Penghianatan Suamiku

Penghianatan Suamiku
# 6


__ADS_3

Nadin juga menawar harga, setelah harganya di sepakati, Nadin berbicara ke ibu nya tetang rumah itu.


Bu Nana setuju, dengan kenginginan anaknya.


Merekapun segera bersiap-siap untuk pindahan, karena para tetangga yang juga terkena proyek pelebaran PLTU juga sudah pada pindah.


.............


Pagi harinya, Nadin mulai menata barang-barang ke atas mobil bak begitupun ibu nya, sang paman juga turut membantu mengangkuti barang.


"Yu mba, Din naik.... " ucap om Hamzah, yang berperan sebagai supir mobil bak


"Siap...."


Nadin dan ibu nya menaiki mobil bak itu. Ya mereka semua ada di depan.


Mobil bak itu melaju membelah jalanan.


Nadin, ibu dan om nya sudah samapai di tempat tujuan, yaitu perumahan Kencana, yang terletak di pelosok desa.


Perumahan ini memang di buat khusus untuk orang-orang yang menginginkan ketenangan dari hingar bingar kota.


Nadin segera turun di ikuti oleh om dan ibu nya.


Seorang laki-laki beepostur tubuh tinggi, dan gagah sudah menunggu kedatangn mereka.


Nadin segera menghampiri laki-laki itu.


"Selamat pagi, apa benar ini dengan bapak Bagas?" tanya Nadin ke laki-laki itu


"Loh kamu Nadin kan?" tanya laki-laki itu


Nadin mendongokan kepalanya untuk melihat siapa sebenarnya laki-laki itu.


"Kaka nya Naila ya?"


"Iya, jadi kamu yang beli rumah nomor 14 itu?"


"Iya, wah jadi anda pemilik perumahan ini?"


"Bukan saya, saya hanya membantu pemiliknya untuk menjualnya......"


"Oh berarti anda jadi maklar ya?"


"Bisa di sebut seperti itu, eh kenapa malah jadi ngobrol, mari saya anter ke rumahnya.... "


"Ya.... "


Nadin mengajak om dan ibunya untuk melihat rumah yang akan di tempati.


Selesailah mereka berkeliling rumah itu, ya ternyata sesuai yang ada di iklan.


Selanjutnya, Nadin, ibu serta om nya menurunkan barang-barang itu.


"Din, ini kunci rumah nya ya....." menyerahkan kunci rumah


"Makasih pak.... " menerimanya

__ADS_1


Tentu saja tangan Nadin berada di bawah agar tidak bersentuhan.


"Emang saya udah setua itu apa, ko panggil pak?"


"Lah, terus saya harus manggil sayang gitu?" nada bercanda


"Boleh, panggil mas juga boleh.... "


"Hem panggil....." terputus


"Panggil suamiku aja Din, bukannya bantuin malah mesra-mesraan di sini.... " dengus om Hamzah


"Dih, si om sewot aja, iya nih Nadin bantuin...."


Nadin menghampiri ibunya yang sedang memindahkan peralatan makan dan memasak.


Kemudian Nadin membantu sang ibu memindahkan barang-barang yang ringan.


................


Sudah satu minggu Nadin berada di rumah barunya. Satu minggu itu pula dia me non aktifkan hp nya.


Hari ini Nadin berencana untuk mengajukan gugatan cerainya di pengadialan agama.


"Bu, Nadin berangkat dulu ya.... "


"Emang kamu sudah punya berkas berkasnya?"


"Sudah bu, kan kemarin saat Nadin bekerja ke luar negri, kk dan lainya di tahan untuk jaminan di yayasan, jadi sekrang udah ada sama Nadin lagi.... "


"Oh begitu, terus kamu ke pangadilan sama siapa?"


"Yaudah hati-hati ya.... "


"Siap bu, Nadin berangkat asslamau'alaikum" mencium tangan ibunya


"Wa'alikumsalam.... "


Nadin harus berjalan sekitar 100 meter untuk bisa samapi di jalan raya. Setelah samapi jalan raya barulah bisa menemui angkutan umum.


Sekarang Nadin sudah sampai di jalan raya, dan dia sedang menunggu angkot.


Nadin segera menghentikan angkot yang lewat.


