Penghianatan Suamiku

Penghianatan Suamiku
# 40


__ADS_3

"Jam berapa ini...." gumannya


Ia melihat benda berbentuk bulat yang menempel di dinding ruangan itu.


"Jam tiga...." gumannya


Ia pun bangkit dengan perlahan, dia tak mau membangunkan seseorang yang tidur dengannya.


Perempuan itu berjalan ke arah kamar mandi.


Laki-laki yang menjadi teman tidurnya, mulai membuka matanya, tangannya bergerak meraba orang di sisinya.


"Sayang...." panggilnya


Laki-laki itu sudah sadar sepenuhnya, ia bangkit untuk mencari sang pujaan hati.


Tok tok tok, mengetuk pintu kamar mandi.


"Sayang apa kamu di kamar mandi..."


Byur... suara air yang sengaja di tumpahkan dari gayung, menjadi jawaban atas pertanyaan laki-laki itu.


"Oh ya sudah, kirain kamu ke mana..."


Sang laki-laki kembali ke tempat tidurnya, dia bersender pada kepala ranjang, lalu ia meraih ponselnya.


Dert dert dert, ponselnya bergetar pertanda adanya panggilan masuk


"Kaya tau aja, aku udah bangun...." gumannya


Tut


"Halo..."


"Halo Gas, pelakunya udah ke tangkap nih..."


"Wah hebat juga, preman situ ya..."


"Hem, lo nanti kesini ya..."


"Siap..."


"Ya udah gitu aja...."


Tut


"Dasar asisten ga punya sopan satun...."


Ceklek. Pintu kamar mandi terbuka, lalu keluarlah seorang perempuan yang mengenakan baju tidur bermotif beruang.


"Siapa mas?"


"Ibnu..."


"Oh...."


Perempuan itu mengambil mukenanya, kemudian ia mengenakan mukena itu.


"Eh sayang tunggu, kita jama'ah ya..."


"Ya sudah..."


Sang laki-laki bergegas mengambil wudu, sedangkan sang perempuan menggelar sajadahnya, kemudian ia duduk bersila sembari mengucap istighfar dalam hati, dan pikirannya.


Selesai mengambil wudu, sang lelaki langsung mengenakan pakian bersih serta sarungnya, lalu ia berdiri sebagai imam dan memulai memimpin solat malamnya.


Ya dialah Nadin dan Bagas.


...................................


Waktunya sarapan, Nadin begitu cekatan melayani sang suami.


Mamah Ais juga begitu, ia melayani papah Putra.


"His, kan jadi pengin..." ucap Naila


"Pangin apa Nai?" tanya Nadin

__ADS_1


"Pengin punya suami..."


"Tingkahnya aja masih kaya bocah, pengin nikah, ga salah?" ledek Bagas


"Ya elah ka daripada aku pacaran mending nikah sekalian kali...." ucapnya membela diri


"Nanti yang ada suamimu yang ngelayani kamu, bukan kamu yang ngelayani dia....hahaha....." semakin menjadi


"Terus aja ledek, terus samapi kaka puas..."


Setelah mengucapkan kata itu, Naila berdiri dan bergegas meninggalkan ruang makan.


"Gas, udah tau adek mu gampang ngambek, kenapa seneng banget ngeledekin sih..." omel papah Putra


"Hehehe....."


Tap tap tap, suara langkah kaki ynag sengaja di hentakan ke lantai.


"Ga jadi ngambek...." ledek Bagas


Sebelum selesai ngomong, Nadin mencubit paha sang suami, agar tidak melanjutkan kalimatnya.


"Sakit yang..."


"Makannya jangan ngeledek mulu...." bisik Nadin


"Maklumin aja Din, kayannya kalo kaka adek ga saling usil, itu ga lengkap..." ucap mamah Ais, yang sudah hafal dengan tingkah laku kedua anaknya.


"Bener tuh..." sambung Bagas


Naila sudah tak peduli dengan apa yang kakanya ucapkan, begitu duduk ia langsung menikmati sarapannya.


Akhirnya semuanya menikmati sarapannya, setelah drama kecil tadi.


......................................................


Di sebuah kontarakan kecil di pinggir kota itu, ada dua orang laki-laki yang juga sedang menikmati sarapannya, yang hanya berlauk seadanya.


Tok tok tok, suara ketukan pintu, memaksa sang lelaki muda harus meninggalkan makanannya, demi melihat siapa yang datang.


Ceklek


"Wa'alikumsalam" jawab lelaki muda itu dengan ekspresi datar serta sorot mata dingin


"Emmm, ini ada makanan untuk sarapan abi dan kamu...."


"Terimakasih" ucapnya tanpa menerima makanannya


"Udah lah mas, ga usah di kasih, dianya aja juga ga mau nerima ko..." ucap sang wanita yang datang bersama sang tamu


"Bisa kami bertemu Abi?"


