
"Keputusan apa, Pah?" tanya Aurora dengan dada berdebar.
Entah kenapa saat ini perasaannya mendadak tak enak, saat mendengar kata keputusan yang begitu ambigu, membuatnya berpikir yang macam-macam.
"Papa akan memperkenalkanmu dengan anak dari sahabat papa. Dan Papa berharap kamu dan dia cocok."
DEGH!
"Apa! Jadi, maksudnya papa, aku mau dijodohkan? Begitu?" Bagas langsung mengangguk, "iya, dan kamu tidak bisa menolak. Sebab ini adalah keputusan mutlak papa!"
Aurora mengangkat alisnya dengan mulut menganga, "tapi Pah--"
"Papa sudah ambil keputusan, Aurora. Dan lagi pula, dia pria yang baik. Papa tidak mungkin menjerumuskanmu ke dalam jurang."
Mendengar penuturan sang Papa Aurora hanya bisa diam dan pasrah. Dia akan melihat seperti apa laki-laki yang dijodohkan dengannya nanti malam, dan setelah selesai dia pun keluar dari kantor tersebut untuk menemui Anggi.
Mereka sudah janjian di sebuah Cafe, dan saat sampai di sana ternyata Anggi dan Rika sudah sampai karena keduanya memang hari ini tidak masuk kantor.
"Kenapa wajah lo kusut gitu? Gimana interview kerjanya, lancar?" tanya Rika sambil mengaduk minumannya.
"Lancar dari Hongkong. Yang ada, gue mau dilecehin," balas Aurora sambil mendaratkan bok-ongnya di kursi.
"Apa! Mau dilecehin? Kok bisa?" tanya Rika dan Anggi bersamaan sambil menegakkan tubuhnya dan menatap kaget ke arah Aurora.
Wanita itu mengangguk, lalu dia pun menjelaskan apa yang terjadi di kantornya Justin dan bagaimana perdebatan sengitnya dengan pria tersebut. Tidak lupa, Aurora juga mengungkapkan tentang dia yang menendang pusaka milik pria tampan tersebut.
Kedua sahabatnya malah tertawa saat mendengar ulah dari Aurora. "Hahaha! Lo itu benar-benar superhero ya. Gimana kalau terjadi apa-apa sama pusaka dia? Nanti kalau nggak bisa nyelup lagi, bisa berabe," kelakar Anggi.
"Biar aja. Lagian suruh siapa dia macam-macam denganku."
__ADS_1
"Tapi, kalau seperti itu gue takut deh, Ra." Rika memasang wajah cemasnya.
"Takut kenapa?" Aurora menyipitkan mata sambil meminum jus milik Anggi.
"Gue takut kalau dia akan mencari tahu tentang lo. Dari yang lo bilang tadi ... kan sudah pasti dia bukan orang sembarangan. Bagaimana kalau dia bisa menemukan siapa ya jati diri lo sebenarnya?"
Aurora malah tertawa, dan itu membuat Rika dan Anggi merasa penasaran, karena Anggi pikir pun tidak ada yang salah dengan ucapan temannya apalagi dengan kecemasannya.
"Eh bintang Kejora. Kok lo malah ketawa sih? Gue lagi ngomong serius ini. Emangnya ada yang lucu?" kesal Rika sambil menekuk wajahnya.
"Lo lupa siapa orang tua gue?" sombong Aurora dengan raut wajah yang begitu menyebalkan. "Dia tidak akan semudah itu mendapatkannya. Tapi kalau dia cerdik mungkin dia akan tahu identitas gue. Mungkin data yang didapatnya itu palsu, tapi sekeras apapun itu ... tidak akan pernah bisa mendapatkan identitas asliku. Kecuali, memang dia menyewa detektif yang handal di dunia ini."
Anggi dan Rika mengangguk serempak. "Lo itu emang beruntung ya, mempunyai orang tua yang jenius. Ditambah, lo juga terlahir dari keluarga kaya raya."
Namun seketika wajah Aurora mendadak menjadi sedih, membuat Rika dan juga Anggi saling menyenggol satu sama lain. "Lo kenapa lagi? Kok wajahnya kayak sedang menyimpan luka begitu sih?"
