


'Dasar, sudah bercerai saja masih saja galau. Tidak ingat apa, ada anak istri di rumah,' batin Nara dengan kesal saat melihat wajah lesu Ilham.


Nara yakin jika Ilham Masih memikirkan tentang perceraiannya dan Bunga dan dia sangat yakin jika Ilham masih belum move on dari Bunga, dan Itulah kenapa Nara harus bekerja keras agar Ilham bisa melupakan Bunga dan menghasut pria itu untuk membenci Bunga.


"Mas...'' Panggil Nara dengan lembut, sambil menghampiri Ilham kemudian dia mengambil tas kerja Ilham dan menaruhnya di kursi, lalu mengalungkan kedua tangannya ke leher Ilham.


" Kamu kenapa? Kok wajahnya ditekuk kayak gitu sih!" tanya Nara mencoba bersikap selembut mungkin.


Ilham melepaskan tangan Nara dari lehernya, kemudian dia berjalan duduk di kursi dan menghela nafasnya dengan panjang dan mengusap wajahnya dengan kasar. "Aku tadi bertemu dengan Bunga di sebuah restoran sehabis aku meeting dengan klien, dan aku tidak menyangka Jika dia sudah menemukan penggantiku. Bahkan kami belum ada sehari bercerai," jawab Ilham.


Nara tersenyum menyeringai mendengar ucapan Ilham. 'Ini adalah sebuah senjata bagi aku untuk membuat Mas Ilham membenci wanita itu,' batin Nara sambil berjalan mendekat dan duduk di sebelah Ilham. Kemudian menyandarkan kepalanya di bahu kekar Ilham.


"Kan aku sudah bilang sama kamu, Mas. Dia itu bukan wanita baik-baik! Belum ada sehari saja resmi bercerai dengan kamu, dia sudah jalan dengan pria lain. Apa wanita seperti itu bisa dibilang wanita baik-baik? Mungkin juga dia memang sudah berselingkuh dari kamu Mas, dan itu kenapa dia pengen banget untuk bercerai dari kamu. ungkin dia ingin bebas berduaan dengan selingkuhannya."


Nara mencoba mengkompori Ilham agar semakin membenci Bunga, dan benar saja Ilham yang mendengar ucapan Nara seketika terdiam. Hatinya membenarkan ucapan istrinya itu, karena saat ini Ilham Tengah diliputi emosi dan juga cemburu.


"Kamu benar! Sepertinya memang pria itu adalah selingkuhannya dia. Makanya kenapa dia kekeuh sekali ingin bercerai denganku!" geram Ilham sambil mengepalkan tangannya.

__ADS_1


Nara tersenyum menyeringai melihat kemarahan dan kekesalan Ilham.


'Ayo Mas, teruslah membenci wanita itu agar aku bisa menguasai hartamu,' batin Nara dengan jahat.


**********


Pagi ini Bunga tengah memasak sarapan untuk dirinya sendiri, namun tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu. Bunga yang masih memakai piyama tidur pun melenggang ke arah pintu, dan setelah dibuka ternyata ada Aurora dan juga Bagas yang datang pagi-pagi sekali ke apartemennya.


"Looh, princessnya Tante, Pak Bagas. Tumben pagi-pagi ke sini?" tanya Bunga dengan kaget karena mendapati dua orang itu sudah berada di depan pintunya pagi-pagi seperti itu, padahal jam baru menunjukkan pukul setengah tujuh.


"Iya Tante, Aulola ingin salapan belsama dengan Tante, boleh kan?" ucap Aurora dengan tatapan memohon.


Bunga berjongkok di hadapan Aurora, kemudian menangkup kedua pipi gadis kecil itu. "Tentu saja boleh dong sayang, masa nggak boleh. Yuuk kebetulan Tante lagi masak sarapan."


Bunga pun mempersilahkan Bagas dan juga Aurora untuk masuk, sementara itu pandangan Bagas terus menatap ke arah Bynga. 'Dia begitu cantik dengan pakaian tidur itu. Sangat menggoda,' batin Bagas. Padahal Bunga memakai baju tidur dengan setelan celana selutut, tapi bagi Bagas wanita yang baru saja bangun tidur itu terlihat sangat seksi, karena masih sangat natural dan alami tanpa make up.


"Tidak usah Pak! Nanti Bapak bau loh? Jangan megang bawang!"ucap Bunga, tetapi Bagas langsung menggeleng.


