Penghianatan Suamiku

Penghianatan Suamiku
Sakit


__ADS_3

Happy reading.....


Setelah mengantar Aurora ke sekolah, Bunga pun pergi ke kantornya. Karena saat ini, Tina sedang tidak berada di Indonesia, sebab bosnya meminta Tina untuk kembali ke Jepang dan mengerjakan tugas yang ada di sana. Jadi mau tidak mau, Bunga pun harus mengurus perusahaannya sendiri.


Saat Bunga tengah duduk di kursinya, tiba-tiba Bunga merasakan pusingz tapi sejujurnya kepala dia darih pagi memang terasa tidak enak. Namun sekarang, Bunga merasa malah semakin parah. Padahal Bunga sudah meminum obat, tapi rasa pusing itu tidak hilang-hilang.


Hingga jam makan siang pun telah tiba, dan pusing di kepala Bunga masih saja terasa. Dia pun memutuskan untuk pulang ke rumah, sebab Bunga tidak ingin jika memaksakan kerja dalam keadaan yang kurang fit, tapi sebelum itu dia akan menjemput Aurora terlebih dahulu.


Saat di dalam mobil, Bunga melihat ada tukang rujak di pinggir jalan yang sedang berjualan. Kemudian, dia meminta sopir untuk berhenti, lalu Bunga pun keluar dan membeli rujak itu. Entah kenapa, Bunga merasa jika lidahnya terasa begitu pahit. Sehingga Bunga ingin makan yang asam-asam, agar lidahnya menjadi segar.


Setelah mendapatkan apa yang Bunga mau, dia pun masuk kembali ke dalam mobil dan langsung memakan rujak itu. Setelah rujaknya habis, Bunga merasa kepalanya sedikit lebih baik, walaupun masih pusing tapi tidak separah tadi.


"Mama ...'' panggil Aurora saat Bunga sampai di sekolahan putrinya itu, lalu Aurora pun langsung masuk ke dalam mobil.


Setelah mengantarkan Aurora ke tempat temannya, Bunga pun langsung pulang ke rumah. Setelah itu sopir akan kembali lagi untuk menjemput Aurora. Sebenarnya, bukan Bunga tidak ingin menemani Aurora belajar di rumah temannya, tetapi kepala Bunga masih terasa pusing. Apalagi saat berada di dalam mobil, Bunga benar-benar tidak kuat mencium aroma bau mobil.


Saat Bunga sedang memejamkan matanya untuk meredam rasa sakit di kepalanya, tiba-tiba ponselnya berdering, dan ternyata itu dari Bagas. Bunga pun langsung mengangkat teleponnya.


''Iya halo, assalamualaikum Mas,'' ucap Bunga saat telepon tersambungx sambil memijit keningnya yang terasa pusing.

__ADS_1


''Waalaikumsalamz Sayang. **K**amu ada di mana? Apa kamu sudah jemput Aurora, dan mengantarkannya ke rumah temennya?" tanya Bagas di seberang telepon.


''Alhamdulillah Mas, sudah, tapi aku tidak menunggu Aurora ya. Aku langsung pulang, kepalaku dari pagi sakit sekali,'' ucap Bunga dengan nada yang sedikit lesu.


"*Y*a allah, kamu kenapa sayang? Kamu sakit? Kenapa tadi pagi kamu tidak bilang sama aku? Kalau gitu 'kan kita ke rumah sakit dulu." Bagas yang mendengar Bunga sakit kepala pun merasa cemas, karena dia takut terjadi apa-apa pada istrinya.


Mendengar suaminya yang begitu cuma mencemaskan dirinya, Bunga tersenyum. Dia benar-benar sangat bersyukur telah mempunyai suami seperti Bagas, yang selalu menyayanginya dan juga mengkhawatirkan keadaannya.


"*A*ku tidak apa-apa, mas. Hanya pusing sedikit aja kok. Mungkin, aku hanya butuh istirahat," jawab Bunga. Kemudian Bagas menyuruh Bunga untuk pulang, lalu dia mengatakan juga akan pulang lebih cepat, karena jujur Bagas sangat khawatir.