"Ya..."


Lelaki itu kembali ke dalam, memanggil sang ayah.


"Yah ada mas, di depan..."


"Kenapa ga disuruh masuk?"


"Ga papa......"


"Hemmm.... "


Orang yang di panggil ayah itu berjalan dengan langkah tertatih tatih akibat kadar asam uratnya yang tinggi.


"Assalamu'alaikum Abi...."


"Wa'alikusalam...."


Tamu yang tadinya dua orang sudah bertambah menjadi 4 orang.


Ke empat orang itu bergantian menyalami tangan orang yang di panggil 'abi'


"Abi, kami minta maaf, tidak sempat untuk merawat umi, karena kesibukan kami..."


"Ia abi, kami minta maaf..." tampal tamu laki-laki yang kedua

__ADS_1


"Kalian tidak perlu minta maaf dan mencari alasan apapun, karena itu percuma...."


Jeda sebentar


"Kalian sendiri yang memilih untuk tidak ikut merawat ibu kandung kalian, bukan karena tidak ada waktu, namun karena kalian sengaja tak mau berkorban demi ibu kalian yang sudah mengandung, melahirkan, me nyu sui, meman dikan, menyuapi, dan mengajari kalian bicara......"


"Bahkan kalian tak peduli ketika ibu kalian memohon untuk kalian datang menemuinya yang sedang terbaring lemah tak berdaya di ranjang pesakitan...."


"Kalian hanya berkata 'maaf mi, kami sedang sibuk, tak ada waktu untuk hal yang tidak penting seperti itu'"


"Jadi sekarang kalian jangan mencoba mencari alasan, dan jika nanti kalian di balas oleh anak-anak kalian, jangan salahkan mereka, karena anak akan meniru apa yang orang tuanya perbuat..."


Ucapan orang tua itu sukses membuak ke empat orang itu menunduk dalam. Entah karena sedang merasa menyesal atau sekedar untuk menghindari bertatap mata dengan orang tua itu.


"Pulanglah"


Setelah menyuruh ke emapt orang itu pulang, pak Slamet kembali ke dalam dan tak lupa juga menutup pintunya.


"Huh dasar, kalo saja dia bukan mertua, sudah tak gelindingin ke jurang...." dumel wanita yang datang bersama tamu pertama


"Kamu bilang apa?" tanya sang lelaki


"Ga bilang apa-apa, ayo pulang saja..."


"Ia mas, ayo pulang..." timpal wanita satunya, mengajak sang suami untuk pulang juga


"Ayo...."


Mereka berempat pun berjalan meninggalkan kontrakan kecil itu menuju mobilnya masing-masing.


Di perjalanan, sepasang suami istri itu tampak saling diam. Sang suami sedang kalut dengan pikirannya sendiri.


"Mas, ko kamu jadi diem aja sih, biasanya juga ga gini, kalo tau jadi gini pasti aku ga ngijinin kamu buat ketemu Abi kamu...."


Sang suami masih diam. Dia malas meladeni ucapan istrinya yang tak pernah mau mengalah.


"Mas..."


"Bisa diam ga, aku lagi pusing...." membentak


"Kamu berani bentak akau mas?" ucap sang istri kaget


"Ia..."


"Oh jadi gini mas, ok baik, sekarang berhenti, dan kamu turun dari mobil....." ucap sang istri


Sang suami dengan manut mematuhi perintah sang istri, dia menepikan mobilnya lalau segera keliar dari mobil.


"Kamu sendiri yang memilih jalan ini, jadi jangan pernah menyalahkan aku...." ucap sang wanita


"Terserah apa katamu, aku sudah lelah diatur olehmu, sekarang aku melepaskanmu dengan talak tiga wahai Nadia Putri....." ucap sang lelaki dengan lantangnya, seolah ingin orang yang lewat menjadi saksinya.


"Ok, aku tunggu gugatan cerai mu..." ucap sang wanita yang tak kalah lantangnya


Wanita yang bernama Nadia itu, langsung tancap gas, dia merasa marah dan kecewa, karena hari ini pertama kali dalam hidupnya keinginannya tak terpenuhi.


"Akhrgg, sial....." memukul setir mobil


Tinnnnnnnn


Dari arah berlawanan datanglah sebuah truk yang bermuatkan ayam.


Brak


..............................................


Basa basi penulis....


Hai para pembaca ........


Entah itu pembaca setia atau yang hanya mampir, pokonya terima kasih banyak ya telah membaca cerita remahan ini....


Ngomong ngomong aku juga punya cerita satu lagi loh, ayo dong apad mampir di cerita aku yang satu lagi, judulnya Sekuwel Cerita (aku bingung mau kasih judul apa), udah 10 bab loh....


Sekian, dan terima kasih


Semoga kalian selalu di beri kekuatan untuk mengadapi kehidupan. Aminnn

__ADS_1


__ADS_2