Penghianatan Suamiku

Penghianatan Suamiku
S2. Bab 157


__ADS_3

"Jadi, kenapa?" tanya Aurora kembali saat Justin menghentikan ucapannya.


"Sehari sebelum kita bertemu. Malamnya aku bermimpi bertemu dengan seorang wanita dan aku sedang menikahinya. Dan saat aku melihat wanita itu ... adalah kamu. Sedangkan aku sendiri pun tidak pernah bertemu denganmu atau mengenalmu. Jadi saat melihatmu di kantor, aku sangat yakin jika kita pasti berjodoh."


Aurora yang mendengar itu pun malah tertawa terbahak-bahak. Dia merasa lucu dengan penjelasan dari Justin, karena menurutnya mana mungkin bisa seseorang yang belum pernah bertemu pada akhirnya akan berjodoh.


"Kau ini ada-ada saja. Mana mungkin kau yakin kalau aku ini jodohmu? Sedangkan kita saja belum pernah bertemu."


"Mungkin saja. Sekarang kita dijodohkan, dan buktinya kita lagi berkencan. Tidak ada yang tidak mungkin bukan?"


Seketika Aurora menghentikan tawanya, yang dikatakan Justin memang benar, mereka tidak mengenal satu sama lain dan tiba-tiba saja Justin melamarnya. Berbarengan dengan itu juga, kedua orang tua Aurora menjodohkan mereka.


"Iya, mungkin memang bukan hanya sekedar mimpi. Tapi, terkadang memang mimpi hanyalah bunga tidur. Ya sudahlah ... sebaiknya kita makan dulu!" Aurora mulai memotong steak yang berada di piring.


Mereka juga sepakat untuk menjalani pendekatan tersebut, walaupun Aurora masih kesal pada pria itu.


"Bolehkah aku bertanya?"


"Hmm." Aurora hanya mengangguk sambil bergumam.


"Begini ... kemarin kau bilang bahwa masa laluku akan datang. Apa yang kau maksud itu? Siapa masa lalu itu? Dan kenapa kau bisa tahu?" Tatapan Justin kali ini sangat lekat dan menyempit.


Dia benar-benar penasaran dan masih terbayang-bayang dengan ucapan Aurora kemarin yang mengatakan bahwa masa lalunya akan datang, tentu saja Justin dibuat penasaran bagaimana bisa Aurora tahu tentang hal itu.


"Kenapa kau bertanya seperti itu? Anggap saja ucapanku itu adalah angin kentut yang lewat," celetuk Aurora dengan begitu cueknya.


"Aku heran, kenapa bisa dulu mantan suamimu itu bisa jatuh cinta kepadamu? Kau memiliki sifat yang barbar, di saat orang serius kau malah bercanda."


Seketika Aurora menghentikan makannya, dia menatap tak suka dengan ucapan Justin barusan. "Setiap manusia itu memiliki sifat masing-masing dan sifat itulah yang menjadi daya tarik. Aku tidak perlu merubah diriku menjadi anggun dan cantik, aku ingin tampil apa adanya."

__ADS_1


Setelah makan malam selesai, keduanya pun pulang. Akan tetapi, di tengah jalan tiba-tiba saja mobilnya Justin mogok. "Nih mobil kenapa sih? Baru juga kemarin diservis, sepertinya gue harus beli yang baru." gerutu Justin sambil memukul setirnya dengan kesal.


Dia keluar dari mobil untuk mengecek apa ada yang rusak, karena sedikit demi sedikit juga Justin mengetahui tentang mesin. Namun hujan kian deras, hingga pria itu pun akhirnya kebasahan karena tidak membawa payung.


Aurora merasa kasihan, dia pun segera turun dari mobil sambil membawa payung dan mendekat ke arah Justin. "Lo itu udah gila ya! Turun dari mobil nggak pakai payung."


"Ya mana gue tahu kalau hujannya bakalan deras. Tadi hanya gerimis saja. Lagi pun, bukankah bercinta di bawah guyuran hujan itu lebih seru, hm?" jawab Justin sambil mengusap wajahnya yang basah dengan tatapan mebggoda.


"Dasar wedan! Gimana? Apa yang rusak?" Aurora mengalihkan pembicaraan. Dia tak menimpali kekonyolan Justin.


"Sepertinya mesinnya. Sudahlah ... masuk dulu aja ke dalam mobil. Aku akan telepon bengkel langgananku dulu buat ke sini." Kemudian mereka pun masuk kembali ke dalam mobilnya lalu Justin menelpon temannya.


Cuaca terasa begitu dingin, terlihat Justin juga mulai kedinginan karena bajunya yang basah. Dia ingin membuka baju tetapi merasa tak enak karena di sampingnya ada Aurora. Namun, seketika ide jail muncul di benaknya.


