
Seperti biasa, Nadin mengawali hari dengan do'a dan semangat. Nadin juga berharap semoga saja hari semuanya berjalan lancar.
Nadin sudah samapi di depan swalayan.
"Mba Nadin, ayo cepetan masuk... "
"Ada apasih Na, ko kaya ketakutan banget?"
"Makannya ayo mba masuk, sepedanya taruh sini aja... " menarik tangan Nadin
Nadin meninggalkan sepedanya secara asal. Lalu mengikuti Nanda.
"Ada apa ini?" tanya Nadin
Nadin kaget melihat keadaan lantai dasar swalayan nya seperti kapal pecah, banyak pecahan gelas, piring, dan makanan ringan yang sudah tercecer di lantai.
"Ibu, dan anak ini ngaku-ngaku keluarganya mba, mereka belanja tapi ga mau bayar, pas kita tegur malah merekanya ngamuk... " jelas mba Dian dengan berbisik
"Eh, perempuan gatel, jangan pelit dong jadi orang, masa kita di sini suruh bayar, padahal ini juga ada hak anak saya.... " maki bu Siti
Nadin beristighfar, melihat tingkah sang mantan ibu mertua, orang yang selama ini di puja dan dihormati oleh banyak orang, ternyata memiliki sifat layaknya orang yang tak mempunyai adab dan ilmu.
"Iya mba, jadi orang tuh jangan medit, ntar kuburannya sempit....."
"Bu, bukankah saya sudah menjelaskan berkali-kali, kalo anak ibu tidak pernah memberi saya uang sepeser pun, jadi..... " terpotong
"Banyak ba***, kau mba..... " melempar gelas kaca ke arah wajah Nadin
"A...." teriak mba Dian ketakutan sembari menutup matannya
Nadin langsung menghindar.
Pyar.... gelas itu pecah di lantai.
"Jangan bergerak.... " suara polisi
"Cepat tangkap, dua orang itu... "
"Siap Ndan.... "
Dua orang polisi itu mendekat ke arah bu Siti dan Fani.
"Loh kenapa saya di tangkap, saya kan ga salah... " berontak bu Siti
"Anda kami tangkap atas laporan telah membuat onar.... ... " berhasil memborgol tangan bu Siti di belakang
Fani sama sekali tidak berontak saat akan di borgol. Jadi polisi mengira bahwa tidak papa kalo tangan Fani hanya di bergol di depan
"Silahlan pak bawa mereka.... " ucap Bagas yang sudah melaporkan keributan tadi ke polisi.
"Ya kami akan membawanya, kalo begitu, selamat pagi, dan selamat bekerja kembali...."
Ketiga polisi itu membawa bu Siti dan Fani pergi.
Namun siapa sangka, saat Fani melewati Nadin, dia menusukan pisau cutter berukuran sedang ke perut Nadin.
"Mampus kau mba.... " bisik Fani
Nadin hanya diam. Dia sedang merasa kesakitan di perutnya.
Saat ini Nadin mengenakan gamis hitam, jadi tidak ada yang menyadari kalo perutnya mengeluarkan darah.
Bruk. Nadin tak sadarkan diri.
"Mba Nadin.... " teriak Nanda
Bagas segera membopong tubuh Nadin, lalu membawanya ke rumah sakit.
...........
Rumah sakit....
Bagas membopong tubuh Nadin, dengan panik nya. Bagas sudah mengetahui ada darah yang menempel di gamis Nadin.
__ADS_1
"Suster tolong istri saya sus.... "
"Bapak tenang ya kami akan menolong istri anda dengan semua kemampuan kami... "
Nadin seger di bawa ke UGD.
Bagas segera mengurus pendaftarannya. Selesai mengurus pendaftaran, Bagas kembali ke depan UGD menunggu Nadin dengan perasan campur aduk.
Seorang suster keluar dari ruangan itu.
"Suster gimana keadaan istri saya?"
"Istri bapak butuh donor darah, dan ketersediaan stok darah kami sedang kosong.... "
"Golongan darahnya apa sus?"
"B min.... "
"Ambil punya saya saja sus... "
"Baik kalo begitu ikut saya... "
Bagas mengikuti suster itu.
Setelah melakukan serangkain tes, akhirnya darah Bagas bisa diambil.
..........
Bagas sudah kembali ke depan ruang UGD.