Setelah telepon terputus, Bunga kembali memejamkan matanya hingga mobil pun sampai di rumah. Bunga langsung turun, tapi jalannya sedikit sempoyongan, karena Bunga benar-benar merasa pusing. Kepala dia bagaikan diremas remas, apalagi saat ini perut Bunga juga terasa begitu mual.


''Assalamualaikum ...'' ucap Bunga saat membuka pintu.


''Waalaikumsalam ....'' jawab Mami Rindi, Mama Ranti dan juga Papi Frans yang kebetulan ada di sana, dan sedang mengobrol di ruang tamu.


Bunga yang melihat kedua orang tuanya pun, langsung berjalan mendekat dan mencium tangan mereka. Lalu dia duduk di sofa dan menyandarkan badannya sambil memijat kepala yang terasa begitu sakit. Mami Rindi yang melihat itupun langsung duduk di sebelah Bunga, dan menatap putrinya dengan cemas.


"Sayang, kamu kenapa? Kok wajah kamu pucat sekali? Kamu sakit?'' tanya Mami Rindi dengan wajah yang begitu khawatir.

__ADS_1


''Aku gak apa-apa Mi. Aku cuma merasa tidak enak badan saja, kepalaku sedikit pusing,'' jawab Bunga sambil memejamkan matanya. Kemudian dia pun izin untuk ke kamar, karena Bunga ingin beristirahat, tapi saat Bunga berdiri, badannya limbung. Untung saja Papi Frans segera menahan tubuh putrinya, dan tidak sampai jatuh ke lantai.


"Kita ke rumah sakit sekarang, ya! Mami khawatir sama keadaan kamu,'' ucap Mami Rindi dengan wajah yang begitu cemas. Bahkan Mama Ranti pun ikut cemas melihat menantunya yang hampir saja pingsan. Namun Bunga segera menggeleng.


''Tidak Mi! Aku di rumah saja, mungkin aku kurang istirahat,'' jawab Bunga, tetapi Mami Rindi, Mama Rnti dan juga Papi Frans, memaksa agar Bunga ke rumah sakit. Karena mereka takut terjadi apa-apa dengan Bunga.


Akhirnya, mau tidak mau Bunga pun berjalan untuk ke mobil di papah oleh Mami Rindi. Dia benar-benar tidak sanggup untuk berjalan, dan Papi Frans yang melihat itupun tidak tega, dia langsung menggendong putrinya menuju mobil.


Saat sudah di rumah sakit, Bunga langsung diperiksa oleh Dokter. Sedangkan Mami Rindi, Mama Ranti dan juga Papi Frans menunggu di luar ruangan, dan setelah beberapa saat seorang suster keluar. Dan Mami Rindi langsung menanyakan keadaan Bunga.


''Sus, boleh kami masuk? Saya ingin melihat keadaan anak saya, Sus?'' tanya Mami Rindi kepada Suster tersebut, dan Suster itu langsung mengangguk dan mempersilahkan mereka bertiga untuk masuk ke dalam ruangan.


''Sayang, gimana keadaan kamu? Dokter bilang apa? Dok, anak saya tidak sakit apa-apa kan? Dia hanya sakit biasa saja 'kan, Dok?'' tanya Mami Rindi kepada Dokter.


Dokter wanita yang berusia 40 tahun itu langsung tersenyum, saat mendengar pertanyaan dari Mami Rindi. ''Ibu tentang saja, ya. Anak ibu tidak sakit! Anak ibu pusing, itu hal yang biasa, karena saat ini anak ibu sedang ....'' Dokter itu menggantung ucapannya, membuat Mami Rindi, Mama Ranti dan juga Papi Frans menatapnya dengan tatapan penuh rasa penasaran.


Sedangkan Bunga hanya tersenyum penuh kebahagiaan, wajahnya benar-benar berbinar dengan air mata yang sudah mengembun di kedua mata indah miliknya.


Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2