
Happy reading.....
Pandangan mereka terpaku satu sama lain saat Pria itu menyelamatkan Tina, dan beberapa detik kemudian tatapan itu harus terhenti saat mendengar suara Bunga. ''Tina, kamu tidak papa?'' tanya Bunga saat melihat Tina hampir saja celaka.
Tina pun langsung melepaskan tubuhnya dari pelukan Pria itu. ''Tdak papa,'' jawab Tina sambil merapikan bajunya yang berantakan, lalu dia menatap kearah Pria yang berada di sampingnya yang beberapa detik menyelamatkan dirinya dari musibah.
''Terima kasih ya, Tuan, nda sudah menyelamatkan saya mungkin. Jika anda tadi tidak menyelamatkan saya, saya sudah---''
''Lain kali jalan itu jangan melamun! Masih untung tadi aku melihatmu. Jika tidak, mungkin kepalamu sudah benjol?'' Lelaki itu memotong ucapan Tina, dan membuat wanita itu seketika merasa kesal.
Tina ingin membalas ucapan Pria itu, tetapi di urungkannya, karena saat ini Ttina sedang malas untuk berdebat dengan siapapun. Mood nya benar-benar hancur hari ini, sehingga dia pun tidak fokus untuk berjalan.
Bunga sebenarnya merasa heran kepada sahabatnya itu, sebab tidak biasanya Tina berjalan tanpa melihat ke arah depan. Dia merasa jika sahabatnya itu tengah menyimpan sesuatu yang besar, dan itu membuat Bunga penasaran.
''Tuan Riko, terima kasih ya sudah menyelamatkan sahabat saya,'' ucap Bunga kepada Riko.
Ya, Pria yang baru saja menyelamatkan Tina adalah Riko. Tadi dia melihat jika Tina berjalan sambil melamun, sehingga saat Tina menabrak troli yang berisi kardus-kardus yang menumpuk dengan tinggi, Riko pun dengan spontan melindungi tubuh Tina.
**********
Sore hari pun telah tiba, saat ini Mentari baru saja beres-beres di cafe karena dia akan pulang. Sebab sift kerjanya sudah habis dan digantikan oleh temannya. Setelah selesai mengganti bajunya, Mentari pun keluar dari ruang ganti dan pergi meninggalkan cafe.
__ADS_1
Saat Mentari sedang menunggu angkot, tiba-tiba ada sebuah mobil yang berhenti di depannya lalu kaca mobil itu pun diturunkan, dan saat Mentari melihat ternyata yang mempunyai mobil itu adalah Ardi, bosnya sendiri.
''Ayo masuk!'' ajak Ardi sambil membuka pintu mobil kepada Mentari, tapi wanita itu menggeleng. ''Tidak Tuan, terima kasih. Saya naik angkot saja,'' jawab Mentari menolak ajakan Ardi. Sebab, dia merasa tidak enak jika nanti ada Melisa yang melihat dirinya.
''Sudah jangan menolak, ini mau hujan dan angkot pun belum tentu datang? Sekarang masuk! Daripada kamu kehujanan?'' Mentari melihat ke arah langit yang sudah sangat mendung dan sebentar lagi pasti akan hujan deras, sebab rintik-rintik hujan pun sudah mulai menetes membasahi bumi. Mau tidak mau, Mentari pun masuk ke dalam mobil Ardi.
Pria itu tentu saja sangat senang saat Mentari masuk ke dalam mobilnya, kemudian dia mulai melajukan mobilnya membelah jalanan yang mulai diguyur oleh hujan. Untung saja Mentari sudah masuk ke dalam mobil Ardi, karena telat sedikit saja mungkin dia akan basah kuyup saat menunggu angkot.
Tidak ada pembicaraan di dalam mobil, Mentari sungkan untuk mengangkat suara walaupun sebenarnya dia dan Ardi sudah mengenal cukup lama. Akan tetapi, Mentari masih terlihat canggung dan terasa begitu sukar untuk bertanya kepada Bosnya itu.
''Mentari ....''
Mereka berucap bersamaan, hingga membuat keduanya pun terkekeh. ''Kamu duluan!'' ucap Ardi, namun Mentari menggeleng. ''Tidak Tuan! Tuan saja duluan.'' Mereka saling melempar satu sama lain tentang siapa yang akan mengangkat suara duluan, dan pada akhirnya Mentari mengalah, lalu dia pun bertanya kepada Ardi. ''Tuan sendiri, kenapa jam segini sudah pulang dari kantor? Dan kenapa tadi ada di depan Cafe?'' tanya Mentari dengan penasaran.