"Pak Bagas, gimana keadaan mba Nadin?" tanya mba Dian yang datang bersama bu Nana
"Saya belum tau, Nadin belum di bawa keluar...... "
Ceklek, pintu terbuka.
"Gimana dok keadaan anak saya?"
"Anak ibu Insyaalloh ga papa, dia hanya pingsan karena kekurangan darah dan untung nya segera di bawa kemari.... "
"Kalo gitu tolong di urus administrasinya dulu ya, agar pasien bisa di pindah ke kamar rawat........."
"Ia dok, terimaksih atas penjelasannya.... "
"Sama-sama, saya permisi dulu.... "
"Silahkan....."
Dokter itu pun pergi.
"Bu biar saya saja yang urus administrasinya...... " ucap Bagas yang langsung pergi
Nadin yang masih belum sadar di bawa keluar oleh dua suster.
"Administrasinya sudah du urus bu?"
"Sedang di urus sus.... "
"Kalo begitu kita tunggu ya, sampai selesai ngurus administrasinya dulu..... "
"Kenapa ga langsung di bawa ke kamar rawat aja dulu sus?" tanya mba Dian
"Karena kami kan belum tau pasien ini pasien madiri atau bukan dan juga mau di tempatkan di kelas berapa...."
"Apa semua rumah sakit sama?"
"Ya, setau saya begitu..... "
"Lalu bagaimana jika keluarga pasien tidak ada uang untuk membayar administrasi nya?"
Pertanyaan mba Dian ini membuat kedua suster itu diam. Mba Dian sebenarnya sudah tau apa jawabanya.
Ya jawabnya sudah pasti pasien akan terlantar tanpa adanya penanganan yang harus dilakukan. Atau bahkan yang lebih miris lagi, pasien di usir dari rumah sakit.
__ADS_1
"Sus ayo segera bawa istri saya ke kamar rawat, saya sudah selesai mengurus administrasinya..... "
Ucapan Bagas memecah keheningan yang ada.
"Baiklah ayo.... "
Nadin pun di bawa ke kamar rawat kelas VIP.
Nadin di tempatkan di kamar nomor 4 lantai 3, yang merupakan lantai pasien kelas atas.
"Ini resep obat untuk istri bapak, tolong segera di tebus ya pak...."
"Terimakasih sus...."
"Sama-sama, kalo begitu kami permisi dulu...."
"Silahkan.... "
Sekarang tinggal Bagas, bu Nana, mba Dian dan Nadin yang masih belum sadar di ruangan itu.
"Na Bagas, ibu berterima kasih sekali, karena na Bagas sudah menolong dan membawa Nadin ke rumah sakit.... "
"Bukankah tolong menolong itu wajib selama dalam hal kebaikan bu?"
"Ya, na Bagas benar.... "
Nadin mulai sadar, dia mengerjap-ngerjap kan matanya.
"Ibu.... "
"Ya sayang ibu di sini, mana yang sakit?"
"Perut bu..... "
"Ya ialah mba, kan emang yang di tusuk oleh si ulat jaran itu bagian perut.... " sahut mba Dian
Nadin hanya tersenum.
"Duh senyummu loh Din, bikin jantung ga aman.... " suara hati Bagas
"Ehemmm, karena Nadin sudah sadar, saya mau pamit pulang dulu ya bu...."
"Oh, ia na Bagas silahkan....... "
"Assalamu'alaikum..... "
"Wa'alikumsalam.... "
Tinggalah mba Dian dan bu Nana yang menjaga Nadin.
Bu Nana segera membantu Nadin untuk berganti pakaian.
Saat mba Dian datang ke rumah Nadin, mba Dian meminta bu Nana untuk membawa baju ganti sekalian untuk Nadin.
"Nadin mba pulang dulu ya.... "
"Sebentar mba...."
"Bu, ibu pulang saja ya bu, Nadin ga usah di tungguin, kan banyak suster......"
"Tapi na..... "
"Nadin mohon ibu, ibu istirahat di rumah aja"
"Kamu yakin?"
"Yakin ibu ku yang cantik.... "
Bukannya Nadin tak ingin di jaga oleh ibunya, namun dia menghawatirkan kondisi ibu nya yang akhir-akhir ini sering sakit-sakitan.
"Ya sudah kalo gitu ibu pulang.... "
"Ya, mba Dian tolong antar ibu ya!! "
__ADS_1
"Siap mba Nadin, ayo bu.... "