Penghianatan Suamiku

Penghianatan Suamiku
Rebutan


__ADS_3

Happy reading........


Malam ini sesuai dengan ucapannya Ardi, dia menjemput Bunga di apartemennya. Dan Bunga juga sudah siap dengan gaun yang diberikan Ardi kepadanya, dengan dandanan yang tidak terlalu menor namun terkesan elegan dan juga sangat cantik memukau. Bahkan bisa dikategorikan jika nanti Bunga akan memikat semua mata.


Bel apartemen Bunga berbunyi, dan dia sangat yakin jika itu Ardi. Dengan langkah pelan Bunga menghampiri pintu, lalu membukanya. Dan benar saja, saat ini yang berdiri di depan pintu apartemennya adalah Ardi, sahabatnya.


Ardi begitu terpana melihat kecantikan Bunga, sampai-sampai dia tidak berkedip dengan mulut sedikit terbuka. Dia tidak menyangka gadis SMA yang lugu, sekarang menjelma menjadi Bidadari yang amat sangat cantik, bahkan tidak bisa digambarkan cantiknya seperti apa hingga membuat jantung Ardi berdebar kencang.


"Di... Hello, Ardi..." Panggil Bunga sambil mengibaskan tangannya di depan wajah Ardi, dan seketika pria itu pun tersadar dari keterpanaannya.


"Ah iya, sorry. Kamu benar-benar cantik, aku sampai pangling melihat kamu. Kamu itu seperti bidadari yang baru saja turun dari khayangan, cantiknya benar-benar tidak bisa digambarkan," puji Ardi kepada Bunga.


Bunga yang mendapat pujian dari Ardi, seketika marona malu. Dia benar-benar tersanjung dengan ucapan Ardi, pasalnya pria itu tidak pernah memujinya sejak SMA, dan baru kali ini Ardi memuji kecantikannya setelah sekian lama tidak bertemu.


"Bisa aja kamu Di, mujinya. Sudahlah jangan dipuji terus, nanti aku terbang loh. Kalau nanti jatuh nggak ada yang nangkep," ledek Bunga sambil terkekeh, kemudian mereka pun pergi ke pesta.


Ardi mengulurkan lengannya kepada Bunga, agar wanita itu menggandeng lengannya. Bunga yang mengerti pun segera mengulurkan lengannya lalu menggandeng tangan Ardi untuk pergi ke pesta.


Selama dalam perjalanan Ardi tidak hentinya terus melirik ke arah Bunga, karena dia benar-benar terpana dengan kecantikan wanita yang ada di sampingnya itu.


Setelah mereka sampai di tempat acara, Ardi membukakan pintu mobil untuk Bunga, lalu kembali mengulurkan lengannya dan langsung disambut oleh Bunga. Keduanya pun berjalan memasuki gedung acara yang terlihat sangat mewah dan megah.


Di gedung itu memang sedang diadakan acara pertemuan antara pebisnis pebisnis muda dan juga hebat, dan Ardi mewakili Papahnya untuk datang ke acara itu, karena kebetulan Ardi juga masih berada di Indonesia dan belum pulang ke luar negeri karena ada beberapa urusan yang belum kelar di sana.

__ADS_1


Benar saja dugaan Ardi, jika Bunga menjadi pusat perhatian semua orang, bahkan para CEO muda. Mereka bahkan tak henti menatap Bunga.


Ardi pun memperkenalkan Bunga kepada teman-teman bisnis yang ada di sana yang dia kenal, dan mereka bilang jika Bunga sangatlah cocok dengan Ardi. Bahkan ada beberapa dari mereka yang mengira Jika Bunga adalah istrinya Ardi.


Setelah acara pengenalan, Ardi mengajak Bunga untuk mengambil minuman dan duduk di sebuah kursi. Mereka berdua tidak sadar dari kejauhan ada seorang pria yang menatap mereka dengan tatapan tidak suka, tatapan yang memancarkan Aura cemburu melihat kedekatan Ardi dan juga Bunga.


'Oh, jadi ini alasan kamu menolak aku Bunga? Jadi Ardi lah yang mengajak kamu terlebih dahulu? Rupanya aku kalah cepat oleh Ardi,' batin Bagas sambil menatap ke arah Bunga dan Ardi.


Bagas menghela nafasnya, kemudian dia berjalan mendekat ke arah meja di mana Bunga dan juga Ardi sedang duduk dan minum. "Oh, ternyata kalian ada di sini juga?" ucap Bagas sambil menarik kursi dan duduk di hadapan Ardi dan Bunga.


