Penghianatan Suamiku

Penghianatan Suamiku
Mataku Kelilipan


__ADS_3

Happy reading.....


Hari-hari telah berlalu, kini Bunga sedang duduk di taman belakang bersama dengan Mama Ranti dan juga Mami Rindi. Di sana juga ada Aurora yang sedang bermain masak-masakan bersama dengan pelayan.


''Sayang, apa kamu dan Bagas tidak mau mengetahui jenis kelamin anak kalian?'' tanya Mami Rindi pada Bunga.


''Tidak Mi, aku dan mas Bagas mau tahu saat anak kami lahir saja. Sebab, kami ingin itu menjadi Surprise,'' jawab Bunga pada sang Mami.


Hidupnya terasa begitu sempurna, dengan dua keluarga yang begitu menyayangi dirinya. di tambah, ada Aurora yang melengkapi hidup Bunga. Dia akan menjadi ibu untuk dua orang anak.


Walau Aurora bukan anak kandungnya, tapi Bunga begitu menyayangi Aurora. Rasa sayang itu telah muncul saat Bunga bertemu untuk pertama kalinya bersama Aurora di taman.


*********


Saat ini Nara tidak berjualan, karena Azam tengah sakit. Dia juga sudah membawanya ke Puskesmas untuk berobat, tetapi panas di tubuh Azam tidak turun turun. Walaupun Nara sudah memberinya obat.


Dia tidak bisa ke rumah sakit, sebab biaya di sana sangatlah mahal. Dan Narq tidak mempunyai uang sebanyak itu. Saat Nara tengah membuatkan bubur untuk Azam, tiba-tiba saja pintu kontrakan nya diketuk. Wanita itu pun langsung melangkahkan kakinya menuju ke pintu depan.


Saat pintu terbuka, Nara sangat kaget melihat pria yang berada dihadapannya itu. Karena pria yang saat ini tengah berdiri di depan Nara, adalah Ilham.


''Mas Ilham!'' kaget Nara.


Ilham tersenyum, dia melihat ke arah Nara tanpa berkedip.


''Apa aku mengganggu?'' tanya Ilham kepada Nara. Wanita itu langsung menggeleng. ''Tidak Mas, mari masuk,'' ujar Nara mempersilakan Ilham masuk dan mengganjal pintu kontrakannya agar masih terbuka lebar, karena Nara tidak ingin ada fitnah.


''Sebentar, aku buatkan minuman dulu,'' ucap Nara sambil melangkah ke arah dapur, tetapi langkahnya dihentikan oleh Ilham. ''Tunggu! Azam ke mana?'' tanya Ilham sambil melihat kanan dan kiri mencari anaknya.


Wajah Nara seketika menjadi sedih, namun saat Nara akan mengangkat suara, tiba-tiba Azam menangis di dalam kamar. Nara yang mendengar itu pun langsung masuk ke dalam kamarnya dan menggendong Azam.


''Sayang, sudah ya jangan menangis. Ini ada Bunda, Nak,'' ucap Nara sambil terus menggendong Azam dan menggoyang-goyang tubuhnya, agar anak kecil itu bisa terdiam, tetapi Azam malah makin menangis karena suhu badannya juga sangat panas.


Ilham yang mendengar Azam menangis pun tidak tega, kemudian dia masuk ke dalam kamar Nara. ''Kenapa Azam terus menangis?'' tanya Ilham sambil memegang tubuh anak kecil yang berusia satu setengah tahun itu.


Seketika Ilham menjadi kaget, saat memegang kening Azam yang terasa panas. ''Azam lagi sakit? Kenapa kamu tidak membawanya ke rumah sakit?'' tanya Ilham dengan panik, namun Nara segera menggeleng.


''Aku sudah membawanya ke Puskesmas, dan memberikannya obat penurun panas, tetapi panasnya tidak turun-turun. Jika ke rumah sakit, biayanya sangat mahal. Aku tidak punya uang sebanyak itu,'' jelas Nara dengan tatapan yang sendu. Karena dia begitu khawatir kepada Putra satu-satunya itu.


''Kita ke rumah sakit sekarang!'' ajak Ilham.


''Tapi Mas, aku--''

__ADS_1


''Tidak usah pikirkan biaya, Nara. Sudah, sekarang kita bawa Azam ke rumah sakit!'' Ilham beralih menggendong Azam dan membawanya ke dalam mobil, sedangkan Nara mengambil tas dan beberapa baju milik Azam. Setelah itu mereka berangkat ke rumah sakit.