''Iya, memang sudah tidak ada kerjaan lagi di kantor, dan kebetulan apartemen saya sejalan dengan cafe. Jadi, saya tidak sengaja melihat kamu sedang berdiri di jalan tadi, dan tidak ada salahnya bukan jika saya mengajak kamu pulang bareng?'' bohong Ardi. Padahal dia sengaja lewat depan Cafe, karena dia tahu saat ini shift Mentari sudah habis dan akan pulang.
Gadis itu hanya beroh-ria saja, dan saat terjebak macet Ardi bertanya kepada. ''Mentari, oh iya besok malam kamu ada acara tidak?'' tanya Ardi kepada Mentari.
Wanita itu nampak berpikir sejenak, kemudian dia menggeleng. ''Tidak Tuan! Saya tidak ada acara. Memangnya kenapa, Tuan?'' tanya Mentari dengan penasaran sambil menatap ke arah Ardi.
''Bisa tidak, kamu tidak usah memanggilku dengan Tuan? Sudah berapa kali saya meminta kamu untuk memanggil saya dengan sebutan nama jika di luar kerjaan.'' Ardi berucap sambil memarkirkan mobilnya di pinggir jalan, kemudian dia menatap ke arah Mentari.
__ADS_1
Gadis itu pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal saat mendengar ucapan Ardi. Dia ingat, jika Ardi pernah memintanya untuk tidak memanggil dengan sebutan 'Tuan' saat berada di luar jam kerja, dan Gadis itu sudah terbiasa memanggil Ardi dengan sebutan 'Tuan'. Jadi, di luar jam kerja pun Mentari terbawa oleh kebiasaannya.
''Maafkan saya, Kak Ardi. Lalu, kenapa Kak Ardi bertanya soal acara? Memangnya ada apa?'' tanya Mentari dengan mata menyempit ke arah Ardi.
''Begini, besok adalah hari ulang tahun sahabat saya, dan di sana ada party yang mengharuskan untuk membawa pasangan. Jadi, saya meminta kamu untuk menemani saya ke acara itu!'' pinta Ardi dengan wajah memohon kepada Mentari.
Gadis itu terdiam, dia merasa bukanlah siapa-siapa untuk menghadiri party dari kalangan orang atas. Namun Ardi meyakinkan Mentari jika di sana dia hanya akan menemani Ardi saja, dan Ardi juga akan memberikan baju dan membawa Mentari ke salon untuk dirias.
Melihat penolakan dari Mentari, Ardi tidak habis akal. Dia terus membujuk Mentari, dan pada akhirnya wanita itu pun setuju untuk menemani Ardi ke pesta, dan setelah mendapat persetujuan dari Mentari mobil pun melaju kembali membelah jalanan yang diguyur hujan deras.
Sementara itu, di kediaman Anjasmara. Bunga, Bagas, Aurora, Tina dan juga Riko baru saja sampai. Kebetulan Tina menemani Bunga berbelanja sampai sore, dan itu permintaan dari sahabatnya. Karena Bunga tahu, Tina pun tidak akan pernah fokus bekerja jika pikirannya tidak sedang baik-baik saja.
Bunga mengajak Tina ke taman belakang, duduk di sebuah gazebo. Setelah itu Bunga meminta pelayan untuk membawakan minuman dan cemilan ke sana. Dia akan berbicara dari hati ke hati bersama dengan Tina. Karena dia tahu, saat ini sahabatnya itu tengah mempunyai masalah, dan sebagai sahabat yang baik Bunga tentu saja harus menjadi tempat keluh kesah bagi Tina.
''Aku tahu, ada yang sedang kamu pikirkan saat ini? Tina, aku ini sahabat mu. Aku sangat mengenal dirimu, dan jika kamu tidak keberatan, tolong kamu ceritakan masalah kamu sama aku. Setidaknya mungkin aku bisa mencari jalan keluarnya untuk masalah kamu, atau jika aku tidak bisa menemukan jalan, maka setidaknya perasaan kamu lebih enak bukan?'' Bunga berucap sambil memegang kedua tangan milik Tina, dia mencoba berbicara kepada sahabatnya.
Tina yang mendengar itu menghela nafasnya dengan kasar, kemudian dia menatap ke arah Bunga dengan tatapan yang sendu. Tersirat rasa yang begitu dalam di kedua mata milik Tina, dan tersirat rasa sakit namun juga rasa bingung. Itu terlihat jelas di mata Bunga.
''Ceritalah! Aku akan mendengarkan semua keluh kesahmu,'' ujar Bunga sambil mengelus tangan Tina dengan lembut.
Bersambung......
__ADS_1