" No problem, hanya bawang saja bukan?" Jawab Bagas sambil mengiris bawang merah satu persatu.


Akhirnya mereka pun masak bersama, bahkan saat ini Bagas Tengah mengaduk nasi goreng yang ada di wajan, sementara itu Bunga Tengah mengocok telur untuk dibuat dadar.


Setelah makanan jadi, mereka pun langsung menyantap sarapan itu dengan khidmat. Bahkan beberapa kali diselingi canda dan tawa seperti keluarga kecil yang begitu bahagia.


Saat Bunga akan mengambilkan nasi kembali untuk Bagas, tiba-tiba Bagas juga ingin mengambil nasi untuk dirinya, sehingga tangan mereka saling bersentuhan satu sama lain dan tatapan keduanya bertemu dan terkunci.

__ADS_1


Aurora yang melihat itu pun tersenyum senang, kemudian dia berdehem kecil memutuskan kontak mata antara Bagas dan juga Bunga, hingga keduanya salah tingkah.


"Biar saya ambilkan Pak," ucap Bunga sambil mengambilkan nasi untuk Bagas dan pria itu pun hanya mengangguk canggung.


'Aduh Jantungku, kenapa rasanya pengen copot ya saat menatap kedua matanya Pak Bagas? Bunga, kamu itu baru bercerai. Jangan mudah luluh oleh pria,' batin Bunga merutuki dirinya sendiri.


Sementara itu Bagas hanya tersenyum di dalam hati. 'Tangannya sangat lembut,' batin Bagas saat tadi menyentuh tangan Bunga.


Selesai sarapan mereka pun duduk di ruang TV, sedangkan Bunga membersihkan dirinya untuk ke kantor. Dan kebetulan Bagas menawarkan diri untuk mengantarkan Bunga, karena Aurora juga ingin bermain di kantornya Bunga.


Saat Bagas tengah duduk sambil melihat ponselnya, tiba-tiba sebuah pesan masuk dari Riko dan memberitahukan jika Bagas diundang ke salah satu acara nanti malam. Dan di acara nanti Bagas harus membawa pasangan, karena itu diharuskan.


"Kenapa harus membawa pasangan sih? Haduh,".gumam Bagas sambil memijit kepalanya yang tiba-tiba pening. Pasalnya ke mana dia harus mencari pasangan, sebab dia saja belum mempunyai istri lagi.


'Apa aku ajak Bunga aja ya nanti malam? Ya, sepertinya sih aku ajak dia aja deh. Sekalian aku juga harus mulai mendekati dia untuk menghilangkan traumanya,' batin Bagas sambil mengangguk kecil.


Bunga baru saja selesai mandi dan juga berpakaian serta dandan. "Yuuk, aku udah siap," ucap Bunga menghampiri Aurora dan juga Bagas di ruang tv. Namun saat Bunga akan melangkah keluar, tiba-tiba Bagas menahan lengannya membuat wanita itu menatap Bagas dengan heran.


"Ada yang ingin saya bicarakan dengan kamu," ucap Bagas. "Apa itu Pak?" tanya Bunga.


"Begini, nanti malam akan ada acara dan saya diharuskan membawa pasangan. Saya bingung harus datang bersama dengan siapa? Dan wanita yang dekat dengan saya kan cuma kamu saja. Jadi kamu mau kan menemani saya ke pesta nanti malam?" tanya Bagas sambil menatap Bunga dengan tatapan penuh harap.


Jantung Bunga berdebar dengan keras, dia benar-benar bingung dengan tawaran Bagas. Menolak pun tidak enak sebab dia tidak tega melihat wajah memelas Bagas, tapi Bunga juga sudah ada janji dengan Ardi nanti malam.


'Aduh kenapa waktunya bisa samaan gini sih? Aku kan jadi bingung harus milih siapa? Ya ampun Author, kenapa kamu harus memberikan aku di posisi seperti ini? Kan aku harus memilih salah satu antara Ardi dan juga Pak Bagas. Mau menolak Pak Bagas tidak enak, tapi aku juga sudah ada janji dengan Ardi. Kalau membatalkan dengan Ardi juga aku merasa tidak enak. Aduh Author, kamu Jahat banget sih buat aku di posisi seperti ini.' batin Bunga sambil merutuki autornya Aisyah.

__ADS_1


Bersambung. . . . .......


__ADS_2