Penghianatan Suamiku

Penghianatan Suamiku
Kekesalan Bunga


__ADS_3

Happy reading.....


Di dalam mobil Bunga masih saja menekuk wajahnya, dia masih merasa kesal dengan kejadian tadi saat di restoran. Bagaimana tidak? Perut Bunga sudah terasa perih, karena tadi pagi Bunga tidak makan banyak. Tapi, kedua saudara itu malah bertengkar dan membuat selera makan Bunga hilang.


Sedangkan Tina, malah terkekeh sejak masuk ke dalam mobil. Tina tidak berhenti tertawa, bagaimana tidak merasa lucu? Dia melihat dua pria sedang berebut untuk mendapatkan perhatian dari Bunga, sampai mereka tidak sadar jika piring Bunga sudah penuh oleh makanan yang mereka kasih.


"Diam Lo, Zubaidah. Ngetawain gue lagi? Bukannya prihatin, melihat sahabatnya kayak gini? Malah ketawa, senang Lo, lihat sahabat menderita?" Bunga berucap dengan nada kesal kepada Tina, karena sedari tadi Tina terus aja menertawakan dirinya. Entah apa yang lucu? Padahal saat ini Bunga sedang kesal.


"Hehe ... sorry deh sorry. Lagian, gimana gue nggak ketawa? kakak beradik itu sedang memperebutkan perhatian Lo, sampai mereka gak sadar, kalau piring Lo itu udah kayak gunung? Bahkan nasinya juga nggak kelihatan. Lah Gue ... mau makan gimana? Sedangkan lauknya sudah ada di piring Lo, semua. Terus Gue makan sama apa dong? Sama garam?" Tina berkata sambil terkekeh, karena menurut dia itu hal yang paling lucu.


"Tahu ah ..." Bunga merengut kesal, dia ngambek karena sahabatnya malah terus menertawakan dirinya.


Sebenarnya dibalik tawa Tina, ada rasa miris di hatinya, karena Bunga begitu banyak orang yang menyayangi, perhatian bahkan diperebutkan. Sedangkan Tina, tidak pernah diperebutkan oleh laki-laki, bahkan kasih sayang orang tuanya pun tidak tidak dapat. Karena kedua orang tua Tina telah bercerai, dan sudah mempunyai keluarga masing-masing. Dan bisa dibilang Tina adalah anak broken home.


********


"Oma, sini duduk," ajak Aurora, saat dia dan juga Mami Rindi sampai di restoran.


Mami Rindi mengangguk sambil membawa kan es krim untuk Aurora, kemudian mereka menunggu seseorang yang sudah ada janji sebelum mereka pergi ke Mall. Dan ternyata orang itu adalah Mama Ranti, ibu kandung Bagas.


"Omah ..." panggil Aurora setengah berteriak, sambil melambaikan tangannya ke arah wanita paruh baya yang sedang celingak celinguk mencari keberadaan Aurora dan juga Mami Rindi.

__ADS_1


Melihat Aurora melambaikan tangan, Mama Ranti pun berjalan mendekat ke arah gadis kecil itu yang sedang duduk bersama seorang wanita seumuran dengannya. "Sayang, maaf ya, Oma terlambat. Tadi jalanan lumayan macet," ucap Mama Ranti sambil duduk di hadapan Aurora.


"Iya Oma, tidak papa. Lagi pula, aku di sini ada Oma Rindi kok yang nemenin," jawab Aurora sambil memakan es krimnya.


Kemudian Mama Ranti mengulurkan tangannya ke arah Mamii Rindi. "Saya Ranti, Omanya Aurora." Mama Ranti memperkenalkan diri kepada Mami Rindi, dan langsung dibalas oleh Mami Rindi.


"Saya Rindi, Maminya Bunga, sekaligus calon Omanya Aurora juga," kekeh Mami Rindi.


Lalu keduanya pun memesan makanan dan makan siang bersama. Mami Rindi dan juga Mama Ranti seperti sudah bertemu lama, mereka bertukar cerita satu sama lain, dan terlihat begitu akrab. Mungkin, karena mereka sama-sama ibu rumah tangga, dan mempunyai anak yang sudah sama-sama dewasa.


"Iya, saya juga sudah tahu kalau Bunga itu janda. Tapi maaf, kalau boleh saya tahu, Bunga itu janda karena apa ya? Maksud saya, apakah suaminya selingkuh, atau bagaimana?" tanya Mama Ranti pada Mami Rindi, karena dia sangat penasaran dengan Bunga.


Walaupun selama ini Mama Ranti dekat dengan Bunga. Tapi, dia tidak berani menanyakan pasal kenapa Bunga sampai bercerai dengan suaminya. Yang Mama Ranti tahu, jika Bunga bercerai dengan suaminya karena suaminya mendua, tetapi Mama Ranti ingin mendengar langsung dari ibu kandungnya Bunga.


