
Happy reading.......
Bunga terlihat sangat kaget saat mengetahui siapa tamu yang datang ke rumahnya, pantas saja Mami Rindi memintanya untuk dandan secantik mungkin, karena yang datang adalah keluarganya Bagas.
Bagas yang baru saja masuk ke dalam kediaman Mardasena seketika tatapannya terpaku dan mengarah ke arah Bunga. Dia benar-benar terpesona dengan kecantikan Bunga yang begitu natural tanpa make up tebal.
Sedangkan Bunga yang ditatap seperti itu hanya bisa tertunduk malu, karena semenjak Bagas melamarnya waktu itu Bunga selalu menjadi salah tingkah dan gugup bila berada di dekat Bagas. Apalagi saat pria itu menatap dirinya, padahal dulu Bunga tidak seperti itu, dia merasa jika benih-benih cinta memang sudah mulai datang di hatinya untuk Bagas, tapi Bunga masih belum menyadarinya secara keseluruhan.
"Ayo masuk, kita langsung kemeja makan aja yuk," ajak Mami Rindi pada Mama Ranti dan keluarganya, dan Aurora tentu saja langsung digendong oleh Papi Frans menuju meja makan.
Saat Bunga akan melangkah menuju meja makan, tiba-tiba Bagas menghentikannya dan memegang tangannya, membuat wanita itu seketika menoleh ke arah samping dan tatapan mereka saling bertabrakan satu sama lain, tapi Bunga seketika mengalihkan tatapannya ke arah depan. Dia tidak kuat jika harus menatap kedua mata Bagas.
"Ada apa?" tanya Bunga pada pria itu.
"Tidak! Aku hanya ingin mengatakan, jika kamu sangat cantik malam ini," bisik Bagas di telinga Bunga, membuat wanita itu seketika merinding namun salah satu sudut bibirnya tertarik pada saat mendapat pujian dari Bagas. Bunga merasa jika pujian Bagas mampu membuatnya terbang ke awan.
Bagas yang sudah membuat wajah Bunga merona malu dengan bisikan di telinganya, seketika meninggalkan Bunga begitu saja kemeja makan, dia benar-benar berhasil menggoda wanita itu.
__ADS_1
'Dasar duda akut. Ternyata dia tidak se-kaku yang aku pikir. Pintar juga dia membuat wanita merona malu karena rayuannya,' batin Bunga sambil menatap punggung Bagas yang semakin jauh pergi ke meja makan
Makan malam pun berlangsung dengan bahagia, sayang di sana tidak ada Ardi, karena malam itu Ardi harus pergi ke Singapura untuk mengerjakan sebuah Project yang tidak bisa dia tinggal atau tidak bisa dia lepas kepada asistennya, jadi terpaksa Ardi harus ke Singapura untuk mengurus semuanya.
Setelah makan malam selesai, semua berkumpul di ruang keluarga, namun seketika ponsel Bunga berbunyi dan ternyata ada panggilan dari asistennya, kemudian dia pun berjalan ke taman belakang untuk mengangkat telepon itu.
Setelah telepon terputus, Bunga duduk di kursi sambil memainkan ponselnya, mengecek email yang baru saja dikirimkan oleh asisten pribadinya. Namun saat Bunga sedang mengecek email, tiba-tiba Bagas duduk di sampingnya kemudian mensejajarkan tangannya di belakang punggung Bunga seakan Bagas sedang merangkul wanita itu.
Eekhm...
Bagas berdehem, membuat Bunga seketika menatap dirinya sekilas kemudian dia fokus kembali ke ponselnya. "Aurora di mana?" tanya Bunga tanpa menoleh ke arah Bagas sedikitpun.
Mendengar pertanyaan pria itu, Bunga seketika menoleh ke arah Bagas dengan tatapan menyipit. Kemudian dia pun berkata, "untukmu? Aku saja tidak tahu jika keluarga kamu yang diundang? Mami menyuruhku untuk dandan cantik, tapi aku tidak tahu tamu spesial mana yang diundang Mami makan malam, dan ternyata itu adalah keluarga kamu."
"Tentu saja, mungkin Mamimu dan Mamaku ingin kita semakin dekat, dan mungkin mereka juga ingin kita melangkah ke jenjang yang serius," ujar Bagas sambil menoleh ke arah Bunga, hingga tatapan mereka kembali bertabrakan.
Bunga terdiam sejenak sambil menatap kedua mata milik Bagas, dia dapat melihat kesungguhan dari kedua mata itu. Namun, walau bagaimanapun Bunga masih dalam tahap masa iddah, jadi untuk menjawabnya Bunga belum bisa, dia pun memalingkan wajahnya ke arah lain.
__ADS_1
"Kita hanya bisa berencana, tapi semua sudah ditentukan sama Allah bukan? Lagi pula, jika kita jodoh, pasti tidak akan kemana kok. Tidak usah khawatir," jawab Bunga sambil berdiri, kemudian dia menengadah menatap bintang yang sedang bergandengan dengan bulan.
"Jujur,.untuk berumah tangga kembali rasanya aku masih sulit. Aku tidak munafik, aku masih sakit hati, masih ada rasa trauma di dalam hati dan juga diri ini, masih ada rasa kecewa dan masih ada rasa takut untuk kegagalan kedua kalinya. Karena rumah tangga bukanlah hubungan pacaran yang bisa kapan saja putus nyambung, tapi rumah tangga itu mengikat kedua manusia dalam satu janji suci pernikahan, hidup dalam suka dan duka sampai akhir hayat." Bunga berucap sambil menatap ke arah bulan yang bersinar dengan terang.
Bagas paham apa yang dimaksud oleh Bunga, kemudian dia pun bangkit lalu berjalan menuju ke samping Bunga, kemudian dia menatap ke arah bulan di mana Bunga juga sedang menatapnya.
"Aku tahu kenapa kamu begitu trauma, tapi aku juga pernah berada di posisimu. Bedanya kamu dikhianati dan aku ditinggalkan untuk selamanya, tapi jika dilihat dari sudut pandang tidak ada bedanya bukan? Kita sama-sama ditinggal untuk selamanya, walaupun hanya beda definisi saja."
"Maybe ..." jawab Bunga sambil mengangkat kedua bahunya.
Keduanya sama-sama terdiam sambil menatap ke arah langit. Entah, kenapa Bunga sangat suka menatap langit, karena bagi Bunga langit itu sangat indah di siang hari maupun di malam hari, karena menatap langit membuat Bunga merasa nyaman dan tenang. Dia bisa menatap luasnya dunia,ndia bisa merasakan ketenangan di atas langit sana.
"Masuk yuk, angin malam tidak bagus untuk tubuh," ajak Bagas sambil menggandeng tangan Bunga, namun wanita itu segera melepaskan tangan Bagas secara halus.
"Tunggulah sampai aku menjawabnya," ucap Bunga sambil meninggalkan Bagas di taman belakang.
Bunga hanya ingin menghindar dari pria itu, menghindari kontak fisik. Walaupun mereka dekat, tapi Bunga tidak ingin melewati batas, dia tidak ingin terjadinya fitnah karena Bunga masih dalam masa iddah dan dia juga harus memastikan perasaan dan juga hatinya saat ini untuk Bagas, apakah memang Bunga mulai ada Rasa kepada pria itu, atau memang karena dia hanya kasihan kepada Aurora atau mungkin hanya sekedar kagum kepada Bagas.
__ADS_1
Bersambung.......