Di dalam mobil, Azam terus saja menangis. Karena suhu badannya terasa panas, dan Nara begitu panik melihat bagaimana putranya sedang kesakitan. Sebagai seorang ibu, dia benar-benar tidak tega melihat putranya merasakan sakit. Jika saja Nara bisa menggantikan rasa sakit itu, maka dialah yang akan menanggungnya, daripada harus Azam yang sakit.


Ilham bisa melihat kasih sayang Nara kepada Azam yang tidak pernah dia lihat dulu saat mereka masih bersama. Dan setelah menempuh perjalanan 1 jam, mereka pun sampai di rumah sakit. Lalu Azam langsung dibawa ke ruang UGD dan diperiksa oleh Dokter.


''Tidak usah khawatir, Azam akan baik-baik saja,'' ucap Ilham menenangkan Nara. Karena wanita itu terlihat begitu cemas.


''Aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan Azam, Mas. Hanya dialah yang aku punya saat ini, harta yang paling berharga di dalam hidupku,'' ujar Nara dengan air mata yang sudah mengalir deras.


Ilham yang melihat kesedihan Nara tentu saja tidak tega, kemudian dia berjalan mendekat ke arah Nara dan hendak memeluk tubuhnya. Akan tetapi, Nara segera menghindar. ''Maaf Mas, kita bukan muhrim,'' ucapan Nara sambil menghapus air matanya.


Ilham tertegun mendengar ucapan Nara.


'Kamu benar-benar sudah berubah? Kamu bukan Nara lagi aku kenal dulu. Dan aku sangat menyukai pribadi mu saat ini,' batin ilham sambil menatap Nara dengan senyuman di bibirnya.


Tak lama Dokter pun keluar dari UGD, dan dia menjelaskan kepada Nara dan juga Ilham,. jika Azam terkena demam berdarah dan harus dirawat beberapa hari di rumah sakit.


''Tidak usah pikiran biaya. Biar aku yang menanggung semuanya. Yang penting, Azam sehat,'' ucap Ilham saat mereka berada di ruangan Azam.


''Terima kasih ya Mas, kamu benar-benar baik.'' Nara berucap dengan mata yang terus menatap kearah Azam, sambil sesekali mencium tangan mungil itu.


Nara mengangkat wajahnya dan menatap Ilham. Dia tidak menyangka, jika pria itu masih mau mengakui Azam sebagai putranya. Padahal Ilham tahu, jika Azam bukanlah darah dagingnya, tetapi rasa sayang sudah mengalahkan logika.


Ilham tidak perduli jika Azam bukanlah darah dagingnya. Awalnya mungkin dia memang marah, saat menerima kenyataan yang begitu pahit, tapi seiring berjalannya waktu dan seiring perubahan Nara. Ilham mengerti, jika tidak ada yang sempurna di dunia ini. Dan rasa sayangnya kepada Azam, telah meluluhkan egonya.


***********


Di kota bunga sakura, Ardi baru saja sampai dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang, lalu dia mengeluarkan ponselnya dan menelpon Mentari. Tetapi sudah dua kali menelpon tidak diangkat. Ardi berpikir, mungkin Mentari sedang istirahat, jadi dia pun mengurungkan menelpon kembali.


Saat dia tengah menatap foto Mentari di ponsel nya. Tiba-tiba pintu apartemennya diketukx dan mau tidak mau Ardi pun bangkit dari tidurnya dan berjalan menuju pintu. Setelah dibuka, terdapat seorang wanita yang tengah berdiri di hadapan Ardi, namun wanita itu membelakangi dirinya.


''Maaf, anda mencari siapa ya?'' tanya Ardi pada wanita itu, dan seketika wanita itu membalik tubuhnya. ''Maaf Tuan, saya ke sini mau--'' ucapan wanita itu terhenti saat melihat Ardi berada dihadapannya.


''Ardi, kamu kenapa ada disini?'' tanya wanita itu dengan nada kaget saat melihat Ardi.


Ardi pun tidak kalah kagetnya, dia juga menatap wanita itu dengan tatapan terkejut. ''Seharusnya aku yang nanya, kamu ngapain ada disini?'' tanya Ardi dengan dahi mengkerut


''Kamu nggak mau ngajak aku masuk nih? Kamu mau biarin cewek cantik kayak gini, berdiri di depan apartemen?'' kekeh wanita itu sambil menutup wajahnya dengan kesal.