"Ayo mba masuk..... " ucap sang kenet


Nadin segera masuk. Ternyata di dalam angkot itu, sudah sesak dengan penumpang, dan rata-rata penumpangnya adalah nenek-nenek yang akan pergi ke pasar pusat untuk menjual hasil panennya.


Akhirnya Nadin memilih untuk berdiri di dekat pintu saja.


45 Menit kemudian, Nadin sudah berada di kantor pengadilan agama, dia langsung saja masuk.Lalu menuju bagian informasi, setelah nya dia menuju bagian pendaftaran.


Nadin di tanyai kenapa mita cerai, di menjawab karena tidak pernah di beri nafkah dan ketika di tinggal kerja suaminya malah nikah lagi tanpa ijinnya.


Pihak pengadilan mengabulkan gugatan Nadin, dan sidang pertama akan di gelar tiga minggu lagi.


Nadin berucap syukur. Kemudian ia keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


Nadin ta langsung pulang dia ingin mampir ke pusat perbelanjan di kota itu.


Tak perlu menaiki angkutan untuk sampai di pusat perbelanjan, karena jaraknya yang hanya 10 meter dari kantor agama.


Sekarang Nadin sedang memilih-milih gamis.


"Nadin..... "


Nadin yang merasa dirinya di panggil langsung menengok ke belakang. Namun setelah tau siapa orangnya, Nadin langsung membuang muka.


"Nadin mas minta maaf, tolong jangan gugat mas...."


"Terlambat, tunggu saja 3 minggu lagi surat undangan sidang untukmu akan datang, saya harap anda tidak akan mempersulitnya....." Nadin berucap denagn suara dingin


"Udahlah mas, orang kaya dia ga usah di pertahankan...... " ucap Fani dengan ketus


"Benar kata istri anda, orang seperi saya memang tidak pantas untuk orang seperti anda"


"Oh ya, ingat ya saya akan mengambil hak saya, semoga setelah saya mengambil hak saya istri anda yang cantik ini masih mau dengan anda" tegas Nadin dengan tangan di lipat di depan dada


Nadin sengaja memancing amarah dua orang itu.


Adnan hanya diam, dengan hati yang tak tenang. Ya dia sedang bimbang, pasti setelah Nadin mengambil hak nya, istri cantiknya tak akan mau lagi bersamanya, ya dia sangat matre.


"Ga, kau tak akan bisa mengambil apapun milik suamiku"


"Oh ya, milik suamimu? kau yakin?, hem tidak papa sih kalo kamu mau mengakuinya, paling juga ga sampai seminggu lagi tuh toko bangkrut...." ucap nya dengan sanati


"Apa maksud mu?"


"Tanya saja pada suami tercintamu itu, semoga jangan menyesal ya, dah ah aku sudah selesai nih.... "


Nadin langsung pergi ke kasir untuk membayar belanjan nya.


................


"Mas, apa maksud mba Nadin ngomong gitu?" mengguncang bahu suaminya


"Hah, ngomong apa memang?" tersadar dari lamunannya


"Itu loh mas masa tadi mba Nadin bilang, toko mu akan bangkrut dalam satu minggu"


"Ohh, udah ga usah di pikirin, mending kamu pilih-pilih gamis... "


"Ga, ga mau pokonya kamu jelasin dulu... " tegas Fani


Kalo sudah seperti ini, Adnan sudah tak berani melawan istrinya.


"Gini loh, kan kamu tau kalo mas ga pernah kerja.... "


"Terus?"


"Toko itu di bangun dengan uang Nadin, nah selama ini keuntunganya aku ambil, kalo barang habis aku minta uang lagi ke Nadin, begitu seterusnya, dan sudah setengah tahun ini Nadin ga pernah kasih uang lagi......" jelas Adnan


"Berarti uang yang selama ini kamu kasih ke aku, uang itu dong?"


"Tepat sekali.... "

__ADS_1


"Pokonya aku ga mau ya mas, kalo uang bulanan aku di potong" ancam Fani


Adnan hanya mengagguk, ia bingung mau dapat uang dari mana?, selama ini ia hanya tinggal minta, tanpa tau susahnya mencari uang.


__ADS_2