Penghianatan Suamiku

Penghianatan Suamiku
Makan Siang


__ADS_3

Happy reading............


Maaf bab tadi banyak typo nyašŸ™šŸ¤£Othor kurang healing ini🤣Udah d revisi ya😁


Sepulang dari pengadilan Bunga langsung menuju kantornya, karena sebentar lagi dia akan ada meeting bersama dengan Bagas. Dan saat sampai di sana asistennya sudah menaruh berkas-berkas untuk meeting bersama dengan A.S Group di atas meja Bunga.


Bunga pun melirik jam yang tertempel di dinding, dan masih ada waktu 30 menit untuk meeting. "Masih ada Waktu setengah jam, kalau begitu aku telepon Tina dulu deh untuk menanyakan kapan dia akan pulang," gumam Bunga sambil mengeluarkan ponselnya di dalam tas dan mulai menelpon Tina.


***********


Saat ini Bunga tengah duduk bersama dengan Bagas dan juga asistennya yang bernama Riko, mereka sedang meeting untuk kerjasama antara perusahaan Bagas dengan perusahaan Bunga.


Berkat kerjasama antara A.S group dengan perusahaannya Bunga, kedekatan keduanya pun sangat begitu terasa. Bahkan Bagas sering jalan bersama dengan Bunga, tetapi hanya untuk sekedar pekerjaan saja dan bahkan sekarang mereka tidak merasa canggung lagi.


Bunga juga semakin dekat dengan Aurora, bahkan dia sering bermain seminggu tiga kali ke rumah Aurora untuk menemani gadis kecil itu bermain. Tapi terkadang Aurora juga suka datang ke kantornya Bunga.


Satu jam Sudah mereka meeting, dan kini Riko Sedang membereskan berkas-berkas dan akan balik ke kantor, sementara itu Bagas mengajak Bunga untuk makan siang.


Setelah memesan makanan dan juga minuman, mereka pun duduk di sebuah meja yang berada di pojok. Bagas sengaja mengajak Bunga untuk duduk di pojokan, karena bisa melihat ke sekeliling yang ada di restoran itu.

__ADS_1


Sekalian mojok bestie🤣🤣


Tak lama Minuman pun datang dan Bunga langsung meminum jus mangga pesanannya. Bagas hanya menatap Bunga yang sedang meminum jusnya, terlihat jelas di kedua mata Bagas Jika dia ingin mengatakan sesuatu tetapi tertahan.


"Oh ya Pak, katanya tadi ada yang ingin dibicarakan? Apa itu?" tanya Bunga saat setelah meminum jusnya.


"Oh, aku hanya ingin bertanya bagaimana soal kasus perceraian kamu?" tanya Bagas kepada Bunga.


"Alhamdulillah Pak, semuanya sudah beres Pak. Saya dan juga Mas Ilham sudah resmi bercerai," jawab Bunga dengan santai.


Bagas melihat di raut wajah Bunga, tidak ada kesedihan sama sekali saat Bunga mengucapkan Jika dia dan Ilham telah berpisah. Dan itu membuat Bagas heran.


Bunga tersenyum, kemudian dia melipat tangannya di atas meja dan menatap keluar jendela. "Salah jika saya mengatakan tidak! Bohong Jika hati saya tidak sakit dan hancur. Tentu saja semua orang juga pasti akan sakit Pak, saat berpisah dengan seseorang yang pernah menjalani hidup bersamanya selama 4 tahun. Dan itu tidaklah mudah. 4 tahun waktu yang cukup untuk mengenal karakter satu sama lain, tapi ternyata waktu segitu juga belum cukup untuk menguji kesetiaan dan kesabaran dalam satu hubungan," jawab Bunga dengan tatapan sendu ke arah luar.


Mendengar itu Bagas merasa tidak enak. "Maaf ya, aku tidak bermaksud untuk menyinggung perasaanmu. Maaf jika kata-kataku tadi menyakiti hatimu," ucap Bagas dan langsung mendapat gelengan kepala dari Bunga.


"No problem, Pak. Saya sama sekali tidak sakit hati dengan ucapan Bapak. Semua itu adalah wajar, makanya untuk sementara ini saya menutup hati saya untuk pria manapun. Rasanya luka ini masih sangat basah Pak, sangat sulit untuk di sembuhkan."


Bagas paham dengan perasaan Bunga saat ini, dia ingin sekali merangkul wanita yang ada di hadapannya itu, mencoba memberikan kekuatan dan menyandarkan kepalanya di bahu kekar Bagas. Tapi sayang, dia tidak mempunyai banyak keberanian untuk itu.

__ADS_1


Tak lama makanan pun datang, kemudian mereka pun makan siang dalam diam hingga Bagas kembali membuka pembicaraan tentang Nara.


"Oh ya, lalu bagaimana dengan selingkuhan suamimu itu? Entah kenapa aku merasa selingkuhan suamimu itu juga bukan tipe kalau wanita yang setia," ujar Bagas sambil memakan makan siangnya.


Bunga yang mendengar itu seketika menghentikan makanannya, dia menatap Bagas dengan alis bertaut. Pasalnya apa yang dikatakan Bagas memang 1000% benar jika Nara bukanlah wanita yang setia, dia juga bermain api di belakang Ilham.


"Apa Bapak mengetahui sesuatu tentang dia?" tanya Bunga sambil menatap Bagas dengan tatapan menyipit.


"Tidak! Hanya tebakan saja," jawab Bagas dengan acuh. Namun Bunga tidak percaya, dia yakin jika Bagas mengetahui sesuatu.


"Saya tidak yakin jika Bapak tidak mengetahui sesuatu. Jika memang Bapak mengetahui sesuatu tentang dia, maka saya membenarkan jika memang wanita itu tidaklah Setia. Tapi itu bukan urusan saya! Selagi mereka tidak mengusik hidup saya, mereka aman. Maka karena itu dia masih aman, tetapi jika dia berani mengusik hidup saya mungkin saja kehancuran sudah ada di depan mata mereka saat ini juga," jelas Bunga sambil memakan makanannya kembali.


Bagas tersenyum mendengar ucapan Bunga, dia tidak menyangka wanita yang ada di hadapannya itu ternyata sangatlah berani dan juga tegas. Bagas pikir wanita seperti Bunga sedikit lemah dan tidak bisa melawan, tapi ternyata Bagas salah. Walaupun sebenarnya data-data sudah valid yang diberikan oleh anak buah Bagas, tetapi Bagas ingin membuktikannya sendiri.


Selesai makan siang mereka keluar dari restoran untuk menuju kantor, dan Bagas akan mengantarkan Bunga untuk ke kantornya. Namun baru saja beberapa langkah mereka keluar dari restoran, tiba-tiba suara seseorang yang menggelegar menghentikan langkah mereka.


"BUNGA...!" Panggil seseorang dengan nada membentak dan terlihat begitu geram. Bunga dan juga Bagas seketika menoleh ke arah belakang dan mereka cukup kaget saat mendapati orang itu berada di sana.


Sementara orang itu pun berjalan mendekat ke arah Bunga dan Bagas dengan tatapan tajam dan juga dada yang memburu menahan amarah, dan juga rasa tidak suka saat melihat Bagas dan juga Bunga bersama.

__ADS_1


Bersambung. . .......


__ADS_2