Ardi yang mendengar itu pun mempersilakan dia untuk masuk. Kemudian mereka duduk di ruang tv.

__ADS_1


''Oh, jadi kamu anaknya pak Randy? Aku nggak tahu kalau kamu anaknya pak Randy?'' ucap wanita itu sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.


''Tunggu! Jangan bilang, kalau kamu sekertarisnya Papa?'' tanya Ardi menatap wanita yang berada dihadapannya itu dengan mimik wajah yang penasaran, dan wanita itu langsung mengangguk.


''Iya, aku bekerja di perusahaan Papa kamu. Dan kebetulan, aku sekertarisnya. Aku nggak nyangka, kalau kamu ternyata anaknya pak Randy. Ini berkas yang diminta pak Randy untuk diberikan kepada kamu.''


Wanita yang berada di hadapan Ardi bernama Febby, dia adalah teman kuliah Ardi. Dan mereka sangat dekat sewaktu di kampus. Febby pun tidak tahu, jika Ardi adalah anak dari bosnya tempat dia bekerja.


''Apakah masalahnya cukup pelik? Sampai aku harus dateng ke sini?'' tanya Ardi pada intinya.


''Yah kurang lebih seperti itu. Ada beberapa oknum yang ingin menjatuhkan perusahaan, dan merencanakan untuk menghancurkan perusahaan kita. Tapi kamu tidak usah khawatir, aku sudah mendapatkan beberapa bukti dan kita akan menjebloskan mereka ke penjara!'' jawab Febby dengan wajah yang tenang, namun tatapannya begitu dalam ke arah Ardi.


Pria itu mengangguk paham dengan ucapan Febby, kemudian dia mulai membuka berkasnya satu persatu dan mengecek tentang masalah yang terjadi di perusahaan papanya.


Sementara itu, Febby terus menatap kearah Ardi. Dia tidak menyangka jika dirinya dan juga Ardi akan bertemu kembali. Padahal, selama ini Febby sudah menghindar dari Ardi, tapi takdir malah mempertemukan mereka kembali. Padahal Febby selama ini menghindar dari pria itu.


Kenapa aku merasa, jika takdir sedang mempermainkan diriku? di saat aku sudah move on darimu, dari perasaan ini. kenapa kau malah muncul kembali, Di? Apakah ini jalan kita, untuk bersatu? ataukah ini ujian perasaanku? batin Febby.


********


Di tempat lain, Tina sedang berdiri di halte bus. Karena mobilnya sedang diservis, jadi mau tidak mau di harus menaiki taksi. Namun dari kejauhan ada seseorang di dalam mobil yang tengah memperhatikan Tina.


''Sedang apa tuh cewek bar-bar di halte?'' gumam seorang pria yang berada di dalam mobil, kemudian melanjutkan mobilnya mendekat kearah Tina.


''Aduh, kenapa taksi tidak lewat-lewat sih? Kalau kayak gini caranya, akan bisa telat. Mana acaranya sebentar lagi akan dimulai.'' Tina berucap dengan nada gelisah sambil melihat jam di tangannya.


Dahinya mengkerut saat melihat mobil berwarna hitam berhenti di hadapannya, dan saat kaca mobil itu diturunkan ternyata dia adalah Asistennya Bagas.


''Kamu sedang menunggu taksi?'' tanya Riko di dalam mobil.


''Bukan! Tapi lagi menunggu duda hot lewat!'' ketus Tina dengan kesal.


Riko terkekeh mendengar ucapan Tina, kemudian dia membuka pintu mobilnya dari dalam. ''Masuklah! Biar aku antar,'' ujar Riko menawarkan diri, tapi Tina berpikir terlebih dahulu. Karena tidak ada taksi yang lewat, akhirnya Tina pun masuk ke dalam mobil Riko.


''Tolong antarkan aku ke Panti Asuhan Maura Kasih ya, di jalan teratai 3,'' pinta Tina saat sudah berada di dalam mobil.


Riko menganggukkan kepalanya, kemudian dia melajukan mobilnya ke tempat yang disebutkan oleh Tina. Entah kenapa, Riko kali ini terpesona dengan Tina. Karena wanita yang biasanya bar-bar ini, terlihat anggun dengan setelan gamis dan juga pashmina yang melingkar di kepalanya, walaupun pashmina itu tidak menutup rambut Tina dan hanya dililitkan saja.


'Kenapa dia begitu cantik hari ini? Atau ... mataku saja yang kelilipan?' batin Riko dengan bingung sambil menatap Tina dari sudut matanya.


Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2