"Eekhm! Apa kau tak mau membuat tubuhku ini hangat, hm? Rasanya aku akan masuk angin," ucap Justin sambil membuka kancing kemejanya.


Aurora menengok ke samping, lalu dia menoyor kepala Justin. "Singkirkan pikiran kotormu itu! Mau kau bertelanjang dada pun, aku tidak akan tertarik." Aurora melengos.


Kedua orang itu hanya diam saja tanpa berkata apapun lagi, tapi sejujurnya Justin ingin sekali bertanya soal mantan suami Aurora. Bagaimana mereka bisa meninggal, tetapi dia tidak ingin menyindir perasaan wanita tersebut.


"Haduh ..m lama banget sih!" gerutu Justin yang menunggu orang-orang bengkel temannya, tetapi tidak datang-datang.


Sementara Aurora sedang berselancar di sosial medianya, dan sesekali dia bertukar pesan dengan Anggi dan juga Rika, membuat Justin yang berada di sebelahnya merasa kesal karena diacuhkan oleh wanita itu.


Tiba-tiba saja tubuh Aurora seperti tersetrum, kemudian dia menegakkan tubuhnya dengan tatapan kosong, sementara Justin yang melihat itu pun merasa panik.


"Hey! Lo kenapa, Aurora?" panggil Justin sambil mengguncang tubuh Aurora, namun tidak ada reaksi dari wanita itu. "Astaga! Lo kenapa? Jangan kesurupan, wooy!" panggil Justin kembali.


Nafas Aurora terengah-engah, dia seperti habis berlari maraton, kemudian tatapannya membulat dan mulai berembun. "Papa ... aku harus menemui Papa!" panik Aurora.

__ADS_1


Dia hendak membuka pintu mobil, tetapi ditahan oleh Justin. "Lo mau ke mana? Ini lagi hujan, tadi lo kenapa sih bikin gue panik aja?"


"Aku harus ketemu Papa. Papa dalam bahaya. Aku harus ke kantornya," ujar Aurora masih dengan raut wajah yang sangat kepanikan.


"Hei! Lo lagi ngelindur ya? Tadi itu lo tiba-tiba bengong, gue panggil-panggil malah nggak nyaut. Sekarang lo bilang papa lo dalam bahaya? Lo ini mimpi atau kesurupan sih?"


Aurora tidak menjawab, dia segera menelpon mamahnya dan tak lama telepon pun tersambung. "Halo, assalamualaikum Mah. Mah ... Papa udah pulang belum?" tanya Aurora pada seseorang yang tak lain adalah Bunga, di seberang telepon sana.


"Belum nak. Papa masih di kantor katanya mungkin pulang telat karena masih ada kerjaan. Memangnya kenapa? Kok kamu terdengar panik begitu sih?"


"Astagfirullah, Mah! Papa dalam bahaya, mah."


"Dalam bahaya? Maksud kamu?"


"Aurora nggak bisa jelaskan sekarang. Aurora harus ke kantor papa, mah. Assalamualaikum." Wanita itu pun menutup teleponnya, bahkan dia tidak menghiraukan teriakan Bunga yang begitu penasaran dengan ucapan dari Aurora.


Begitu pula dengan Justin, dia menatap bengong dengan alis bertaut saat mendengar lanturan dari mulut wanita cantik tersebut.


"Kau ini kayaknya kurang obat deh. Tiba-tiba bilang papa lo dalam bahaya, sementara kita aja baru pulang dari restoran? Aneh banget sih." Justin menggerutu karena dia memang merasa bahwa Aurora sedikit tidak waras.


"Aku harus pergi sekarang. Maaf, kamu pulang sendiri ya." Aurora tidak menjawab celetukan Justin, karena saat ini yang ada di pikirannya adalah keselamatan sang papa. Dia segera keluar dari mobil di bawah guyuran air hujan yang deras.


Tentu saja Justin merasa tak tega walau ia bingung lalu Aurora menyetop taksi. Justin pun ikut masuk ke dalam. "Ngapain sih lo ikut?"


"Eh ... kata Tante Bunga juga gue harus nganterin lo dengan selamat."


"Jalan Pak!" Aurora tidak menjawab. Dia malah terlihat begitu gusar dan itu semakin membuat Justin merasa heran dan juga penasaran dengan sikap dari wanita itu.


Bahkan, beberapa kali Justin bertanya Aurora mengabaikannya, membuat pria itu akhirnya melengos dengan tatapan kesal. "Ayo Pak, lebih cepat lagi!" pinta Aurora kepada sopir taksi.

__ADS_1


'Ya Allah, selamatkanlah Papah. Lindungilah ia, ya Allah. Jangan sampai terjadi apa-apa padanya! Semoga aku tidak terlambat.' batin Aurora yang benar-benar dilanda kecemasan memikirkan keselamatan Papanya.


BERSAMBUNG......


__ADS_2