"Menurut kalian, gue harus apa?" Aurora meminta solusi kepada kedua sahabatnya itu.
Terlihat Anggi dan juga Rika mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di atas meja, sedang memikirkan cara dan juga solusi terbaik untuk teman mereka. Kedua raut wajah wanita itu terlihat begitu serius, karena ada kalanya mereka bercanda dan ada kalanya mereka serius dalam menanggapi masalah.
"Kalau menurut gue sih, lo terima aja. Lo lihat dulu lah siapa laki-laki itu! Kalau memang dia cocok dan lo sreg, kenapa nggak?" Rika berkata sambil mengangkat kedua bahunya.
"Gue setuju sama usul madunya Rhoma. Sebaiknya lo kenal dulu aja sama dia, baru nanti lu ambil keputusan, karena gue juga yakin Om Bagas maupun Tante Bunga tidak akan pernah memaksa jika lo sendiri pun tidak mau. Tapi ada baiknya sih lo kasih waktu."
"Maksudnya?" tanya Aurora dengan bingung.
"Ya, maksud gue, waktu penjajakan atau pengenalan satu sama lain. Misalnya nih ... lo kasih jangka waktu 1 atau 2 bulan dalam masa pengenalan karakter satu sama lain, setelah kalian mengenal ya sudah, terserah setelah itu mau ke jenjang yang lebih serius atau membatalkan Perjodohan. Lo harus memberikan syarat seperti itu! Ya, itu sih masukan dari gue ya," ucap Anggi.
Aurora nampak menimbang masukkan dari kedua sahabatnya. Dia mengangguk-anggukkan kepalanya dengan kecil. "Lo benar semanggi. Sepertinya gue harus melakukan itu."
__ADS_1
Setelah ketiganya bercengkrama, mereka pun pulang, ditambah Aurora juga rasanya sudah sangat lelah dan dia ingin segera kembali ke rumah. Apalagi pagi-pagi sudah dibuat hancur moodnya oleh Justin.
.
.
Malam ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Bagas, bahwa mereka akan kedatangan tamu spesial yang akan dijodohkan dengan Aurora. Dan wanita itu diminta untuk memakai pakaian yang sangat cantik dipadu dengan make-up natural.
"Nggak usah medok-medok sih, Mah. Aku ingin tampil apa adanya aja," ujar Aurora saat Bunga sedang mendandaninya.
"Tidak. Mama tidak ingin mendandani kamu terlalu tebal. Tapi mama berharap, kamu sama dia akan berjodoh." Aurora tidak menjawab, dia hanya tersenyum tanpa menganggukan kepalanya. Karena wanita itu pun masih ragu, apakah ia memang akan berjodoh dengan pria yang akan ditemuinya atau tidak.
Setelah selesai berdandan, dia pun turun bersama Bunga menuju lantai bawah di mana saat ini Bagas dan juga Arjuna sudah menunggunya.
"Aurora, di depan sahabat papa nanti, kamu jaga etitude yang baik ya! Jangan barbar. Ingat!" tegas Bagas.
"Iya Pah, tapi apa mereka sudah tahu tentang statusnya Aurora, bahwa Aurora sudah pernah menikah bahkan pernah mau menjadi ibu?"
Bagas menganggukan kepalanya, dia sudah menceritakan semua tentang hidup Aurora kepada sahabatnya, karena Bagas selalu memegang teguh kejujuran dan dia tidak ingin ada yang ditutup-tutupi.
Begitu pula dengan Aurora, dia tidak ingin orang tuanya sampai menutupi tentang statusnya yang sekarang sudah menjadi janda. Karena Aurora pikir lebih baik jujur tapi menyakitkan, tetapi bohong malah pada akhirnya akan berubah menjadi api.
"Itu ... sepertinya mereka sudah datang. Ayo kita sambut," ucap Bunga.
Kemudian mereka pun berjalan menuju ruang tamu dan akan menyambut orang yang sangat spesial. Sementara Aurora hanya diam sambil menatap lekat ke arah pintu utama, karena dia memang penasaran siapa pria itu dan bagaimana rupanya.
'Sebaiknya nanti aku bicara di meja makan saja untuk usul yang diberikan Anggi tadi siang.' batin Aurora.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1