Bunga yang sedang meminum minumannya seketika mendongkak, dan dia sangat kaget saat melihat jika Bagas ada di sana. Seketika Bunga pun tersedak minumannya.


Uuhuukk....


Ardi segera menepuk pelan punggung Bunga, membuat wanita itu sedikit lebih baik. "Terima kasih," ucap Bunga sambil mengelap mulutnya dengan tisu, kemudian dia menatap Bagas dengan tatapan Canggung.


'Ya ampun, kenapa aku tidak kepikiran Pak Bagas ada di sini? Sudah pasti dia ada di sini, kan dia juga pembisnis. Aduh Bunga, bodohnya kamu! Kenapa bisa secanggung gini sih? Aku kan merasa tidak enak sudah menolak ajakannya, dan sekarang malah pergi bersama adiknya,' batin Bunga merutuki kebodohannya sendiri.


"Eh Pak Bagas, ternyata Bapak di sini juga?" ucap Bunga dengan nada canggung, dan langsung dibalas anggukan dan senyuman oleh Bagas.


"Iya, tadinya sih aku ngajak seorang wanita. Cuman dia bilang sudah ada janji dengan orang lain, jadi aku pergi sendiri saja!" Jawab Bagas sedikit menyindir.


Bunga menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal, dan Ardi bisa melihat kecanggungan di wajah Bunga saat Bagas datang. Apalagi Ardi dapat melihat tatapan Bagas yang terus tertuju kepada Bunga.

__ADS_1


"Kak, lo jangan liatin Bunga seperti itu dong! Gue tahu kok dia itu cantik malam ini, bahkan lebih cantik dari bidadari," Puji Ardi sambil menepuk bahu Kakaknya.


"Iya, dia memang sangat cantik. Bahkan Bidadari saja kalah," ucap Bagas sambil menatap unga dengan Tatapan yang dalam.


Setelah pertemuannya dengan Bagas, Bunga benar-benar merasa tidak enak. Dia tidak tenang dan terus saja gelisah. Entah kenapa hatinya terasa mengganjal saat melihat tatapan Bagas yang tidak suka dia jalan bersama dengan Ardi.


Tepat jam 11.00 malam acara pun selesai, Ardi pun mengajak Bunga untuk pulang, tapi saat mereka sampai di parkiran, tiba-tiba Bagas menghentikan langkah mereka.


"Kalian mau pulang?" tanya Bagas dan langsung dibalas anggukan oleh Ardi.


"Iya Kak, Kakak juga mau pulang kan?" tanya Ardi balik.


"Iya, dan bukannya malam ini kamu harus ke Surabaya ya? Kalau gitu Bunga biar aku saja yang ngantar," tawar Bagas, namun Ardi segera menggeleng.


"Tidak apa, Kak. Lagi pula masih 1 jam lagi. Aku bisa mengantar Bunga pulang dulu ke apartemennya, baru nanti aku akan langsung pergi ke Surabaya," jawab Ardi dan langsung menarik tangan Bunga untuk masuk ke dalam mobil. Tapi satu tangan Bunga lagi malah ditahan oleh Bagas, hingga membuat langkah wanita itu terhenti begitupun dengan Ardi.


"Kamu jangan suka menunda-nunda pekerjaan. Tidak apa, Bunga aman bersamaku. Aku akan mengantarnya pulang, dan kamu bisa langsung ke Surabaya!" paksa Bagas membuat Ardi sedikit heran dengan kakaknya itu.


"Tidak apa, Kak. Nanti saja!" Jawab Ardi lalu menarik tangan Bunga, namun Bagas tidak melepaskan tangan Bunga yang satunya. Dia pun menarik tangan Bunga lagi hingga kedua pria itu saling menarik satu sama lain.


'Astaga... Kenapa jadi begini sih? Kenapa aku seperti boneka saja yang diperebutkan?' batin Bunga merasa pening, karena badannya ketarik kanan dan kiri oleh dua pria tampan yang ada di sampingnya.


'Kenapa aku harus berada di posisi seperti ini? Di antara dua pria yang tampan dan juga mapan! Aduh Author... Kamu jahat sekali, memposisikan diriku seperti ini? Apa Kamu sengaja membuatku seperti boneka?' batin bunga merasa geram dengan Author Aisyah Az.

__ADS_1


Bersambung. . ........


__ADS_2