Bagaimana dia tidak sedih? Hati ibu mana yang tidak akan pernah sakit,nsaat melihat penderitaan sang anak yang selama ini dia besarkan, dia asuh enuh dengan kasih sayang. Tapi, orang lain malah menyakiti nya, tentu saja hati seorang ibu akan terluka.


Mama Ranti tahu perasaan yang dirasakan oleh Mami Rindi saat ini, kemudian dia pindah duduk ke samping Mami Rindi, lalu menggenggam tangan wanita itu dan mengusap bahunya.


"Saya sangat yakin, jika Bunga wanita yang kuat. Dia wanita yang hebat, dia mampu melewati semua rasa sakit dan penderitaan nya selama ini. Melihat Bunga, saya seperti melihat almarhumah menantu saya," ucap amama Ranti sambil tersenyum kearah Mami Rindi.


Lalu mereka pun bertukar cerita satu sama lain tentang Bunga dan juga almarhumah mantan istrinya Bagas, hingga pada saat mereka membicarakan kedekatan antara Bagas dan juga Bunga, Malama Ranti memberi usul agar Bunga dan juga Bagas dijodohkan.ndan tentu saja, Mami Rindi sangat antusias dan bahagia mendengarnya, apalagi Aurora dia ingin sekali jika abunga menjadi ibu sambungnya.

__ADS_1


"Tapi Jeng, kita tidak bisa memaksa mereka. Karena saya tahu, pasti Bunga masih sangat sulit untuk membuka hatinya. Dan saya juga ingin, jika anak anda Bagas, menjadi menantu saya. Hanya saja, balik lagi, hati itu tidak bisa dipaksakan, dan perasaan itu mereka yang memiliki iya kan? Kita sebagai orang tua hanya perlu berusaha untuk menyatukan mereka, selebihnya biar mereka yang menentukan," ucap Mami Rindi dengan bijak dan langsung dibalas anggukan oleh Mama Ranti.


Setelah membicarakan tentang kesepakatan antara mereka untuk menjodohkan Bunga dan Bagas. Mami Rindi dan juga Mama Ranti pun pulang, tetapi Aurora pulang bersama dengan Mama Ranti. Sedangkan Mami Rindi pulang bersama sopirnya ke rumah.


*********


Tepat pukul jam 07.00 malam, Bunga sudah sampai di rumah. Wajahnya lesu tidak bersemangat, moodnya hari ini benar-benar sangat hancur, gara-gara dua pria tampan itu yang tidak jelas memperebutkan dia, tapi malah membuat Bunga kesal.


Setelah membersihkan diri, Bunga turun ke lantai bawah untuk makan malam. Sebab keluarganya sudah menunggu. Bunga dan dari siang bahkan belum makan, perutnya terasa begitu perih, karena hari ini dia tidak masuk makanan apapun akibat ulah Ardi dan juga Bagas.


"Kenapa Dek, mukanya kok ditekuk kayak gitu sih?" tanya Sony dengan heran, saat Bunga duduk di hadapannya.


"Enggak papa, Kak. Cuma lagi kesel aja, soalnya hari ini mood aku dibuat hancur sama 2 orang kakak beradik," kesal Bunga sambil mengambil nasi dan menaruh nya di piring.


Semua orang yang ada di meja makan mengurutkan dahinya, merasa heran dengan ucapan Bunga. "Kakak beradik? Siapa yang kamu maksud?" tanya Sony dengan tatapan menyipit ke arah Adiknya.


"Udahlah Kak, aku males tau nggak sih bahas mereka. Yang ada, nih kepalaku tambah puyeng," gerutu Bunga sambil mengambil lauk pauk dan menaruh nya di piring, kemudian dia makan tanpa menunggu yang lain terlebih dahulu, karena Bunga benar-benar sudah lapar.


Mami Rindi dan juga semua yang ada di meja makan menatap Bunga dengan heran, lalu mereka melirik satu sama lain. Bagaimana tidak? Bunga makan sangat lahap, seperti orang yang satu minggu tidak dikasih makan saja.


"Pelan-pelan Sayang, makannya. Kamu ini kaya nggak makan satu tahunsaja," ledek Mami Rindi saat Bunga memasukkan nasi yang ada di sendok ke mulutnya,

__ADS_1


Wanita itu mengangguk, tanpa menjawab ucapan sang Mami. Dia benar-benar lapar sekali, sampai dia tidak bisa menahan nya lagi. Jadi wajar saja jika Bunga makan begitu lahap, karena perutnya benar-benar perih dari siang. Dia ingin makan, tapi selera nya sudah hilang terlebih dahulu mengingat bagaimana perlakuan Bagas dan juga Ardi di restoran tadi siang.


Bersambung.......


__ADS_2